
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore tapi Alvin masih berada di ruangannya, dia masih enggan untuk meninggalkan meja kerjanya.
Meski sudah tidak ada yang harus dia kerjakan tetapi ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di ruang kerjanya.
Bukan karena Alvin semangat bekerja tetapi jika ia keluar dari ruangannya maka yang ada dipikirannya hanyalah Nerissa.
Meski sesekali bayangan Nerissa masih terlintas di pikirannya, Alvin segera menyibukkan dirinya dengan pekerjaan kantornya.
Ia harus meyakinkan dirinya atas apa yang sudah dipilihnya. Amanda yang dulu pernah pergi darinya kini sudah kembali dan ia tidak akan membiarkan Amanda pergi untuk kedua kalinya.
Meski begitu dalam hatinya seringkali timbul keraguan, selalu ada Nerissa dalam bayang-bayang memorinya.
Meski ia baru mengenal Nerissa, kebersamaannya bersama nerissa tidak mudah untuk dilupakan begitu saja terlebih sekarang saat Daniel dan Nerissa memiliki hubungan yang serius, Alvin seperti masih meragukan hal itu karena ia yakin Nerissa tidak akan mudah untuk merubah hatinya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Entah sudah berapa kali ponsel Alvin berdering, Alvin hanya melihat layar ponselnya tanpa menyentuhnya sedikitpun.
Sudah berkali-kali Amanda menghubunginya dan berkali-kali pula Alvin mengabaikannya. Ia hanya tidak ingin Amanda semakin memberinya tekanan tentang masalah yang tidak seharusnya ada.
Saat matahari mulai terbenam Alvin masih berada di tempat kerjanya. Tak lama kemudian pintu ruangan Alvin terbuka, Alvin membawa pandangannya ke arah pintu ruang kerjanya dan mendapati Amanda yang berdiri di sana.
Amanda menatap Alvin dengan tatapan datar tanpa ekspresi lalu berjalan dan duduk di hadapan Alvin.
"Sampai kapan kau akan disini Alvin? apa kau tidak akan pulang?" tanya Amanda yang sudah sangat kesal pada Alvin.
"Banyak yang harus aku kerjakan Amanda, pulanglah!" jawab Alvin beralasan.
"Kenapa kau kembali bersikap dingin padaku Alvin? ada apa denganmu sebenarnya?"
"Tolong jangan menggangguku Amanda, jika kau ingin aku segera pulang maka diamlah agar aku bisa segera menyelesaikan pekerjaanku!"
"Apa maksudmu kau baru saja mengusirku? apa kedatanganku kesini mengganggumu?" tanya Amanda yang tidak percaya dengan apa yang baru saja Alvin ucapkan padanya.
"Jika kau ingin tetap disini maka diamlah, biarkan aku melanjutkan pekerjaanku agar aku bisa segera pulang," ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Amanda.
"Jujur padaku Alvin, apa kau cemburu pada Nerissa dan Daniel?" tanya Amanda yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Amanda.
"Apa maksudmu? kenapa kau tiba-tiba membawa mereka berdua? ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Nerissa ataupun Daniel!"
"Sikapmu berubah menjadi dingin setelah kau mendengar bahwa Nerissa dan Daniel memiliki hubungan yang serius, kau cemburu bukan?"
"Hentikan Amanda, aku sudah sangat pusing dengan semua pekerjaanku, tolong jangan menambah beban pikiranku lagi!" ucap Alvin lalu kembali sibuk dengan keyboard di hadapannya.
"Ucapanmu bahkan sangat kasar padaku Alvin, aku seperti sudah tidak mengenalmu lagi, kau sudah berbeda, kau bukanlah Alvin yang dulu aku kenal!" ucap Amanda lalu berdiri dari duduknya lalu melangkah pergi.
"Kaupun sama Amanda, kau bukan lagi Amanda yang dulu aku kenal," ucap Alvin yang membuat Amanda menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Alvin.
"Dunia ini tidak hanya berputar di sekitarmu Amanda, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku juga mempunyai tanggung jawab sebagai pegawai di kantor ini, aku tidak bisa bersikap sesukaku dan semauku hanya untukmu!" ucap Alvin dengan menatap kedua mata Amanda.
Amanda hanya diam tanpa mengatakan apapun lalu keluar dari ruangan Alvin dengan membanting pintu ruangan Alvin
Alvin lalu menyandarkan kepalanya di kursinya, memejamkan matanya dan melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
Kedatangan Amanda semakin membuat suasana hatinya memburuk, ia bahkan tidak sadar apa yang ia katakan menyakiti hati Amanda.
"apa yang sudah aku lakukan? dia pasti sangat marah padaku!" ucap Alvin dalam hati lalu beranjak dari duduknya dan segera berlari keluar dari ruangannya untuk mengejar Amanda.
Beruntung Amanda masih berada di depan lift untuk menunggu lift terbuka saat itu. Ketika lift baru saja terbuka dan Amanda akan masuk, Alvin segera meraih tangan Amanda, menahan Amanda agar tidak masuk ke dalam.
"Maafkan aku," ucap Alvin pada Amanda setelah berhasil menyusul Amanda agar tidak pergi.
Pintu liftpun tertutup, meninggalkan Amanda yang masih berdiri di depan lift bersama Alvin.
"Aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi," balas Amanda dengan menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku Amanda, aku tidak bermaksud mengusirmu, aku hanya terlalu lelah dengan semua pekerjaanku di kantor," ucap Alvin memberi alasan.
"Selesaikan pekerjaanmu dan tidak perlu mempedulikanku lagi," ucap Amanda sambil menarik tangannya dari genggaman Alvin.
"Amanda aku......."
Alvin menghentikan ucapannya saat ia melihat Daniel berjalan ke arahnya.
"Aku pikir kau sudah pulang!" ucap Daniel pada Alvin saat Daniel berdiri di depan lift untuk menunggu lift terbuka.
"Karena kebetulan kalian berdua ada disini, aku ingin mengajak kalian berdua untuk makan malam bersama!" ucap Daniel pada Amanda dan Alvin.
"Tidak bisa, Alvin sangat sibuk hari ini!" jawab Amanda.
"Tidak apa, aku bisa mengerjakan pekerjaanku lain kali," sahut Alvin.
"Jadi bagaimana? apa kalian berdua bisa datang? aku akan memesan 4 kursi jika kalian berdua datang!" tanya Daniel memastikan.
"Iya kita akan datang, beritahu saja alamatnya, aku akan datang bersama Amanda," balas Alvin.
"Baiklah, aku pergi dulu!" ucap Daniel lalu masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka, sedangkan Amanda dan Alvin masih berdiri di depan lift.
Amanda menatap Alvin dengan penuh tanda tanya, ia berpikir jika Alvin akan menolak ajakan Daniel untuk makan malam bersama karena ia sangat sibuk, tetapi ternyata Alvin mengiyakan ajakan Daniel tanpa berpikir sedetikpun.
"Tunggu disini sebentar, aku akan menyimpan file pekerjaanku lalu kita akan pulang untuk bersiap-siap!" ucap Alvin lalu berlari ke arah ruangannya.
Alvin menyimpan file pekerjaannya lalu merapikan meja kerjanya dan segera keluar dari ruangannya.
Alvin dan Amandapun keluar meninggalkan kantor. Alvin mengendarai mobilnya ke rumahnya untuk bersiap-siap makan malam bersama Daniel dan Nerissa.
Sesampainya di rumah, Alvin segera masuk ke dalam kamar, sedangkan Amanda menunggu Alvin di ruang tengah sambil sesekali berkeliling memperhatikan akuarium di rumah Alvin.
Tak lama kemudian Alvinpun keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi dan wangi.
"Bukankah kau sedang sibuk hari ini? kenapa kau mengiyakan ajakan Daniel?" tanya Amanda pada Alvin.
"Itu bukan pekerjaan yang mendesak, aku bisa mengerjakannya lain kali," jawab Alvin.
"Kau bahkan mengusirku tadi, tetapi saat Daniel mengajakmu makan malam kau mengiyakannya tanpa banyak berpikir," ucap Amanda sambil mengerucutkan bibirnya kesal pada Alvin.
"Maafkan aku Amanda, aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Alvin sambil memegang kedua pipi Amanda lalu memeluknya beberapa saat.
"Akuarium ini cantik sekali, aku belum pernah melihat tema aquascape yang seperti ini sebelumnya," ucap Amanda sambil menunjuk salah satu akuarium yang ada di rumah Alvin.
"Aquascape ini adalah buatanku dengan Nerissa, dia memang sangat pandai membuatnya," balas Alvin yang membuat Amanda menyesal karena sudah memuji aquascape itu.
Alvin terdiam beberapa saat menatap akuarium yang sudah ia buat bersama Nerissa, ia tersenyum tipis lalu membawa langkahnya mengikuti Amanda keluar dari rumah.
**
Di sisi lain Daniel menghubungi Nerissa untuk memberitahu Nerissa rencana makan malamnya yang mendadak.
"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang Daniel, aku bahkan belum bersiap-siap!" ucap Nerissa.
"Tidak perlu terburu buru Nerissa, aku akan menunggumu," balas Daniel.
Setelah panggilan berakhir, Danielpun mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa.
Sesampainya disana Daniel segera mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka.
"Masuklah, Putri masih bersiap-siap!" ucap Marin pada Daniel.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya lalu membawa langkahnya duduk di ruang tamu bersama Marin.
"Kenapa kau mendadak mengajak Putri makan malam Daniel? apa kau merencanakan sesuatu?" tanya Marin pada Daniel.
"Aku tidak sengaja melihat Alvin dan Amanda bertengkar di kantor, jadi aku pikir ini waktu yang tepat untuk memperlihatkan pada mereka berdua kedekatanku dengan Nerissa," jawab Daniel.
Marin hanya tersenyum tipis menyeringai mendengar jawaban Daniel.
"Ada apa dengan senyummu itu Marin? kau tidak sedang mencurigaiku bukan?" tanya Daniel pada Marin.
Marin menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau menyukai Putri dan sekarang kau berpura-pura menjadi kekasihnya, bukankah itu sangat menyenangkan untukmu?" ucap Marin sambil tersenyum hambar.
"Apa kau sedang cemburu sekarang?" tanya Daniel yang membuat Marin seketika membulatkan matanya sambil menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak ada alasan untuk aku cemburu, aku hanya tidak ingin kau memanfaatkan Putri untuk kesenanganmu saja," ucap Marin.
"Apa menurutmu aku laki-laki yang seperti itu? apa aku harus mengambil kesempatan dalam keadaan Nerissa yang menyedihkan ini?" tanya Daniel yang membuat Marin kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu kau laki-laki yang baik," ucap Marin lalu beranjak dari duduknya.
Namun saat Marin akan pergi, Daniel menahan tangan Marin, membuat Marin menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Daniel.
"Percayalah padaku Marin, aku tidak mempunyai niat buruk apapun pada Nerissa," ucap Daniel dengan menatap kedua mata marine.
Marin hanya terdiam tanpa mengatakan apapun karena dadanya yang kembali berdebar.
"Jangan membiarkan pikiranmu berkelana terlalu jauh Marin, tetaplah menjadi Marin yang aku kenal," ucap Daniel sambil menepuk-nepuk kepala Marin dengan pelan.
Marin menundukkan kepalanya dengan tersenyum tipis mendengar ucapan Daniel, tanpa sadar kedua pipinya tampak merona.
"Kau sangat cantik jika tersenyum seperti ini," ucap Daniel sambil menundukkan kepalanya menatap wajah Marin yang tertunduk.
Seketika Marin membawa pandangannya pada Daniel, membuat kedua mata mereka saling bertemu dan menatap satu sama lain untuk beberapa saat.
Debaran dalam dada Marin semakin tak terkendali saat mereka hanya saling menatap dalam diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Aku sudah siap," ucap Nerissa yang baru saja keluar dari kamar, membuat Marin dan Daniel seketika mengalihkan pandangan mereka karena salah tingkah.
"Sepertinya aku mengganggu kalian," ucap Nerissa lalu kembali masuk ke dalam kamar saat ia menyadari jika ia keluar dari kamar di waktu yang salah.
"Apa yang kau katakan Putri, cepatlah berangkat, Daniel sudah menunggumu dari tadi!" ucap Marin lalu berjalan cepat ke arah kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan kencang.
Marin berdiri di belakang pintu kamarnya dengan memegang dadanya yang masih berdebar kencang.
"apa yang baru saja terjadi, kenapa aku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku, aaahhh tidak..... ini tidak boleh terjadi," ucap Marin dalam hati.
Sedangkan Nerissa hanya terkekeh melihat sikap Marin dan Daniel yang terlihat salah tingkah.
"Maaf karena sudah mengganggu kalian berdua," ucap Nerissa pada Daniel.
"Jangan salah paham Nerissa, aku dan Marin hanya......"
"Sudah sudah, tidak perlu kau jelaskan, ayo berangkat sekarang!" ucap Nerissa memotong ucapan Daniel.
Daniel menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari rumah bersama Nerissa. Daniel mengendarai mobilnya ke arah restoran yang sudah dipesannya beberapa waktu yang lalu.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Danielpun sampai di restoran yang dituju. Setelah memarkirkan mobilnya Daniel dan Nerissa keluar dari mobil.
Saat sedang berjalan di antara banyak mobil, seorang anak kecil berlari dengan meniupkan gelembung sabun ke udara.
Gelembung sabun itu tanpa sengaja mengenai mata Nerissa, membuat Nerissa segera menghentikan langkahnya karena merasa matanya begitu perih saat itu.
"Ada apa Nerissa? apa gelembung itu mengenai matamu?" tanya Daniel yang ikut menghentikan langkahnya.
"Iya Daniel, ini terasa sangat perih di mataku," jawab Nerissa sambil menggosok matanya yang terasa perih dan gatal.
"Berhenti menggosok matamu Nerissa, itu hanya akan membuatnya iritasi," ucap Daniel sambil menahan tangan Nerissa.
Daniel menggenggam tangan kanan Nerissa agar Nerissa berhenti menggosok matanya. Daniel kemudian mendekatkan wajahnya pada Nerissa untuk memeriksa mata Nerissa yang terkena gelembung sabun.
Di saat yang bersamaan, Alvin dan Amanda baru saja sampai. Mereka berduapun segera keluar dari dalam mobil.
Namun tiba-tiba Alvin menghentikan langkahnya saat melihat Nerissa dan Daniel yang berada tak jauh darinya.
Jika dilihat dari posisi Alvin berdiri, Nerissa yang membelakangi Alvin saat itu tampak seperti sedang berciuman dengan Daniel.
Tanpa sadar Alvin menggenggam tangan Amanda dengan sangat erat bahkan membuat Amanda merasa kesakitan.
"Alvin kau menggenggam tanganku terlalu erat," ucap Amanda namun tidak dihiraukan oleh Alvin.
Alvin hanya diam melihat apa yang Nerissa dan Daniel lakukan. Dadanya terasa panas dipenuhi oleh amarah yang memuncak dalam dirinya saat itu, membuatnya tanpa sadar semakin mencengkeram tangan Amanda dengan sangat erat.
"Alvin kau menyakitiku," ucap Amanda sambil menarik tangannya, membuat Alvin seketika tersadar dan melepaskan tangan Amanda dari genggamannya.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja," ucap Alvin pada Amanda
Amanda hanya diam dengan menahan kesal dalam dirinya, jika bukan karena Daniel dan Neissa yang sedang berjalan ke arahnya, ia pasti sudah melampiaskan kemarahannya pada Alvin saat itu juga.
Namun ia harus bisa menahan amarahnya karena ia tidak ingin menunjukkannya di hadapan Nerissa dan Daniel.
"aku tidak akan membiarkanmu melihat ke arah Nerissa lagi Alvin, aku pastikan kau hanya akan menjadi milikku," ucap Amanda dalam hati.