Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Makan Malam



Waktu terasa berjalan begitu lambat bagi Nerissa. Ia masih berada di rumah Cordelia bersama tuan dan nyonya Airlangga.


"Nikmati makan malammu Nerissa, mungkin sebentar lagi Alvin akan datang," ucap Cordelia pada Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya sambil diam diam merogoh isi tasnya untuk mencari ponselnya.


Ia ingin menghubungi Alvin, memberi tahu Alvin agar segera datang ke rumah Cordelia. Namun Nerissa baru tersadar jika ia meninggalkan ponselnya di rumah saat ia terburu buru mengambil tasnya.


"Aaahhh.... sial sekali," ucap Nerissa dalam hati.


Tiba tiba suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah meja makan, membuat Nerissa segera membawa pandangannya ke arah sumber suara, berharap jika langkah yang ia dengar adalah langkah Alvin.


"Waaaahhh, rupanya sudah dimulai acaranya, apa Ricky terlambat ma, pa?"


"Tidak Ricky, duduklah," ucap nyonya Airlangga menjawab pertanyaan sang anak.


"Ricky? sepertinya aku pernah melihatnya," ucap Nerissa dalam hati.


"Hai, sepertinya kita belum berkenalan, aku Ricky, presiden direktur di Atlanta Grup, tempat Alvin bekerja," ucap Ricky sambil mengulurkan tangannya pada Nerissa.


"Nerissa," balas Nerissa sambil menerima uluran tangan Alvin.


"Kau cantik sekali, jauh lebih cantik dibanding Delia hahaha....." ucap Ricky memuji kecantikan Nerissa.


"Benarkah? kalau begitu jangan makan quiche ini karena aku yang membelinya!" balas Cordelia ketus sambil menggeser piring besar berisi quiche di depan Ricky.


"Aku hanya bercanda Delia, bukankah kau tau aku sangat menyukai quiche ini?" ucap Ricky sambil merebut piring berisi quiche di hadapan Cordelia.


"Jangan seperti anak kecil, kalian tidak malu pada Nerissa?" sahut tuan Airlangga.


Ricky hanya tersenyum tipis sambil menyuapkan satu potong quiche ke dalam mulutnya.


"Ini adalah makanan pembuka kesukaan Ricky pa, daging ikan, kepiting dan udangnya sangat enak," ucap Ricky menikmati makanan di hadapannya.


"ikan? kepiting? udang?" batin Nerissa terkejut saat mendengar apa yang Ricky ucapkan.


"Seafood memang selalu lezat bukan? kau juga menyukainya kan Nerissa?" tanya Cordelia pada Nerissa yang sudah memakan beberapa potong quiche di hadapannya.


Nerissa hanya terdiam dengan kedua matanya yang tiba tiba memerah, dadanya berdebar kencang dan seolah olah kehilangan oksigennya tiba tiba.


"Ada apa denganmu Nerissa? apa kau baik baik saja?" tanya Ricky pada Nerissa.


"ikan, kepiting, udang? makanan ini......"


Nerissa seketika menutup mulutnya, ia berlari begitu saja meninggalkan meja makan.


"Ada apa dengannya? kenapa dia tiba tiba pergi?" tanya nyonya Airlangga yang terkejut dengan sikap Nerissa.


Cordelia hanya menaikkan kedua bahunya santai tanpa mengucapkan apapun. Sedangkan Ricky segera berlari keluar untuk mengejar Nerissa.


Di luar rumah, Nerissa berjongkok dengan berusaha memuntahkan seluruh isi perutnya yang sudah memakan teman teman lautnya.


Berkali kali Nerissa menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya karena kekecawannya pada dirinya sendiri yang sudah ceroboh.


Tanpa Nerissa sadari, air matanya sempat terjatuh ke lantai dan berubah menjadi beberapa butir mutiara yang menggelinding ke arah rerumputan di halaman rumah tuan Airlangga.


"Apa yang terjadi padamu Nerissa? jawablah!" ucap Ricky yang sudah ada di samping Nerissa.


Nerissa hanya diam dengan raut wajah yang sudah pucat. Entah kenapa ia seperti kehilangan tenaganya tiba tiba.


Saat Nerissa akan kembali berdiri, kakinya terasa lemah dan dalam sekejap saja pandangannya menjadi kabur dan semua yang ada di hadapannya menjadi gelap.


Nerissa pingsan dengan Ricky yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai.


Tepat saat itu juga Alvin datang dan segera keluar dari mobilnya saat melihat Nerissa jatuh dalam pelukan Ricky.


"Apa yang kau lakukan padanya Ricky!" teriak Alvin pada Ricky.


"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya....."


"Lepaskan dia, jangan pernah menyentuhnya lagi!" ucap Alvin sambil menarik Nerissa ke dalam dekapannya.


"Dia tiba tiba pingsan disini, kau harus segera membawanya ke rumah sakit!" ucap Ricky yang juga tampak panik karena Nerissa yang tiba tiba pingsan di hadapannya.


Alvin hanya diam sambil menggendong Nerissa ke dalam mobilnya. Sedangkan Cordelia segera berlari mengejar Alvin.


"Aku ikut Alvin!" ucap Cordelia yang hendak membuka pintu mobil Alvin, tetapi Alvin menarik tangan Delia menjauh dari mobilnya.


Alvin menggelengkan kepalanya kemudian berlari ke arah balik kemudi dan segera mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumah Cordelia.


Sedangkan Cordelia hanya berdiri diam di tempatnya dengan menatap mobil Alvin yang semakin menjauh darinya.


"Apa yang terjadi pada Nerissa? kenapa dia...."


"Jangan bertanya apapun padaku!" ucap Cordelia memotong pertanyaan Ricky lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


"Sepertinya dia bukan gadis biasa," ucap tuan Airlangga pada sang istri.


Nyonya Airlangga hanya menganggukkan kepalanya sambil membawa pandangannya pada Cordelia yang berjalan masuk melewatinya dengan raut wajah kesal.


Di dalam kamar, Cordelia menghempaskan badannya di ranjang, mengambil bantal dan gulingnya lalu melemparnya ke segala arah karena kesal


"Kau tidak akan pernah menang melawan Putri Nerissa,"


Cordelia lebih kesal lagi saat ia mengingat ucapan Marin padanya. Hubungannya dengan Alvin yang selama ini baik baik saja menjadi sering bertengkar sejak kedatangan Nerissa.


Hal itu membuat Cordelia semakin membenci Nerissa, terlebih saat ia melihat dengan jelas bagaimana perlakuan Alvin pada Nerissa yang membuatnya iri dan cemburu.


Meski begitu Cordelia tidak akan berdiam diri, ia tidak akan menyerah dengan membiarkan Nerissa mendapatkan Alvin.


Baginya, apapun yang terjadi ia harus bisa mendapatkan Alvin, tidak peduli siapa sebenarnya Nerissa dan dari mana Nerissa berasal.


Di sisi lain, Ricky yang hendak masuk ke dalam rumah tiba tiba membawa pandangannya ke arah rerumputan di halaman rumahnya.


Ada beberapa titik cahaya putih yang ada diantara rumput hias di halaman rumahnya, membuat rasa penasaran membawa Ricky menghampiri sumber cahaya itu.


Rickypun berjongkok untuk mendekati cahaya putih itu dan ia begitu terkejut karena melihat beberapa butir mutiara disana.


"mutiara? apa ini sungguhan? milik siapa? apa mungkin milik Nerissa?" batin Ricky bertanya dalam hati.


"tidak mungkin, jika mutiara ini sungguhan tidak mungkin Nerissa yang memilikinya karena ini pasti sangat mahal," ucap Ricky dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Ricky kemudian mengambilnya dan membawanya masuk ke dalam rumah untuk ia tanyakan pada Cordelia.


Ricky mengetuk pintu kamar Cordelia beberapa kali, namun tidak ada jawaban.


"tunggu dulu, sepertinya mutiara ini tidak mungkin milik Delia, dia bukan orang yang ceroboh, dia tidak mungkin menjatuhkan mutiaranya di halaman rumah," ucap Ricky dalam hati.


"Ada apa?" tanya Cordelia yang tiba tiba membuka pintu.


Ricky pun segera menggenggam tangannya yang membawa mutiara, menyembunyikan dari Cordelia dan memutuskan untuk merahasiakan hal itu dari Cordelia.


"Rapikan kamarmu sebelum tidur," ucap Ricky kemudian berjalan meninggalkan kamar Cordelia begitu saja, membuat Cordelia berteriak kesal pada sang kakak.


"aku akan merahasiakan hal ini dari siapapun, aku akan memeriksanya terlebih dahulu dan akan menyimpannya jika memang ini mutiara sungguhan, jika memang ini milik Delia pasti dia akan mencarinya," ucap Ricky dalam hati.


**


*Flashback sebelum Alvin sampai di rumah Cordelia*


Alvin sampai di rumah Nerissa sebelum jam 8 malam. Ia mengetuk pintu rumah Nerissa beberapa kali, namun tidak ada jawaban.


Alvinpun mencoba menghubungi Nerissa tetapi tetap tidak ada jawaban.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


"Halo Alvin, apa kau sudah menjemput Putri? kau harus segera menjemputnya karena dia sendirian di rumah!"


"Bukankah seharusnya kita pergi bertiga?" tanya Alvin.


"Aku tidak bisa ikut karena mama Daniel juga mengajakku makan malam sekarang, aku sudah memberi tahu Putri dan dia mengizinkanku untuk tidak pergi bersamanya," jawab Marin.


"Oke, baiklah," balas Alvin.


Panggilan berakhir, Alvin kembali mencoba menghubungi Nerissa, tetapi masih tidak ada jawaban.


"Apa dia sudah berangkat?" tanya Alvin pada dirinya sendiri.


Alvin kemudian menghubungi Cordelia untuk menanyakan apakah Nerissa sudah berada di rumahnya atau belum. Namun sama seperti Nerissa, Cordelia tidak menjawab panggilannya.


Alvinpun memutuskan untuk pergi dari rumah Nerissa, ia mengendarai mobilnya ke arah rumah Cordelia dengan harapan Nerissa sudah ada disana.


*Flashback off*


Di sisi lain, Nerissa yang masih pingsan di mobil Alvin tiba tiba mengerjapkan matanya.


Alvin yang menyadari pergerakan Nerissa segera menepikan mobilnya untuk melihat keadaan Nerissa.


Alvin mengambil satu botol air minum yang ia simpan di mobilnya lalu memberikannya pada Nerissa.


"Minumlah," ucap Alvin setelah membuka tutup botol minumannya.


Dengan tangan yang masih lemah, Nerissa menerima botol minuman dari Alvin. Menyadari tangan Nerissa yang tampak bergetar, Alvin pun membantu memegang botol minuman yang Nerissa minum.


"Bersandarlah, aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Alvin sambil menurunkan sandarakan kursi mobilnya.


"Antar aku pulang Alvin," ucap Nerissa dengan membawa pandangannya pada Alvin


"Pulang? kau harus ke......"


"Tidak Alvin, aku mohon antar aku pulang," ucap Nerissa memohon.


Alvin menghela nafasnya kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang," ucap Alvin.


Alvinpun mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa. Sepanjang perjalanan berkali kali Alvin membawa pandangannya ke arah Nerissa yang hanya diam dengan memejamkan matanya.


Ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada Nerissa, tetapi ia berpikir jika itu bukanlah saat yang tepat untuk bertanya.


Sesampainya di rumah, Alvin dan Nerissapun turun dari mobil.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang Alvin," ucap Nerissa pada Alvin.


"Aku akan menemanimu sampai Marin pulang Nerissa!"


"Tidak perlu Alvin, pulanglah!"


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini Nerissa, jadi tolong izinkan aku menemanimu, hanya sampai Marin pulang," ucap Alvin.


"Baiklah jika itu maumu," balas Nerissa kemudian membuka pintu rumahnya lalu masuk dengan diikuti oleh Alvin di belakangnya.


Nerissa menjatuhkan dirinya di sofa sambil menyandarkan kepalanya dengan mata tertutup. Ia berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi di rumah Cordelia.


"Apa yang sebenarnya terjadi Nerissa? kenapa kau bisa bersama Ricky?" tanya Alvin pada Nerissa.


"Ricky?"


"Iya, waktu aku sampai di rumah Delia aku melihatmu pingsan dalam pelukan Ricky," jawab Alvin dengan suara yang semakin pelan di akhir kalimatnya.


Nerissa terdiam beberapa saat, ia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan.


"aaahhh iya.... Ricky menghampiriku ketika aku memuntahkan isi perutku, lalu aku berdiri dan mataku berkunang kunang, lalu...... aku sudah tidak tau lagi, aku membuka mataku saat aku sudah bersama Alvin di mobil," batin Nerissa mengingat.


"Apa Ricky menyakitimu? apa Cordelia melakukan sesuatu padamu? katakan padaku Nerissa apa yang sudah terjadi!" tanya Alvin.


"Tidak Alvin, mereka tidak melakukan apapun padaku, aku hanya..... aku....... tidak sengaja memakan seafood," jawab Nerissa dengan suara bergetar di akhir kalimatnya.


Alvin menghela nafasnya, ia tau Nerissa sama sepertinya. Ia bisa memahami apa yang Nerissa rasakan saat itu.


Meski menurut sebagian orang hal itu hanyalah kejadian sepele, tetapi bagi Alvin dan Nerissa itu adalah hal yang menyakitkan.


Alvin kemudian menggeser posisi duduknya lalu membawa Nerissa ke dalam dekapannya.


"Tenangkan dirimu Nerissa, itu bukan kesalahanmu karena kau tidak sengaja melakukannya," ucap Alvin berusaha menenangkan Nerissa.


Nerissa hanya diam sambil menghapus air mata yang perlahan membasahi pipinya.


"Aku juga pernah melakukan hal yang sama sepertimu, kau tau apa yang aku lakukan setelahnya? aku memuntahkan semua isi perutku lalu aku memakan banyak makanan junk food untuk membuatku lupa tentang apa yang tadi aku makan," ucap Alvin pada Nerissa.


"Junk food?"


"Iya, apa kau mau mencobanya? aku akan memesannya sekarang!"


Nerissa menganggukkan kepalanya, Alvinpun memesan beberapa junk food melalui ponselnya.


Setelah beberapa lama menunggu, seseorang mengetuk pintu, mengantarkan banyak makanan pesanan Alvin.


Alvinpun membawanya pada Nerissa, menikmati makan malam mereka dengan berbagai macam junk food dan minuman cola yang sudah Alvin pesan.


"Aaaahhhh..... minuman ini aneh sekali," ucap Nerissa setelah ia meneguk minuman cola di tangannya.


Nerissa juga sempat bersendawa yang membuatnya begitu malu pada Alvin.


"Hahaha..... junk food dan minuman cola memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan," ucap Alvin yang begitu gemas melihat Nerissa.


"ini sangat memalukan, aku tidak akan meminumnya lagi," ucap Nerissa dalam hati sambil menggeser minuman cola menjauh darinya.


"Kenapa? apa kau tidak menyukainya?" tanya Alvin.


"Rasanya sedikit aneh," jawab Nerissa.


"Minum saja air putih, beberapa orang memang tidak menyukai cola," ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.


Perlahan Nerissa mulai melupakan apa yang tadi ia makan di rumah Cordelia, ia sudah bisa bercanda dan tertawa bersama Alvin sambil menikmati makan malam mereka.


"Alvin, sepertinya keluarga Delia sangat dekat denganmu!" ucap Nerissa.


"Iya, mereka yang merawatku sejak kedua orangtuaku meninggal," balas Alvin.


"Sepertinya mereka sangat menyukaimu," ucap Nerissa.


"Menyukaiku? benarkah?"


"Iya, bisa jadi mereka akan menjodohkan Delia denganmu," jawab Nerissa.


"Ini sudah era modern Nerissa, sudah tidak ada lagi perjodohan di dunia ini," ucap Alvin.


"Bagaimana jika hal itu benar benar terjadi?"


"Tentu saja aku akan menolaknya," jawab Alvin santai.


"Kenapa?"


"Kenapa?" balas Alvin mengulangi pertanyaan Nerissa.


Alvin kemudian menaruh potongan pizza yang baru saja diambilnya lalu membawa pandangannya pada Nerissa yang duduk di sebelahnya.


"Bagiku pernikahan itu sakral, hanya dilakukan satu kali seumur hidup, jadi aku hanya akan menikah dengan seseorang yang benar benar aku cintai, seseorang yang bisa membawa kedamaian dalam hidupku, seseorang yang aku yakini bisa membawaku ke dalam kebahagiaan yang sempurna," ucap Alvin sambil menatap kedua mata Nerissa dengan dalam.