
Suara detik jarum jam seolah menemani isak tangis Cordelia dalam dekapan Alvin. Untuk beberapa saat Alvin membiarkan Cordelia menuntaskan semua tangisnya dalam dekapannya.
Cordelia kemudian melepaskan dirinya dari pelukan Alvin dan menatap Alvin penuh harap.
"Apa kau tidak bisa mencintaiku sedikit saja Alvin?" tanya Cordelia dengan sesekali terisak.
"Itu adalah pertanyaan bodoh yang kau tanyakan padaku Delia, kau tahu kenapa? karena tanpa harus mencintaimu kau sudah memiliki tempat tersendiri dalam hidupku," balas Alvin.
"Apa maksudmu? kau bahkan tidak mencintaiku sama sekali," tanya Cordelia dengan menundukkan kepalanya.
Alvin kemudian memegang dagu Cordelia dan membawa pandangan cordelia ke arahnya.
"Aku menyayangimu seperti adikku sendiri Delia, aku benar-benar menyayangimu seperti saudara kandungku sendiri, apa itu tidak cukup bagimu?"
Cordelia hanya terdiam tidak mengatakan apapun, ia hanya menatap kedua mata Alvin dengan tatapan sendu.
"Dengarkan aku baik-baik Delia, mungkin selama ini kau salah paham pada perasaanmu sendiri, tanpa kau sadar kau hanya membutuhkan kasih sayang seorang kakak dan kau mendapatkannya dariku, saat ada perempuan lain di dekatku kau merasa aku menjauhimu itu kenapa kau membenci perempuan yang ada di dekatku tanpa kau sadar kau hanya takut kehilangan kasih sayang seorang kakak," ucap Alvin dengan menatap kedua mata Cordelia.
"Kasih sayang seorang kakak?" tanya Cordelia.
"Iya, kasih sayang seorang kakak yang tidak kau dapatkan dari Ricky, sekarang masuklah ke kamar dan pikirkan baik-baik apa yang baru saja aku katakan padamu," ucap Alvin sambil mengusap kepala Cordelia lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Cordelia hanya terdiam di tempatnya berdiri untuk beberapa saat sebelum membawa langkahnya naik ke lantai 2 untuk masuk ke kamar.
Di dalam kamar, Cordelia merebahkan dirinya di ranjang, ia memikirkan ucapan Alvin padanya.
"Benarkah aku mencintainya? ataukah aku hanya menganggapnya sebagai kakak?" tanya Cordelia pada dirinya sendiri.
Cordelia menghela nafasnya lalu memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur.
Jam sudah menunjukkan lewat dini hari namun Cordelia masih terjaga di atas ranjangnya. Apa yang Alvin katakan padanya membuatnya tidak bisa terlelap sama sekali.
Hingga akhirnya pagipun tiba, setelah membasuh wajahnya Cordelia berjalan turun ke dapur untuk memasak
"Apa kau memasak lagi?"tanya Alvin yang tiba-tiba datang menghampiri Cordelia di dapur.
Cordelia hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Apa kau sudah memikirkannya Delia?" tanya Alvin yang membuat Cordelia segera membawa pandangannya pada Alvin yang berdiri di belakangnya.
"Jika aku membiarkanmu bersama Nerissa, apa aku akan kehilanganmu nanti?" tanya Cordelia pada Alvin.
"Tentu saja tidak, tidak ada yang memisahkan hubungan adik dan kakak, kau pun tahu bagaimana Nerissa bukan?"
"Iya aku tahu, dia memang sangat baik," jawab Cordelia sambil menganggukkan kepalanya.
"Kau ingat apa yang sudah kau lakukan pada Nerissa? jika kau bukan perempuan istimewa dalam hidupku aku pasti sudah membencimu seperti aku membenci Amanda saat ini, tapi karena aku menganggapmu sebagai adikku maka aku tidak bisa membencimu, aku hanya marah untuk sesaat dan tidak pernah benar-benar membencimu," ucap Alvin.
"Perempuan istimewa?" tanya cordelia mengulangi ucapan Alvin.
"Iya, kau perempuan istimewa dalam hidupku Delia, meskipun kita tidak terikat darah tetapi kau sudah seperti adik bagiku Delia, apa kau masih tidak mengerti itu?"
Cordelia hanya terdiam mendengarkan ucapan Alvin. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Alvin, Alvin tidak pernah membencinya bahkan setelah ia melakukan hal yang buruk pada Nerissa, namun meski begitu Cordelia masih ragu untuk melepaskan Alvin karena ia tidak ingin kehilangan Alvin dari hidupnya.
"Pikirkan baik-baik Delia, aku yakin kau sudah lebih dewasa sekarang dan bisa memberikan keputusan yang terbaik, tidak hanya untukmu tapi juga untuk orang lain di sekitarmu," ucap Alvin lalu berjalan meninggalkan dapur.
Setelah Cordelia menyelesaikan masakannya, iapun menyiapkannya di meja makan lalu menunggu Alvin untuk sarapan bersama.
"Apa kau sangat mencintainya Alvin?" tanya Cordelia pada Alvin yang sudah duduk di hadapannya.
"Iya, aku sangat mencintainya dan tidak akan pernah melepasnya untuk kedua kalinya," jawab Alvin penuh keyakinan.
Cordelia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Alvin sambil mengunyah makanan di mulutnya dengan malas.
"Apa kau akan ikut ke kantor?" tanya Alvin pada Cordelia saat ia akan bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Tidak, aku harus pergi ke studio sekarang," jawab Cordelia
"Baiklah berhati-hatilah," ucap Alvin lalu masuk ke dalam mobilnya, mengendarai mobilnya ke arah tempatnya bekerja.
Sedangkan Cordelia mengendarai mobilnya ke arah tempat ia akan melakukan pemotretan.
**
Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang saat Nerissa menata beberapa buket bunga di keranjang sepedanya.
"Aku pergi dulu Marin," ucap Nerissa pada Marin.
"Berhati-hatilah Putri," balas Marin.
Nerissapun mengayuh sepedanya ke arah alamat yang sudah Marin berikan padanya.
Setelah beberapa lama mengayuh sepedanya Nerissa berhenti di pinggir jalan untuk memastikan alamat yang ia tuju.
"Sepertinya benar disini," ucap Nerissa sambil melihat ke arah studio pemotretan di hadapannya.
Setelah Nerissa memberikan buket bunga pesanan pada seseorang yang ada di dalam studio pemotretan itu, Nerissapun kembali keluar.
Saat ia akan mengayuh sepedanya ia melihat Cordelia yang berjalan ke arah jalan raya, sedangkan di sisi lain sebuah mobil melaju dengan kencang seolah tak terkendali.
Entah mendapat bisikan dari mana Nerissa segera berlari ke arah Cordelia dan benar saja mobil yang melaju kencang itu hampir saja menabrak Cordelia jika Nerissa tidak segera menarik Cordelia menjauh dari jalan raya.
Meskipun Nerissa dan Cordelia terjatuh di trotoar tetapi Nerissa berhasil menyelamatkan Cordelia dari mobil yang hampir saja menabrak Cordelia.
Seketika semua orang berkerumun saat mobil yang melaju kencang itu menabrak pembatas jalan dan didapati bahwa sang pengemudi tengah mengemudikan mobilnya dalam keadaan mabuk saat itu.
"Apa kau baik-baik saja Delia?" tanya Nerissa sambil membantu Cordelia berdiri.
"Aku..... aku baik-baik saja," jawab Cordelia yang masih begitu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Nerissa lega.
"Tapi tanganmu..... kau terluka Nerissa!" ucap Cordelia yang melihat luka di tangan Nerissa.
"Ini cuma luka kecil, aku baik-baik saja," balas yang memang tidak merasakan sakit sama sekali pada luka di tangannya.
"Ikutlah denganku, aku akan mengobatimu," ucap Cordelia meminta Nerissa untuk masuk ke dalam studio, namun Nerissa menolaknya.
"Terima kasih Delia, tapi aku baik-baik saja lagi pula aku harus mengantar buket bunga yang lain, aku pergi dulu," ucap Nerissa lalu berjalan meninggalkan Cordelia dan mengayuh sepedanya menuju ke alamat yang lain.
Sedangkan Cordelia masih berdiri di tempatnya menatap Nerissa yang semakin jauh dari pandangannya.
"Apa kau baik-baik saja Delia? kau tidak terluka bukan?" tanya manajer Cordelia yang baru saja keluar dari studio karena melihat kejadian itu dari CCTV studio.
"Aku baik-baik saja," jawab Cordelia lalu berjalan masuk ke dalam studio bersama sang manager.
"Kau harus berterima kasih pada perempuan yang menyelamatkanmu, dia benar-benar sudah menyelamatkan hidupmu Delia," ucap sang manajer pada Cordelia.
**
"Sepertinya semua orang disini akan memesan buket bunga padamu Nerissa," ucap resepsionis pada Nerissa.
"Benarkah, kalau begitu aku akan sering memberikan promo pada semua karyawan yang ada disini," balas Nerissa.
"Tidak perlu, kau akan rugi jika terlalu sering memberikan promo pada mereka," ucap si resepsionis.
Saat tengah mengobrol bersama resepsionis itu, seseorang tiba-tiba memanggil Nerissa.
"Nerissa!" panggil Alvin yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Alvin.
Nerissa hanya tersenyum canggung karena sebenarnya ia masih tidak ingin bertemu Alvin.
"Apa kau mengantar buket bunga lagi?" tanya Alvin.
"Iya," jawab Nerissa dengan menganggukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi padamu Nerissa? kenapa tanganmu terluka seperti ini?" tanya Alvin yang baru menyadari luka pada tangan Nerissa.
"Aaahhh ini.... ini....."
"Duduklah, aku akan mengobatimu," ucap Alvin sambil membawa Nerissa duduk lalu segera mencari kotak P3K yang ada di tempat resepsionis.
Alvinpun kembali pada Nerissa lalu membersihkan luka di tangan Nerissa.
"Kenapa kau bisa terluka seperti ini Nerissa? apa yang terjadi?" tanya Alvin sambil menutup luka Nerissa dengan plester.
"Mmmmm.....aku tidak sengaja terjatuh saat mengayuh sepedaku," jawab Nerissa berbohong.
"Berhati-hatilah Nerissa, kau selalu saja ceroboh seperti ini," ucap Alvin.
"Ini hanya luka kecil Alvin, tidak butuh waktu lama untuk sembuh," balas Nerissa.
"Tetap saja kau harus berhati-hati!"
"Baiklah, aku akan lebih berhati-hati lain kali," ucap Nerissa.
Di sisi lain, tanpa Nerissa dan Alvin tahu Cordelia yang baru saja sampai di tempat itu, diapun mendengar semua percakapan Nerissa dan Alvin.
"kenapa dia tidak memberitahu Alvin apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Cordelia dalam hati.
Saat Nerissa dan Alvin berdiri dari duduknya, merekapun melihat Cordelia yang berdiri tak jauh dari mereka.
Nerissa melemparkan senyumnya pada Cordelia, namun Cordelia hanya menatap Nerissa dingin lalu berjalan melewati Nerissa dan Alvin begitu saja.
Nerissa hanya menghela nafasnya melihat sikap Cordelia padanya.
"Jangan terlalu memikirkannya, dia memang seperti itu," ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
Nerissa kemudian keluar meninggalkan gedung Atlanta group sedangkan Alvin kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di tempat lain Cordelia mendatangi Ricky di ruangannya.
"Apa kau sudah bisa memberiku jawaban sekarang?" tanya Ricky yang melihat Cordelia masuk ke ruangannya.
"Dimana tiket itu?" balas Cordelia bertanya dengan ketus.
"Apa kau tidak bisa menjaga nada ucapanmu padaku? kau selalu berbicara dengan nada tinggi padaku, apa kau lupa bahwa aku kakakmu?" balas Ricky kesal.
"Aaaahhh iya, sepertinya aku lupa jika kau kakakku," ucap Cordelia dengan tersenyum tipis.
Ricky hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu membuka laci mejanya kemudian mengeluarkan tiket dan memberikannya pada Cordelia.
"Apa ini tiket sungguhan?" tanya Cordelia sambil membolak-balik tiket yang ada di tangannya.
Rickypun berdiri dari duduknya lalu menunjukkan bukti pembayaran atas tiket itu pada Cordelia.
"Waaaah kau benar-benar kakak yang baik ternyata," ucap Cordelia.
"Aku akan selalu bersikap baik padamu jika kau mau membantuku untuk menggagalkan rencana Alvin!"
Cordelia tersenyum tipis lalu merobek tiket itu tepat dihadapan Ricky.
"Apa yang kau lakukan Delia? kenapa kau merobeknya?" tanya Ricky yang begitu terkejut dengan apa yang Cordelia lakukan.
"Aku bukan bonekamu Ricky, aku tidak akan melakukan hal rendahan sepertimu hanya untuk memenuhi keinginanku," ucap Cordelia dengan penuh penekanan dalam setiap kata katanya.
PLAAAAAKKKKKK
Satu tamparan mendarat keras di pipi Cordelia, membuat Cordelia terdiam dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Bukan hanya karena rasa sakit di pipinya tapi juga karena rasa sakit di hatinya karena tamparan dari seorang laki-laki yang merupakan kakak kandungnya.
"Kau benar-benar keterlaluan Delia, kau sama sekali tidak berguna!" ucap Ricky dengan emosi yang sudah memuncak.
"Apa kau tahu kau juga bukan kakak yang tidak berguna untukku!" balas Cordelia lalu berjalan keluar dari ruangan Ricky.
Saat baru saja membuka pintu ruangan Ricky, sudah ada Alvin yang berdiri disana, namun Cordelia tidak menghiraukannya dan berlari pergi begitu saja.
Sedangkan Alvin segera masuk ke ruangan Ricky.
"Apa yang sudah kau lakukan Ricky?"2 tanya Alvin pada Ricky yang tampak sangat kesal saat itu.
"Pergilah Alvin, suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja saat ini, jangan membuatnya semakin memburuk!" balas Ricky tanpa menjawab pertanyaan Alvin.
Tanpa Ricky tahu Alvin mendengar semua percakapan Ricky bersama Cordelia. Dari apa yang Alvin dengar Alvin tahu jika Ricky tengah merencanakan sesuatu untuk menggagalkan peragaan busana yang sudah Alvin siapkan.
"Lakukan apapun semaumu Ricky, karena waktumu tidak akan lama lagi disini," ucap Alvin sambil melemparkan sebuah map pada Ricky lalu berjalan keluar dari ruangan Ricky
Sebelum Alvin keluar, ia sempat melihat robekan tiket acara fashion yang sangat diinginkan Cordelia.
Alvin kemudian berlari ke arah rooftop karena ia melihat Cordelia yang berlari kesana. Benar saja, sesampainya di rooftop Alvin melihat Cordelia yang tengah terduduk dengan menundukkan kepalanya dan memeluk kedua kakinya.
Alvinpun berjalan perlahan mendekati Cordelia yang tengah menangis terisak saat itu. Alvin kemudian duduk di samping Cordelia membawa cordelia ke dalam dekapannya.
"Apa aku sudah melakukan hal baik Alvin? apa aku sudah melakukan hal yang benar?" tanya Cordelia di tengah isak tangisnya.
"Kau sudah melakukannya Delia, kau sudah melakukan hal yang baik dan benar, terima kasih," balas Alvin sambil menepuk-nepuk pelan punggung Cordelia.
Cordelia hanya menangis terisak dalam dekapan Alvin. Setelah apa yang terjadi Cordelia memutuskan untuk merelakan impiannya, tidak hanya demi Alvin tapi juga demi dirinya sendiri.
Terlebih apa yang sudah Nerissa lakukan membuatnya semakin yakin pada keputusan yang akan diambilnya.
Dengan berat hati Cordelia memutuskan untuk berhenti berusaha mendapatkan Alvin. Meski ia takut Alvin akan meninggalkannya ia tetap berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat.
Ia berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia rasakan pada Alvin bukanlah rasa cinta pada seorang kekasih, melainkan rasa sayang pada seorang kakak yang tidak pernah Ricky berikan padanya.
Rasa nyaman dan bahagia yang ia rasakan saat bersama Alvin adalah rasa yang sudah seharusnya dirasakan oleh seorang adik terhadap kakaknya, bukan seorang perempuan pada kekasihnya.