Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Bermalam di Vila



Daniel masih berada di rumah sakit untuk menemani Marin yang belum juga tersadar. Setelah polisi menghubunginya Daniel begitu terkejut karena polisi memberitahunya bahwa terdapat beberapa butir mutiara yang ada di gubuk tempat Daniel menemui Marin dengan ayahnya.


Meskipun keberadaan ayah Marin masih belum ditemukan Daniel meminta polisi untuk bekerja lebih keras agar bisa menemukan keberadaan ayah Marin yang sudah menyiksa Marin dengan sangat kasar.


Tak lama setelah panggilan dari pihak kepolisian itu berakhir, Marinpun tampak mengerjapkan matanya.


"Marin, apa kau bisa mendengarku?" tanya Daniel yang masih menggenggam tangan Marin.


Marin kemudian membuka matanya perlahan dan menatap Daniel yang duduk di sampingnya.


"Syukurlah kau sudah sadar, aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu," ucap Daniel lalu menekan tombol yang berada di dekat ranjang Marin.


Tak lama kemudian dokterpun datang dan memeriksa keadaan Marin lalu menjelaskan pada Daniel bahwa tidak ada luka yang serius pada Marin.


Meski begitu Marin harus menginap di rumah sakit selama satu malam untuk memastikan keadaannya baik-baik saja sebelum ia keluar dari rumah sakit.


"Polisi belum menemukan ayahmu Marin, tapi aku sudah meminta mereka untuk berusaha lebih keras agar bisa menemukan ayahmu," ucap Daniel pada Marin.


"Jangan Daniel, aku mohon jangan melibatkan polisi dalam hal ini, aku tidak ingin ayah di penjara," ucap Marin memohon.


"Tapi apa yang sudah ayahmu lakukan sangat keterlaluan Marin, aku bahkan tidak percaya jika orang itu benar-benar ayah kandungmu," balas Daniel.


"Aku yang sudah membuat kesalahan Daniel, wajar jika ayah sangat marah padaku!"


"Apapun kesalahanmu seorang ayah tidak mungkin menyakiti anaknya seperti ini Marin!"


"Dan seorang anak tidak mungkin memenjarakan ayahnya sendiri," balas Marin.


Daniel menghela nafasnya dan semakin erat menggenggam tangan Marin.


"Aku tidak bisa tenang selama polisi belum menemukan ayahmu Marin, aku takut ayahmu akan datang dan menyiksamu seperti ini lagi," ucap Daniel dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Jangan terlalu mengkhawatirkanku Daniel, ayah hanya marah untuk sesaat padaku, aku akan membicarakan masalahku dengan ayah baik-baik jadi aku mohon padamu berhenti melibatkan polisi dalam urusan keluargaku," balas Marin sambil menarik tangannya dari genggaman Daniel.


"Apa kau yakin?" tanya Daniel memastikan.


"Dia ayah kandungku Daniel, dia orang tua satu-satunya yang aku miliki jadi aku tidak mungkin membiarkan ayah mendekam di dalam penjara karena emosi sesaatnya yang dia lakukan karena kesalahanku," jawab Marin berusaha meyakinkan Daniel.


"Baiklah kalau begitu, aku akan memberitahu polisi untuk berhenti melanjutkan pencarian ayahmu," ucap Daniel sambil menghela nafasnya pasrah mengikuti apa yang Marin inginkan.


"Terima kasih Daniel, maaf sudah membuatmu terlibat dalam masalah keluargaku," ucap Marin.


"Kau tidak perlu meminta maaf padaku Marin," balas Daniel.


"Apa aku boleh meminta tolong satu hal lagi padamu Daniel?" tanya Marin.


"Apa itu?"


"Aku ingin pulang sekarang, aku tidak ingin putri mengkhawatirkanku jika aku harus berada disini sampai besok pagi."


"Tidak, kali ini aku tidak bisa menolongmu Marin, kau harus tetap berada disini sampai dokter memperbolehkanmu pulang," balas Daniel dengan tegas.


"Tapi...."


"Pikirkanlah dirimu sendiri Marin, jangan hanya memikirkan orang lain, keselamatanmu jauh lebih penting saat ini," ucap Daniel memotong ucapan Marin dengan nada yang cukup tinggi.


Marin hanya terdiam dengan mengalihkan pandangannya dari Daniel.


"Maafkan aku..... aku tidak bermaksud memarahimu aku hanya.... aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terjadi padamu," ucap Daniel yang sadar jika dirinya tanpa sengaja membentak Marin.


Marin hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan masih memalingkan wajahnya dari Daniel.


Dalam diamnya, Marin mengingat ucapan Daniel saat mereka berada di gubuk kecil bersama sang ayah.


Daniel menyukainya, Daniel mencintainya dan Daniel akan mengusahakan apapun agar bisa bersamanya, apapun yang terjadi Daniel tidak akan membuatnya menangis dan terluka


"kau mengatakan hal itu hanya agar ayah tidak semakin menyakitiku bukan? pada kenyataannya semua yang kau ucapkan itu hanya kebohongan," ucap Marin dalam hati dengan kedua sudut mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku akan menghubungi Nerissa dan memberitahunya bahwa kau ada disini," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Marin.


**


Di tempat lain, Nerissa dan Alvin sedang berada di salah satu villa yang ada di dekat perkebunan teh.


Nerissa berdiri di balkon menatap hamparan hijau yang luas di hadapannya. Tak lama kemudian Alvinpun datang dengan melingkarkan tangannya di pinggang Nerissa.


"Kau menyukai pemandangan ini Nerissa?" tanya Alvin.


"Iya, aku sangat menyukainya, terima kasih sudah membawaku kesini Alvin," jawab Nerissa sambil mendongakkan kepalanya menatap Alvin.


Alvin hanya tersenyum lalu memberikan kecupan singkatnya di bibir Nerissa. Nerissa kemudian memeluk tangan Alvin yang melingkar di pinggangnya.


Meski hawa disana sangat dingin tapi Nerissa bisa merasakan kehangatan dari dekapan Alvin padanya, membuatnya betah berlama-lama berada dalam dekapan Alvin.


Tanpa Nerissa dan Alvin tahu berkali-kali ponsel Nerissa berdering. Namun karena mereka sedang berada di balkon saat itu, mereka tidak mendengar ponsel Nerissa yang berada cukup jauh dari tempat mereka berdiri.


Setelah puas menikmati pemandangan dari balkon Alvinpun mengajak Nerissa turun. Alvin menggandeng tangan Nerissa, membawa Nerissa ke arah belakang villa dimana ada beberapa pohon apel yang tumbuh disana.


Alvin dan Nerissapun memetik beberapa apel lalu membawanya kembali ke villa. Nerissa kemudian duduk di ruang tengah untuk menikmati acara TV favoritnya, sedangkan Alvin mengupas dan memotong apel lalu memberikannya pada Nerissa.


"Sepertinya ini akan menjadi liburan paling sempurna dalam hidupku," ucap Alvin pada Nerissa.


"Kenapa?" tanya Nerissa sambil menyandarkan dirinya pada Alvin yang duduk di belakangnya.


"Karena kita bisa bersenang-senang di pantai dan kita bisa menikmati waktu berdua disini," jawab Alvin.


"Kau benar, aku juga akan selalu mengingat liburan kita saat ini, ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku," ucap Nerissa.


"Kenapa kau berkata seperti itu? kenapa ini hanya menjadi kenangan untukmu? kau tidak berniat pergi meninggalkanku bukan?" tanya Alvin sambil membawa wajah Nerissa menatap wajahnya.


Nerissa hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Alvin dan menenggelamkan wajahnya dalam dekapan Alvin.


"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau meninggalkanku, aku akan benar-benar gila jika kau melakukan itu padaku," ucap Alvin pada Nerissa.


"Bagaimana jika aku tiba-tiba kembali setelah aku meninggalkanmu? apa kau tidak juga memaafkanku?" tanya Nerissa yang membuat Alvin semakin kesal.


"Sudahlah Nerissa, jangan membahas hal itu, kau membuatku semakin takut!"


Nerissa hanya terkekeh lalu semakin erat memeluk Alvin, begitu juga Alvin yang semakin erat mendekap Nerissa.


"biarkan aku yang menyimpan semua kenangan tentang kita, aku akan membuatmu melupakanku agar kau tidak merasa tersiksa karena perpisahan kita," ucap Nerissa dalam hati.


Menit demi menitpun berlalu, jam telah berganti membawa matahari semakin mendekat ke peraduannya.


Saat Nerissa sudah terpejam dalam dekapannya, dengan perlahan Alvin membawa Nerissa masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di ranjang.


Alvin kemudian menghubungi Daniel, memberitahu Daniel jika ia akan bermalam bersama Nerissa di villa.


"Sepertinya Nerissa tidak akan pulang malam ini, aku ingin mengajaknya bermalam di villa," ucap Alvin pada Daniel.


"Kapan kalian akan pulang?" tanya Daniel.


"Besok pagi aku akan mengantarnya pulang, apa kau bisa menjaga Marin agar Nerissa tidak khawatir?" jawab Alvin sekaligus bertanya karena ia tahu Nerissa akan menolak bermalam dengannya karena mengkhawatirkan Marin yang tinggal seorang diri di rumahnya.


"Tenang saja Marin aman bersamaku, nikmati saja waktumu bersama Nerissa," balas Daniel.


Alvinpun tersenyum senang lalu mengakhiri panggilannya setelah berterima kasih pada Daniel.


**


"Sepertinya aku tahu kenapa Nerissa tidak menerima panggilanku dari tadi," ucap Daniel pada Marin.


"Kenapa?" tanya Marin.


"Dia masih bersama Alvin sekarang, jadi sepertinya aku tidak bisa memberitahunya tentang keadaanmu saat ini," jawab Daniel.


"Tidak apa, lebih baik seperti itu agar aku tidak mengganggu kebersamaan Putri dengan Alvin," balas Marin.


"Sebagai gantinya aku yang akan menemanimu disini sampai besok," ucap Daniel yang membuat Marin segera membawa pandangannya pada Daniel.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? apa kau tidak suka jika aku menemanimu disini?" tanya Daniel.


"Pergilah Daniel, kau juga harus menemani mamamu di rumah sakit bukan?"


"Ada papa yang menemani mama, lebih baik mereka lebih banyak menghabiskan waktu berdua jadi aku tidak akan mengganggu," balas Daniel.


"Tapi....."


"Tidak ada tapi, aku akan menemanimu disini sampai kau diperbolehkan pulang oleh dokter," ucap Daniel memotong ucapan Marin.


"Baiklah kalau begitu, sepertinya aku akan semakin bosan berada disini!"


"Kenapa? bukankah kau bisa mengobrol denganku jika aku menemanimu disini?"


"Justru karena itu, aku akan semakin bosan karena aku selalu melihat wajahmu disini," balas Marin lalu mengalihkan pandangannya dari Daniel.


"Baiklah kalau begitu, sekarang pejamkan matamu dan tidurlah agar kau tidak melihat wajahku lagi," ucap Daniel sambil menaruh telapak tangannya pada mata Marin agar Marin terpejam.


Marinpun segera memegang tangan Daniel berniat untuk mengalihkan tangan Daniel dari matanya namun mereka malah saling menggenggam.


Untuk beberapa saat Marin dan Daniel saling menatap dalam diam. Namun Marin segera melepaskan tangannya saat ia tersadar atas apa yang dilakukannya.


Marin segera mengalihkan pandangannya dari Daniel, begitu juga Daniel yang tampak salah tingkah saat itu, namun Daniel berusaha untuk bisa menguasai dirinya agar tidak merusak suasana.


"Marin, tentang apa yang aku katakan pada ayahmu, aku....."


"Aku tahu," ucap Marin memotong ucapan Daniel.


"Apa maksudmu? apa yang kau tahu?" tanya Daniel.


"Aku tahu kau mengatakan hal itu untuk membelaku agar ayah tidak semakin marah padaku," jawab Marin.


Daniel hanya terdiam beberapa saat mendengar apa yang Marin ucapkan. Ia kemudian tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya pelan.


"baiklah jika memang seperti itu yang kau pikirkan," ucap Daniel dalam hati.


**


Di tempat lain, Nerissa yang baru saja terbangun dari tidurnya segera mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Alvin.


Tak lama kemudian pintu terbuka, Alvinpun masuk dan duduk di tepi ranjang.


"Apa aku membangunkanmu?" tanya Alvin sambil membelai wajah Nerissa.


"Tidak, aku baru saja bangun, apa kita pulang sekarang?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.


"Apa kita tidak bisa tinggal disini untuk semalam saja?" tanya Alvin yang membuat Nerissa mengernyitkan keningnya.


"Aku ingin bermalam bersamamu disini, hanya kita berdua," ucap Alvin.


"Tapi Marin...."


"Aku sudah meminta Daniel untuk menemani Marin, jadi jangan khawatir tentang Marin, dia pasti baik-baik saja," ucap Alvin memotong ucapan Nerissa.


"Apa aku boleh bertanya pada Marin lebih dulu?" tanya Nerissa yang dibalas anggukan kepala Alvin.


Nerissa kemudian beranjak dari duduknya lalu mengambil ponselnya di dalam tas berniat untuk menghubungi Marin, namun dia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Daniel.


"Sepertinya Daniel tadi menghubungiku beberapa kali," ucap Nerissa.


"Kenapa?" tanya Alvin.


"Entahlah, aku akan menghubunginya sekarang," jawab Nerissa lalu menghubungi Daniel.


"Halo Daniel, apa kau tadi menghubungiku?" tanya Nerissa s.etelah Daniel menerima panggilannya


"Iya tapi sepertinya kau sedang sibuk bersama Alvin," jawab Daniel.


"Aahh iya, maafkan aku, apa ada yang ingin kau sampaikan padaku?"


"Tidak ada, nikmati saja waktumu bersama Alvin dan jangan mengkhawatirkan Marin karena dia aman bersamaku," jawab Daniel.


"Benarkah? apa Marin sedang bersamamu sekarang?"


"Iya, dia sedang bersamaku sekarang," jawab Daniel.


"Apa aku boleh berbicara dengannya?" tanya Nerissa yang membuat Daniel segera memberikan ponselnya pada Marin.


"Halo Putri, aku baik-baik saja bersama Daniel, kau jangan mengkhawatirkanku dan nikmati saja liburanmu bersama Alvin," ucap Marin pada Nerissa.


"Sepertinya aku tidak akan pulang malam ini Marin, apa kau tidak keberatan?"


"Tentu saja tidak, habiskan waktumu sepuasnya bersama Alvin dan jangan terlalu memikirkanku," jawab Marin.


"Terima kasih Marin, jaga dirimu baik-baik dan segera hubungi aku jika terjadi sesuatu!"


Setelah panggilan berakhir, Nerissapun kembali menaruh ponselnya di dalam tas lalu kembali menghampiri Alvin.


"Bagaimana?" tanya Alvin pada Nerissa yang berdiri di hadapannya.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun, Alvinpun segera beranjak dari duduknya lalu memeluk Nerissa dengan erat.


Waktu berlalu, sinar terang bulan malam itu menyinari kegelapan dan keheningan di villa tempat Alvin dan Nerissa bermalam.


Alvin mengajak Nerissa untuk keluar dari villa, ia menggandeng tangan Nerissa, berjalan menyusuri keheningan di sekitar villa.


Alvin mengajak Nerissa untuk membeli jagung bakar dan coklat panas lalu kembali pulang karena udara malam yang semakin dingin.


Sesampainya di villa merissa segera berlari ke arah balkon untuk melihat hamparan bintang yang terlihat menyebar dalam gelapnya langit malam.


"Masuklah Nerissa, udara malam tidak baik untukmu!" ucap Alvin.


"Sebentar saja Alvin, aku ingin menikmati pemandangan yang sangat jarang aku lihat ini," balas Nerissa.


"Apa yang sedang kau lihat Nerissa?" tanya Alvin menghampiri Nerissa sambil memeluknya dari belakang.


"Lihatlah bintang-bintang itu, mereka seperti berada sangat dekat denganku," ucap Nerissa sambil menunjuk bintang-bintang di langit.


Alvin kemudian memutar badan Nerissa agar Nerissa menghadap ke arahnya. Tanpa banyak berkata Alvin mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan yang di bibir Nerissa.


Seketika hawa dingin yang sedari tadi dirasakan oleh Nerissa berubah menjadi kehangatan karena kecupan Alvin di bibirnya.