
Nerissa dan Marin masih berada di rumah Alvin bersama Daniel. Nerissa dan Marin masih terdiam bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan Daniel dan Alvin.
Mereka tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang siapa mereka berdua dan dari mana mereka berdua berasal. Tidak pernah terbayangkan dalam benak mereka jika ada manusia yang mengetahui bahwa mereka berdua adalah mermaid, bukan manusia seperti Alvin dan Daniel.
"Aku yakin kalian berdua bukan berasal dari lingkungan yang sama sepertiku dan Alvin, kalian pasti berasal dari keluarga bangsawan berdarah biru benar bukan?" lanjut Daniel bertanya.
"Darah biru?" tanya Nerissa tak mengerti karena ia baru mendengar jika ada seseorang yang memiliki darah berwarna biru.
Marin yang mendengar hal itu tersenyum tipis dan menahan tawanya. Ia tidak menyangka jika Daniel berpikir bahwa dirinya dan Nerissa adalah Putri seorang bangsawan berdarah biru.
"Hmmmppp..... kau memang benar-benar bodoh Daniel," ucap Marin sambil menahan tawanya.
"Jawab saja pertanyaanku Marin, kau hanya diam dari tadi, membuatku semakin yakin bahwa apa yang aku pikirkan tentang kalian berdua memang benar!" balas Daniel yang begitu yakin dengan apa yang ia pikirkan saat itu.
"Bangsawan mana yang memiliki anak seorang penjual bunga Daniel, kau ada-ada saja!" ucap Marin pada Daniel.
"Bagaimana dengan mahkota itu? Nerissa juga pernah membawa 5 butir mutiara dengan harga yang tidak ternilai, jika kalian berdua memang benar-benar penjual bunga dari mana kalian berdua mendapatkan mahkota dan mutiara itu? Nerissa bahkan memberikan mutiara itu pada Delia secara cuma-cuma!"
"Apa menurutmu seorang penjual bunga tidak boleh memiliki perhiasan dan barang mewah? apa hanya orang sepertimu dan Delia yang boleh memiliki barang mewah? apa memang seperti ini caramu menilai seseorang Daniel? kau benar-benar mengecewakan!" ucap Marin pada Daniel.
Marin sengaja mengatakan hal itu pada Daniel agar Daniel merasa bersalah dan tidak menanyakan hal itu terus-menerus.
"Bukan itu maksudku Marin, aku hanya....."
"Sudahlah jangan dibahas lagi, yang penting sekarang mahkota milik Nerissa sudah kembali, jangan menanyakan sesuatu yang membuat masalah baru Daniel!" sahut Alvin memotong ucapan Daniel.
Daniel hanya menghela nafasnya kemudian kembali menyeruput minuman Marin yang ada di hadapannya.
Setelah selesai makan malam, Nerissa dan Marin pun berpamitan untuk pulang.
"Aku akan mengantar kalian berdua!" ucap Daniel pada Nerissa dan Marin.
"Tidak perlu Daniel, sepertinya kau masih belum bisa mempercayaiku dan Marin!" balas Nerissa.
"Bukan seperti itu maksudku Nerissa, maafkan aku karena sudah mempertanyakan hal itu padamu!"
"Aku sudah memesan taksi dan sebentar lagi akan sampai, jadi kau tidak perlu mengantar aku dan Putri pulang!" sahut Marin kemudian menggandeng tangan Nerissa keluar dari rumah Alvin.
Danielpun hanya bisa berdiri di tempatnya membiarkan Nerissa dan Marin pergi meninggalkan rumah Alvin.
Daniel kemudian menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu diikuti oleh Alvin yang duduk di sebelahnya.
"Tidak seharusnya kau menanyakan hal itu terlalu jauh Daniel, kau terlihat seperti memaksa mereka berdua untuk mengiyakan pertanyaanmu!" ucap Alvin pada Daniel.
"Tapi mereka berdua benar-benar misterius Alvin, apa kau tidak pernah memikirkan dari mana Nerissa memiliki mutiara dan juga mahkota yang tidak biasa itu?"
"Seperti yang Nerissa bilang, dia memiliki mahkota itu dari kedua orang tuanya," balas Alvin.
"Bagaimana dengan 5 butir mutiara yang Nerissa berikan pada Cordelia secara cuma-cuma?"
"Kau tahu Nerissa sangat polos bukan? dia bahkan tidak tahu berapa banyak uang yang dia dapat dari mahkota itu, bisa jadi Nerissa juga tidak tahu tentang mutiara itu dan dia memberikannya pada Delia karena dia berpikir jika mutiara itu terlihat cantik," balas Alvin yang masih berusaha untuk tetap berpikir positif.
"Tidak Alvin, semua itu benar-benar tidak bisa masuk logikaku, aku yakin mereka berdua bukan gadis sembarangan," ucap Daniel yang masih yakin dengan pikirannya sendiri.
"Jika memang mereka berdua bukan gadis seperti gadis pada umumnya apa yang akan kau lakukan? apa kau akan menjauhi mereka berdua?"
"Tidak, hanya saja aku harus tahu siapa mereka berdua sebenarnya!" jawab Daniel.
"Bagaimana dengan Nerissa? dia pasti tidak akan nyaman bersamamu jika kau terus memojokkan dia seperti itu!"
"Aku akan mencari tahunya sendiri Alvin, aku akan menemukan jawaban dari semua pertanyaanku tanpa harus bertanya pada Nerissa dan Marin!" balas Daniel.
"Baiklah terserah kau saja!" ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya.
Sama seperti Daniel, Alvin juga memikirkan siapa Nerissa dan Marin sebenarnya, terlebih saat Alvin mengingat tentang semua hal aneh yang terjadi padanya.
Mulai dari mimpinya tentang gadis berambut coklat terang persis seperti rambut milik Nerissa, tetapi gadis itu tidak memiliki kaki sepertinya melainkan sebuah ekor yang tampak seperti mermaid.
Alvin juga memimpikan tentang mahkota yang ternyata milik Nerissa, mahkota itu memiliki gambar mermaid di bagian dalamnya, ia tidak mengerti kenapa semua itu seperti berhubungan satu sama lain.
"apa benar ada mermaid sungguhan di dunia ini? apa benar di dalam laut sana ada kehidupan yang tidak ada seorangpun yang mengetahuinya?" batin Alvin bertanya dalam hatinya.
Alvin kemudian menggelengkan kepalanya dan mengacak acak rambutnya kasar kemudian masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya dan menyadarkan dirinya tentang semua pikiran aneh yang memutar di otaknya.
"Sejak kecelakaan kapal itu terjadi, aku terus saja mengingatnya, entah aku benar-benar melihatnya atau aku hanya bermimpi tetapi sampai sekarang aku bisa mengingat dengan jelas seseorang yang cantik dengan ekor berwarna biru dan sejak saat itu aku sangat mencintai lautan, lalu sekarang apa aku sudah mulai gila karena hal itu? apa aku terlalu memikirkan hal itu sampai membuat logikaku tidak bisa bekerja dengan baik?"
Alvin kemudian keluar dari kamar mandi dan merebahkan badannya di ranjang. Alvin lalu mengambil ponselnya dan melihat penyimpanan kontaknya.
Dr Jessica
"Apa aku harus menemui Dokter Jessica lagi? apa aku bisa menceritakan semua hal ini pada Dokter Jessica? sepertinya aku benar-benar akan gila karena memikirkan hal ini!"
Alvin kemudian memencet tombol panggil untuk menghubungi Dokter Jessica. Beberapa panggilan tidak terjawab membuat Alvin kembali menaruh ponselnya dan mengurungkan niatnya untuk menemui Dokter Jessica
Namun tiba-tiba ponselnya berdering,sebuah panggilan dari Dokter Jessica.
"Halo Alvin, maaf aku baru saja menyelesaikan konsultasi dengan pasien," ucap Dokter Jessica saat Alvin sudah menerima panggilannya.
"Tidak apa Dok, maaf karena sudah mengganggu pekerjaan dokter!"
"Ada apa Alvin? apa terjadi sesuatu padamu?"
"Mmmmm.... Alvin hanya ingin menanyakan kabar Dokter Jessica," jawab Alvin beralasan.
"Kabarku baik Alvin bagaimana denganmu?"
"Alvin juga baik Dok," jawab Alvin.
"Jika besok siang kau senggang aku ingin bertemu denganmu Alvin, sudah lama kita tidak pernah bertemu!"
"Baiklah kalau begitu hubungi aku lagi besok!"
Panggilan berakhir, Alvin pun menaruh ponselnya kembali lalu memejamkan matanya bersiap untuk segera tertidur.
**
Di tempat lain Nerissa dan Marin baru saja sampai di rumah mereka. Nerissa dan Marin saling memeluk karena begitu senang sudah mendapatkan mahkota yang lama mereka cari.
"Akhirnya mahkota ini kembali lagi padamu Putri, sekarang apa yang harus kita lakukan untuk menemukan mutiara biru milik Ratu Nagisa?" tanya Marin pada Nerissa.
"Mmmmm.... aku juga tidak tahu Marin, Bunda hanya berkata jika mahkota ini yang akan mengantarku pada mutiara biru milik Bunda," jawab Nerissa dengan menundukkan kepalanya tak bersemangat.
"Jangan bersedih Putri, setidaknya mahkota ini sudah ada di tanganmu, sekarang masuklah ke kamar dan beristirahat, kita pikirkan hal itu besok!" ucap Marin pada Nerissa.
Nerissa dan Marinpun masuk ke kamar mereka masing-masing.
Nerissa merebahkan badannya di ranjang dengan masih mengenakan mahkota di kepalanya hingga tanpa sadar ia pun tertidur.
Tiba-tiba Nerissa terbangun saat sebuah suara memanggil namanya.
"Nerissa bangunlah!"
Nerissa mengerjapkan matanya dan melihat ke sekelilingnya, namun ia tidak menemukan siapapun disana.
Saat Nerissa menatap cermin di hadapannya, ia melihat mutiara yang ada pada mahkota di kepalanya bersinar.
Nerissa kemudian melepas mahkota itu dan dengan sekejap sinar yang ada pada mutiara itu menghilang.
Nerissa lalu memakainya lagi dan mutiara yang ada pada mahkotanya pun kembali bersinar.
Nerissa kemudian beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke arah kamar Marin. Nerissa kemudian duduk di samping Marin yang sedang terbaring tidur saat itu.
Nerissa kemudian menyentuh kening Marin untuk memasuki memori Marin. Sama seperti yang pernah ia lihat sebelumnya, Nerissa berada di antara banyak pintu dengan warna yang bermacam-macam.
"Apa aku boleh membuka semua pintu ini?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri.
"Tentu saja, kau bisa membuka semuanya, tidak hanya menghapusnya kau juga bisa memanipulasi ingatan yang ada dalam memori seseorang yang kau sentuh," jawab sebuah suara tanpa seorangpun yang Nerissa lihat disana.
"Apa ada hal buruk terjadi jika aku menghapus dan memanipulasi ingatan seseorang?" tanya Nerissa.
"Tentu saja dari semua tindakan yang kau lakukan pasti ada hal baik dan buruk yang terjadi, seperti saat kau menghapus atau memanipulasi ingatan bisa jadi hal buruk terjadi karena kau tidak tahu seberapa penting ingatan seseorang untuk diri mereka sendiri dan jika kau menghapus atau memanipulasinya tentu itu akan berdampak pada hal lain yang terlibat dengan memori itu!" jawab suara misterius itu menjelaskan.
"Jadi aku tidak bisa menghapus dan memanipulasi ingatan seseorang begitu saja?"
"Itu semua terserah padamu Nerissa, kau yang memiliki kekuatan itu kau juga yang berhak menggunakannya!"
Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian menutup kembali pintu memori Marin yang sempat ia buka.
"Apa tidak ada kekuatan lain yang aku miliki? jika hanya ini kekuatanku aku tidak yakin bisa melawan Cadassi dan pangeran Merville!"
"Kekuatanmu ada pada tanganmu Nerissa, tetapi semua kekuatanmu akan menghilang jika kau tenggelam di dalam air dalam keadaan mempunyai kaki, jadi berhati-hatilah dengan air saat kau memiliki kaki!" jawab suara misterius itu.
"Dengan kekuatan yang kau miliki kau bisa menyembuhkan luka secara fisik pada manusia maupun hewan, tetapi semakin banyak dan semakin parah luka yang kau sembuhkan maka tenagamu akan cepat terkuras habis kecuali kau sudah menemukan mutiara biru itu dan menaruhnya di mahkotamu!" lanjutnya.
"Dimana aku bisa menemukan mahkota biru itu?" tanya Nerissa.
"Aku hanya bisa mengantarmu pada mahkota itu tanpa aku bisa memberitahumu siapa manusia yang saat ini memiliki mahkota biru milik bundamu!"
"Kenapa begitu? bukankah aku akan segera menemukan mutiara biru itu jika aku sudah menemukan mahkota ini?"
"Kau harus lebih peka pada sekitarmu Nerissa agar kau bisa segera menemukan mutiara biru itu!"
Nerissa menghela nafasnya kemudian keluar dari memori Marin.
Nerissa masih duduk di tepi ranjang Marin, memastikan jika Marin masih tertidur dengan nyenyak.
Dengan langkah tak bersemangat, Nerissa kembali masuk ke kamarnya dan merebahkan badannya di ranjang setelah melepas mahkota di kepalanya.
"Menghapus ingatan, memanipulasi ingatan, menyembuhkan, kenapa semua itu seperti tidak ada artinya untukku? bagaimana aku bisa mengalahkan Cadassi dan Pangeran Merville jika kekuatan yang aku punya hanya itu saja dan lagi aku sudah menemukan mahkota ini tetapi mahkota ini tidak bisa memberitahuku dimana letak mutiara biru milik Bunda!" ucap Nerissa kesal.
Nerissa berpikir jika ia sudah menemukan mahkota pemberian ayah dan bundanya ia akan segera menemukan mutiara biru milik sang Bunda lalu segera kembali ke Seabert untuk mengalahkan Cadassi dan Pangeran Merville dengan mutiara biru dan kekuatan baru yang ia dapatkan.
Tetapi kenyataan yang ia terima berbeda. Ia tidak mengerti bagaimana ia bisa mengalahkan Cadassi dan Pangeran Merville dengan kekuatan yang saat ini ia miliki.
Tanpa sadar Nerissapun terlelap bersama rasa kesal yang masih menggebu di dadanya.
Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan sang Bunda di istana tempat tinggalnya. Nerissa memeluk bundanya dengan erat, menumpahkan semua kerinduan yang selama ini ia rasakan saat berada di daratan.
Nerissa ingin menceritakan semua keluh kesahnya pada sang Bunda namun lidahnya seperti kelu tidak bisa terbuka dan mengucapkan apapun.
"Dengarkan Bunda sayang, kau adalah Putri Bunda yang baik hati dan penyayang, Bunda yakin kau tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan juga, kau pasti tahu ayah dan bunda tidak pernah mengajarkan kekerasan ataupun kejahatan dalam bentuk apapun, kau pasti mengerti maksud bunda bukan?"
Nerissa hanya terdiam ia berusaha untuk berbicara namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Bunda yakin kau bisa melakukan yang terbaik untuk Seabert, ayah dan Bunda percaya padamu Nerissa!" ucap sang Bunda kemudian berenang menjauhi Nerissa.
Nerissapun berenang mengikuti sang Bunda namun ia merasa ekornya tidak dapat bergerak.
Ia masih berada di tempatnya tanpa bisa berenang mengejar sang Bunda. Ia pun hanya bisa berteriak tanpa suara, membiarkan sang Bunda menjauh pergi darinya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Dering suara alarm berdering dengan kencang, membuat Nerissa segera membuka matanya dan menyadari jika pertemuannya dengan sang Bunda hanyalah sebuah mimpi.
Meski begitu Nerissa tetap bersyukur karena ia bisa bertemu dan memeluk sang Bunda meski hanya dalam mimpi.
Setidaknya rasa rindu dalam hatinya sedikit terobati karena melihat sang Bunda yang baik-baik saja.