Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Bertemu Pangeran Merville



Nerissa masih terduduk di samping sang Bunda setelah mutiara dalam genggamannya menghilang. Tak berapa lama kemudian dia melihat kedua mata sang Bunda yang perlahan mengerjap.


Nerissa tersenyum senang saat melihat sang Bunda yang mulai membuka mata dan membawa pandangannya melihat ke arah Nerissa.


"Bunda, akhirnya Bunda sadar, terima kasih sudah bertahan untuk Nerissa dan Seabert Bunda," ucap Nerissa lalu segera memeluk sang Bunda yang masih terbaring di atas ranjang.


Ratu Nagisapun memeluk Nerissa dengan erat seolah menumpahkan seluruh rasa rindunya pada Nerissa yang sudah lama pergi meninggalkan Seabert.


"Apa yang bunda rasakan sekarang? bagaimana keadaan Bunda?" tanya Nerissa setelah ia melepaskan dirinya dari pelukan sang Bunda.


"Bunda merasa baik-baik saja sayang," jawab Ratu Nagisa.


Nerissa senang karena bunda baik baik saja," ucap Nerissa sambil kembali memeluk sang Bunda.


"Tapi kenapa kau sudah ada disini Nerissa? apa kau sudah menemukan mutiara biru milik Bunda?" tanya Ratu Nagisa pada Nerissa.


"Nerissa sudah menemukannya Bunda dan Nerissa sudah mengembalikannya ke tubuh Bunda," jawab Nerissa.


"Lalu bagaimana denganmu Nerissa? bagaimana dengan kekuatan yang kau miliki?" lanjut Ratu Nagisa bertanya.


"Nerissa sudah memahami tentang kekuatan Nerissa, tentang suara misterius yang sering Nerissa dengar, Nerissa sekarang tahu apa yang harus nerisa lakukan," jawab Nerissa.


"Tapi kau membutuhkan mutiara biru bunda untuk mengalahkan Ran, jadi lebih baik kau ambil mutiara itu dari tubuh Bunda dan gunakan untuk mengalahkan Ran serta Pangeran Merville dan Cadassi," ucap Ratu Nagisa pada Nerissa.


"Tidak Bunda, Nerissa tidak bisa menggunakan mutiara biru itu, jika Nerissa mengambilnya lagi lalu apa yang akan terjadi pada Bunda setelahnya? Nerissa tidak ingin hal yang buruk terjadi pada Bunda setelah Nerissa mengambil kembali mutiara biru itu dari tubuh Bunda," balas Nerissa menolak.


"Yang terpenting saat ini adalah keselamatan dan keamanan Seabert Nerissa, sebagai Ratu bunda harus lebih mengutamakan penghuni Seabert daripada diri bunda sendiri," ucap Ratu Nagisa.


"Bunda jangan khawatir, Nerissa akan berusaha untuk mempertahankan keselamatan dan keamanan semua penghuni Seabert tanpa harus mengambil mutiara biru itu dari tubuh Bunda," balas Nerissa.


"Jika kau menggunakan kekuatanmu maka kau juga harus bersiap akan kedatangan Ran, Nerissa!" ucap Ratu Nagisa mengingatkan.


"Nerissa mengerti Bunda, Nerissa sudah mempersiapkan semuanya," balas Nerissa meyakinkan sang Bunda.


"Terima kasih karena sudah kembali Nerissa, terima kasih karena sudah menyelamatkan Bunda dan berusaha untuk menyelamatkan istana kita, Bunda sangat bangga padamu," ucap Ratu Nagisa lalu memeluk Nerissa.


Nerissa terdiam dalam pelukan sang Bunda, sudah banyak hal yang ia korbankan demi tempat tinggalnya, jadi ia akan melakukan semua yang terbaik yang bisa ia berikan untuk Seabert agar dia tidak menyesal karena sudah meninggalkan satu-satunya laki-laki yang dicintainya di daratan.


"Bagaimana dengan kehidupanmu di daratan sayang? apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Ratu Nagisa melepaskan dirinya dari pelukan Nerissa.


"Semuanya berjalan dengan baik bunda, walaupun ada beberapa masalah Nerissa dan Marin bisa mengatasinya, Nerissa juga mempelajari banyak hal baru disana," jawab Nerissa.


"Bunda tahu ini bukan hal yang mudah untuk kau jalani, tetapi tidak ada pilihan lain karena hanya kaulah yang bisa menyelamatkan Seabert dari kekacauan ini!"


"Nerissa mengerti Bunda, selama ini Nerissa hanya bermalas-malasan dan sekarang waktunya bagi Nerissa untuk menunjukkan pada semuanya bahwa Nerissa adalah putri istana Seabert yang siap untuk menjaga Seabert dengan baik," ucap Nerissa.


Nerissa kemudian memanggil Marin, Chubasca dan Beetna untuk masuk, mereka semuapun tersenyum senang saat melihat ratu Nagisa yang sudah tampak sehat.


"Terima kasih sudah menemani Nerissa Marin, aku berhutang banyak padamu," ucap Ratu Nagisa pada Marin.


"Itu sudah menjadi janji Marin pada Putri dan Ratu bahwa Marin akan selalu menemani putri Nerissa dimanapun Putri Nerissa berada," balas Marin.


"Kau pasti akan mendapat hadiah besar karena ketulusanmu itu Marin," ucap Ratu Nagisa.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan Ratu? sepertinya Ratu tidak bisa meninggalkan ruangan ini karena hampir seluruh istana sudah dipenuhi oleh ramuan buatan ayah!" tanya Chubasca.


"Jangan khawatir, aku bisa menetralisir ramuan itu sehingga tidak membahayakan siapapun yang menghirupnya," ucap Nerissa.


"Benarkah Putri? kau sungguh bisa melakukan itu?" tanya Marin tak percaya.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Waaahh kau hebat sekali Putri, sejak kapan kau mempunyai kekuatan seperti itu?" tanya Marin sambil bertepuk tangan kecil.


"Entahlah aku juga tidak tahu, sepertinya otakku mulai bekerja dengan baik beberapa hari ini," jawab Nerissa yang membuat Marin mengernyitkan keningnya.


"Maaf sebelumnya Putri, tapi sepertinya ini bukan waktunya untuk bercanda, aku mendengar dari Morgan bahwa Pangeran Merville mengetahui kedatangan Putri, jadi kemungkinan besar Pangeran Merville akan segera datang kesini untuk menemui Putri," ucap Beetna.


"Aaahh dia lagi, menurutmu apa yang harus aku lakukan padanya Marin? aku bahkan tidak bisa memasuki memorinya karena dia memiliki mutiara biru dari orang tuanya," tanya Nerissa pada Marin.


"Bagaimana jika kita menemui ayah terlebih dahulu Putri? kau bisa memanipulasi ingatan ayah bukan? jika ayah sudah tidak membela pangeran Merville maka Pangeran Merville tidak mempunyai banyak kesempatan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan," balas Marin memberi saran.


"Aku setuju denganmu Marin, karena berkat bantuan Cadassilah Pangeran Merville bisa mendekati Nerissa," sahut Ratu Nagisa.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang ke rumah sekaligus bertemu Cadassi," ucap Nerissa pada Marin.


Nerissa kemudian berenang keluar dari istana bersama Marin, sedangkan Ratu Nagisa menemui para Morgan dengan didampingi oleh Chubasca dan Beetna.


Sebelum masuk ke dalam rumahnya, Marin menahan tangan Nerissa untuk berhenti, membuat Nerissa membawa pandangannya ke arah Marin.


"Ada apa Marin? apa kau masih takut bertemu ayahmu?" tanya Nerissa yang seolah mengerti isi pikiran Marin.


"Aku bahkan masih bisa merasakan apa yang aku rasakan saat itu Putri," jawab Marin dengan menundukkan kepalanya bersedih.


"Jangan khawatir Marin, Cadassi tidak mungkin melakukan hal yang buruk padamu selama ada aku di sampingmu," ucap Nerissa sambil menggenggam tangan Marin lalu mengajaknya kembali berenang semakin mendekat ke rumah Marin.


Sesampainya di rumah, Marin membawa pandangannya ke sekeliling rumah namun ia tidak menemukan sang ayah disana.


"Sepertinya ayah sedang tidak ada di rumah," ucap Marin pada Nerissa.


"Jika aku boleh menggunakan kekuatanku sekarang aku pasti bisa mengetahui dimana keberadaan Cadassi saat ini," ucap Nerissa.


"Benarkah? apa kau bisa melacak keberadaan ayah dengan kekuatanmu?" tanya Marin yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nerissa.


"Lebih baik kita keluar sekarang dan mencari ayahmu di tempat yang sering ayahmu datangi untuk bertemu Pangeran Merville," ucap Nerissa lalu keluar dari rumah Marin bersama Marin.


"Sepertinya banyak kekuatanmu yang baru aku tahu Putri," ucap Marin pada Nerissa saat mereka tengah berenang untuk mencari Cadassi.


"Kau ingat suara misterius yang sering aku ceritakan padamu bukan? setelah aku mendapatkan mutiara biru milik Bunda suara itu seperti selalu ada dalam diriku, dia yang selalu memberitahuku tentang banyak hal yang tidak aku tahu," balas Nerissa menjelaskan.


"Waaahh kau hebat sekali Putri, aku jadi semakin yakin bahwa kau bisa mengalahkan Ran," ucap Marin sambil bertepuk tangan kecil.


"Putri Nerissa!"


Mendengar namanya dipanggil, Nerissapun segera membawa pandangannya ke arah sumber suara yang memanggilnya dan mendapati Pangeran Merville yang sedang berenang ke arahnya bersama Cadassi.


Nerissa hanya tersenyum meski sebenarnya ia sangat kesal karena harus bertemu Pangeran Merville saat itu.


Di sisi lain, Marin yang melihat Cadassi mendekat ke arahnya segera berenang ke belakang Nerissa dan menggenggam tangan Nerissa karena ketakutan.


"Akhirnya aku bisa melihatmu lagi Putri Nerissa, aku benar-benar sangat merindukanmu setelah Ratu Nagisa menugaskanmu ke wilayah lain dengan waktu yang sangat lama," ucap Pangeran Merville.


"Jika aku boleh tahu, kemana Ratu Nagisa menugaskanmu Putri? karena sepertinya aku melihat Marin yang berada sangat jauh dari Seabert," tanya Cadassi dengan membawa pandangannya pada Marin yang berada di belakang Nerissa.


"Jika kau ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu, maka tanyakan saja pada Bunda," balas Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Cadassi.


"Bagaimana aku bisa menanyakan hal itu pada Ratu Nagisa sedangkan aku sendiri tidak tahu dimana keberadaan Ratu Nagisa saat ini," ucap Cadassi.


"Aahh iya, kau benar setelah kekacauan yang terjadi di Seabert Ratu Nagisa sepertinya melarikan diri dan....."


"Tidak, kau salah, Bunda tidak melarikan diri hanya karena kekacauan yang terjadi di Seabert, Bunda hanya sedang memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah yang terjadi karena penghianat istana, jika kalian berdua ingin menemui Bunda kalian bisa pergi ke istana sekarang juga!" ucap Nerissa memotong ucapan pangeran Merville.


"Menemui Ratu? apa kita bisa menemui Ratu sekarang?" tanya Pangeran Merville tak percaya.


Nerissa hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Pangeran Merville lalu berenang menjauh bersama Marin.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Putri? sepertinya ayah akan selalu bersama pangeran Merville," tanya Marin berbisik pada Nerissa.


"Kau benar Marin, pasti Pangeran Merville tidak akan membiarkan Cadassi berada di dekatku karena khawatir aku akan melakukan sesuatu padanya, karena dia tahu aku memiliki kekuatan yang tidak seorangpun mengetahuinya," balas Nerissa.


"Lalu bagaimana caranya agar kau bisa memanipulasi ingatan ayahku Putri? aku benar-benar ingin ayah kembali seperti dulu terlepas dari semua kejahatan yang sudah ayah lakukan, setidaknya aku masih bisa merasakan kasih sayang ayah padaku," tanya Marin dengan raut wajah bersedih.


"Aku akan memikirkannya dengan baik Marin, aku juga tidak akan membiarkan Cadassi berlama-lama dimanfaatkan oleh pangeran Merville," balas Nerissa sambil menggenggam tangan Marin.


**


Di daratan.


Daniel mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Alvin dirawat. Sesampainya disana, Danielpun segera masuk ke ruangan Alvin.


"Kau hanya mempunyai waktu dua hari untuk beristirahat Alvin, setelah ini kau harus bangun dan melanjutkan rencanamu untuk merebut apa yang sudah seharusnya menjadi milikmu," ucap Daniel pada Alvin.


Daniel kemudian mengambil laptop dari tasnya lalu mengerjakan pekerjaannya disana. Tak lama kemudian seseorang membuka pintu ruangan Alvin membuat Daniel segera membawa pandangannya ke arah pintu.


"Delia, kenapa kau bisa ada disini?" tanya Daniel terkejut.


"Alvin...... apa yang terjadi padamu Alvin? kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Cordelia yang segera membawa langkahnya ke arah Alvin tanpa menghiraukan Daniel.


"Jangan berisik Delia, kau hanya mengganggu Alvin!" ucap Daniel.


"Apa yang terjadi padanya Daniel? kenapa kau tidak memberitahuku tentang keadaan Alvin yang seperti ini?" tanya Cordelia pada Daniel.


"Aku memang merahasiakan hal ini dari semua orang, tapi kenapa kau bisa tahu jika Alvin ada disini?" jawab Daniel sekaligus bertanya.


Cordelia terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Daniel. Ia juga tidak mengerti dari mana ia mengetahui tentang keadaan Alvin saat itu.


"Siapa yang memberitahumu bahwa Alvin ada disini Delia?" tanya Daniel membuyarkan lamunan Cordelia.


"Entahlah...... aku juga tidak tahu," jawab Cordelia yang juga merasa bingung pada dirinya sendiri.


Tanpa Cordelia sadari, sebelum Nerissa menghapus ingatannya Nerissa memberitahu Cordelia tentang apa yang terjadi pada Alvin namun Nerissa hanya menyisakan ingatan tentang keadaan Alvin dengan menghapus bagian dirinya dari ingatan Cordelia.


"Jika kau sudah mengetahui keadaan Alvin sekarang, aku harap kau tidak memberitahu siapapun tentang keadaannya saat ini," ucap Daniel.


"Kenapa seperti itu?" tanya Cordelia tak mengerti.


"Aku curiga ada seseorang yang merencanakan kecelakaan yang terjadi pada Alvin, aku harus memastikannya terlebih dahulu agar tidak ada orang lain yang berusaha untuk mencelakai Alvin saat Alvin dalam keadaan seperti ini," jawab Daniel menjelaskan.


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? siapa yang tega melakukan hal ini pada Alvin?"


"Aku juga tidak tahu Delia dan aku sedang berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku yakin apa yang aku pikirkan itu benar," ucap Daniel.


"Aku tidak akan memaafkan siapapun yang membuatmu seperti ini Alvin, jika memang benar ada seseorang yang sengaja merencanakan kecelakaan itu maka aku akan menuntutnya dengan hukuman yang seadil-adilnya," ucap Cordelia dengan menatap Alvin yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.


"bagaimana jika seseorang itu adalah kakakmu? apa kau juga akan menuntutnya? apa kau juga akan membiarkannya mendekam di penjara?" tanya Daniel dalam hati karena hanya Ricky lah seseorang yang Daniel curigai saat itu.


Saat Cordelia akan beranjak dari duduknya ia hampir saja terpeleset karena menginjak sesuatu yang ada di bawah kursi di dekat ranjang Alvin.


Cordelia kemudian berjongkok dan mendapati satu butir mutiara yang ada di lantai, namun ia begitu terkejut saat ia menyadari bahwa tidak hanya satu tapi ada beberapa butir mutiara yang tercecer disana.


"Daniel, apa ini?" tanya Cordelia yang membuat Daniel segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Cordelia.


"Mutiara, apa itu mutiara sungguhan?" tanya Daniel yang juga terkejut dengan apa yang Cordelia perlihatkan padanya.


"Tidak mungkin ini mutiara sungguhan bukan? lihatlah jumlahnya bahkan sangat banyak," balas Cordelia sambil menunjuk beberapa butir mutiara yang tercecer di lantai.