
Malam kembali bersama dengan taburan bintang dan senyum sang bulan pada hamparan gelap langit malam.
Alvin mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa dengan penuh senyum. Sesampainya disana ia segera turun dari mobilnya dengan membawa satu kantong rumput laut kering kesukaan Nerissa.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Alvinpun melihat Nerissa membuka pintu dengan senyum cantik di wajahnya.
"Masuklah," ucap Nerissa.
"Bulan malam ini sangat cantik, apa kau tidak ingin melihatnya bersamaku?" ucap Alvin sekaligus bertanya pada Nerissa.
Nerissapun menganggukkan kepalanya lalu membawa langkahnya untuk duduk di depan rumah bersama Alvin.
"Aku membawa ini untukmu, kau menyukainya bukan?" ucap Alvin sambil memberikan rumput laut kering pada Nerissa.
"Terima kasih Alvin," ucap Nerissa dengan tersenyum senang.
"Daniel sudah mengatakan semuanya padaku Nerissa," ucap Alvin yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Alvin.
"Apa maksudmu?" tanya Nerissa memastikan maksud dari ucapan Alvin.
"Daniel sudah memberitahuku tentang hubungan kalian yang sebenarnya," jawab Alvin.
"Maafkan aku Alvin, aku tidak bermaksud untuk membohongimu," ucap Nerissa dengan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak menyalahkanmu Nerissa, aku juga tidak menyalahkan Daniel karena dengan sandiwara kalian itu membuatku sadar bahwa aku tidak benar-benar mencintai Amanda seperti dulu," ucap Alvin.
"Apa kau benar-benar yakin dengan hal itu Alvin?" tanya Nerissa.
Alvin menganggukkan kepalanya penuh kepastian berharap Nerissa bisa mempercayainya.
"Aku memang pernah mencintainya, aku pernah terluka karenanya tapi bukan berarti aku tetap mencintainya saat dia kembali lagi padaku, terlebih saat aku tahu bagaimana sikapnya yang sebenarnya," ucap Alvin meyakinkan Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Alvin berdering, sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya membuat Alvin ragu untuk menerimanya.
Namun pada akhirnya Alvin tetap menerima panggilan itu khawatir jika itu adalah panggilan dari klien penting.
Setelah Alvin menggeser tanda panah hijau, Alvin hanya diam mendengarkan seseorang di ujung sambungan ponselnya berbicara terlebih dahulu
"Alvin," panggil seseorang yang sangat Alvin kenal, membuat Alvin segera mengakhiri panggilan itu lalu memblokir nomor itu saat itu juga.
"Kenapa?" tanya Nerissa yang melihat Alvin tampak kesal.
"Amanda menghubungiku dengar dengan nomor yang berbeda lagi, entah sudah berapa kali dia menghubungiku dengan nomor yang berbeda-beda," jawab Alvin.
"Apa kau membencinya Alvin atau kau hanya marah padanya?" tanya Nerissa.
"Aku sangat membencinya dan aku ingin dia pergi dari hidupku," jawab Alvin.
"Bukankah semakin kau menjauh darinya semakin dia berusaha untuk mendekatimu?"
"Kau benar, tetapi aku tidak bisa memberinya kesempatan untuk kedua kalinya, terlebih setelah aku tahu bagaimana sikapnya yang sebenarnya, perempuan seperti dia akan menggunakan kesempatan sekecil apapun untuk memenuhi keegoisannya," jawab Alvin.
"Tapi bagaimana jika dia terus mengganggumu seperti ini? bukankah ini juga membuatmu tidak nyaman?"
"Entahlah Nerissa, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk sementara, tapi..... bisakah kita tidak membahas tentang Amanda?" tanya Alvin dengan menatap Nerissa dari samping.
Nerissa kemudian membawa pandangannya pada Alvin tepat saat Alvin menatapnya, membuat kedua pasang mata itu saling menatap untuk beberapa saat
"Aku senang bisa duduk berdua denganmu seperti ini Nerissa, rasanya sudah sangat lama dan aku sangat merindukanmu," ucap Alvin membuat Nerissa terdiam.
"Maaf karena telah mengabaikanmu, maaf karena....."
"Lupakan Alvin, aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi, apa yang terjadi kemarin hanya akan aku anggap sebagai mimpi burukku saja," ucap Nerissa memotong ucapan Alvin.
"Apa kau masih marah padaku Nerissa?" tanya Alvin yang dibalas gelengan kepala oleh Nerissa.
"aku janji akan mengembalikan senyum ceriamu lagi Nerissa, aku janji akan memperbaiki hubungan kita seperti sebelumnya," ucap Alvin dalam hati.
Di sisi lain, Daniel yang melihat Nerissa duduk bersama Alvin hanya bisa terdiam di balik kemudinya.
Jika boleh jujur dalam hatinya masih ada rasa cemburu melihat kedekatan Alvin dan Nerissa, namun ia sadar rasa cemburu itu tidak seharusnya ada saat ia tengah berusaha untuk berdamai dengan hatinya.
Daniel kemudian mengendarai mobilnya sedikit menjauh dari rumah Nerissa lalu menghubungi Marin.
Apa kau sedang sibuk?" tanya Daniel saat Marin sudah menerima panggilannya.
"Iya aku sangat sibuk dan kau selalu menggangguku," jawab Marin ketus.
"Jika kau tidak keluar sekarang maka aku yang akan masuk ke kamarmu," ucap Daniel mengancam.
"Jangan gila, Putri dan Alvin sedang berada di depan rumah sekarang," balas Marin gugup.
"Kalau begitu cepat keluar, aku menunggumu di depan minimarket," ucap Daniel lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Marin yang sedang menghitung keuangan toko bunganya segera menutup bukunya dan merapikan mejanya.
Marin berdiri di depan cermin besar, menyisir rambut panjangnya dan memoles sedikit lipstik pada bibirnya.
"Cantik sekali," ucap Marin dengan tersenyum memuji dirinya sendiri.
Namun dengan cepat marin berubah pikiran dan segera menghapus lipstik di bibirnya.
"Tidak perlu, aku tidak perlu seperti ini, lagi pula aku hanya akan menemui Daniel, untuk apa aku mempersiapkan diri seperti ini!" ucap Marin lalu mengikat rambut panjangnya dan mengambil jaket Daniel yang baru saja selesai dicucinya.
Marin memasukkan jaket milik Daniel ke dalam paper bag agar Nerissa tidak melihatnya.
Marin kemudian berpamitan pada Nerissa untuk pergi ke minimarket dengan alasan mengembalikan barang yang salah dibelinya beberapa waktu yang lalu.
Nerissapun mempercayainya, Marin lalu membawa langkahnya meninggalkan rumahnya. Namun tak jauh dari rumahnya ia melihat Daniel yang berdiri di samping mobil menunggu kedatangannya.
"Kau bilang menungguku di minimarket," ucap Marin pada Daniel.
Daniel hanya tersenyum lalu membuka pintu mobilnya dan meminta Marin untuk masuk.
"Masuklah," ucap Daniel.
Marinpun masuk ke dalam mobil begitu juga Daniel yang segera berlari kecil ke arah balik kemudinya lalu mengendarai mobilnya menjauh dari rumah Marin.
Sesampainya di minimarket, Daniel segera masuk ke dalam minimarket untuk membeli beberapa minuman dan makanan ringan sedangkan Marin menunggu Daniel dengan duduk di depan minimarket.
Tak lama kemudian Danielpun kembali dengan membawa minuman dan makanan ringan lalu menaruhnya di meja.
"Ini jaket milikmu, aku sudah mencucinya," ucap Marin sambil memberikan sebuah paper bag yang berisi jaket milik Daniel.
"Kau tidak perlu mengembalikannya Marin," balas Daniel sambil menggeser paper bag itu kembali ke arah Marin.
"Kenapa? ini milikmu!"
"Karena aku sudah memberikannya padamu," balas Daniel.
"Benarkah?" tanya Marin.
"Tentu saja, aku bisa membelinya lagi jika aku mau," jawab Daniel.
"Hahaha..... sombong sekali," ucap Marin yang membuat Daniel terkekeh.
"Seharusnya kau tidak perlu menghindar seperti ini Daniel, bukankah mereka hanya berteman?"
"Aku tidak bisa menutup mata bahwa pertemanan mereka dilandasi dengan hati yang saling mencintai, jika aku datang di antara mereka berdua maka aku hanya menjadi pengganggu, bisa jadi kedatanganku hanya akan membuat suasana menjadi canggung," ucap Daniel.
Marin mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Daniel
"Apa kau pernah jatuh cinta Marin?" tanya Daniel yang membuat Marin sedikit terkejut.
"Tidak," jawab Marin singkat.
"Benarkah?" tanya Daniel sambil membawa pandangannya menatap Marin.
Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan mengalihkan pandangannya dari Daniel.
Ia tidak ingin Daniel melihatnya yang tengah gugup saat itu karena pertanyaan Daniel membuat dadanya kembali berdegup kencang.
"Jatuh cinta itu indah Marin, apalagi saat orang yang kau cintai juga mencintaimu," ucap Daniel.
Marin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, Marin kemudian mengambil satu botol minuman di hadapannya namun ia kesulitan untuk membukanya.
Danielpun segera merebut botol minuman itu dari Marin lalu membukanya dan mengembalikannya pada Marin.
Marinpun segera meminumnya, karena terlalu gugup iapun tersedak.
"Pelan-pelan saja Marin, aku bisa membelikanmu banyak minuman lain jika kau sangat haus," ucap Daniel sambil menepuk-nepuk pelan punggung Marin.
Marin hanya tersenyum canggung dengan tetap mengalihkan pandangannya dari Daniel, entah kenapa ia tidak berani menatap Daniel saat itu.
Daniel yang menyadari Marin selalu menghindari pandangannya seketika meraih wajah Marin, membawa wajah Marin menghadap padanya.
"Aku sedang berbicara padamu, kenapa kau tidak mendengarkanku?" tanya Daniel dengan menatap kedua mata Marin.
Marin hanya terdiam dengan debaran dalam dadanya yang semakin tak terkendali, ia merasa benar-benar sudah jatuh cinta pada laki-laki di hadapannya itu.
Namun tiba-tiba sebuah lampu sorot dari mobil menyilaukan mata Marin, membuat Marin segera tersadar dari lamunannya.
Marinpun segera melepas kedua tangan Daniel dari wajahnya, lalu mengalihkan pandangannya dari Daniel dan meminum minuman di tangannya sampai habis tak tersisa.
"Waaaah..... sepertinya kau memang sangat haus," ucap Daniel sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku sangat sibuk Daniel, aku harus pulang sekarang," ucap Marin lalu beranjak dari duduknya.
"Baiklah," balas Daniel lalu membereskan meja di hadapannya kemudian masuk ke dalam mobilnya bersama Marin.
"Masih ada mobil Alvin di depan rumahmu, jadi aku tidak bisa mengantarmu sampai di depan rumah," ucap Daniel pada Marin.
"Tidak apa, kau bisa menurunkanku disini," balas Marin.
Saat Daniel menghentikan mobilnya, ia segera menahan tangan Marin yang hendak membuka pintu mobilnya.
"Jangan bekerja terlalu keras Marin, perhatikan kesehatanmu juga," ucap Daniel sambil menepuk-nepuk pelan kepala Marin.
Marin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lalu segera membuka pintu dan keluar dari mobil Daniel.
Setelah mobil Daniel semakin menjauh, Marin terduduk di pinggir jalan dengan memegang dadanya yang masih berdebar tidak beraturan.
"kenapa sulit sekali untuk mengendalikan hatiku sendiri, aaaahh..... Daniel kau benar-benar membuatku bingung, kau benar-benar mengganggu hidupku," ucap Marin dalam hati lalu berdiri dan berjalan pulang.
Saat Marin baru saja masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian Nerissapun ikut masuk dan duduk di samping Marin.
"Apa kau baru saja bertemu Daniel?" tanya Nerissa yang membuat Marin begitu terkejut.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan Daniel?" balas Marin bertanya.
"Sepertinya aku melihat mobil Daniel tidak lama sebelum kau pulang," jawab Nerissa.
"Mungkin kau salah lihat, aku baru saja dari minimarket untuk mengembalikan barang," ucap Marin.
"Kau benar, mungkin aku hanya salah lihat, lagi pula aku tidak terlalu menghafalkan plat nomor mobilnya hehehe....." balas Nerissa.
**
Waktu berlalu, malam telah berganti pagi bersama sinar mentari di ujung langit timur.
Dengan langkah yang malas Alvin berjalan ke dapur. Ia merasa rumahnya begitu sepi karena bibi belum juga kembali.
Alvin sengaja memberi waktu bibi lebih lama di kampung halamannya agar bibi bisa menenangkan dirinya setelah mendapatkan ancaman dari Amanda.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Alvin, membuat Alvin segera membawa langkahnya untuk membuka pintu rumahnya dan mendapati Cordelia yang sudah berdiri dengan membawa beberapa kantong belanjaan.
"Jangan bertanya apapun, aku kesini hanya untuk memasak," ucap Cordelia sebelum Alvin mengatakan sepatah katapun.
"Masuklah," balas Alvin.
Cordeliapun membawa langkahnya masuk lalu berkutat di dapur untuk beberapa lama. Sedangkan Alvin segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Bersamaan dengan Alvin yang keluar dari kamar, Cordeliapun baru saja selesai menyiapkan masakannya untuk Alvin.
"Karena aku tahu bibi belum kembali jadi aku sengaja memasak untukmu," ucap Cordelia sambil menyiapkan sarapan Alvin.
"Terima kasih Delia," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Delia.
"Rasanya sudah sangat lama aku tidak makan berdua denganmu seperti ini," ucap Cordelia.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu Delia," ucap Alvin yang membuat Cordelia seketika berhenti mengunyah makanannya.
"Apa kau yang membantu Nerissa dan Daniel untuk bertemu bibi?" tanya Alvin yang membuat Cordelia tersenyum dan kembali melanjutkan mengunyah makanannya.
"Tentu saja, aku baik bukan?" balas Cordelia penuh percaya diri.
"Aku tahu kau sebenarnya gadis yang baik Delia, hanya saja terkadang kau tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri," ucap Alvin.
"Aku hanya tidak ingin kau kembali pada gadis yang sudah sangat jahat padamu Alvin, aku benar-benar tidak rela jika kau kembali padanya," ucap Cordelia.
"Bagaimana dengan Nerissa?" tanya Alvin yang membuat Cordelia seketika melototkan matanya pada Alvin, membuat Alvin terkekeh melihat raut wajah Cordelia.
"Nerissa memang gadis yang baik tetapi aku tidak menyukainya karena dia sangat dekat denganmu daripada aku," ucap Cordelia dengan memayunkan bibirnya.
"Tapi kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya bukan? kau pasti tidak ingin aku membencimu seperti aku membenci Amanda!"
"Tenang saja aku tidak sejahat Amanda, tapi jangan memaksaku untuk berhenti berusaha membuatmu jatuh cinta padaku sebelum kau dan Nerissa benar-benar menjalin hubungan, aku tidak akan berhenti berusaha untuk mendapatkanmu Alvin," ucap Cordelia penuh keyakinan.
Alvin tersenyum tanpa mengatakan apapun, bagaimanapun juga ia sudah menganggap Cordelia seperti adiknya sendiri.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Alvinpun bersiap untuk berangkat ke kantor. Namun sebelum Alvin meninggalkan rumah, Cordelia menahan tangan Alvin.
"Bukankah aku sudah melakukan hal yang baik, apa aku tidak mendapatkan hadiah apapun darimu?" tanya Cordelia dengan tersenyum
Alvin tersenyum mengerti maksud Cordelia, Alvin lalu membawa langkahnya mendekat pada Cordelia dan memeluk Cordelia dengan erat.
"Terima kasih sudah melakukan hal baik Delia, aku yakin setelah ini kau akan terus melakukan hal baik lainnya tidak hanya untuk orang lain tapi juga untuk dirimu sendiri," ucap Alvin.
"Apa kau akan selalu memelukku setelah aku melakukan hal baik?" tanya Cordelia.
"Tentu saja, anggap ini sebagai hadiah untukmu," balas Alvin yang membuat Cordelia tersenyum senang.