
Alvin masih berada di tepi pantai. Bersama hujan yang sudah membasahi dirinya ia masih berusaha mencari Nerissa.
"Nerissa, keluarlah, aku mohon!" ucap Alvin berteriak.
Di sisi lain, Nerissa yang sudah berada cukup jauh dari Alvin hanya bisa melihat Alvin dari balik batu karang yang berada di tengah laut.
Ia merasa bersalah karena sudah meninggalkan Alvin begitu saja, namun ia juga tidak bisa menghadapi Alvin dengan ekor miliknya.
"Maafkan aku Alvin," ucap Nerissa pelan.
Nerissa hanya diam memperhatikan Alvin dari jauh. Dalam hatinya ia bertanya tanya tentang sikap Alvin padanya yang sering berubah ubah, namun melihat Alvin mengkhawatirkannya seperti itu membuatnya merasa bersalah.
Setelah puas mengguyur dengan deras, hujanpun perlahan reda. Alvin yang masih berusaha mencari Nerissa segera berlari ke arah ia memarkirkan mobilnya untuk mengambil senter, berniat untuk mencari Nerissa ke dalam laut.
Tepat saat Alvin pergi, Nerissa dengan cepat berenang ke arah tepi pantai. Ia segera menepi dan memutar gelang mutiara miliknya 7 kali sehingga membuat ekornya berubah menjadi kaki.
Sebelum Alvin kembali Nerissa kembali menceburkan dirinya ke dalam air agar Alvin tidak mencurigai pakaiannya yang kering saat itu.
"Nerissa!" teriak Alvin saat ia melihat Nerissa berjalan diantara batu karang besar.
Alvin segera berlari menghampiri Nerissa dan memeluknya dengan erat. Nerissa hanya diam saat Alvin memeluknya, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya Alvin rasakan saat itu.
"Kenapa kau tiba tiba pergi? apa kau tidak mendengar saat aku memanggilmu? kenapa kau selalu membuatku khawatir Nerissa?" tanya Alvin dengan memegang kedua bahu Nerissa, penuh kekhawatiran.
"Maafkan aku, aku....."
"Apa kau baik baik saja? apa ada yang terluka?" tanya Alvin dengan menatap wajah cantik yang sudah basah kuyup di hadapannya.
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Alvin.
"Sepatumu basah, apa kau mau memakainya?"
"Tidak, aku akan membawanya saja," jawab Nerissa dengan mengambil sepatu miliknya dari tangan Alvin.
"Kita harus pergi dari sini sebelum hujan lagi," ucap Alvin dengan merangkul bahu Nerissa dan mengajaknya berjalan ke arah mobilnya.
Alvin kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan pantai. Ia menepikan mobilnya saat ia melihat sebuah mini market.
"Tunggu sebentar dan jangan pergi kemana mana!" ucap Alvin pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya patuh.
Alvin kemudian keluar dari mobilnya dan berlari kecil ke arah mini market. Ia membeli sandal, minuman hangat dan juga handuk kecil.
Ia segera kembali setelah mendapatkan apa yang ia perlukan.
"Minumlah, ini akan menghangatkanmu," ucap Alvin sambil memberikan minuman hangat pada Nerissa.
"Terima kasih," ucap Nerissa sambil menyeruput minuman hangat pemberian Alvin.
Alvin kemudian mengambil handuk kecil dari kantong belanjanya dan memberikannya pada Nerissa. Ia juga mengambil sepasang sandal dan menaruhnya di dekat kaki Nerissa.
"Pakailah!" ucap Alvin lalu menghidupkan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan mini market.
"Aku tidak akan mengantarmu pulang, lebih baik kau bermalam di rumahku karena jarak rumahku dari sini lebih dekat," ucap Alvin pada Nerissa.
"Aku harus pulang, Marin pasti mengkhawatirkanku sekarang!" balas Nerissa.
"Kalau kau memikirkan Marin, seharusnya kau tidak pergi ke pantai dan membahayakan dirimu seperti ini!" ucap Alvin yang membuat Nerissa terdiam.
"Aku akan memberi tahu Marin kalau kau berada di rumahku, besok pagi aku akan mengantarmu pulang," lanjut Alvin.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya, tidak berani membantah lagi. Ia sudah cukup merasa bersalah karena membuat Alvin khawatir saat dirinya pergi dari tepi pantai.
Nerissa juga merasa senang karena Alvin terlihat begitu peduli padanya malam itu. Ia seperti melihat Alvin yang dulu dikenalnya, bukan Alvin yang pemarah dan menyebalkan.
Sebelum sampai di rumah, Alvin menghubungi bi Sita, meminta bi Sita untuk menyiapkan air hangat di kamar Nerissa.
"Bi, tolong siapkan air hangat untuk Nerissa mandi!"
"Di kamar atas Tuan?"
"Iya, Nerissa akan bermalam disana malam ini," jawab Alvin.
"Baik Tuan," ucap bibi.
Sesampainya di rumah, Alvin dan Nerissa segera turun dari mobil.
"Naiklah ke kamarmu, bibi sudah menyiapkan air hangat untukmu," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
Alvin kemudian masuk ke kamarnya, begitu juga Nerissa yang segera naik ke lantai dua untuk masuk ke kamar yang pernah ditempatinya.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari, namun Alvin masih terjaga dengan banyak tissue yang berserakan di lantainya.
Ya, ia sedang flu dan demam malam itu.
Di sisi lain, Nerissa yang merasa haus segera keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur.
Saat berjalan di depan kamar Alvin, ia mendengar suara Alvin yang sedang bersin dengan kencang.
Nerissa pun segera mendekat dan mengetuk pintu kamar Alvin.
"Alvin, apa kau baik baik saja?" tanya Nerissa dari depan pintu kamar Alvin.
"Aku baik baik saja, tidurlah," jawab Alvin tanpa membuka pintu kamarnya.
Nerissa yang kembali mendengar Alvin bersin dengan kencang segera ke dapur untuk membuat minuman hangat yang akan ia berikan pada Alvin.
"Alvin, buka pintunya, aku membawa minuman hangat untukmu," ucap Nerissa.
Tak lama kemudian pintu terbuka, dilihatnya Alvin yang berdiri dengan raut wajah yang pucat.
"Kau sedang tidak baik baik saja," ucap Nerissa kemudian masuk dan menaruh minuman hangat di meja Alvin.
Alvin yang berjalan ke ranjangnya tiba tiba saja kehilangan keseimbangan tubuhnya dan terjatuh ke lantai.
Nerissa berusaha untuk menahan Alvin, namun badan Alvin yang lebih besar darinya membuatnya kesulitan untuk menahan tubuh Alvin.
Alhasil Nerissa ikut terjatuh dan kepalanya mendarat di atas dada Alvin. Nerissa terdiam beberapa saat, ia bisa mendengar dengan jelas suara detak jantung Alvin yang terdengar begitu kencang saat itu, bahkan detaknya terdengar begitu cepat.
"Nerissa, aku...."
"Aaaahh maaf, maafkan aku," ucap Nerissa yang tersadar dari posisinya saat itu.
Nerissa segera membantu Alvin untuk berdiri dan merebahkan badannya di ranjang.
"Kau demam, aku akan mengambil kain untuk mengompresmu," ucap Nerissa kemudian berbalik dan hendak pergi, namun Alvin menahan tangannya.
"Tanganmu terasa nyaman disini," ucap Alvin sambil menggenggam tangan Nerissa dan menempelkannya di lehernya.
Alvin ingat, sewaktu kecil ia selalu menarik tangan sang mama dan menaruhnya di lehernya saat ia sedang demam.
Sekarang, ia melakukan hal yang sama dengan menggunakan tangan Nerissa.
"Naiklah, kau akan lelah jika terus berjongkok," ucap Alvin meminta Nerissa untuk naik ke ranjangnya.
Dengan ragu Nerissa menaiki ranjang Alvin dengan tangannya yang masih berada di leher Alvin.
Entah pada jam berapa Nerissa dan Alvin tertidur malam itu. Rintik hujan menemani mereka berdua berkelana ke alam mimpi sampai pagi datang.
**
Malam yang panjang telah berlalu meninggalkan genangan air bekas hujan semalam.
Nerissa mengerjapkan matanya perlahan namun merasa enggan untuk bangkit dari tidurnya yang terasanya nyaman.
Saat kesadarannya belum benar benar kembali, ia merasakan sesuatu yang hangat di tangannya.
Tidak hanya itu, tangannya bahkan berada di atas dada Alvin dan tergenggam erat oleh tangan Alvin.
Nerissa kemudian membawa pandangannya pada Alvin yang masih tampak terpejam. Ia baru ingat jika semalam ia memang menemani Alvin, namun ia sama sekali tidak berniat untuk tidur di samping Alvin sampai pagi.
"seperti apa sebenarnya dirimu Alvin? terkadang kau menjadi laki laki yang penuh perhatian, tapi terkadang kau menjadi laki laki yang dingin dan kasar, sikapmu membuatku bingung Alvin!" batin Nerissa dalam hati.
"apa aku harus melihat memorimu untuk memastikan apakah kau benar benar melupakanku atau tidak?"
Saat Nerissa akan menyentuh kening Alvin, pintu kamar Alvin tiba tiba diketuk oleh bibi, membuat Nerissa segera membawa pandangannya ke arah pintu.
Tooookkkk tooookk tooookkk
"Maaf Tuan, ada sesuatu yang harus saya sampaikan," ucap bibi dari balik pintu.
"Nerissa!" ucap Alvin yang baru bangun dari tidurnya.
Nerissa yang sadar jika Alvin sudah bangun segera kembali membawa pandangannya pada Alvin. Mereka terdiam dengan saling menatap dengan tangan Nerissa yang masih berada dalam genggaman Alvin.
"Tuan Alvin!" ucap bibi sambil kembali mengetuk pintu, membuat Nerissa tersadar dan segera menarik tangannya dari genggaman Alvin.
"Iya bi, sebentar!" ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya, sedangkan Nerissa duduk di tepi ranjang.
"Ada apa bi?" tanya Alvin pada bibi.
"Bibi mau izin untuk pulang kampung Tuan, anak bibi sakit keras di rumah," jawab bibi.
"Kapan bibi akan berangkat?" tanya Alvin.
"Kalau diizinkan, pagi ini bibi berangkat karena perjalanan ke kampung bibi cukup jauh," jawab bibi.
"Baiklah, bibi siapkan saja barang barang yang perlu bibi bawa, saya akan pesankan mobil yang akan mengantar bibi pulang," ucap Alvin.
"Terima kasih Tuan, terima kasih," ucap bibi lega karena Alvin mengizinkannya pulang.
"Tapi.... apa Tuan baik baik saja? Tuan terlihat pucat!" tanya bibi memperhatikan Alvin.
"Hanya sedikit pusing, tapi pasti segera membaik," jawab Alvin.
"Apa Tuan yakin mengizinkan bibi pulang? siapa nanti yang akan mengurus rumah dan akuarium?"
"Jangan pikirkan hal itu bi, bibi harus pulang untuk menemani anak bibi!" jawab Alvin.
"Terima kasih Tuan, saya permisi," ucap bibi yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.
Alvin kembali masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjangnya dengan memegang kepalanya yang terasa pusing.
Alvin kemudian menghubungi temannya yang bisa menyediakan mobil dan supir untuk mengantar bibi pulang kampung.
"Sepertinya kau tidak baik baik saja," ucap Nerissa pada Alvin.
"Aku baik baik saja, pulanglah, aku akan memesan taksi untukmu!"
Nerissa kemudian memegang tangan Alvin dan benar saja, suhu badannya terasa panas.
"Kau demam, kau sakit Alvin, kenapa kau membiarkan bibi pergi?"
"Bibi harus pulang ke rumahnya karena anaknya membutuhkannya, aku tidak mungkin melarang bibi pergi!" jawab Alvin.
"Tapi....."
Toookkkk toookkk toookkk
Pintu kembali diketuk, Alvin segera beranjak dari duduknya dan mengambil segepok uang yang akan ia berikan pada bibi.
Nerissa lalu mengikuti Alvin keluar dari kamar untuk menemui bibi.
"Semoga ini bisa membantu biaya pengobatan anak bibi," ucap Alvin sambil memberikan uang pada bibi.
"Terima kasih banyak Tuan, bibi akan segera kembali setelah anak bibi sembuh," ucap bibi.
"Jangan terlalu terburu buru bi, nikmati waktu bibi bersama anak bibi setelah dia sembuh," balas Alvin.
Bibi kembali berterima kasih kemudian berjalan keluar dari rumah Alvin. Saat Alvin akan mengantar bibi keluar, ponsel di kamarnya berdering, membuatnya segera kembali masuk ke kamarnya.
Alhasil, hanya Nerissa yang mengantar bibi keluar.
"Non, apa bibi boleh minta tolong?" tanya bibi pada Nerissa.
"Selagi Nerissa bisa, pasti Nerissa akan membantu bibi karena bibi sudah menyembuhkan kaki Nerissa!"
"Tolong jaga Tuan Alvin selama bibi pulang kampung ya non, tolong bantu Tuan Alvin membersihkan dan merawat ikan ikan di akuariumnya," ucap bibi dengan memegang kedua tangan Nerissa.
"Nerissa tidak yakin Alvin akan mengizinkan Nerissa berlama lama disini bi," balas Nerissa ragu.
"Non Nerissa adalah perempuan pertama yang diizinkan menginap disini, jadi pasti non Nerissa adalah perempuan yang istimewa di mata Tuan Alvin," ucap bibi.
"Aaahhhh bibi berlebihan, dia bahkan sering memarahi Nerissa," balas Nerissa dengan tertawa kecil.
"Bibi sangat mengenal Tuan Alvin dengan baik non dan bibi rasa non Nerissa bukan perempuan biasa di mata Tuan Alvin!"
"Tapi....."
"Itu mobil bibi sudah datang!" ucap Alvin yang tiba tiba datang.
"Aaahh iya, bibi permisi Tuan Alvin, non Nerissa!" ucap bibi dengan sedikit membungkukkan badannya kemudian berjalan keluar dari gerbang rumah Alvin.
Setelah kepergian bibi, Nerissa dan Alvin masih terdiam di tempat mereka berdiri.
"Mmmmm.... aku....."
"Aku akan memesan taksi untukmu," ucap Alvin memotong ucapan Nerissa.
"Kau sudah memberi makan ikanmu?" tanya Nerissa tiba tiba.
"Belum, aku...."
"Kau tidak lihat mereka semua kelaparan? aaaahhh kasian sekali mereka mendapatkan Tuan yang tidak memperhatikan mereka dengan baik," ucap Nerissa memotong ucapan Alvin.
"Setiap pagi aku selalu memberi mereka makan, tapi hari ini aku terlambat bangun karena sedang tidak sehat, jadi aku juga terlambat memberi mereka makan," balas Alvin memberi alasan.
"Kau terlalu banyak beralasan," ucap Nerissa mencibir.
Alvin hanya diam kemudian mengambil makanan ikan yang ada di laci bagian bawah. Saat ia berjongkok untuk mengambilnya, ia merasa kepalanya tiba tiba pusing.
"Kau kenapa?" tanya Nerissa khawatir.
"Tidak, aku tidak apa apa," jawab Alvin dengan memegangi kepalanya.
Nerissa kemudian memegang bahu Alvin dan mengajaknya duduk.
"Duduklah, aku akan mengambilkan minum untukmu," ucap Nerissa.
Saat memberikan minuman pada Alvin, tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan Alvin.
"Suhu badanmu terlalu tinggi, kau harus ke rumah sakit!" ucap Nerissa.
"Tidak Nerissa, aku baik baik saja, aku hanya perlu istirahat sebentar!" balas Alvin.
"Tolong jangan menyusahkanku Alvin, aku tidak mungkin menggendongmu ke rumah sakit kalau kau pingsan disini!" ucap Nerissa yang membuat Alvin menahan tawanya.
"Baiklah, aku akan pergi ke rumah sakit, kau mau mengantarku?"
"Tentu saja tidak, aku harus mengurus ikan ikan ini, aku janji akan menjaga mereka dengan baik, apa kau percaya padaku?"
Alvin menganggukan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengucapkan apapun karena ia tau Nerissa sangat mencintai kehidupan laut seperti apa yang Marin tulis di dalam surat untuknya.