
Nerissa terdiam tak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh mermaid tua penjaga persimpangan dunia laut dan dunia manusia.
Pengorbanan besar yang dimaksud Ratu Baruna yang pernah dikatakannya pada Nerissa ternyata adalah mengorbankan kehidupannya sebagai mermaid dan merubahnya menjadi kehidupan manusia seutuhnya.
Sejatinya Nerissa adalah mermaid yang dilahirkan dan tinggal di lautan bersama keluarga dan para mermaid lain yang dicintainya, tidak mungkin baginya untuk meninggalkan semua hal itu dan membuat dirinya menjadi manusia utuh yang tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupan lautnya.
"Aku tahu kau akan terkejut seperti mermaid lainnya, jadi simpan kembali mutiaramu dan pergilah dari sini karena kau hanya membuang waktuku Putri," ucap mermaid tua itu.
"Apa tidak ada cara lain selain cara itu?" tanya Nerissa.
"Tidak ada, itulah satu-satunya pengorbanan besar yang harus kau lakukan jika kau ingin menyelamatkan laki-laki yang kau cintai itu, semua keputusan ada padamu Putri, kau bisa menggunakan mutiara biru milikmu untuk menyelamatkannya atau mengorbankan kehidupan mermaidmu dan menjadi manusia seutuhnya untuk menyelamatkannya," jawab mermaid tua itu menjelaskan.
"Tidak..... aku tidak bisa meninggalkan kehidupanku di laut, aku adalah Putri dari Seabert, aku tidak mungkin meninggalkan istana dan kehidupanku di laut karena sejatinya aku adalah mermaid, bukan manusia," ucap Nerissa.
"Itu terserah padamu Putri, aku tidak memaksamu, lagi pula kau memiliki cara lain untuk menyembuhkan laki-laki itu yaitu dengan mutiara biru yang kau miliki," ucap mermaid tua lalu berenang pergi meninggalkan Nerissa begitu saja.
Sedangkan Nerissa masih terdiam di tempatnya memikirkan tentang apa yang harus dia lakukan.
"Aku sudah mengambil keputusan yang benar bukan? aku tidak mungkin mengorbankan kehidupanku sebagai mermaid, bukan karena aku tidak mencintai Alvin, tapi karena aku lebih mencintai Bunda dan tidak ingin pergi jauh dari bunda," ucap Nerissa dengan mata berkaca-kaca.
Nerissa kemudian meletakkan kembali mutiara merah mudanya di mahkota yang ia pakai, lalu berenang pergi kembali ke istana dengan raut wajah yang tak bersemangat.
Kini ia tidak mempunyai cara lain selain menggunakan mutiara biru pemberian ayahnya untuk menyelamatkan Alvin.
Nerissa berenang memasuki istana lalu hendak memasuki kamar, namun tiba-tiba Marin datang mengejutkannya.
"Marin, kau mengejutkanku saja!" ucap Nerissa yang terkejut dengan kedatangan Marin yang tiba-tiba.
"Aku dari tadi sudah memanggilmu Putri, tapi kau tidak mendengarku," balas Marin kesal karena sudah berkali-kali memanggil Nerissa namun ia merasa Nerissa mengabaikan panggilannya.
"Aahh benarkah, sepertinya aku tidak mendengarnya," ucap Nerissa yang membuat Marin semakin kesal.
"Kenapa wajahmu muram seperti itu Putri? bukankah kau tadi sangat bersemangat, kenapa sekarang menjadi muram seperti ini?" tanya Marin.
"Aku pikir aku sudah mendapatkan jawaban dari kebimbanganku, tapi ternyata tidak, aku hanya menemukan jalan buntu yang memaksaku untuk kembali berbalik," jawab Nerissa.
"Apa maksudmu Putri? apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiranmu saat ini?" tanya Marin.
Nerissa menggelengkan kepalanya pelan lalu masuk ke kamarnya diikuti oleh Marin.
"Apa kau masih memikirkan Alvin?" tanya Marin.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkannya Marin, aku merasa bersalah karena sudah membuatnya seperti ini dan sekarang aku harus mencari cara untuk bisa menyelamatkannya," jawab Nerissa.
"Andai saja aku tidak mencintainya mungkin aku tidak akan tersiksa seperti ini, andai saja aku tidak bertemu dengannya dan andai saja bukan Alvin yang menemukan mahkotaku!" lanjut Nerissa.
"Semuanya sudah terjadi Putri, kau harus menjalaninya dan mengambil keputusan dengan bijak agar kau tidak menyesali apa yang akan kau putuskan," ucap Marin.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Pikirkan baik-baik apa yang harus kau lakukan Putri, aku pergi dulu," ucap Marin lalu berenang pergi meninggalkan Nerissa, memberikan waktu bagi Nerissa untuk memikirkan langkah apa yang seharusnya ia lakukan.
**
Hari-hari telah berlalu, Nerissa tidak banyak berbicara dan lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan dan di dalam kamar.
Hal itu membuat Ratu Nagisa memikirkan apa yang sebenarnya tengah terjadi pada putri semata wayangnya itu, namun setiap kali Ratu Nagisa menanyakannya Nerissa hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
Hingga malam itu tiba, saat Ratu Nagisa mencari Nerissa, Ratu Nagisa mendapati Nerissa yang tengah terduduk di sudut taman dengan butir-butir mutiara yang tercecer di sekitarnya.
Ratu Nagisapun segera menghampiri Nerissa dengan raut wajah khawatir karena melihat putrinya yang sedang menangis bersedih saat itu.
Nerissa yang menyadari kedatangan sang Bundapun segera menghapus air matanya dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja meskipun sudah tampak jelas jika ia tengah bersedih saat itu.
"Tolong katakan pada Bunda apa yang sebenarnya terjadi padamu, jika kau hanya diam seperti ini kau hanya akan membuat Bunda semakin sedih sayang," ucap Ratu Nagisa dengan membelai lembut rambut Putri semata wayangnya.
"bagaimana Nerissa bisa mengatakannya Bunda, sedangkan bunda sendiri sudah menegaskan bahwa kehidupan Nerissa yang sesungguhnya ada disini, bukan di daratan, apalagi mencintai manusia di daratan," ucap Nerissa dalam hati.
"Apa kau akan diam terus seperti ini Nerissa?" tanya Ratu Nagisa yang sudah frustasi melihat sikap Nerissa yang hanya diam dan tampak bersedih selama beberapa hari.
"Nerissa menemukan jalan buntu pada masalah Nerissa Bunda, Nerissa tidak tahu apa yang harus Nerissa lakukan agar tidak menyakiti siapapun," jawab Nerissa.
"Ceritakan pada Bunda agar Bunda bisa membantumu sayang, kau mempercayai Bunda bukan?"
Nerissa menganggukkan kepalanya, namun ia ragu untuk menceritakannya pada sang Bunda, tapi pada akhirnya ia membuka mulutnya dan menceritakan kegelisahannya pada sang Bunda.
"Apa dia tidak akan bertahan hidup jika dia tidak mendapatkan kembali mutiara biru itu?" tanya Ratu Nagisa setelah mendengar semua cerita Nerissa tentang keadaan Alvin yang koma setelah Nerissa mengambil mutiara biru itu.
"Entah sampai kapan dia akan bertahan dengan keadaannya yang seperti ini Bunda, tapi yang pasti dia hanya akan kembali hidup normal dengan mutiara biru," jawab Nerissa.
"Apa kau tahu akibatnya jika kau tidak mempunyai satupun mutiara biru dalam dirimu?" tanya Ratu Nagisa.
"Mungkin Nerissa akan kehilangan semua kekuatan Nerissa," jawab Nerissa.
"Tidak semua kekuatanmu akan hilang Nerissa, hanya saja kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu dengan maksimal," ucap Ratu Nagisa.
"Benarkah Bunda? apa itu artinya Nerissa masih memiliki sedikit kekuatan yang bisa Nerissa gunakan walaupun harusnya tidak memiliki mutiara biru itu?" tanya Nerissa yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh sang Bunda.
"Jika kau kau tidak keberatan dengan hal itu, kau bisa memberikan mutiara birumu pada laki-laki itu," ucap Ratu Nagisa yang membuat Nerissa terdiam tak percaya mendengar ucapan sang Bunda.
"Nerissa boleh memberikan mutiara ini padanya Bunda?" tanya Nerissa tak percaya.
"Semua ini karena kesalahan Bunda yang sudah gegabah memberikan mutiara biru milik Bunda pada laki-laki itu, karena Bunda terlalu khawatir dan takut jika dia tidak akan terselamatkan, sekarang dia hanya bisa bertahan hidup dengan mutiara biru itu," ucap Ratu Nagisa.
"Jika saja bisa bunda akan lebih memilih untuk mengembalikan mutiara biru yang ada pada tubuh Bunda padanya, tapi seperti yang kau tahu bunda hanya akan terpejam selamanya jika mutiara milik bunda tidak ada pada tubuh Bunda," lanjut Ratu Nagisa.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu sayang?" tanya Ratu Nagisa.
"Jika Bunda mengizinkannya, maka Nerissa yakin dengan keputusan Nerissa," jawab Nerissa tanpa ragu.
"Jika memang begitu, lakukan apa yang ingin kau lakukan dan segeralah kembali ke cyber jika kau sudah menyelesaikan urusanmu di daratan," ucap Ratu Nagisa yang membuat Nerissa tersenyum senang dan segera memeluk sang Bunda.
"Terima kasih Bunda, terima kasih sudah mengizinkan Nerissa memberikan mutiara biru ini padanya," ucap Nerissa senang.
"Jadi kapan kau akan pergi ke daratan? apa kau akan mengajak Marin?"
"Tentu saja Nerissa akan mengajak Marin Bunda, apa boleh malam ini Nerissa pergi ke daratan?"
"Malam ini? kenapa terburu-buru sekali?" protes Ratu Nagisa.
"Nerissa tidak bisa berlama-lama membiarkannya koma di Rumah sakit Bunda, dia harus segera mendapatkan mutiara biru ini kembali agar dia segera sembuh," balas Nerissa menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, segeralah kembali, Bunda selalu menunggumu," ucap Ratu Nagisa lalu mencium kening Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang. Ia tidak menyangka jika sang Bunda akan mengizinkannya untuk kembali ke daratan dan memberikan mutiara biru itu pada Alvin.
Ratu Nagisa kemudian memberikan dua gelang mutiara pada Nerissa yang sebelumnya sempat Nerissa dan Marin kembalikan pada Ratu Nagisa.
Nerissa kemudian berenang menemui Marin dan segera mengajak Marin untuk pergi ke daratan. Tanpa banyak bertanya dan pikir panjang, Marinpun mengiyakan ajakan Nerissa.
Setelah berpamitan pada ayahnya, Marinpun pergi meninggalkan Seabert bersama Nerissa. Tak lupa Nerissa memberikan gelang mutiara dari sang Bunda pada Marin.
Setelah beberapa lama berenang, merekapun bisa melihat dengan jelas pantai Pasha yang ada di hadapan mereka saat itu.
Dengan penuh semangat Nerissa dan Marinpun berenang ke arah batu karang lalu segera menepi ke bibir pantai setelah memastikan bahwa tidak ada manusia disana.
Nerissa dan Marinpun memutar gelang mutiara milik mereka 7 kali dan tak lama kemudian ekor merekapun berubah menjadi sepasang kaki manusia.
"Aaaa..... kaki-kaki yang lucu..... aku sangat merindukan mereka," ucap Marin sambil menggerakkan jari-jari kakinya.
Sama seperti Marin, Nerissapun tersenyum seneng saat melihat sepasang kaki miliknya. Mereka berduapun segera beranjak dan berjalan meninggalkan pantai.
"Bukankah seharusnya kita membawa ponsel agar bisa memesan taksi Marin?" tanya Nerissa yang hanya membuat Marin terkekeh.
Mereka berduapun berjalan menyusuri trotoar jalan raya. Tiba-tiba Marin menghentikan langkahnya saat ia melihat toko bunga yang ada di seberang jalan.
Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Daniel saat ia sedang mengamati bunga-bunga yang ada di dalam toko bunga itu.
"Ada apa Marin?" tanya Nerissa yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Marin.
Karena terlalu bersemangat Nerissa dan Marinpun tidak sadar sudah berjalan sangat jauh sampai matahari mulai terbit dari ujung langit barat.
"Sepertinya kita membutuhkan uang Putri, kita harus menangis agar mendapatkan mutiara dan menukarnya dengan uang," ucap Marin yang dibalas anggukan kepala oleh Nerissa.
Mereka kemudian mencari tempat sepi di sudut kota, lalu berusaha untuk menangis agar mereka bisa mengeluarkan mutiara yang akan mereka jual.
Setelah beberapa lama merekapun sudah mengumpulkan begitu banyak mutiara.
"Waaah mutiaramu banyak sekali Marin, apa yang membuatmu sangat bersedih seperti itu?" tanya Nerissa
"Takdir hidupku sudah sangat menyedihkan Putri, jadi tidak sulit bagiku untuk menangis," jawab Marin yang membuat Nerissa terkekeh.
Sama seperti Marin, Nerissapun memikirkan tentang jalan hidupnya bersama Alvin yang berliku yang pada akhirnya memaksa mereka untuk berpisah karena dunia mereka yang jauh berbeda.
Setelah mendapatkan uang yang mereka inginkan, merekapun membeli beberapa barang yang mereka butuhkan lalu segera pergi ke rumah sakit tempat Alvin dirawat.
"Semoga dia masih berada di rumah sakit ini," ucap Nerissa saat mereka sudah tiba di depan rumah sakit.
Nerissa dan Marin kemudian berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu lalu mencari keberadaan Alvin.
Nerissa terdiam di depan pintu salah satu ruangan ICU, matanya menatap laki-laki yang terbaring di dalamnya dengan banyak alat medis yang menopang kehidupannya.
"semua ini akan berakhir sekarang juga Alvin, aku akan membawamu kembali pada kehidupanmu yang dulu, aku harap kau bisa menjalaninya dengan lebih baik setelah kau sadar," ucap Nerissa dalam hati lalu membawa langkahnya masuk ke ruangan Alvin.
Meskipun ia senang karena bisa bertemu dengan Alvin, namun hatinya terasa sakit melihat Alvin yang terpejam tak berdaya di hadapannya.
Nerissa kemudian menggenggam mutiara biru miliknya lalu menaruh genggaman tangannya di atas dada Alvin. Tak lama setelah Nerissa memejamkan matanya, sebuah cahaya keluar dari tangannya dan mutiara biru itupun lenyap dari genggaman tangan Nerissa.
Kini mutiara biru itu sudah berpindah ke dalam tubuh Alvin, memberikan kehidupan baru pada Alvin.
"Putri, jika kau sudah selesai kita harus pergi, aku takut seseorang akan datang jika kita terlalu lama berada disini," ucap Marin pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya, tepat pada saat Nerissa baru saja keluar dari ruangan Alvin, jari-jari Alvin mulai bergerak dengan pelan.
"Kau keluarlah dulu Marin, aku akan membuat dokter mendatangi ruangan Alvin agar memeriksa keadaan Alvin," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Marin.
Marinpun berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk keluar dari rumah sakit itu. Tiba-tiba Marin memperlambat langkahnya saat ia melihat Daniel yang berjalan ke arahnya.
Degup jantung Marin seakan berdetak sangat kencang saat langkah Daniel semakin dekat dengannya.
"dia tidak mungkin mengenaliku, Putri sudah menghapus memorinya tentangku," ucap Marin dalam hati sambil berjalan pelan.
Benar saja, saat mereka sudah berpapasan Daniel hanya berjalan melewati Marin begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
"waahh.... ternyata rasanya menyakitkan sekali, setelah dia menyatakan perasaannya padaku sekarang dia sama sekali tidak mengenaliku," ucap Marin dalam hati sambil memegang dadanya.
Di sisi lain Daniel yang sudah beberapa langkah melewati Marin, tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap Marin yang berjalan membelakanginya.
"Cantik," ucap Daniel dengan tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi ke ruangan Alvin