Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Ruangan Rahasia



Nerissa sedang berada di depan rumah Marin, sudah beberapa kali ia memanggil Marin, namun tak pernah ada jawaban.


Pintu rumah itu tetap tidak terbuka setelah beberapa lama Nerissa menunggu di depannya.


Nerissa kemudian berenang ke arah jendela kamar Marin, dari jendela kecil itu ia bisa melihat Marin yang berdiam diri dan tampak murung.


"Marin, apa kau baik baik saja?" tanya Nerissa dari depan pintu.


Dilihatnya Marin tidak bergeming, ia sama sekali tidak memperhatikan Nerissa saat itu.


"Aku minta maaf jika ucapanku menyakitimu Marin, aku hanya bicara yang sesungguhnya, tidak hanya kau, akupun susah untuk mempercayai ini semua karena ayahmu adalah penasihat kepercayaan di istana," ucap Nerissa.


"Pergilah Putri, aku tidak ingin berbicara apapun padamu," balas Marin tanpa menoleh pada Nerissa.


"Kau ingat tanaman yang kita lihat di wilayah timur dan selatan Marin? kau ingat dua tanaman yang menghitam itu berbeda kan? setelah aku teliti ternyata tanaman yang di wilayah timur menghitam karena cairan yang pernah kau pakai di ekormu dulu, itu berarti memang ada yang sengaja merusak tanaman di wilayah timur, aku....."


"Apa kau menuduh ayahku yang melakukan itu juga?" tanya Marin memotong ucapan Nerissa.


"Aku tidak menuduhnya Marin, aku hanya memberi tahumu bahwa ada yang berusaha merusak wilayah istana tempat tinggal kita dan aku harap itu memang bukan ayahmu," jawab Nerissa.


Marin hanya diam seolah mengabaikan Nerissa, namun sebenarnya ia mendengarkan dengan baik semua ucapan Nerissa.


"Sekali lagi aku minta maaf Marin, aku harap kita masih bisa berteman baik," ucap Nerissa kemudian berenang menjauh dari rumah Marin.


Marin yang masih berada di kamarnya memikirkan ucapan Nerissa padanya. Ia sangat mengenal Nerissa, tidak mungkin Nerissa sengaja menuduh ayahnya melakukan hal jahat seperti itu.


Terlebih Marin tau jika Nerissa juga sangat mengagumi ayahnya yang terkenal bijak itu. Namun belakangan ini Nerissa memang terlihat kesal pada ayahnya karena ayahnya yang selalu memaksa Nerissa untuk menikah dengan pangeran Merville.


"Mungkin kau hanya salah paham pada ayah Putri, aku akan membuktikan padamu kalau semua tuduhanmu pada ayah itu salah," ucap Marin lalu keluar dari kamarnya.


Marin berenang ke arah kamar sang ayah, disana ada satu ruangan yang selalu tertutup. Ayahnya berkata jika ruangan itu memang selalu dibiarkan tertutup untuk menjaga kualitas dari bahan ramuan yang selalu dibuatnya untuk anggota istana.


Marin menyentuh pintu ruangan itu, berniat untuk masuk. Namun ia ragu, mengingat sang ayah yang sudah melarangnya untuk masuk kesana.


"maafkan Marin ayah," ucap Marin dalam hati kemudian mendorong pintu itu.


"Apa yang kau lakukan disana Marin?" tanya Cadassi yang tiba tiba datang.


"Ayah..... aku.... aku hanya ingin masuk," jawab Marin yang terkejut dengan kedatangan sang ayah.


"Keluarlah, sudah berapa kali aku bilang jangan pernah masuk kesana!" ucap Cadassi yang terlihat marah.


"Maaf ayah, aku hanya ingin melihat bahan bahan yang ada disana dan belajar untuk membuat obat seperti ayah," ucap Marin beralasan.


"Kau bisa menunggu ayah datang jika memang kau ingin belajar, sekarang pergilah dan jangan pernah kau ulangi lagi perbuatanmu itu!" ucap Cadassi tegas.


"Baik ayah," balas Marin kemudian berenang keluar dari kamar sang ayah.


Marin kembali ke kamarnya dengan banyak tanya dalam pikirannya. Selama ini sang ayah selalu memberi tahunya banyak hal, termasuk cara membuat bermacam macam ramuan obat.


Namun sang ayah tidak pernah memberi tahunya tentang ramuan yang diberikan pada raja dan ratu.


"Kenapa ayah sangat marah saat aku hanya ingin melihat bahan ramuan yang disimpannya? apa yang sebenarnya ayah sembunyikan dariku?" batin Marin bertanya tanya.


Saat malam tiba, setelah sang ayah pergi ke istana, Marin mengendap-endap masuk ke kamar sang ayah.


Ia terlalu penasaran dengan apa yang ada di dalam ruangan kecil di kamar sang ayah. Namun saat ia sudah ada di kamar sang ayah, pintu ruangan itu tertutup rapat dengan tali besar dan panjang yang mengikatnya.


"kenapa ayah melakukan ini? apa yang sebenarnya yang ada di dalam sana?" batin Marin bertanya tanya kemudian keluar dari kamar sang ayah.


**


Di tempat lain, Alvin sedang berada di rumahnya bersama Cordelia.


"Pulanglah Delia, ini sudah sangat larut," ucap Alvin pada Cordelia.


"Aku tidak ingin pulang Alvin, apa aku boleh menginap disini?"


"Tidak, kau harus pulang sekarang!" jawab Alvin tegas.


"Kenapa? bukankah Daniel juga sering menginap disini?" tanya Cordelia iri.


"Daniel laki laki dan kau perempuan, itu sudah cukup untuk membuat perbedaan diantara kalian," jawab Alvin.


"Aku akan tidur di kamar tamu, aku tidak akan mengganggumu, aku janji," ucap Cordelia yang masih berusaha membujuk Alvin.


"Tidak Delia, kau harus pulang," balas Alvin yang masih meminta Cordelia untuk segera pulang.


"Sebelum aku pulang ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Cordelia.


"Apa?" tanya Alvin.


"Kenapa selama ini kau tidak pernah berpacaran? kau tidak......."


"Aku masih normal Delia, kalau kau menganggapku sama seperti mereka itu terserah padamu, tidak ada yang mengenalku dengan baik selain diriku sendiri," ucap Alvin yang sudah bisa memahami isi pikiran Delia.


"Aku sangat mengenalmu Alvin, aku mengenalmu dengan sangat baik, aku hanya penasaran saja, apa aku tidak cukup cantik untuk menjadi pacarmu?"


Pertanyaan Cordelia membuat Alvin sedikit terkejut, karena selama ini Alvin hanya menganggap Cordelia sebagai adiknya.


"Kau cantik Delia, sangat cantik, kau bisa mendapatkan siapapun yang kau inginkan, tapi bukan aku," jawab Alvin.


"Kenapa?"


Alvin menghela napasnya panjang lalu menggelengkan kepalanya.


"Ayo, aku akan mengantarmu pulang," ucap Alvin lalu beranjak dari duduknya.


"Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri," balas Cordelia yang ikut berdiri.


Alvin menganggukkan kepalanya lalu mengantar Cordelia sampai di pintu depan.


"Hati hati di jalan," ucap Alvin pada Cordelia yang sudah masuk ke dalam mobil.


Cordelia hanya mengangguk dan melambaikan tangannya pada Alvin.


"Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan hatimu Alvin," batin Cordelia kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Alvin.


Sedangkan Alvin segera masuk setelah menutup pintunya. Ia berjalan mendekati aquascape yang ada di bawah tangga.


Untuk beberapa saat ia hanya diam memperhatikan ikan ikan kecil yang ada disana.


"Nerissa, apa kau sekarang ada di sana lagi?" tanya Alvin pada dirinya sendiri.


Alvin tersenyum tipis lalu masuk ke kamarnya. Sebelum matanya terpejam, ia melihat ponselnya untuk memastikan apakah ada nomor baru yang menghubunginya.


Namun sama saja seperti sebelum sebelumnya, Nerissa belum juga menghubunginya.