
Alvin memang sudah bertemu Amanda setelah Amanda baru saja kembali dari luar negeri, tetapi saat Nerissa menghapus ingatan Alvin dan Amanda tanpa Nerissa sadari hal itu membuat banyak memori Alvin dan Amanda terhapus, termasuk pertemuan mereka setelah Amanda kembali.
Begitu juga Daniel yang tidak mengingat semua kejadian yang pernah terjadi antara Alvin dan Amanda saat masih ada Nerissa di antara mereka.
"Ayo Alvin kita harus segera pergi," ucap Daniel mengajak Alvin pergi.
"Kau tidak akan meninggalkanku begitu saja bukan?" tanya Amanda sambil meraih tangan Alvin.
"Maaf aku harus pergi," balas Alvin sambil melepaskan tangan Amanda darinya lalu berjalan pergi bersama Daniel meninggalkan Amanda begitu saja.
Alvin dan Danielpun meninggalkan tempat itu. Daniel mengendarai mobilnya ke arah tempatnya bekerja bersama Alvin.
"Aku pikir kau sudah melupakannya," ucap Daniel yang melihat Alvin hanya terdiam sejak ia bertemu Amanda.
"Aku pikir juga begitu," balas Alvin dengan pandangan kosong.
"Apa kau masih mencintainya?" tanya Daniel yang dibalas gelengan kepala oleh Alvin.
"Memang tidak mudah melupakan apa yang sudah terjadi antara aku dan Amanda, tapi bukan berarti aku masih mencintainya," jawab Alvin.
"Aku harap kau bisa melupakannya Alvin, dia bukan perempuan yang baik untukmu, aku yakin akan ada perempuan yang jauh lebih baik daripada Amanda yang bisa mencintaimu dengan tulus," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Alvin.
Sesampainya di kantor, Alvin dan Danielpun masuk ke ruangan mereka masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah menumpuk.
Namun Alvin tidak bisa benar-benar fokus mengerjakan pekerjaannya karena ia masih mengingat pertemuannya dengan Amanda, masa lalu yang pernah memberinya begitu banyak kebahagiaan hingga akhirnya semua kebahagiaan itu hancur karena kekecewaannya pada Amanda.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Daniel mengetuk pintu ruangan Alvin beberapa kali sebelum akhirnya masuk dan duduk di hadapan Alvin sambil menyerahkan sebuah berkas pada Alvin.
"Apa kau masih memikirkannya?" tanya Daniel menerka.
"Tidak," jawab Alvin singkat
"Lebih baik kau memikirkan bagaimana caranya agar kau bisa bertemu lagi dengan Nerissa, dengan begitu aku bisa bertemu dengan temannya hehehe......" ucap Daniel yang berusaha mengalihkan perhatian Alvin dari Amanda.
"Nerissa......." ucap Alvin menyebut nama Nerissa dengan tersenyum, membuat Daniel yakin jika Alvin memang menyukai Nerissa.
"Bukankah kau bisa meminta orang suruhanmu untuk mencari keberadaan mereka Daniel?" lanjut Alvin bertanya pada Daniel.
"Bagaimana bisa aku meminta orang lain untuk menemukan keberadaan mereka jika mereka tidak tahu bagaimana wajah mereka berdua," balas Daniel.
"Aahh iya kau benar.... tapi sepertinya aku yakin aku pasti bisa bertemu dengannya lagi," ucap Alvin penuh keyakinan.
"Apa kau akan benar-benar melupakan Amanda jika kau bertemu dengannya lagi?" tanya Daniel.
"Bukankah terlalu cepat untukku menyimpulkan hal itu, tapi yang pasti aku harus benar-benar melupakan Amanda, setidaknya aku tidak akan membiarkannya kembali lagi dalam hidupku," jawab Alvin.
"Tapi sepertinya dia akan terus mendekatimu, jika sudah seperti itu dia tidak akan mudah menyerah untuk mendapatkanmu karena aku sangat mengenal bagaimana Amanda," ucap Daniel yang memang sudah lebih lama berteman dengan Amanda.
"Aku tidak peduli, bagiku dia hanya masa lalu buruk yang tidak seharusnya kembali dalam hidupku, apapun alasannya aku tidak ingin kembali berhubungan dengannya," ucap Alvin tanpa ragu.
"Baguslah kalau begitu, aku harap kau benar-benar bisa melupakannya," ucap Daniel lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Alvin.
Di tempat lain, Nerissa dan Marin baru saja keluar dari kamar, mereka bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat.
"Apa kau yakin Alvin akan berada disana Putri?" tanya Marin pada Nerissa yang akan pergi ke pantai Pasha.
"Sebenarnya aku tidak tahu pasti, tetapi apa salahnya mencobanya," jawab Nerissa.
Nerissa kemudian pergi ke pantai Pasha menggunakan taksi yang baru saja ia pesan. Ia sengaja pergi kesana dengan harapan bisa bertemu Alvin, karena bagaimanapun juga ia harus bisa memulai kembali hubungannya dengan Alvin dan itu adalah salah satu cara yang ia lakukan.
Namun saat Nerissa sampai di pantai Pasha ia tidak menemukan siapapun disana, hanya ada hamparan gelap dengan gulungan ombak yang menyapu pantai.
Dengan langkah yang tak bersemangat Nerissa berjalan ke arah tepi pantai, duduk disana dengan menjulurkan kakinya, membiarkan kedua kakinya basah oleh ombak yang membelai kakinya.
Setelah cukup lama menunggu dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Alvin disana, Nerissapun beranjak dari duduknya.
"Sepertinya dia tidak datang kesini malam ini," ucap Nerissa dengan membawa langkahnya meninggalkan pantai, namun saat Nerissq baru saja melewati deretan gazebo yang ada di tepi pantai, ia melihat seorang laki-laki yang ditunggunya tengah berjalan ke arahnya.
Nerissapun seketika terdiam dengan degup jantung yang berdetak cepat karena pada akhirnya ia bisa bertemu dengan Alvin.
Sama halnya dengan Nerissa, Alvin yang baru saja tiba di pantaipun begitu terkejut dan tersenyum senang saat melihat Nerissa yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Alvinpun segera membawa langkahnya menghampiri Nerissa.
"Nerissa, ini benar kau?" tanya Alvin memastikan.
Nerissq hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.
"Aahh iya sepertinya kita belum berkenalan kemarin, namaku Alvin," ucap Alvin sambil mengulurkan tangannya pada Nerissa.
"Nerissa," balas Nerissa sambil menerima uluran tangan Alvin.
"Apa yang kau lakukan disini Nerissa? apa kau sendirian?" tanya Alvin sambil membawa pandangannya ke sekitarnya.
"Iya aku sendirian, aku hanya ingin menikmati suasana malam disini," jawab Nerissa.
"Ikut aku, aku akan mengajakmu ke tempat dimana kau bisa menikmati keindahan malam disini," ucap Alvin sambil menarik tangan Nerissa dan berlari dengan menggandeng tangan Nerissa ke arah batu karang besar yang ada di tepi pantai.
Alvin kemudian membantu Nerissa untuk naik ke atas batu karang tempat dimana Nerissa pertama kali bertemu Alvin sebelum ia menginjakkan kaki di daratan.
"Lihatlah Nerissa, pemandangan ini akan membuatmu tenang dan nyaman," ucap Alvin yang berdiri di belakang Nerissa sambil memegang kedua bahu Nerissa.
Nerissa menganggukkan kepalanya dengan menatap hamparan luas lautan gelap yang ada di hadapannya.
"Apa kau sering kesini Alvin?" tanya Nerissa.
"Iya, aku sering menghabiskan waktuku disini terutama jika aku sangat lelah dengan pekerjaanku, rasanya semua lelahku hilang seketika saat aku mendengar suara ombak disini," jawab Alvin.
"Kenapa bisa begitu? apa kau sangat menyukai lautan?"
"Entah sejak kapan aku sangat menyukai lautan, aku merasa bahwa diriku mempunyai ikatan khusus dengan lautan," jawab Alvin.
Nerissa hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Alvin, karena ia tahu apa yang membuat Alvin merasakan hal itu.
"itu karena dalam dirimu ada mutiara biru yang berasal dari lautan," ucap Nerissa dalam hati.
"Aku tahu kau pasti berpikir jika alasanku itu terdengar sangat bodoh bukan?" ucap Alvin yang membuat Nerissa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Banyak yang menertawakanku saat mereka mendengar alasanku menyukai lautan, bahkan sahabatkupun mengatakan bahwa suatu saat nanti bisa jadi aku akan memiliki pasangan hidup seorang mermaid karena aku terlalu sering menghabiskan waktuku disini," ucap Alvin
"Bagaimana jika apa yang dikatakan sahabatmu itu menjadi kenyataan?" tanya Nerissa.
"Jika dia cantik tentu saja aku akan menerimanya hahaha...." balas Alvin dengan tertawa, membuat Nerissa tersenyum senang karena bisa melihat tawa Alvin yang lama dirindukannya.