
Nerissa masih berada di tempat makan bersama Daniel. Ia masih terdiam mendengarkan apa yang baru saja Daniel ucapkan padanya.
"Aku benar-benar menyukaimu Nerissa, aku ingin mengenalmu lebih jauh, aku ingin menjadi seseorang yang bisa selalu kau andalkan, seseorang yang dengan tulus menjaga hatinya hanya untukmu, aku selalu ingin berada didekatmu Nerissa, apakah aku bisa menjadi seseorang yang seperti itu untukmu?"
Nerissa masih terdiam ia bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan Daniel karena selama ini ia hanya menganggap Daniel sebagai teman yang baik tidak lebih dari itu.
"Mungkin apa yang aku sampaikan sekarang membuatmu terkejut, aku bisa mengerti hal itu aku akan memberikan waktu untukmu Nerissa, aku akan menunggu sampai kau bisa menjawabnya!" ucap Daniel yang seolah mengerti apa yang Nerissa pikirkan.
"tidak, aku tidak bisa membuatnya menunggu tanpa kepastian, selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman yang baik, aku tidak boleh membuatnya terlalu berharap dengan membiarkannya menunggu," ucap Nerissa dalam hati.
"Daniel, terima kasih karena sudah menyukaiku dan terima kasih karena sudah memiliki perasaan seperti itu terhadapku, tetapi aku tidak akan menyita waktumu untuk menunggu jawaban yang mungkin tidak kau harapkan," ucap Nerissa.
"Apa kau tidak menyukaiku Nerissa? apa kau tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku?" tanya Daniel.
"Aku menyukaimu Daniel, tetapi hanya sebatas teman, aku aku tahu kau laki-laki yang baik aku menyukaimu sebagai teman baikku tidak lebih dari itu, aku minta maaf jika sikap ku membuatmu salah paham dan aku juga minta maaf jika apa yang aku sampaikan ini ini membuatmu kecewa," ucap Nerissa.
"Apa tidak ada sedikit saja tempat dihatimu untukku?" tanya Daniel.
"Maafkan aku Daniel," ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Daniel.
"Kenapa? apa ada seseorang yang sudah ada di hatimu? apa ada seseorang yang sudah membuatmu jatuh hati padanya?" tanya Daniel.
Nerissa terdiam sebelum menjawab pertanyaan Daniel. Dalam hatinya ia mengucapkan nama Alvin, seseorang yang sudah membuatnya jatuh hati sejak pertama kali ia bertemu Alvin di tepi pantai.
Beberapa kali mereka bertemu, mengobrol bercanda dan tertawa bersama membuat Nerissa semakin menyukai Alvin
Meski sikap Alvin sempat dingin padanya, tetapi semakin lama ia mengenal Alvin ia semakin tahu jika Alvin bukanlah laki-laki yang dingin.
Baginya Alvin adalah laki-laki yang selalu bisa membuatnya bahagia, membuatnya melupakan sejenak semua masalah yang mengganggu pikirannya.
Namun Nerissa sadar ia tidak bisa mengatakan hal itu pada Daniel mengingat Daniel adalah sahabat baik Alvin.
Ia tidak ingin apa yang ia katakan bisa merusak persahabatan Alvin dan Daniel. Ia juga tidak ingin terlibat dengan perasaan yang ia miliki terlalu jauh, ia tidak ingin apa yang dirasakannya mengganggu rencananya untuk segera mendapatkan mahkota dan mutiara biru milik sang bunda.
"Aku tidak pernah memikirkan hal itu Daniel, tujuanku ke sini bukan untuk itu, ada hal lain yang lebih penting yang harus aku pikirkan dan aku lakukan di sini, aku harap kau bisa mengerti keputusanku dan sekali lagi aku minta maaf karena sudah mengecewakanmu," ucap Nerissa memberi alasan.
Daniel tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak Nerissa, kau tidak perlu meminta maaf, aku tidak akan memaksakan kehendakku padamu, tapi tolong izinkan aku tetap memiliki perasaan ini untukmu, aku akan menunggu sampai kau bisa menyukaiku, sampai kau memiliki perasaan yang sama sepertiku," ucap Daniel bersungguh-sungguh.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu Daniel, aku takut akan mengecewakanmu jika membiarkanmu menunggu seperti ini," balas Nerissa.
"Tidak apa, ini adalah pilihanku sendiri Nerissa, aku harap apa yang aku sampaikan malam ini tidak membuat hubungan kita menjadi renggang, aku tetap ingin berada dekat denganmu walaupun kau hanya menganggapku sebagai teman baikmu," ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
"aku akan membuatmu jatuh cinta padaku Nerissa, aku yakin bisa melakukan itu untuk mendapatkanmu," ucap Daniel dalam hati.
Waktu berlalu, mereka sempat canggung untuk beberapa saat setelah Daniel menyampaikan perasaannya pada Nerissa.
Mereka akhirnya meninggalkan tempat itu, Daniel mengantarkan Nerissa pulang ke rumahnya.
"Terima kasih untuk makan malamnya Daniel, aku sangat menyukai tempat kita makan malam tadi," ucap Nerissa sebelum ia keluar dari mobil Daniel.
"Aku sangat senang jika kau menyukainya, aku akan mengajakmu ke sana lagi lain kali," ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala Nerissa kemudian Nerissa turun dari mobil Daniel.
Nerissa melambaikan tangannya saat Daniel bersiap untuk melajukan mobilnya meninggalkan Nerissa.
Nerissa kemudian berjalan masuk ke dalam rumah lalu menghempaskan dirinya di ranjang tanpa berganti pakaian.
"Daniel menyukaiku? kenapa bisa? dari semua manusia yang ada di daratan kenapa harus aku? aku jadi merasa bersalah padanya tetapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku padanya," ucap nerissa dalam hati.
Tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka, marinpun masuk dan membaringkan badannya di samping Nerissa.
"Kau harus berganti pakaian setelah pulang dari luar Putri!" ucap Marin membangunkan lamunan Nerissa.
Nerissa kemudian beranjak dari ranjangnya dan berganti pakaian.
"Ada apa denganmu Putri? kenapa kau terlihat murung seperti itu?" tanya Marin yang melihat Nerissa tampak murung.
"Apa aku terlihat murung?" balas Nerissa bertanya.
"Iya, kau seperti sedang memikirkan sesuatu yang mengganggu pikiranmu, apa Daniel melakukan sesuatu yang buruk padamu Putri?"
"Tidak, justru dia mengajakku ke tempat makan dengan pemandangan yang sangat indah dan aku sangat senang berada di sana," jawab Nerissa.
"Lalu apa yang sedang mengganggu pikiranmu sekarang? apa kau tidak ingin menceritakannya padaku?"
Nerissa hanya tersenyum kemudian menjatuhkan dirinya di samping Marin.
"Marin, menurutmu mana yang lebih penting cinta atau sahabat?"
"Dua-duanya penting Putri, kenapa aku harus memilih salah satu?"
"Anggap saja kau sedang ada di situasi yang mengharuskanmu untuk memilih salah satu di antara cinta dan sahabat, mana yang akan kau pilih? merelakan sahabat pergi demi mendapatkan cintamu atau sebaliknya, merelakan cintamu pergi untuk mempertahankan persahabatanmu?"
"Aku tidak akan pernah melepaskan sahabatku Putri, bagiku sahabat adalah segalanya, cinta memang membuatku bahagia tapi kehilangan sahabat membuatku tidak akan bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya," jawab Marin.
Nerissa menganggukkan kepalanya tersenyum kemudian memeluk Marin.
"Apakah aku sahabatmu Marin?" tanya Nerissa dengan membawa pandangannya pada Marin.
"Tentu saja, bagiku kau adalah segalanya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu demi apapun, aku akan selalu ada di sampingmu Putri kau harus percaya padaku!"
"Aku tahu itu dan aku sangat mempercayaimu Marin, aku juga ingin seperti itu Marin, selalu ada didekatmu dan saling menjaga satu sama lain," balas Nerissa.
**
Di tempat lain Alvin sedang mengerjakan pekerjaannya di rumah. Beberapa berkas tampak berserakan di lantai dan beberapa tumpuk terlihat di meja kerjanya.
Tooookkkk tooookk tooookkk
Suara ketukan pintu terdengar di ruang kerjanya.
"Ada apa Bi?" tanya Alvin yang masih fokus pada komputer di hadapannya.
"Maaf mengganggu Tuan, ada telepon dari den Daniel," jawab bibi.
Alvin pun beranjak dari duduknya dan keluar dari kamarnya untuk menerima telepon dari Daniel.
"Halo, ada apa Daniel? kenapa kau menelponku tengah malam seperti ini?"
"Apa aku boleh menginap di rumahmu?" balas Daniel bertanya.
"Apa kau menghubungiku hanya untuk menanyakan hal itu? bukankah biasanya kau selalu datang tanpa menghubungiku terlebih dahulu?"
Tiba-tiba terdengar suara berisik yang Alvin dengar dari ujung teleponnya, terdengar suara beberapa orang dengan nada tinggi seperti sedang marah saat itu.
"Dimana kau sekarang? kenapa berisik sekali?" tanya Alvin pada Daniel.
"Aku sedang berada di kantor polisi sekarang, apa kau bisa menjemputku? mereka sangat berisik disini!" jawab Daniel sekaligus bertanya.
"Di kantor polisi? apa yang terjadi padamu?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya Alvin, cepatlah datang dan bantu aku keluar dari sini!" ucap Daniel tanpa menjawab pertanyaan Alvin.
Setelah menanyakan alamat kantor polisi yang Daniel maksud, Alvin pun segera keluar dari rumahnya untuk menjemput Daniel.
Sesampainya di kantor polisi pihak kepolisian menjelaskan jika Daniel mengendarai mobil dalam keadaan mabuk dan menabrak dua pengendara sepeda motor.
Beruntung dua pengendara sepeda motor itu tidak terluka parah hanya saja beberapa bagian motor tampak rusak dan meminta Daniel untuk bertanggung jawab atas kejadian itu.
Karena pengaruh alkohol yang diminumnya, Daniel menjadi lebih emosi dan tidak bersikap kooperatif pada polisi dan juga dua pengendara motor yang ditabraknya.
Alvin kemudian memberikan uang ganti rugi pada dua pengendara motor yang ditabrak oleh Daniel. Setelah meminta maaf atas kesalahan Daniel, Alvin pun berhasil membawa Daniel pergi dari kantor polisi.
Alvin masih membiarkan mobil Daniel berada di kantor polisi dan mengajak Daniel untuk pulang ke rumahnya dengan menggunakan mobilnya.
Sesampainya di rumah, Alvin dan Daniel segera turun dari mobil tapi bukannya masuk ke dalam rumah, Daniel malah berjalan keluar ke arah gerbang rumah Alvin.
"Kau mau ke mana Daniel?" tanya Alvin sambil menarik tangan Daniel.
"Aku tidak salah Alvin, dua pengendara motor itu yang salah, aku harus membuat mereka meminta maaf padaku," jawab Daniel yang membuat Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Daniel yang tengah mabuk saat itu.
Alvin menarik tangan Daniel mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Bukankah kau bisa mengendalikan seberapa banyak yang harus kau minum agar kau tidak terlalu mabuk seperti ini!" gerutu Alvin kesal.
Daniel kemudian menjatuhkan dirinya di lantai dan berbaring menatap langit-langit rumah Alvin.
"Kau tahu Alvin, aku tidak pernah mencintai seorang perempuanpun selain mama selama ini!" ucap Daniel dengan pandangan kosong.
"Iya aku tahu, sekarang berdirilah dan masuklah ke kamarmu!" balas Alvin sambil menarik tangan Daniel agar Daniel berdiri.
Alvin membantu Daniel berjalan menaiki tangga ke arah kamar yang biasa Daniel pakai saat menginap di rumah Alvin.
Alvin kemudian menjatuhkan Daniel di ranjang. Saat ia akan keluar dari kamar, Alvin menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Daniel.
"Aku sudah menyatakan perasaanku pada Nerissa!"
Alvinpun berbalik kemudian berdiri di hadapan Daniel.
"Kau...... menyatakan perasaanmu pada Nerissa?" tanya Alvin memastikan.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan mengacak-acak rambutnya kasar.
"Apa dia menolakmu?" terka Daniel.
"Dari mana kau tahu? apa dia memberitahumu? atau jangan-jangan laki-laki yang disukai Nerissa adalah dirimu? atau mungkin kalian sudah menjalin hubungan tanpa sepengetahuanku? atau...... aaahhhh kalian jahat sekali......"
"Kau berpikiran terlalu jauh Daniel, kau tidak mungkin seperti ini jika Nerissa menerima pernyataan cintamu, benar begitu bukan?"
"Aaahhhh..... iya...... kau benar hahaha....."
"Apa yang Nerissa katakan padamu Daniel? kenapa dia menolakmu?"
"Dia hanya menganggapku sebagai teman, tapi aku rasa dia sudah menyukai seseorang hanya saja dia tidak mengatakannya padaku, apa kau tahu kenapa dia melakukan hal itu Alvin? kenapa dia membohongiku?"
"Jangan terlalu berpikiran negatif tentangnya Daniel, mungkin dia sedang tidak memikirkan hal itu saat ini," ucap Alvin.
"Apa aku belum cukup baik untuknya? apa aku belum cukup tampan untuk bisa menjadi pasangannya? apa aku belum cukup kaya untuk bisa memenuhi semua keinginannya? apa yang kurang dariku Alvin? katakan padaku....."
"Kau terlalu mabuk Daniel, tidurlah besok pagi kau akan menyesali apa yang sudah kau lakukan malam ini!" ucap Alvin kemudian pergi meninggalkan Daniel.
Alvin masuk ke ruang kerjanya bukan untuk melanjutkan pekerjaannya tetapi membereskan semua berkas yang berceceran di lantai dan di mejanya.
Meski pekerjaannya belum selesai ia sengaja membereskannya karena ia tahu ia tidak akan fokus mengerjakan pekerjaannya setelah mendengar apa yang Daniel ucapkan padanya.
Setelah menyimpan hasil pekerjaannya, Alvin pun keluar dari ruang kerjanya dan masuk ke kamarnya.
Alvin lalu merebahkan badannya di ranjang. Ia menutup matanya namun pikirannya masih memikirkan apa yang baru saja Daniel ucapkan.
aku rasa dia sudah menyukai seseorang tetapi dia tidak mengatakannya padaku
"apa benar Nerissa sudah menyukai seseorang? siapa seseorang yang Nerissa sukai? jika itu bukan Daniel, apa mungkin....... tidak tidak itu tidak mungkin....." batin Alvin dalam hati.
Jam terus berputar membawa Alvin ke alam mimpinya. Lagi lagi mimpi yang sama terulang lagi, mimpi yang memperlihatkan seorang gadis cantik dengan ekor berwarna merah muda yang berkilau dan rambut coklat terang yang tergerai indah di hadapannya.
Meski samar, Alvin bisa melihat jika gadis itu tampak sangat cantik namun semakin dekat wajah gadis itu semakin tidak terlihat jelas di matanya.
Alvin kemudian membuka matanya tiba-tiba dan menyadari jika ia memimpikan hal yang sama.
Alvin kemudian beranjak dari tidurnya dan mengambil segelas air di mejanya lalu meminumnya.
"sejak aku tenggelam kemarin, aku selalu memimpikan hal ini, ada apa sebenarnya? apa yang terjadi padaku? apa aku terlalu berhalusinasi?" batin Alvin dalam hati.
Tiba-tiba sebuah cahaya yang menyilaukan matanya datang dari arah lemari pakaiannya. Alvin kemudian mendekat dan membuka lemari pakaiannya untuk melihat cahaya apa yang keluar dari dalam lemarinya.
Alvin kemudian membuka laci yang ada di dalamnya dan menyadari jika cahaya itu berasal dari kotak kayu yang berisi mahkota yang ia temukan dari pantai.
"Cahaya apa itu? apa itu berasal dari mahkota yang aku temukan?"