
Sebelum Daniel ke rumah Nerissa.
Hari masih sangat pagi, Daniel mengerjapkan matanya lalu mengambil ponsel yang berada di sampingnya.
"Kenapa narisa belum menghubungiku juga? apa dia marah padaku?" tanya Daniel pada dirinya sendiri kemudian kembali menghubungi Nerissa.
Dua sampai tiga kali Daniel mencoba menghubungi Nerissa, namun belum juga ada jawaban.
Daniel kemudian beranjak dari ranjangnya untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor. Ia sengaja berangkat lebih pagi agar ia sempat menemui Nerissa di rumahnya.
Setelah selesai bersiap, Danielpun mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Daniel melihat mobil yang sudah tidak asing di matanya saat ia hampir sampai di rumah Nerissa.
Mobil itu berhenti di depan toko bunga Marin. Tak lama kemudian terlihat Alvin dan Nerissa turun dari dalam mobil.
Daniel tersenyum tipis melihat Alvin dan Nerissa yang turun dari mobil dengan bersamaan di waktu yang sepagi itu.
Ia berusaha untuk tetap berpikir positif meski saat itu yang merasa cemburu atas kedekatan Alvin dan Nerissa, mengingat sejak semalam Nerissa tidak bisa dihubungi sama sekali olehnya.
Daniel kemudian menghentikan mobilnya di belakang mobil Alvin kemudian turun dari mobilnya menghampiri Nerissa dan Alvin.
"Kalian berdua dari mana?" tanya Daniel dengan membawa pandangannya pada Nerissa dan Alvin.
"Kita dari....."
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya lalu mengantarnya pulang," sahut Alvin menjawab.
"aku tidak bohong bukan? aku memang tidak sengaja bertemu Nerissa di pantai lalu aku menemaninya dan sekarang mengantarnya pulang, hanya saja ada beberapa hal yang tidak bisa aku ceritakan pada Daniel," ucap Alvin dalam hati.
"Apa kau tidak pulang lagi semalam?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.
"Kenapa kau kesini sepagi ini Daniel? ada perlu apa?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Aku..... aku hanya mengkhawatirkanmu karena sejak kemarin kau tidak menjawab panggilanku!" jawab Daniel.
"Maafkan aku Daniel, ada masalah yang sedang aku hadapi saat ini, jadi aku aku menghabiskan waktuku hanya untuk berdiam diri sendirian," ucap Nerissa.
"Kau bisa menceritakan masalahmu padaku Nerissa, aku akan membantumu sebisaku!" balas Daniel.
"Terima kasih Daniel, tetapi aku ingin menenangkan diriku dulu saat ini, aku harap kau mengerti!" ucap Nerissa.
"Baiklah, tapi segera hubungi aku jika suasana hatimu sudah membaik, aku tidak ingin kau menjauh dariku terlalu lama," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum tipis Nerissa.
"Aku masuk dulu, kalian berdua pulang lah!" ucap nerissa pada Alvin dan Daniel.
Alvin dan Danielpun kompak menganggukkan kepala kemudian masuk ke dalam mobil mereka masing-masing.
Alvin mengendarai mobilnya ke arah rumahnya sedangkan Daniel mengikuti Alvin dari belakang.
Sesampainya di rumah Alvin, mereka pun turun dari mobil masing-masing. Daniel berlari kecil mengikuti Alvin berjalan masuk ke rumahnya.
"Apa yang terjadi dengan nerissa Alvin?masalah apa yang sedang dia hadapi saat ini?" tanya Daniel pada Alvin.
"Tanyakan saja padanya, biar dia sendiri yang menjelaskan masalahnya padamu!"
"Bukankah kau melihatnya tadi? dia tidak ingin aku mengetahui masalahnya!" balas Daniel.
"Kalau begitu tunggu saja sampai suasana hatinya membaik, mungkin dia akan menceritakan masalahnya padamu nanti, tetapi jika tidak, jangan memaksanya!" ucap Alvin kemudian masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.
Sedangkan Daniel hanya diam menunggu Alvin di ruang tengah. Ia masih memikirkan kedekatan Alvin dengan Nerissa yang baru saja ia lihat.
"ini bukan pertama kalinya Alvin dan Nerissa bertemu secara kebetulan, mereka sering sekali terlihat berdua, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? apa mereka saling menyukai? atau.... tidak...... Alvin tahu aku sangat menyukai Nerissa jadi tidak mungkin dia juga menyukai Nerissa!" batin Daniel dalam hati.
Setelah beberapa lama menunggu, Alvin pun keluar dari kamarnya berjalan ke arah meja makan diikuti oleh Daniel.
"Alvin, bagaimana dengan perusahaan sekarang? sepertinya kau belum melakukan apapun untuk menjatuhkan Ricky!" tanya Daniel pada ada Alvin.
"Tenang saja Daniel, aku sudah melakukan banyak hal selama ini, aku sudah melangkah semakin jauh dan tinggal menunggu waktu saja aku akan segera menjatuhkan Ricky!"
"Apa kau akan benar-benar membuatnya turun dari jabatannya saat ini?"
"Itu adalah cara yang paling tepat agar dia tidak menggunakan kekuasaannya untuk melakukan hal yang tidak benar pada perusahaan!"
"Lalu siapa yang akan menggantikannya? apa kau sudah memilih kandidatnya?"
Alvin tersenyum tipis sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Apa jangan-jangan kau sendiri yang akan menggantikan posisinya?" terka Daniel.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
"Waah waah waah...... kau sangat gila Alvin, bagaimana dengan pandangan orang nanti? sepertinya mereka tidak akan suka dengan apa yang akan kau lakukan itu!"
"Aku sedang menyiapkan bukti tentang kepemilikan Atlanta grup, aku tidak mungkin menjatuhkan Ricky begitu saja lalu menggantikannya jika aku tidak punya cukup bukti bahwa akulah yang berhak untuk memiliki Atlanta group sepenuhnya, bukan keluarga Airlangga seperti yang banyak orang tahu saat ini!" ucap Alvin menjelaskan.
"Kau memang selalu mempunyai rencana yang matang Alvin, kau memang pantas menjadi pemimpin di perusahaan besar itu dan membawanya semakin maju!" ucap Daniel memuji Alvin.
Setelah selesai sarapan, mereka pun berangkat ke kantor dengan mobil mereka masing-masing.
Sesampainya di kantor, resepsionis memanggil Alvin dan memberikannya setangkai mawar merah.
"Waaah.... kau mulai terang-terangan menyukai Alvin sekarang?" tanya Daniel pada sang resepsionis.
"Ini bukan dariku Daniel, tetapi ada perempuan cantik yang datang kemari dan memintaku untuk memberikan setangkai bunga mawar merah ini pada Alvin!"
Alvin menerima bunga mawar merah itu tanpa bertanya lebih jauh lalu membuangnya di tempat sampah yang ada di dekat resepsionis.
"Apa kau tidak penasaran siapa yang memberimu bunga mawar merah itu?" tanya Daniel pada Alvin.
"Tidak, jika dia memang ingin menemuiku temui saja aku tanpa perlu melakukan hal ini, ini sangat kekanak-kanakan!" jawab Alvin.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya pelan kemudian masuk ke ruangannya yang berada di dekat ruangan Alvin.
Alvin dan Danielpun sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sebagai sahabat yang sudah lama saling mengenal dan dekat satu sama lain, Daniel tidak ingin kecemburuan yang ia rasakan saat itu mempengaruhi persahabatannya dengan Alvin.
Bagaimanapun juga Alvin adalah sahabat baiknya dan sudah banyak membantunya. Ia sangat mengenal Alvin dengan baik, ia yakin dan percaya jika Alvin tidak mungkin mengkhianati persahabatan mereka.
Meski terkadang masih ada rasa kesal yang ia rasakan saat melihat kedekatan Alvin dan Nerissa, tetapi Daniel berusaha untuk meredamnya, ia tidak ingin pikiran buruknya membuat persahabatannya dengan Alvin merenggang.
**
Ia tidak bisa memaksakan perasaannya pada Nerissa, itu kenapa ia hanya bisa menunggu Nerisa dan berusaha untuk terus berada di samping Nerissa.
Sedangkan Alvin, ia masih merahasiakan pertemuan pertamanya dengan Nerissa pada Daniel, ia masih berpura-pura belum mengenal Nerissa sebelum Daniel membawanya ke rumah.
Entah sampai kapan Alvin merahasiakan hal itu dari Daniel dan Nerissa, ia hanya tidak ingin hubungan mereka bertiga menjadi buruk.
Pagi itu Alvin bersiap untuk berlibur bersama Daniel, Nerissa dan Marin. Setelah memastikan semua barang yang harus dibawanya sudah siap, ia pun berangkat untuk menjemput Daniel.
Setelah menjemput Daniel, mereka pun menjemput Nerissa dan Marin.
Nerissa dan Marin duduk di bangku belakang sedangkan Alvin berada di balik kemudi dengan Daniel di sampingnya.
Alvin mengendarai mobilnya ke arah danau yang berada di dekat taman bermain.
Sesampainya di sana mereka pun segera turun dan membawa barang-barang yang sudah mereka siapkan untuk berpiknik di dekat danau.
Mereka berempat berjalan ke arah danau lalu menggelar tikar kemudian menata makanan dan minuman yang mereka bawa.
"Disini sejuk sekali Putri, rasanya aku sangat betah berlama-lama berada di sini!" ucap Marin pada Nerissa.
"Kau benar Marin, rasanya aku juga ingin memiliki tempat tinggal di dekat sini!" balas Nerissa.
"Kalau kita menikah nanti, aku akan membuatkanmu rumah dengan halaman yang sangat luas seperti ini!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Hahaha..... menikah? mimpi saja kau.... hahaha......." ucap Marin menertawakan Daniel.
"Kalau aku menikah dengan Nerissa, aku tidak akan mengundangmu datang ke pernikahanku!" ucap Daniel kesal pada Marin.
"Itu juga kalau Putri mau menikah denganmu, tapi sepertinya itu hanya mimpimu saja hahaha....."
"Bagaimana kalau kita berfoto sekarang? sebelum semakin banyak pengunjung yang datang!" ajak Nerissa untuk mengakhiri perdebatan Daniel dan Marin.
"Ayo, tapi siapa yang akan mengambil foto? kita hanya berempat di sini?" tanya Marin dengan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Kau saja yang mengambil foto, wajahmu lebih baik tidak terlihat di dalam foto karena kau akan merusak pemandangan yang indah ini, hahahah......." sahut Daniel dengan tertawa puas.
"Lihatlah Putri, dia sangat menjengkelkan, apa kau mau menikah dengannya? kalau aku pasti tidak akan menghabiskan waktuku bersama laki-laki sepertinya!" ucap Marin pada Nerissa.
"Jangan terlalu membencinya Marin, bisa jadi kau akan berbalik mencintainya nanti!" ucap Alvin ada Marin yang diikuti tawa kecil Nerissa.
Sedangkan marine dan Daniel segera menggelengkan kepala mereka dengan cepat mendengar ucapan Alvin.
Tak lama kemudian pengunjung lain datang, merekapun meminta tolong pengunjung lain untuk mengambil foto mereka berempat
Mereka berfoto di banyak tempat dengan latar belakang hamparan hijau yang luas dan juga danau dengan beberapa angsa di sana
Saat mereka berjalan ke arah dermaga, Nerissa berjalan terlebih dahulu daripada yang lain. Nerissa berlari kecil di atas dermaga, menikmati keindahan yang ada di sekitarnya.
Namun tiba-tiba Alvin menarik tangan Nerissa, menahan tangan Nerissa agar berhenti berlari di atas dermaga kayu itu.
"Berhati-hatilah Nerissa, berjalanlah dengan pelan, kau tidak ingin terjatuh ke danau bukan?" ucap Alvin yang mengkhawatirkan Nerissa karena ia tidak ingin hal buruk yang pernah terjadi pada Nerissa terulang kembali di hadapannya.
Nerissa hanya diam menatap Alvin dengan menganggukkan kepalanya.
Daniel yang melihat hal itupun hanya terdiam meski hatinya sedang terbakar cemburu saat itu.
"Ayo cepatlah, aku tidak ingin matahari membakar kulitku!" ucap Marin pada Daniel yang hanya berdiri tak jauh dari dermaga.
Marin kemudian berjalan ke arah dermaga diikuti oleh Daniel, mereka pun berpose di atas dermaga beberapa kali sebelum akhirnya mereka kembali ke tempat mereka berpiknik.
Di bawah pohon yang rindang itu, Nerissa, Marin, Alvin dan Daniel bisa terhindar dari sengatan matahari yang cukup terik meski hari belum terlalu siang.
Mereka kemudian menikmati makanan dan minuman mereka sambil melihat beberapa hasil foto mereka.
Jika diperhatikan, posisi mereka ketika berfoto adalah Alvin berada di pinggir kemudian disebelahnya Nerissa disusul Daniel lalu Marin.
Daniel memang berada di dekat Nerissa, tapi entah kenapa ia melihat Nerissa lebih dekat pada Alvin di beberapa foto.
"Waaah ada kupu-kupu, cantiknya......" ucap Nerissa saat ia melihat beberapa ekor kupu-kupu yang tampak mengitari bunga-bunga di dekat mereka.
"Apa kau mau menyentuh kupu-kupu itu?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Apa aku bisa menyentuhnya?" balas Nerissa bertanya.
"Tentu saja bisa, ayo ikut aku!" ucap Daniel sambil beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Nerissa.
Nerissapun menerima uluran tangan Daniel kemudian beranjak dari duduknya.
"Kau harus berjalan dengan sangat pelan agar mereka tidak menyadari kedatangan kita!" ucap Dani berbisik pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya pelan kemudian berjalan dengan sangat pelan ke arah kumpulan kupu-kupu.
Meski Daniel dan Nerissa berjalan sangat pelan, semua kupu-kupu itupun segera terbang saat Daniel dan Nerissa semakin mendekat ke arah mereka.
Daniel dan Nerissapun berlari mengikuti kupu-kupu yang terbang. Nerissa tampak senang dan bahagia berlarian di antara bunga-bunga untuk mengejar kupu-kupu.
Di sisi lain, Alvin yang melihat hal itu hanya diam, ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman di hatinya.
"Lihatlah Alvin, Putri terlihat sangat senang bukan? Daniel memang selalu bisa membuat Putri bahagia!" ucap Marin pada Alvin.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
"Daniel memang laki-laki yang baik, aku harap dia tidak meragukan perasaannya lagi pada Nerissa, aku hanya tidak ingin Nerissa merasakan patah hati saat ia tahu jika Daniel masih ragu pada perasaannya sendiri ketika sudah membuka hatinya untuk Daniel!" ucap Alvin dalam hati.
"Menurutmu apa Daniel benar-benar menyukai Putri? atau dia hanya penasaran saja pada Putri?" tanya Marin membuyarkan lamunan Alvin.
"Kenapa kau menanyakan hal itu padaku?" balas Alvin bertanya.
"Kau sahabatnya, kau pasti mengenal Daniel dengan baik bukan?"
"Aku memang mengenalnya dengan baik tetapi tentang hati seseorang kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakannya, bukankah begitu?" balas Alvin.
"Kau benar, tapi sampai kapan kau akan merahasiakan hal itu Alvin?" balas Marin sekaligus bertanya.
"Merahasiakan apa maksudmu?" tanya Alvin tidak mengerti.
"Kau tahu siapa Putri Nerissa bukan? kau pernah bertemu dengannya sebelum Daniel membawanya ke rumahmu? kau lebih dulu mengenal Putri sebelum Daniel mengenalnya tetapi kau berbohong, kau tidak benar-benar melupakan Putri bukan?" tanya Marin yang membuat Alvin terdiam.