
Nerissa dan Marin yang masih berada di rumah sakit begitu terkejut oleh kedatangan Alvin dan Daniel yang tiba-tiba. Mereka tidak menyangka Daniel dan Alvin mencari mereka sampai ke rumah sakit.
Namun Nerissa dan Marin hanya diam seribu bahasa saat Alvin menanyakan ke mana mereka pergi, karena tidak mungkin Nerissa dan Marin mengatakan yang sebenarnya pada Alvin dan Daniel.
Tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat masuk untuk memeriksa kondisi pasien yang berada disana.
Nerissa dan Marin bisa bernafas lega karena bisa menghindar dari pertanyaan Alvin yang membuat mereka berdua bingung.
"Marin, goresan luka yang cukup dalam di tangan kanan dan gagar otak ringan," ucap dokter membaca berkas di tangannya sambil sesekali memperhatikan keadaan Marin.
Nerissa dan Marin hanya saling pandang, mereka tahu dokter pasti akan menanyakan keadaan Marin yang berbeda dengan data yang dibawa oleh dokter.
"Sepertinya ada yang salah dengan data ini," ucap dokter lalu memberikan berkas yang dibawanya pada salah satu perawat di sampingnya.
"Data ini sesuai dengan keadaan pasien waktu pertama kali datang Dok," balas perawat itu.
"Teman saya baik-baik saja dok, hanya pingsan saja, mungkin memang data itu salah karena banyak sekali pasien yang datang bersamaan tadi," ucap Nerissa pada dokter yang memeriksa keadaan Marin.
"Kau benar dia baik baik saja, tapi sebelum pulang kami akan memeriksanya sekali lagi untuk memastikan apakah dia benar-benar baik-baik saja," ucap Dokter lalu meminta salah satu perawat memindahkan Marin ke ruangan lain untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Nerissa, Alvin dan Daniel pun meninggalkan ruangan itu untuk menunggu Marin di depan ruangan lain.
"Gagar otak? apa kau yakin Marin baik-baik saja Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Marin baik-baik saja Daniel, kau juga melihatnya sendiri bukan? sepertinya memang petugas rumah sakit yang salah mencatat data itu, mungkin karena terlalu banyak korban dari kecelakaan kapal yang datang bersamaan," jawab Nerissa memberi alasan.
"Tapi kenapa aku tidak menemukan nama kalian berdua pada data manifest penumpang kapal itu? apa kalian berdua bukan penumpang kapal itu?" tanya Daniel yang membuat Nerissa terdiam.
"tentu saja namaku dan Marin tidak ada dalam data itu, karena aku dan Marin bukan penumpang kapal itu, lalu bagaimana aku harus menjawab pertanyaan Daniel?" batin Nerissa bertanya dalam hati.
Lain halnya dengan Daniel yang penasaran dengan hal itu, Alvin yang sebenarnya juga ingin tahu tentang hal itu memilih untuk diam dan memikirkan kemungkinan lain yang terjadi.
"Jangan membahasnya lagi, yang terpenting sekarang Nerissa dan Marin sudah kembali dalam keadaan baik-baik saja," sahut Alvin agar Daniel tidak banyak bertanya pada Nerissa.
"Maaf karena tidak memberi kabar pada kalian berdua, ada sesuatu yang harus aku dan Marin selesaikan dengan tiba-tiba, tetapi aku tidak bisa menjelaskan hal itu pada kalian berdua, aku harap kalian bisa mengerti dan tidak menanyakan hal itu lagi padaku ataupun pada Marin," ucap Nerissa sambil membawa pandangannya pada Daniel dan Alvin.
"Tapi kau harus berjanji Nerissa, jangan mengulangi hal ini lagi, jika kau ingin pergi kau harus memberitahu aku atau Alvin, jangan pernah pergi tiba-tiba dan tanpa kabar seperti kemarin!" ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Nerissa.
"Aku janji, maaf sudah membuat kalian berdua khawatir," ucap Nerissa.
Setelah beberapa lama menunggu, Marinpun keluar. Dokter menjelaskan bahwa keadaan Marin baik-baik saja dan dokter mengakui bahwa ada kesalahan pada data yang diterima tentang keadaan Marin saat baru datang ke rumah sakit.
Mereka pun meninggalkan rumah sakit, Alvin mengendarai mobilnya mengantarkan Nerissa dan Marin untuk pulang.
"Terima kasih sudah mengantar kami pulang, aku dan Marin akan beristirahat dulu!" ucap Nerissa pada Alvin dan Daniel.
Alvin dan Daniel kemudian meninggalkan rumah Nerissa, Alvin mengendarai mobilnya ke arah rumahnya bersama Daniel.
"Apa kau tidak merasa semua ini terlalu aneh Alvin?" tanya Daniel pada Alvin.
"Apa yang aneh Daniel? kau terlalu banyak berpikir!" balas Alvin.
"Nerissa dan Marin tiba-tiba pergi begitu saja tanpa membawa ponsel dan tanpa mengunci rumah mereka, mereka seolah menghilang begitu saja di pantai Pasha dan tiba-tiba mereka menjadi salah satu korban kecelakaan kapal, tetapi dalam data manifest penumpang kecelakaan tidak ada nama mereka berdua, apa itu tidak aneh menurutmu?"
"Apa kau sudah lupa tentang identitas mereka berdua? bisa jadi mereka menggunakan nama lain yang tidak kita ketahui!"
"Aaahhh iya..... kau benar, mereka berdua benar-benar misterius sekali!" balas Daniel sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Jangan terlalu banyak berpikir Daniel, aku yakin mereka berdua gadis yang baik, mereka tidak mungkin memiliki niat yang buruk pada kita," ucap Alvin yang kembali dibalas anggukan kepala Daniel.
"Tunggu dulu, kenapa kita mengarah kesini? bukankah kita akan kembali ke kantor?" tanya Daniel yang menyadari jika Alvin tidak mengendarai mobilnya ke arah kantor.
"Tentu saja tidak, aku ingin segera pulang dan beristirahat," balas Alvin santai.
"Pulang? bagaimana denganku mobilku yang masih berada di kantor?"
"Kau bisa meminta seseorang untuk mengambilnya bukan?"
"Tapi aku juga akan pulang Alvin, aku sudah bosan menginap di rumahmu!"
"Kalau begitu kembali saja menggunakan taksi, aku tidak mau kembali ke kantor lagi, ini sudah terlalu jauh!" ucap Alvin yang membuat Daniel kesal.
"Kau benar-benar menyebalkan, jika tahu begini aku tidak akan pulang denganmu!" ucap Daniel yang membuat Alvin terkekeh.
Sesampainya di rumah Alvin, Alvin dan Danielpun turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
"Bukankah kau akan pulang?"
"Tidak, aku sangat lelah, aku juga ingin segera beristirahat disini," jawab Daniel lalu berjalan mendahului Alvin.
Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Daniel.
Alvin dan Daniel kemudian duduk di ruang tengah sambil menikmati minuman dan makanan ringan yang bi Sita siapkan.
"Apa kau sudah mempunyai keputusan sekarang?" tanya Daniel pada Alvin.
"Tentang Nerissa?" tanya Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
"Sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan, tapi apa kau yakin ini tidak akan menjadi masalah untukmu?"
"Sama sekali tidak, aku akan senang jika dia bahagia bersamamu, setidaknya aku tahu laki-laki yang bersamanya adalah laki-laki yang baik," jawab Daniel.
"Ya kau benar, aku memang laki-laki yang baik," balas Alvin menyombongkan dirinya.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Daniel.
"Weekend nanti aku akan mengajaknya ke taman bermain, aku akan menyatakan perasaanku saat aku dan Nerissa berada di titik tertinggi bianglala, bagaimana menurutmu?"
"Hahaha...... kekanak-kanakan sekali!"
"Ciiiiihhh...... kau hanya iri bukan?"
Daniel hanya tersenyum tipis sambil menyeruput minuman di hadapannya.
**
Hari demi hari telah berlalu, setiap hari Alvin mendapatkan setangkai bunga mawar merah dari seseorang yang menitipkannya di resepsionis tempat Alvin bekerja.
Alvin tidak pernah tahu siapa yang mengirim bunga itu untuknya, ia juga tidak pernah mencari tahu siapa seseorang yang melakukan hal itu padanya.
Hari itu tepat di hari Minggu, Alvin sudah berjanji untuk mengajak Nerissa pergi ke taman bermain. Saat Alvin baru saja keluar dari rumahnya, ponselnya berdering, sebuah panggilan dari seseorang yang tidak bisa ia tolak.
"Halo Alvin, apa kita bisa bertemu sekarang?"
"Ini bukan keputusan yang mudah Alvin, tetapi aku sudah memutuskannya setelah berpikir dengan matang, lebih baik segera temui aku sebelum aku merubah keputusanku!" ucap seseorang itu lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Alvin melihat jam di tangan kirinya, masih ada beberapa waktu untuk menemui seseorang itu sebelum ia menjemput Nerissa.
Alvinpun mengendarai mobilnya untuk menemui seseorang yang baru saja menghubunginya.
Sialnya selama dalam perjalanan kembali dari menemui seseorang itu terjadi kecelakaan beruntun di jalan tol ke arah rumah Nerissa, yang membuat jalanan menjadi macet.
"Sialll.... aku terjebak disini aku tidak bisa ke mana-mana sekarang!" ucap Alvin yang begitu kesal dengan keadaannya saat itu.
Alvin kemudian menghubungi Nerissa, khawatir jika Nerissa menunggunya terlalu lama.
"Halo Nerissa, apa kau masih di rumah?" tanya Alvin saat Nerissa sudah menerima panggilannya
"Iya aku masih menunggumu di rumah," jawab Nerissa bersemangat.
"Sepertinya aku akan sedikit terlambat Nerissa, aku terjebak macet di jalan tol karena terjadi kecelakaan beruntun disini," ucap Alvin pada Nerissa.
"Kecelakaan? apa kau baik-baik saja Alvin?"
"Aku baik-baik saja, kecelakaan itu terjadi beberapa meter di depanku, maaf karena aku membuatmu menunggu Nerissa."
"Tidak apa Alvin, jangan terburu-buru, aku akan menunggumu disini!"
"Terima kasih Nerissa, aku akan berusaha agar segera keluar dari kemacetan ini," ucap Alvin kemudian mengakhiri panggilannya.
**
Waktu pun berlalu, sudah hampir satu jam Nerissa menunggu Alvin di rumahnya, namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Alvin.
"Apa Alvin belum menghubungimu Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun, raut wajahnya yang tadi bersemangat kini menjadi tampak layu karena sudah lama menunggu Alvin.
"Sebaiknya kau datang ke taman bermain lebih dulu agar kalian masih mendapatkan tiket, karena hari Minggu seperti ini tiket akan lebih cepat terjual habis Putri," ucap Marin pada Nerissa.
"Benarkah? apa aku harus pergi ke sana sendiri?"
"Dari yang aku tahu memang begitu Putri, karena pada hari Minggu banyak manusia yang berlibur, jadi tiket akan lebih cepat terjual habis dari hari biasanya, jika kau mau aku akan mengantarmu berangkat ke sana!"
"Tidak perlu Marin, aku akan berangkat sendiri," ucap Nerissa kemudian beranjak dari duduknya.
"Apa kau yakin Putri?"
"Tentu saja, aku akan memesan taksi sekarang!" jawab Nerissa kemudian memesan taksi.
Setelah beberapa lama menunggu, taksi yang dipesan Nerissapun datang, karena terburu-buru Nerissa melupakan ponselnya yang ia taruh di kursi.
Nerissa segera berlari dan masuk ke dalam taksi yang membawanya pergi dari toko bunga.
Di sisi lain, Marin yang sedang membersihkan toko bunga, melihat ponsel Nerissa yang tergeletak di kursi.
"Putri kau ceroboh sekali, kenapa kau meninggalkan ponselmu disini!" ucap Marin kemudian menaruh ponsel Nerissa di meja.
Tak lama kemudian Danielpun datang dan masuk ke dalam toko bunga.
"Kebetulan kau datang, apa kau bisa membantuku?" ucap Marin sekaligus bertanya pada Daniel yang baru saja datang.
"Aku baru saja menginjakkan kakiku disini Marin, kau merepotkanku saja!" balas Daniel lalu membawa langkahnya duduk di kursi yang ada di dalam toko bunga.
"Baiklah jika kau tidak ingin membantuku, Putri pasti sedang kesepian sekarang," ucap Marin yang membuat Daniel segera beranjak dari duduknya.
"Kenapa Nerissa kesepian? bukankah dia sedang berada di taman bermain bersama Alvin?"
"Kau bersemangat sekali jika mendengar nama Putri," balas Marin tanpa menjawab pertanyaan Daniel.
"Hehehe....... cepat katakan padaku apa yang terjadi?"
"Putri sudah berangkat ke taman bermain sendirian karena Alvin terjebak macet di jalan tol, aku ingin meminta tolong padamu untuk mengantarkan ponsel Putri yang tertinggal agar dia bisa menghubungi Alvin jika dia sudah berada disana," ucap Marin menjelaskan.
"Di jalan tol? kenapa Alvin melewati jalan tol untuk menjemput Nerissa?"
"Jangan bertanya padaku, tanyakan saja pada temanmu yang terlambat menjemput Putri!"
"Baiklah, dimana ponsel Nerissa? aku akan mengantarnya kesana!"
Marin kemudian memberikan ponsel Nerissa pada Daniel, tanpa banyak bertanya lagi Daniel segera meninggalkan toko bunga Marin dan mengendarai mobilnya ke arah taman bermain untuk mencari Nerissa.
Sesampainya di taman bermain, Daniel segera mencari keberadaan Nerissa. Tiba-tiba langit pagi tanpa matahari menjadi semakin gelap karena awan mendung yang semakin meluas.
Perlahan tapi pasti, rintik hujanpun mulai turun membasahi bumi, membuat Daniel berlari lebih cepat untuk menemukan keberadaan Nerissa.
Tak berapa lama kemudian, matanya tertuju pada sosok gadis cantik yang berdiri di bawah pohon yang tidak cukup rindang untuk melindunginya dari rintik hujan yang semakin lebat.
"Nerissa, apa yang kau lakukan di sini?"
"Daniel, aku baru saja membeli 2 tiket tetapi tiba-tiba hujan dan tidak ada lagi tempat berteduh disini," jawab Nerissa yang terkejut karena kedatangan Daniel yang tiba-tiba.
"Ikutlah denganku!" ucap Daniel sambil menarik tangan Nerissa, namun Nerissa masih berdiri di tempatnya, tidak melangkahkan kakinya sedikitpun.
"Tidak Daniel, aku akan menunggu Alvin disini, dia pasti akan bingung mencariku jika tidak melihatku disini," ucap Nerissa yang enggan untuk pergi meski badannya sudah basah oleh air hujan.
"Aku membawa ponselmu, kau bisa memberitahu Alvin jika kau menunggu di tempat parkir bersamaku," ucap Daniel yang masih menggenggam tangan Nerissa.
"Ayolah Nerissa, kau sudah basah kuyup sekarang!" ucap Daniel sambil kembali menarik tangan Nerissa.
Nerissapun melangkahkan kakinya mengikuti langkah Daniel, mereka berlari kecil ke arah tempat Daniel memarkirkan mobilnya.
"Hujannya sangat deras Nerissa, sepertinya taman bermain ini akan ditutup sementara," ucap Daniel pada Nerissa.
"Benarkah? apa aku tidak bisa masuk kesana bersama Alvin?"
"Air hujan akan membuat wahana permainan menjadi berbahaya Nerissa, kau dan Alvin harus mencari tempat lain!"
"Apa kau keberatan jika kita menunggu Alvin disini? mungkin sebentar lagi dia akan datang!"
"Aku akan menemanimu disini sampai Alvin datang," jawab Daniel.
"Terima kasih Daniel," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.