
Alvin telah meninggalkan rumah Nerissa, ia mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi, meski Nerissa berkata jika Nerissa belum memaafkannya tapi sikap Nerissa sudah tidak sedingin sebelumnya.
Sekarang ia harus memikirkan bagaimana caranya agar Nerissa benar-benar memaafkannya.
Sesampainya Alvin di rumahnya, ia terkejut karena ada mobil Daniel di sana. Alvin kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri Daniel yang menunggunya di teras.
"Aku menghubungimu berkali-kali Alvin, apa kau tidak membawa ponsel mu?" ucap Daniel sekaligus bertanya pada Alvin.
"Iya aku lupa membawanya, ada apa?"
"Aku ingin mengajak Nerissa pergi berlibur berdua, bagaimana menurutmu?" jawab Daniel sekaligus bertanya.
"Berlibur berdua, apa kau yakin?" tanya Alvin memastikan.
"Tentu saja, dengan begitu aku akan menjadi lebih dekat dengan Nerissa," jawab Daniel tanpa ragu.
"Sepertinya susah untuk mengajaknya berlibur berdua tanpa Marin, kau tahu sendiri bagaimana dia dan Marin tidak bisa terpisahkan!" ucap Alvin.
"Mereka sudah sama-sama dewasa Alvin, Nerissa tidak perlu izin dari Marin untuk bisa berlibur berdua denganku!" balas Daniel.
"Kemana kau akan mengajaknya berlibur?" tanya Alvin.
"Keluar pulau dengan pantai yang indah, kau tahu dia sangat menyukai pantai bukan? dia pasti tidak akan menolak saat aku memperlihatkan betapa indahnya pantai di sana!" jawab Daniel.
"Berapa lama?"
"Tidak akan lama, mungkin dua atau tiga hari, bagaimana menurutmu?"
"Terserah kau saja, asalkan jangan memaksanya untuk mengiyakan ajakanmu, karena aku tidak yakin dia bisa pergi jauh dari Marin apalagi lebih dari satu hari!"
"Lihat saja nanti, dia pasti menerima ajakanku!" ucap Daniel yakin.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Daniel yang begitu yakin.
"Apa kau mau menginap disini malam ini?" tanya Alvin pada Daniel.
"Tentu saja, aku sudah lama menunggumu, ayo silakan masuk hehehe....." jawab Daniel sambil beranjak dari duduknya.
Alvin hanya tersenyum tipis kemudian masuk ke dalam rumahnya bersama Daniel.
Daniel segera naik ke lantai 2 untuk masuk ke kamar yang biasa ia tempati saat menginap, sedangkan Alvin segera masuk ke kamarnya.
Alvin duduk di tepi ranjangnya memikirkan ucapan Daniel yang baru saja ia dengar.
"mengajak nerissa berlibur dua atau tiga hari? apa Nerissa bisa jauh dari Marin sampai berhari-hari? kalau Nerissa menerima ajakan Daniel itu artinya selama beberapa hari itu juga aku tidak akan bisa bertemu dengan Nerissa sama sekali!" ucap Alvin dalam hati.
Alvin kemudian beranjak dari duduknya lalu pergi ke ruang kerjanya. Dia membuka laptopnya mencari tahu pulau yang terkenal dengan keindahan pantainya.
"Apa mungkin Daniel mengajak Nerissa kesini? atau kesini? bisa juga ke sini!" ucap Alvin sambil membawa kursornya ke arah beberapa artikel yang menunjukkan jawaban yang berbeda.
"Aaarrghhh........ apa yang aku lakukan? biarkan saja Daniel mengajak Nerissa berlibur, belum tentu juga Nerissa akan menerima ajakan Daniel, karena aku tahu pasti Nerissa tidak bisa berada jauh dari Marin terlalu lama!" ucap Alvin sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Lebih baik aku mencari tahu bagaimana caranya agar Nerissa bisa benar-benar memaafkanku!" ucap Alvin kemudian kembali membuka mesin pencarian untuk mencari tahu bagaimana caranya agar Nerissa bisa memaafkannya.
Jam sudah melewati tengah malam, namun Alvin masih berada di ruang kerjanya bukan untuk mengerjakan pekerjaannya tetapi untuk mencari cara agar Nerissa bisa memaafkannya.
Alvin tersenyum tipis saat ia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Alvin kemudian menaikkan kedua tangannya, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena sudah lama duduk di hadapan laptop.
Alvin kemudian keluar dari ruang kerjanya, masuk ke kamarnya dan merebahkan badannya.
**
Pagi telah datang, seperti biasa Nerissa membantu Marin untuk membuka toko bunga. Marin kemudian membuat buket bunga sesuai pesanan yang sudah ia dapatkan dan memberikannya pada Nerissa setelah ia selesai membuatnya.
"Pagi ini hanya ada satu buket bunga putri, tetapi tempatnya sedikit jauh apa kau bisa mengantarnya?" ucap Marin sekaligus bertanya sambil memberikan kertas yang bertuliskan alamat pada Nerissa.
"Karena ini masih pagi aku akan mengantarnya!" jawab Nerissa kemudian mengambil buket bunga di hadapannya dan menaruhnya di keranjang sepedanya lalu meninggalkan toko bunga Marin.
Hari itu ia begitu bersemangat untuk mengantar buket bunga pesanan karena suasana hatinya sedang baik saat itu.
Tak lama setelah kepergian Nerissa, sebuah mobil berhenti di depan toko bunga Marin.
"Selamat pagi, selamat datang di Marin Florist!" sapa Marin dengan ramah seperti biasanya.
"Selamat pagi," sapa seorang perempuan cantik pada Marin.
"Selamat pagi, apa kau sedang mencari bunga atau kau ingin memesan buket bunga?" balas Marin bertanya.
"Aku ingin membeli bunga mawar merah," jawabnya dengan senyum cantiknya.
"Silakan, banyak bunga mawar merah yang cantik disini!" ucap Marin sambil menunjukkan deretan bunga mawar merah.
"Apa kau bisa membuatkan buket bunga untukku sekarang?" tanya si perempuan pada Marin.
"Tentu saja bisa, tetapi kau harus menunggunya sebentar, atau kalau kau mau aku bisa mengantarnya ke rumahmu!"
"Aku akan menunggunya disini," ucap si perempuan.
"Baiklah kalau begitu, silakan duduk aku akan segera membuatkan buket bunga mawar merah untukmu!" ucap Marin kemudian bersiap untuk membuat buket bunga sesuai dengan pesanan pelanggannya.
Setelah beberapa lama berkutat dengan bunga dan alat-alat untuk membuat buket bunga, akhirnya buket bunga pesanan pun selesai dibuatnya.
Marin segera memberikannya pada si perempuan yang sudah menunggu di tokonya.
"Sudah selesai, semoga sesuai dengan keinginanmu!" ucap Marin sambil memberikan buket bunga mawar merah.
"Waaah cantik sekali, kau memang pandai membuatnya!" ucap si perempuan kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar.
Setelah membayar buket bunga yang dipesan, perempuan itu pun keluar dari toko bunga Marin.
Di sisi lain, Daniel menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil perempuan itu. Daniel terdiam saat dia melihat perempuan itu masuk kedalam mobilnya kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan toko bunga Marin.
"Apa aku salah lihat? apa itu benar-benar dia?" tanya Daniel pada dirinya sendiri.
"Tidak mungkin, pasti aku hanya salah lihat," ucap Daniel kemudian keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam toko bunga Marin.
"Selamat datang di Marin Florist!" ucap Daniel meniru ucapan Marin saat menyapa pelanggannya.
"Apa yang kau lakukan disini pagi-pagi seperti ini? pergilah jika kau hanya ingin menggangguku!" ucap Marin pada Daniel.
"Aku kesini untuk bertemu Nerissa, apa dia sudah pergi?" tanya Daniel pada Marin.
"Putri sudah pergi mengantar bunga," jawab Marin.
"Baiklah, aku akan kembali lagi kesini nanti siang," ucap Daniel kemudian berbalik hendak keluar dari toko bunga Marin namun ia menghentikan langkahnya dan kembali menghampiri Marin.
"Ada apa lagi Daniel?"
"Apa kau mengenal gadis yang baru saja keluar dari toko bungamu?" tanya Daniel pada Marin.
"Tidak, kenapa? apa kau mengenalnya atau kau tertarik pada kecantikannya?"
Marin hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar ucapan Daniel.
Daniel kemudian mengendarai mobilnya ke arah tempat kerjanya.
Waktu berlalu jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Alvin keluar dari ruangannya untuk menghampiri Daniel di ruangan Daniel.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali Alvinpun masuk dan memberikan sebuah map pada Daniel.
"Apa ini?" tanya Daniel pada Alvin.
"Materi meeting, kau tidak lupa jika kau harus pergi meeting bukan?" jawab Alvin sekaligus bertanya.
"Oohh iya aku lupa, apa tidak bisa orang lain saja yang menggantikanku?"
"Tidak bisa Daniel, kau yang lebih paham tentang materi meeting ini!" jawab Daniel.
"Jam berapa meeting ini akan selesai?"
"Tidak akan lama mungkin hanya 2 jam," jawab Alvin.
"2 jam? kenapa lama sekali? apa kau tega membiarkanku melewatkan makan siangku?"
"Aku akan memberikanmu waktu makan siang satu jam setelah kau selesai meeting, jangan banyak alasan lagi cepatlah berangkat kalau kau tidak ingin terlambat!" ucap Alvin kemudian keluar dari ruangan Daniel dan kembali ke ruangannya.
Daniel hanya bisa pasrah, ia harus datang mengikuti meeting yang sudah diagendakan dari beberapa hari sebelumnya.
Danielpun segera menyiapkan berkas yang harus dibawanya untuk meeting lalu keluar meninggalkan kantor.
Di sisi lain, Alvin sedang menghubungi Marin, meminta Marin untuk membantunya menjalankan rencananya.
"Halo Marin, apa kau sedang bersama Nerissa sekarang?" tanya Alvin saat Marin sudah menerima panggilannya.
"Tidak, Putri sedang mengantar buket bunga, ada apa Alvin? apa kau tidak bisa menghubunginya?"
"Tidak Marin, aku memang sengaja ingin menghubungimu karena aku ingin meminta bantuanmu!"
"Bantuan apa?"
"Sebelumnya aku ingin meminta izin darimu untuk masuk ke kamar Nerissa tanpa sepengetahuan Nerissa, kau tahu dia sedang marah padaku bukan? aku ingin melakukan sesuatu agar dia bisa memaafkanku!"
"Apa yang akan kau lakukan di kamar Putri?" tanya Marin.
"Aku akan menempel beberapa stiker disana dan aku membutuhkan cukup banyak waktu, jadi aku minta tolong padamu agar kau bisa menahan Nerissa untuk tidak masuk ke kamarnya sebelum aku selesai menempel semua stiker yang sudah aku siapkan!" jawab Alvin menjelaskan.
"Baiklah, aku akan membantumu, kapan kau akan ke sini?"
"Saat jam makan siang nanti aku akan ke sana, jadi tolong pastikan Nerissa sedang tidak berada di sana saat itu!"
"Baiklah, serahkan semuanya padaku!" balas Marin.
"Terima kasih Marin, aku akan menghubungimu lagi nanti!"
Panggilan berakhir, tepat jam 12 siang Alvin meninggalkan ruangannya untuk pergi ke toko bunga Marin dengan menggunakan taksi agar Nerissa tidak melihat mobilnya saat ia berada di sana.
Sebelum Alvin sampai disana, ia sudah memastikan jika Nerissa tidak sedang berada di toko bunga saat itu.
Sesampainya di depan toko bunga, Alvin segera menghampiri Marin.
"Tolong pastikan Nerissa tidak masuk ke kamarnya sebelum aku selesai menempel semua stiker ini!" ucap Alvin pada Marin.
"Tenang saja, aku akan membuat Putri sibuk sampai kau menyelesaikan rencanamu!" balas Marin kemudian membiarkan Alvin masuk ke kamar Nerissa.
Di kamar Nerissa, Alvin menempel banyak stiker bintang di langit-langit kamar Nerissa. Stiker bintang itu akan menyala saat ruangan dalam keadaan gelap, dengan begitu Nerissa akan bisa melihat hamparan bintang di atasnya setiap ia akan tertidur.
Di sisi lain, Nerissa baru saja sampai di toko bunga lalu segera duduk dan menyeruput minuman di hadapannya.
"Seperti biasa, di daratan selalu saja panas," ucap Nerissa sambil mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Aku akan mengambilkan air dingin untukmu Putri!" ucap Marin kemudian masuk ke dalam rumah dan mengambil beberapa botol air dingin untuk Nerissa.
"Terima kasih Marin!" ucap Nerissa sambil menyeruput minuman yang baru saja Marin berikan padanya.
"Sepertinya ini bukan pakaian yang cocok untuk mengantar buket bunga siang ini, aku akan berganti pakaian sebentar di kamar!" ucap Nerissa kemudian beranjak dari duduknya.
"Tunggu, kenapa kau ingin berganti pakaian? pakaian ini terlihat sangat cocok untukmu Putri!" ucap Marin berusaha menahan Nerissa agar tidak masuk ke kamarnya.
"Tapi ini sangat gerah Marin, aku ingin mengenakan pakaian yang tidak membuatmu gerah," ucap Nerissa.
"Apa kau mau bertukar pakaian denganku?" tanya Marin menawarkan diri.
"Tidak perlu, aku akan berganti pakaian sebentar!" jawab Nerissa sambil berjalan hendak masuk ke dalam rumah, namun Marin mencegahnya.
"Kau harus segera mengantar buket bunga pesanan Putri, aku tidak ingin pelanggan kita kecewa karena kau terlambat mengantarnya!" ucap Marin sambil menarik tangan Nerissa.
"Aku hanya berganti pakaian sebentar Marin, tidak akan lama!" ucap Nerissa yang masih ingin berganti pakaian.
"Kau harus mengantar buket bunga ini terlebih dahulu setelah itu kau bisa segera berganti pakaian setelah kau kembali!" ucap Marin sambil memberikan buket bunga pada Nerissa dan memaksanya untuk segera mengantar buket bunga pesanan itu.
Dengan malas Nerissapun menaruh buket bunga itu di keranjang sepedanya lalu mengayuh sepedanya menjauh dari toko bunga Marin.
"Maafkan aku Putri!" ucap Marin yang merasa kasihan pada Nerissa, tetapi ia harus melakukan hal itu untuk melancarkan rencana Alvin.
Beberapa lama kemudian Alvin keluar dari kamar Nerissa dan kembali menghampiri Marin.
"Aku sudah selesai Marin, terima kasih sudah membantuku!" ucap Alvin pada Marin.
"Sama-sama, sekarang cepatlah pergi sebelum Putri kembali!" balas Marin.
Alvin menganggukkan kepalanya kemudian segera keluar dari toko bunga Marin dan kembali ke kantornya menggunakan taksi.
Waktu berlalu, Nerissa sudah berada di toko bunga Marin. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan toko bunga Marin dan Daniel pun keluar dari mobilnya menghampiri Nerissa di toko bunga.
"Daniel, bukankah seharusnya kau masih berada di kantor?" tanya Nerissa saat ia melihat Daniel menghampirinya.
"Aku baru saja selesai meeting jadi aku mendapatkan waktu istirahat tambahan dari Alvin," jawab Daniel.
Nerissa menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Daniel.
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu Nerissa, apa kau bisa keluar sebentar?"
Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari toko bunga diikuti oleh Daniel.
"Ada apa?" tanya Nerissa saat ia dan Daniel sudah berada di depan toko bunga.
"Aku ingin mengajakmu berlibur ke pantai weekend nanti!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Berlibur ke pantai? sepertinya menarik," balas Nerissa bersemangat.
"Aku tahu kau akan menyukainya, aku akan segera memesan dua tiket untuk kita berdua!" ucap Daniel penuh semangat.