
Langit biru di atas hamparan pasir putih yang luas, gulungan ombak yang memecah karang dan sinar matahari ditemani angin yang bertiup lembut membuat suasana siang itu terasa begitu menyenangkan.
Nerissa, Alvin Marin Daniel dan Cordelia duduk di atas tikar piknik mereka, menikmati makanan dan minuman yang mereka bawa sembari mengobrol dan tertawa bersama.
Semua masalah yang sempat membuat hati terluka dan kecewa kini sudah tergantikan oleh rasa bahagia, tidak hanya bagi Alvin dan Nerissa tapi juga pagi Marin, Daniel dan Cordelia.
"Andai dari dulu aku sadar tentang perasaanku pada Alvin yang sebenarnya, mungkin sudah sejak lama kalian berdua seperti ini," ucap Cordelia pada Alvin dan Nerissa.
"Kita tidak akan pernah tahu kapan Tuhan mengetuk pintu hati seseorang dan mungkin ini adalah bagian dari rencana Tuhan yang tidak pernah kita tahu," balas Alvin.
"Maafkan aku Nerissa, entah sudah berapa banyak kesalahanku padamu aku hanya bisa meminta maaf dan menyesalinya," ucap Cordelia pada Nerissa.
"Aku sudah memaafkanmu Delia dan aku harap kali ini aku tidak akan kecewa karena sudah memaafkanmu," balas Nerissa.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, aku akan menjadi pendukung nomor satu untuk hubunganmu dengan Alvin," ucap Cordelia dengan mengangkat satu tangannya.
Marin yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis, ia masih tidak bisa menerima permintaan maaf Cordelia begitu saja setelah banyak hal buruk yang sudah Cordelia lakukan terutama pada Nerissa.
"Apa kau masih membenciku Marin?" tanya Cordelia pada Marin
"Tidak," jawab Marin singkat.
"Benarkah? apa kau serius?" tanya Cordelia memastikan.
"Aku tidak membencimu, tapi aku juga tidak memaafkanmu sepenuhnya, aku masih ragu apa kau benar-benar berubah kali ini," jawab Marin.
"Tidak apa, aku akan membuktikan padamu bahwa aku sekarang bukanlah aku yang dulu, aku akan berusaha untuk menjalani hidupku dengan lebih baik lagi," ucap Cordelia meyakinkan.
"Baguslah kalau begitu," balas Marin.
"Aaahhhh rasanya menyenangkan hidup damai seperti ini," ucap Cordelia sambil memeluk Marin.
"Kita belum cukup dekat untuk berpelukan seperti ini," ucap Marin sambil melepaskan kedua tangan Cordelia yang memeluknya.
"Kalau begitu apa aku harus memeluk Alvin?" tanya Cordelia yang sudah merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk Alvin yang duduk di sampingnya, namun Marin segera menarik tangan Cordelia dan memeluknya.
Mereka semuapun tertawa melihat Marin yang lebih dulu memeluk Cordelia setelah Marin menolak pelukan Cordelia.
"Jaga sikapmu jika kau ingin aku mempercayaimu," ucap Marin lalu melepaskan Cordelia dari pelukannya.
Cordelia hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya, ada sebuah kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sejak lama. Kebahagiaan saat ia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Cordelia sudah memutuskan untuk melepaskan Alvin dan hanya menganggapnya sebagai kakak, dengan begitu Cordelia juga harus bisa menjaga sikapnya pada Alvin.
Meskipun Alvin menganggapnya adik, ia tidak bisa sembarangan memeluk Alvin seperti sebelumnya karena ia tidak ingin Nerissa salah paham tentang hubungannya dengan Alvin. Bagaimanapun juga ia harus bisa menjaga perasaan Nerissa sebagai kekasih Alvin.
"ternyata ini sangat membahagiakan, jika tahu akan seperti ini mungkin sudah sejak lama aku memutuskan hal ini," ucap Cordelia dalam hati.
"Jika Alvin sudah bersama Nerissa, lalu bagaimana denganmu Daniel? apa kau tidak berniat untuk menyatakan perasaanmu pada seseorang?" tanya Cordelia pada Daniel.
Daniel hanya tersenyum tipis lalu mengambil buah di hadapannya dan menyuapkannya pada Cordelia.
"Makan buah ini agar kau tidak banyak bertanya!" ucap Daniel yang membuat semua yang ada disana tertawa terkecuali Marin yang hanya tertawa canggung saat itu.
Detik demi detik telah berlalu, beberapa jam sudah terlewati. Saat sinar matahari tepat berada di atas kepala, merekapun memutuskan untuk pergi dari sana.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari telepon rumahnya.
"Halo Bi, ada apa?"
"Ibu tiba-tiba pingsan den, sekarang sudah ada di rumah sakit," jawab bibi yang membuat Daniel begitu terkejut.
"Mama pingsan? apa papa ada di rumah?" tanya Daniel.
"Bapak yang mengantar ibu ke rumah sakit den, jadi sepertinya bapak sekarang masih di rumah sakit menemani ibu," jawab bibi.
"Baik Bi, Daniel ke rumah sakit sekarang," ucap Daniel lalu mengakhiri panggilan bibi.
Setelah Daniel menaruh barang-barang yang dibawanya ke bagasi mobil Alvin, Danielpun berpamitan pada Alvin untuk pergi terlebih dahulu.
"Alvin, aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku kerjakan," ucap Daniel pada Alvin.
"Apa terjadi sesuatu di perusahaan?" tanya Alvin.
"Tidak, ini bukan tentang pekerjaan, aku akan memberitahumu nanti setelah aku pulang," jawab Daniel yang sengaja tidak ingin memberitahu Alvin tentang keadaan mamanya karena ia tidak ingin merusak suasana bahagia saat itu.
"Kemama kau akan pergi? aku akan mengantarmu terlebih dahulu!"
"Tidak perlu, aku sudah memesan taksi dan sebentar lagi akan datang," balas Daniel.
"Aku ikut!" sahut Marin tiba-tiba.
Daniel hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya lalu meraih tangan Marin dan menggandengnya masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti di dekatnya.
Saat Daniel menerima panggilan dari bibi beberapa waktu yang lalu, diam-diam Marin mendengarnya, itu kenapa Marin tahu jika Daniel akan pergi ke rumah sakit untuk menemui mamanya.
"Kemana mereka pergi?" tanya Nerissa pada Alvin saat ia melihat Daniel masuk ke dalam taksi bersama Marin.
"Aku juga tidak tahu, Daniel tidak memberitahuku," jawab Alvin.
"Sepertinya aku juga harus pergi," ucap Cordelia.
"Kenapa? kemana kau akan pergi?" tanya Alvin.
"Aku tidak ingin menjadi nyamuk disini, jadi lebih baik aku pergi ke studio saja," jawab Cordelia lalu memesan taksi dari ponselnya.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu," ucap Alvin yang dibalas gelengan kepala oleh Cordelia.
"Kalian duluan saja, aku sudah memesan taksi dan sebentar lagi akan sampai," ucap Cordelia.
"Kita akan pergi setelah taksi yang kau pesan sudah sampai, kita berangkat bersama-sama tidak mungkin kita meninggalkanmu disini sendirian," ucap Nerissa pada Cordelia.
Cordelia menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, dalam hatinya ia bersyukur karena Nerissa bisa memahami posisinya saat itu dan bisa menerima dirinya sebagai bagian dari Alvin meskipun hanya sebatas adik.
Setelah beberapa lama menunggu, taksi yang ditunggu Cordeliapun tiba.
"Aku pergi dulu, kalian bersenang-senanglah!" ucap Cordelia lalu masuk ke dalam taksi.
"Tinggal kita berdua sekarang," ucap Alvin dengan membawa pandangannya pada Nerissa yang berdiri di sampingnya.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu masuk ke dalam mobil Alvin diikuti oleh Alvin yang berlari kecil ke arah balik kemudinya lalu mengendarai mobilnya meninggalkan pantai.
"Kemana kita akan pergi sekarang?" tanya Nerissa.
"Ke tempat dimana aku pernah memberikan kenangan buruk untukmu dan sekarang aku akan menebusnya dengan memberikan kenangan terindah untukmu," jawab Alvin.
"Perjalanan kita cukup lama, jika kau lelah tidurlah," ucap Alvin sambil mengusap kepala Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan apapun. Sesekali ia menatap laki-laki yang duduk di sampingnya dengan rasa bahagia dalam hatinya.
Sebagai mermaid yang merupakan putri istana, ia tidak menyangka akan menjalin hubungan dengan manusia. Terlebih setelah semua masalah yang dilewatinya hingga akhirnya ia telah memantapkan hatinya untuk menerima Alvin sebagai kekasihnya, meski hanya untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia menghapus memori Alvin tentangnya.
"walaupun ini hanya sesaat aku akan menjalaninya dengan baik, setidaknya aku harus memiliki kenangan indah yang aku simpan sebelum aku kembali ke Seabert," ucap Nerissa dalam hati.
Sejak ia menjalin hubungan dengan Alvin, entah kenapa ia merasa mutiara biru milik sang Bunda seperti selalu ada di dekatnya.
Nerissa bisa merasakan sebuah energi yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata saat ia tengah bersama Alvin.
"Puaskan matamu untuk menatapku sebelum aku mengantarmu pulang setelah liburan panjang kita," ucap Alvin yang membuat Nerissa segera mengalihkan pandangannya.
Alvin kemudian meraih tangan Nerissa dan menggenggamnya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nerissapun mulai mengantuk dan memejamkan matanya. Satu jampun berlalu, Alvin mulai mengurangi kecepatan mobilnya saat ia hampir tiba di tujuannya.
Setelah mobil terparkir, Alvin menyentuh pipin Nerissa berniat untuk membangunkan Nerissa. Namun baru beberapa detik Alvin menyentuhnya, Nerissa seketika membuka matanya dan terbangun dari tidurnya.
"Apa aku membuatmu terkejut?" tanya Alvin.
"Tanganmu terasa sangat hangat," jawab Nerissa yang tanpa sadar menggenggam tangan Alvin di pipinya.
"Kita sudah sampai sekarang, apa kau mau terus seperti ini?" tanya Alvin yang membuat Nerissa segera melepaskan tangan Alvin dari genggamannya, lalu segera membuka pintu mobil dan keluar, membuat Alvin terkekeh melihat sikap Nerissa.
Nerissa memutar badannya, membawa pandangannya mengelilingi pemandangan di sekitarnya.
Hawa dingin yang ia rasakan seolah memeluk dirinya saat itu.
Alvin kemudian meraih tangan Nerissa, menggandengnya dan mengajaknya menaiki bukit perkebunan teh.
Namun tiba-tiba Nerissa menghentikan langkahnya sebelum ia menaiki bukit itu.
"Kenapa? apa kau tidak ingin naik ke atas?" tanya Alvin.
"Aku masih bisa mengingat apa yang aku rasakan saat itu," jawab Nerissa.
Alvin kemudian menggenggam kedua tangan Nerissa dan menatap mata Nerissa dengan dalam.
"Maafkan aku, aku janji itu tidak akan terulang lagi, aku akan memberikan ingatan lain yang tidak akan pernah kau lupakan, ingatan yang akan membuatmu bahagia saat mengingatnya," ucap Alvin.
Nerissa menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan, kemudian membawa langkahnya naik ke atas bukit bersama Alvin yang masih menggandeng tangannya.
"Aku sangat menyukai udara disini Alvin," ucap Nerissa dengan memejamkan matanya saat ia sudah berada di puncak bukit perkebunan teh itu.
Hening, tak ada suara apapun yang terdengar selain hembusan angin yang menerpa dedaunan di sekitarnya. Namun dalam gelap pandangnya Nerissa bisa merasakan seseorang tengah berdiri di hadapannya.
Nerissa kemudian membuka matanya dengan perlahan dan mendapati Alvin yang menatap dirinya dalam diam.
Alvin tersenyum menatap gadis cantik di hadapannya, ia melangkahkan satu kakinya yang membuatnya sangat dekat dengan Nerissa.
Untuk beberapa saat Alvin dan Nerissa saling menatap sebelum akhirnya Alvin semakin mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan singkatnya di bibir Nerissa.
Nerissa hanya terdiam dengan degup jantung yang berdetak tak beraturan. Ia bisa merasakan kehangatan dari bibirnya yang menjalar ke seluruh tubuhnya saat Alvin melakukan hal itu padanya.
Alvin kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Nerissa lalu menariknya dengan pelan, membuat Nerissa semakin mendekat pada Alvin hingga tak ada jarak sedikitpun diantara mereka berdua.
Suasana bukit perkebunan teh yang hening ditambah dengan hawa dingin yang menyelimuti mereka saat itu, membawa mereka ke dalam dunia mereka sendiri.
Bisikan dalam hati seolah memandu keduanya untuk saling bertaut bersama bunga-bunga cinta dalam hati mereka yang tumbuh bermekaran.
Untuk beberapa saat dunia seperti milik mereka sendiri, tidak ada satu halpun yang mengganggu kebahagiaan mereka saat itu, bahkan anginpun bertiup dengan lembut tanpa berani menggoyahkan tautan mesra mereka berdua.
**
Di tempat lain, Daniel sudah berada di ruangan sang mama bersama Marin.
"Daniel pikir ada papa yang menemani mama," ucap Daniel karena sesampainya disana ia tidak mendapati sang papa yang menemani mamanya.
"Ada pekerjaan yang harus diselesaikan papamu, lagi pula mama baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," balas mama Daniel.
"Jika mama baik-baik saja mama tidak mungkin terbaring disini sekarang," ucap Daniel
Mama Daniel hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Daniel akan menemui dokter sebentar, Marin tolong jaga mama disini," ucap Daniel lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan sang mama untuk menemui dokter.
Kini hanya ada Marin dan mama Daniel di ruangan itu.
"Terima kasih sudah menjenguk tante, Marin!" ucap Mama Daniel.
"Cepat sembuh tante, Daniel sangat khawatir saat dia tahu tante ada di rumah sakit," balas Marin.
Mama Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum ia senang bisa melihat Marin bersama Daniel.
"Apa tante boleh menanyakan sesuatu padamu Marin?" tanya mama Daniel yang dibalas anggukan kepala oleh Marin.
"Bagaimana hubunganmu dengan Daniel? apa kau tidak memiliki perasaan apapun pada Daniel?" tanya mama Daniel yang membuat Marin begitu terkejut.
"Kita hanya berteman tante," jawab Marin.
"Bukan itu yang tante tanyakan Marin, tante hanya ingin tahu apa kau menyukai Daniel? apa ada cinta dalam hatimu untuk Daniel? karena sejauh yang tante tahu hanya kaulah perempuan yang paling dekat dengan Daniel!"
Marin terdiam untuk beberapa saat, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada mama Daniel, namun ia juga tidak ingin berbohong pada mama Daniel.
"Marin......"
Marin menghentikan ucapannya saat ia mendengar pintu ruangan mama Daniel terbuka.
"Marin permisi ke toilet tante," ucap Marin lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan mama Daniel saat Daniel baru saja masuk.
Danielpun duduk di samping sang mama menggantikan Marin.
"Dokter bilang tekanan darah mama sangat tinggi," ucap Daniel pada sang mama.
"Dia menyukaimu Daniel, mama yakin dia sudah jatuh cinta padamu," ucap mama Daniel yang tidak menghiraukan ucapan Daniel.
"Apa maksud mama? kenapa mama tiba-tiba berbicara seperti itu?"
"Marin, mama tahu dia menyukaimu bahkan mungkin mencintaimu, walaupun dia tidak mengatakannya secara langsung pada mama tapi mama bisa mengetahuinya dari raut wajahnya," jawab mama Daniel menjelaskan.
Daniel menghela nafasnya mendengar ucapan sang mama, ia tidak menyangka mamanya akan mengetahui hal itu.
"Daniel sudah mengetahuinya ma," ucap Daniel yang membuat sang mama begitu terkejut.