
Nerissa berenang meninggalkan rumah Marin dengan segala macam pikiran yang mengganggunya.
Dalam hatinya ia bersyukur karena pada akhirnya Marin tau kebenaran tentang Cadassi. Namun Nerissa tidak menyangka jika Cadassi dan Pangeran Merville mempunyai rencana sejahat itu demi tujuan buruk mereka.
Nerissa juga bimbang apakah ia harus memberitahukan pada sang bunda atau tidak tentang apa yang Cadassi dan Pangeran Merville rencanakan.
Ia tidak ingin Marin bersedih jika harus melihat ayahnya mendapat hukuman dari Ratu, meski apa yang Cadassi lakukan memang sebuah kesalahan besar yang pantas untuk mendapatkan hukuman.
Nerissa menghembuskan napasnya kasar kemudian mempercepat kibasan ekornya untuk berenang ke tepi pantai.
Dari jauh Nerissa tidak melihat siapapun yang ada di tepi pantai, ia pun berenang mendekat dan duduk di bibir pantai merasakan halusnya pasir pantai malam itu.
"Apa dia tidak akan datang?" tanya Nerissa dengan membawa pandangannya ke sekitarnya.
Nerissa menghela nafasnya kemudian berenang kembali ke dalam laut, namun saat ia membalikkan badannya, ia melihat seseorang berjalan ke arah tepi pantai.
Nerissapun segera berenang ke bawa batu karang yang besar, menyembunyikan ekornya seperti biasa.
Meski ia hanya melihat dari jarak yang cukup jauh, ia bisa mengenal siapa yang berjalan ke arah tepi pantai itu.
Dan benar saja, tak lama kemudian seseorang yang Nerissa harapkan kedatangannya berdiri di hadapannya dengan memandang ke arah laut lepas.
Nerissa tersenyum senang saat memperhatikan laki laki yang berdiri tak jauh darinya itu, meski hanya bisa melihatnya dari samping, ketampanannya masih bisa terlihat jelas di mata Nerissa.
Nerissa kemudian mengambil sebuah batu kerikil dan melemparnya ke arah laki laki itu.
Seketika laki laki itu membawa pandangannya pada Nerissa dan tersenyum pada Nerissa.
"Nerissa!" ucapnya dengan senyum yang mampu meluluhkan hati Nerissa.
"Hai," sapa Nerissa dengan melambaikan tangannya.
Alvinpun segera membawa langkahnya mendekat pada Nerissa, namun hanya sampai di atas batu karang yang ada di hadapan Nerissa.
Ia tau Nerissa tidak ingin berada terlalu dekat dengannya.
"Apa kau menungguku disini?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Tidak, aku.... aku hanya berendam seperti biasa," jawab Nerissa beralasan.
"Hmmmm.... sepertinya hanya aku yang merindukanmu," ucap Alvin yang membuat Nerissa begitu terkejut dan tak bisa menahan senyum di wajahnya.
"Kau.... merindukanku?" tanya Nerissa meyakinkan.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan menatap wajah cantik di hadapannya.
"Aku sudah beberapa hari datang kesini tapi aku tidak pernah melihatmu," ucap Alvin.
"Ada sesuatu yang terjadi di istana, jadi....."
"Istana?" tanya Alvin memastikan.
"Mmmm.... maksudku.... rumah, rumahku sudah ku anggap seperti istana hehe...." jawab Nerissa memberi alasan.
"Apa terjadi sesuatu di rumahmu?" tanya Alvin.
Nerissa menganggukan kepalanya dengan raut wajah sedih.
"Apa kau mau menceritakannya padaku? mungkin aku bisa sedikit membantumu!"
"Tidak, kau tidak akan bisa membantuku," jawab Nerissa.
"Hahaha.... baiklah, kau bisa menceritakan masalahmu padaku jika kau ingin," ucap Alvin yang tidak bisa menahan tawanya saat mendengar ucapan Nerissa yang tanpa basa basi.
"Aku tidak tau apa yang harus aku ceritakan padamu, masalahku terlalu rumit," ucap Nerissa.
"Apapun masalahmu sekarang, aku harap kau bisa menyelesaikannya dengan baik," ucap Alvin.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan membawa pandangannya pada Alvin yang saat itu sedang menatap Nerissa.
Untuk beberapa saat mereka saling menatap dalam diam. Suara deburan ombak yang memecah karang seolah terasa sunyi di telinga mereka berdua.
Saat mereka berdua sama sama tersadar, mereka segera mengalihkan pandangan mereka ke arah lain, membuat suasana sempat canggung untuk beberapa saat.
"Tidak, aku bisa pulang sendiri," jawab Nerissa.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu," balas Alvin.
"Apa yang kau lakukan disini malam ini? apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Tidak ada, aku hanya lelah dengan pekerjaanku di kantor," jawab Alvin.
"Pekerjaan?" tanya Nerissa.
"Iya, aku bekerja di perusahaan fashion dan perusahaan tempatku bekerja sedang tidak baik baik saja saat ini," jawab Alvin menjelaskan.
"Apa yang terjadi?" tanya Nerissa penasaran.
"Entahlah, sepertinya ada......."
Alvin menghentikan ucapannya. Ia sadar tidak seharusnya ia menceritakan keadaan perusahaannya pada orang lain, terlebih seseorang yang baru dikenalnya.
Entah kenapa mengobrol dengan Nerissa membuatnya begitu nyaman, hingga tak sadar ia hampir saja melewati batas.
"Apa aku terlalu banyak bercerita?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Tidak, aku suka mendengar ceritamu, lanjutkan!" jawab Nerissa.
Alvin menggelengkan kepalanya lalu memasukkan tangannya ke dalam air dan memercikkannya ke arah Nerissa.
"Kau......"
Nerissapun membalas Alvin dengan perbuatan yang sama. Untuk beberapa saat mereka saling memercikkan air ke arah satu sama lain dengan tertawa bahagia.
"Stop.... stop.... aku menyerah," ucap Alvin dengan mengangkat kedua tangannya.
"Hahaha.... kau duluan yang mulai," balas Nerissa dengan tawa kemenangan.
"Kau membuatku basah kuyup Nerissa," ucap Alvin dengan melepas kemejanya yang sudah basah.
"Hahaha.....maafkan aku, tapi ini sangat menyenangkan," balas Nerissa yang merasa begitu senang.
Alvin hanya tersenyum tipis melihat Nerissa yang tertawa puas, kecantikan yang Nerissa miliki seolah semakin terpancar bersama tawa bahagia yang Alvin lihat.
Alvin lalu melihat ke arah jam di tangannya kemudian berdiri dari duduknya.
"Ini sudah sangat larut Nerissa, apa kau tidak akan pulang?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Aku belum ingin pulang, kau pulang saja dulu," jawab Nerissa.
"Kau selalu membuatku menjadi laki laki brengsek dengan membiarkanmu disini sendirian!" ucap Alvin dengan memandang ke arah laut lepas di hadapannya.
"Jangan berpikir seperti itu, aku tau kau laki laki yang baik, mungkin suatu saat nanti aku akan membutuhkan bantuanmu!" balas Nerissa.
"Kau harus mendatangiku kalau kau memang membutuhkan bantuanku, aku akan berusaha membantumu sebisaku," ucap Alvin bersungguh sungguh.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Dengan berat hati, Alvinpun pergi meninggalkan Nerissa seperti pertemuan mereka sebelumnya.
Setelah memastikan Alvin meninggalkan pantai, Nerissapun berenang kembali ke istana.
Dalam hatinya ia masih menyimpan kebahagiaan singkat yang baru saja ia rasakan bersama laki laki yang belum juga ia tau siapa namanya.
Entah kenapa setiap bertemu dengannya Nerissa selalu lupa untuk menanyakan namanya.
"Sekarang aku harus kembali fokus dengan masalah di istana, aku tidak bisa membiarkan Cadassi dan Pangeran Merville melanjutkan rencana jahat mereka," ucap Nerissa sambil berenang memasuki istana.
Saat baru saja melewati gerbang istana, ia melihat Cadassi yang baru saja keluar.
"Selamat malam Putri," sapa Cadassi pada Nerissa.
Nerissa hanya menundukkan kepalanya tanpa membalas sapaan Cadassi kemudian masuk ke dalam istana.
"kau memang keterlaluan Cadassi, ayah dan bunda sangat mempercayaimu tapi kenapa kau menginginkan lebih dari yang seharusnya?"