
Nerissa berjalan masuk ke kamarnya tanpa menyapa Marin yang duduk di ruang tamu. Dalam hatinya ia masih merasa sedih atas apa yang baru saja terjadi.
Marin yang melihat hal itu segera beranjak dari duduknya dan melihat ke luar rumahnya. Saat ia melihat Daniel yang hanya berdiri di dekat mobilnya, Marin segera keluar dan menghampiri Daniel.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Putri?" tanya Marin pada Daniel.
"Apa dia sangat marah padaku?" balas Daniel bertanya.
"Kau pasti memaksanya pulang dari rumah Alvin, iya kan?"
Daniel hanya menggelengkan kepalanya dengan menatap pintu rumah Marin yang terbuka, berharap Nerissa akan keluar.
"Lalu apa yang kau lakukan pada Putri? bukankah seharusnya dia di rumah Alvin?"
"Aku.... mengajaknya makan siang di restoran seafood," jawab Daniel.
"Seafood? maksudmu makanan laut?" tanya Marin memastikan.
"Iya, ini salahku karena tidak bertanya sebelumnya, aku tidak tau kalau dia tidak bisa makan makanan laut!" ucap Daniel dengan menundukkan kepalanya.
"Kau benar benar bodoh Daniel!" ucap Marin dengan menggelengkan kepalanya.
Daniel kemudian membawa pandangannya pada Marin, ia menarik tangan Marin dan membawanya duduk di depan toko bunga.
"Apa aku melakukan kesalahan yang fatal? tanya Daniel pada Marin.
"Tentu saja, selama aku tinggal disini aku belum pernah melihat Putri sedih seperti itu!" balas Marin.
Daniel menundukkan kepalanya lesu, ia kemudian meraih kedua tangan Marin dan menggenggamnya.
"Tolong bantu aku Marin," ucap Daniel dengan menatap kedua mata Marin.
Marin begitu terkejut dan hanya bisa diam menatap laki laki di hadapannya. Untuk beberapa saat Marin membiarkan tangannya berada dalam genggaman Daniel.
"Bantu aku agar Nerissa tidak marah padaku," ucap Daniel yang membuat Marin tersadar dan segera menarik tangannya dari genggaman Daniel.
"Pergilah... aku... aku akan bicarakan pada Putri," ucap Marin lalu beranjak dari duduknya.
"Apa dia tidak perlu dibawa ke rumah sakit?" tanya Daniel saat Marin berjalan masuk ke dalam rumah.
"Tidak," jawab Marin dengan masih terus berjalan meninggalkan Daniel.
"Kau yakin? apa dia tidak alergi?" tanya Daniel setengah berteriak karena Marin yang semakin jauh darinya.
"Tidak, pergilah!" jawab Marin lalu menutup pintu rumahnya.
Daniel hanya menghela nafasnya kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Marin masih berdiri di belakang pintu, ia memegang dadanya yang tiba tiba berdebar tanpa ia tau alasannya.
"Kenapa dadaku berdebar seperti ini? apa aku sakit?" tanya Marin dengan memegang dadanya.
"Tidak, mungkin karena aku mengkhawatirkan Putri," ucap Marin kemudian berjalan ke arah kamar Nerissa.
Ia mengetuk pintu kamar Nerissa beberapa kali namun tak ada jawaban dari dalam.
"Putri, aku akan memaksa masuk meskipun kau tidak mengizinkanku masuk!" ucap Marin kemudian membuka pintu kamar Nerissa lalu menghampiri Nerissa yang hanya duduk termenung di tepi ranjangnya.
"Hatiku terasa sakit Marin," ucap Nerissa dengan pandangan kosong.
"Karena Daniel?" tanya Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
"Aku baru beberapa lama berada di daratan, tapi aku sudah menyakiti teman teman lautku," ucap Nerissa bersedih.
"Itu bukan kesalahanmu Putri, kehidupan kita di laut dan di daratan memang terlihat sama, tapi ada beberapa hal yang membedakan, termasuk apa yang baru saja kau alami," ucap Marin.
"Maksudmu?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Di laut ikan, cumi cumi, gurita atau makhluk laut lainnya adalah teman bagi kita, tapi di daratan mereka adalah makanan bagi manusia," jawab Marin menjelaskan.
"Makanan? kenapa manusia jahat sekali? apa mereka....."
"Putri, dengarkan aku!" ucap Marin memotong ucapan Nerissa karena tidak ingin Nerissa salah paham terhadap manusia.
"Kau harus tau kalau kehidupan di darat dan di laut tidak sepenuhnya sama dan tentang makanan itu salah satunya, kau tidak bisa menyalahkan manusia hanya karena itu, karena memang sudah sewajarnya mereka menikmati hasil laut dengan memakannya," ucap Marin menjelaskan.
"Tapi...."
"Kita sekarang berada di daratan Putri, jadi aku harap kau bisa menghargai apa yang sudah menjadi kewajaran bagi manusia selama itu bukan hal yang salah," ucap Marin.
"Apa semua manusia memakan teman kita?" tanya Nerissa dengan polosnya.
"Tidak, ada juga yang alergi terhadap makanan laut, ada juga manusia yang mencintai laut, seperti Alvin contohnya," jawab Marin.
"Alvin?"
"Iya, aku rasa dia sangat menyukai lautan itu kenapa banyak akuarium di rumahnya, dia bahkan sangat marah padamu ketika dia melihat ikannya mati, kau ingat itu bukan?"
"Iya, dia memarahiku tanpa alasan!"
"Dia hanya salah paham padamu Putri, dia hanya tidak ingin ada yang menganggu ikan miliknya," balas Marin.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang Marin?" tanya Nerissa.
"Kau harus bisa memaklumi manusia yang memakan ikan ataupun hewan laut lainnya, kalau kau tidak ingin memakannya tidak masalah, katakan saja kalau kau menolaknya!" jawab Marin.
Nerissa menganggukan kepalanya mendengarkan penjelasan Marin. Kini ia mengerti bahwa Daniel bukan manusia jahat yang sengaja menyakiti teman lautnya.
"Sekarang hubungi Daniel, dia sangat menghawatirkanmu!" ucap Marin.
"Daniel? aaahh iya... aku tadi meninggalkannya begitu saja!"
Marin kemudian keluar dari kamar Nerissa, sedangkan Nerissa segera menghubungi Daniel.
"Halo Daniel, apa aku mengganggumu?" tanya Nerissa saat Daniel sudah menerima panggilannya.
"Tentu saja tidak, bagaimana keadaanmu? apa kau baik baik saja?"
"Aku baik baik saja, maaf atas kejadian di tempat makan tadi!"
"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf, seharusnya aku bertanya dulu padamu, maafkan aku!"
"Tidak apa, lain kali aku akan menemanimu makan siang lagi disana!"
"Tidak perlu, kita bisa mencari tempat makan lain yang kau suka!"
"Terima kasih Daniel!"
Setelah sambungan berakhir. Nerissa kemudian merebahkan badannya di ranjangnya.
Ia tiba tiba memikirkan Alvin.
"apa dia baik baik saja? apa Delia menjaganya dengan baik?" tanya Nerissa dalam hati.
"aaahhh lupakan, lagipula Alvin tidak memintaku untuk tetap tinggal disana, itu artinya dia lebih memilih Delia dibanding aku!"
**
Di rumah Alvin. Cordelia merasa sangat bosan karena hanya diam menonton tv di ruang tengah.
Sejak Nerissa pergi, Alvin belum keluar dari kamarnya sama sekali. Berkali kali Cordelia mengetuk pintu kamar Alvin, namun Alvin selalu mengucapkan kata yang sama.
"Pulanglah jika kau bosan, aku hanya ingin istirahat di kamar!"
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Cordelia berjalan kesana kemari untuk mengusir kejenuhannya, namun akhirnya ia menyerah.
Ia kembali mengetuk pintu kamar Alvin.
"Alvin, apa kau tidak bosan di dalam kamar dari tadi?" tanya Cordelia dari depan pintu kamar Alvin.
"Apa kau sudah bosan sekarang? jika iya, pulanglah!" balas Alvin tanpa membuka pintu kamarnya.
"Tidak, aku tidak bosan.... hanya saja... aku... aku ada janji dengan temanku malam ini!" ucap Cordelia beralasan.
"Kalau begitu pergilah!" balas Alvin.
"Apa kau akan baik baik saja?"
"Hmmmmm!"
Hening, tak ada balasan apapun. Cordelia kemudian keluar meninggalkan rumah Alvin dan pergi ke bar untuk menghilangkan kejenuhannya.
Setelah memastikan Cordelia pergi, Alvin keluar dari kamarnya untuk memberi makan ikan ikan miliknya.
"Aku harus segera mencari pengganti bibi untuk sementara!" ucap Alvin kemudian menghubungi agen tenaga kerja terpercaya untuk mencari asisten rumah tangga.
**
Hari berganti, pagi pagi sekali asisten rumah tangga pengganti bibi sudah datang. Alvin kemudian menjelaskan apa saja yang harus dikerjakan asisten rumah tangga termasuk memberi makan ikan miliknya yang berada di beberapa akuarium yang ada di rumah itu.
Alvin kemudian berangkat ke kantor setelah menjelaskan semuanya pada asisten rumah tangganya yang baru.
Namun belum sampai Alvin tiba di kantor, asisten rumah tangganya yang baru sudah menghubunginya dan memberi tahu jika ia tidak sengaja memecahkan satu akuarium kecil yang ada di rumahnya.
Tanpa banyak bertanya lagi Alvin segera memutar balik mobilnya dan kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah ia segera berlari masuk ke dalam rumah dan mendapati ikan ikannya sudah menggelepar di lantai.
Alvin segera mengambil wadah dan mengisinya air untuk menyelamatkan ikan ikan miliknya yang masih bisa diselamatkan.
"Maafkan saya Tuan, saya hanya ingin memberinya makan, saya tidak sengaja menjatuhkan akuariumnya, saya mohon maaf," ucap asisten rumah tangga itu dengan menundukkan kepalanya.
Alvin menghela nafasnya, ia sedang menahan amarah dalam dirinya saat itu. Beruntung tidak ada ikan yang mati karena Alvin bisa dengan cepat menyelamatkan mereka semua.
"Karena ini hari pertama mbak disini, saya maafkan, tapi jangan pernah menyentuh akuarium saya lagi, saya sendiri yang akan memberi makan semuanya!" ucap Alvin.
"Baik Tuan."
"Lanjutkan pekerjaan mbak yang lain, saya akan mengurus ikan ikan ini sendiri!" ucap Alvin.
"Baik Tuan, saya permisi."
Alvin kemudian menghubungi Daniel untuk memberi tahunya jika ia akan terlambat datang karena ada sedikit masalah di rumahnya.
Setelah selesai memberi makan semua ikannya, Alvin kembali memperingati asisten rumah tangganya agar tidak menyentuh akuarium sama sekali karena ada CCTV yang memantau semua kegiatannya di rumah itu.
Alvin kemudian meninggalkan rumahnya dan berangkat ke kantor dengan kesal. Sesampainya di kantor ia segera masuk ke ruangannya dan menghempaskan dirinya di kursi kerjanya.
Setelah menyalakan komputer di hadapannya, Alvin mengambil ponselnya dari saku jasnya. Ia melihat rekaman CCTV di rumahnya untuk memeriksa apa saja yang dilakukan asisten rumah tangganya yang baru.
"Dia benar benar ceroboh!" ucap Alvin kesal.
Setelah beberapa lama memantau, Alvin mengangguk anggukkan kepalanya melihat cara kerja asisten rumah tangganya yang cukup cekatan dan rapi.
Hanya saja Alvin masih kesal karena asisten rumah tangganya memecahkan akuarium miliknya.
"Selamat pagi bos!" sapa Daniel lalu duduk di hadapan Alvin.
"Kau jangan membuatku kesal Daniel!" ucap Alvin sebelum Daniel berulah.
"Kenapa kau sensitif sekali? aku hanya ingin menyerahkan laporanku!" balas Daniel sambil memberikan sebuah map pada Daniel.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya kemudian memeriksa laporan Daniel.
"Apa yang kau tunggu?" tanya Alvin pada Daniel yang masih duduk di hadapannya.
"Hmmmmm..... sepertinya suasana hatimu sedang buruk," ucap Daniel memperhatikan Alvin.
"Kalau kau tau jangan membuatnya lebih buruk!" balas Alvin.
"Baiklah, aku pergi, aku akan memanggil Delia agar menemanimu!"
"Tidak, jangan!" ucap Alvin cepat.
"Hahahaha..... halo... Delia!"
"Kau......!!!"
"Hahahaha......"
Daniel hanya tertawa sambil membuka pintu ruangan Alvin untuk keluar. Ia sudah puas membuat temannya itu semakin kesal dengan berpura pura menghubungi Cordelia.
Waktu berlalu, Daniel masuk ke ruangan Alvin untuk mengajaknya makan siang bersama.
"Apa yang terjadi di rumahmu tadi?" tanya Daniel saat mereka sudah berada di kantin.
"Asisten rumah tanggaku yang baru memecahkan akuariumku," jawab Alvin.
"Apa kau langsung memecatnya saat itu juga?"
"Tentu saja tidak, ini hari pertamanya, aku akan lihat bagaimana cara kerjanya terlebih dahulu, jadi untuk kali ini aku memaafkannya karena dia tidak sengaja!" jawab Alvin.
"Waahh waaahhh sejak kapan ada toleransi mengenai ikan ikan kesayanganmu?"
"Ikan ikan itu selamat, hanya akuariumnya saja yang hancur, tentu aku tidak akan memaafkannya jika satu saja ikanku mati!" ucap Alvin.
"Hmmm..... ternyata kau masih saja Alvin yang ku kenal hahaha....."
Alvin hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Daniel.
"Oh ya, ada yang ingin aku katakan padamu, tentang Nerissa!" ucap Daniel.
"Nerissa? ada apa dengannya? kau mengantarnya dengan selamat kan?"
"Tentu saja, kenapa kau terlalu mengkhawatirkannya?"
"Tidak, aku.... aku hanya...."
"Apa kau tau kalau dia tidak suka makanan seafood sepertimu?" tanya Daniel memotong ucapan Alvin.
"Tidak, aku tidak tau sama sekali tentang itu," jawab Alvin.
"Aku juga baru tau kemarin, dia tidak alergi, hanya saja dia terlihat sangat sedih ketika dia tau apa yang dia makan adalah cumi cumi," ucap Daniel.
"Sedih? kenapa?"
"Aku juga tidak tau, mungkin dia sepertimu, terlalu menyukai lautan sehingga menganggap semua yang ada di lautan adalah temannya!" jawab Daniel.
"Apa dia seperti itu?" tanya Alvin.
"Sepertinya, kalian berdua memang aneh," jawab Daniel.
Ucapan Daniel membuat Alvin tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Tak hanya cantik, Nerissa bahkan menyukai lautan sama sepertinya dan itu membuatnya senang.
"Seaneh apapun dia, aku tetap menyukainya," ucap Daniel dengan tersenyum sambil mengaduk aduk minuman di hadapannya.
Alvin yang mendengar hal itu hanya diam, raut wajahnya yang sebelumnya menahan senyum seketika berubah.
Ucapan Daniel seolah mengingatkan dirinya untuk tetap menjaga jarak dengan Nerissa.
Setelah selesai makan siang, Alvin dan Daniel meninggalkan kantin dan kembali ke ruangan mereka masing masing.
"Alvin, aku ada ide bagus!" ucap Daniel tiba tiba sebelum ia masuk ke ruangannya.
"Ide apa?" tanya Alvin.
"Apa kau membutuhkan seseorang yang bisa menjaga dan merawat akuarium di rumahmu?"
"Tidak, aku sendiri yang akan menjaga dan merawatnya!" jawab Alvin.
"Kau yakin? kau bahkan terlalu sibuk sampai meminta bibi membantumu untuk memberikan makan ikan ikanmu!"
"Iya, tapi aku takut hal seperti tadi pagi terulang lagi!"
"Aku tau siapa yang bisa menjaga dan merawat ikan ikanmu dengan baik!"
"Siapa?" tanya Alvin.
"Nerissa!" jawab Daniel yang membuat Alvin sedikit terkejut.
"Nerissa? kenapa Nerissa?"
"Dia sangat menyukai lautan sama sepertimu Alvin, dia pasti akan menjaga dan merawat ikan ikanmu dengan sangat baik," jawab Daniel meyakinkan.
"Jadi?"
"Jadi biarkan dia bekerja denganmu untuk menjaga dan merawat ikan ikan milikmu, aku yakin dia akan melakukannya dengan senang hati!" ucap Daniel menjelaskan.