
Pagi-pagi sekali Marin bangun dari tidurnya. Hari itu ia akan membuat Nerissa sibuk hingga membuat Nerissa tidak mempunyai waktu untuk menemui Alvin.
Marin tidak ingin Nerissa mendengarkan kenyataan yang membuat Nerissa semakin terluka.
"aku harus membuat Putri sangat sibuk hari ini, agar Putri tidak menemui Alvin," ucap Marin dalam hati lalu membawa langkahnya ke arah toko bunganya.
Tak lama setelah Marin berada di toko bunga, Nerissapun datang.
"Putri, apa kau masih berniat untuk menemui Alvin?" tanya Marin memastikan.
"Iya, aku akan menemuinya saat jam makan siang nanti," jawab Nerissa.
Marin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun. Ia sudah menyiapkan rencana agar Nerissa tidak pergi kemanapun saat jam makan siang nanti.
Waktu pun berlalu, jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 siang, saat bagi Marin untuk membuat Nerissa sibuk, sehingga Nerissa tidak mempunyai waktu untuk menghampiri Alvin.
"Putri tolong bantu aku memindahkan bunga-bunga ini, sepertinya aku harus mengganti layout toko bungaku agar semakin menarik," ucap Marin pada Nerissa.
"Apa tidak bisa besok saja marin? aku harus berangkat sekarang untuk menemui Alvin sebelum Alvin keluar dari kantor."
"Kalau begitu pergilah, biar aku saja yang melakukan ini," ucap Marin sambil mengangkat satu persatu bunga yang ada di toko bunganya.
Nerissa menghela nafasnya kemudian membantu Marin merapikan bunga-bunga disana satu persatu sesuai dengan keinginan Marin.
"maafkan aku Putri, aku hanya tidak ingin kau semakin terluka," ucap Marin dalam hati.
Meski Marin merasa bersalah pada Nerissa, tapi hanya itulah yang bisa Marin lakukan agar Nerissa berhenti menemui Alvin.
"Apa kita sudah selesai sekarang?" tanya Nerissa pada Marin.
"Belum Putri, aku harus memindahkan semua ini, bunga-bunga yang ada di luar juga perlu dipindahkan," jawab Marin.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin memindahkan semua bunga-bunga ini Marin?"
"Aku mendapat masukan dari salah satu pelangganku untuk mengganti layout toko bungaku agar lebih menarik, jadi aku berniat untuk menggantinya, jika kau keberatan untuk membantuku pergilah, aku bisa menanganinya sendiri," jawab Marin beralasan.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu menyelesaikan semua ini sendiri Marin, ini terlalu banyak untuk dipindahkan sendiri," balas Nerissa yang pada akhirnya tetap berada di toko bunga untuk membantu Marin.
"Terima kasih Putri, kau memang yang terbaik," ucap Marin sambil memeluk Nerissa lalu kembali melanjutkan menata bunga-bunga di tokonya.
"Putri, bagaimana jika besok kita menutup toko bunga? sepertinya kita perlu berlibur!" ucap Marin pada Nerissa.
"Aku sedang tidak ingin berlibur ke manapun Marin, semua tempat rasanya sama saja," balas Nerissa.
"Kau kan belum mencobanya, biasanya manusia akan pergi untuk berbelanja jika suasana hatinya sedang tidak baik, jadi sepertinya kita harus mencobanya!"
"Tidak Marin, kau saja," jawab Nerissa menolak.
"Apa kau akan membiarkan aku pergi sendirian?" tanya Marin merajuk.
"Bukankah kau gadis yang pemberani?" balas Nerissa membuat Marin terkekeh.
"Aku hanya ingin membuat suasana hatimu membaik Putri, aku mohon pergilah denganku besok pagi, aku akan membelikan semuanya untukmu, bahkan jika perlu aku akan membeli pusat perbelanjaan itu untukmu!"
"Hahaha memangnya seberapa banyak uang yang kau punya hingga kau bisa membeli pusat perbelanjaan itu?"
"Dengan mutiara yang kita simpan kita bisa membeli apapun yang kita inginkan Putri," jawab Marin.
"Tidak Marin, jika saja memang bisa seperti itu, aku akan membeli Alvin dan menjadikan Alvin milikku seutuhnya," balas Nerissa dengan menundukkan kepalanya.
Marin hanya menghela nafasnya saat Nerissa kembali mengingat Alvin. Marin kemudian memberikan sebuah pot yang besar pada Nerissa untuk mengalihkan kesedihan Nerissa.
"Tolong pindahkan ini ke sudut ruangan Putri!" ucap Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
Saat sedang merapikan bunga yang ada di depan toko, tiba-tiba sebuah mobil berhenti. Nerissa dan Marin segera membawa pandangan mereka pada mobil itu dan seketika Marin membawa pandangannya pada Nerissa yang hanya terdiam menatap mobil yang berhenti di hadapannya.
Tak lama kemudian seorang perempuan turun dari mobil itu, melambaikan tangannya pada Nerissa dengan senyum ceria di wajahnya.
"Nerissa!" panggil gadis itu sambil berlari kecil ke arah Nerissa.
Nerissa hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, hingga gadis itu berjalan ke arahnya diikuti oleh Alvin yang berjalan di belakangnya dengan membawa sepeda milik Nerissa.
"Kau meninggalkan sepedamu di rumahku kemarin," ucap Amanda pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa mampu mengatakan apapun. Lidahnya terasa kelu, hatinya terasa teriris perih dan begitu sakit saat melihat Alvin bersama Amanda untuk kedua kalinya.
"Aku baru tahu ternyata kau dan Alvin saling mengenal, Alvin sudah menceritakan semuanya padaku," ucap Amanda yang membuat Nerissa begitu terkejut karena Alvin menceritakan tentang dirinya pada Amanda.
"Apa kau ingat laki-laki yang pernah aku ceritakan padamu? dia adalah Alvin, masa lalu yang membuatku sangat menyesal karena sudah meninggalkannya dan sekarang aku sudah kembali bersamanya dengan memulai hubungan yang lebih baik dari sebelumnya," ucap Amanda pada Nerissa.
"Terima kasih sudah mengantar sepedaku, maaf karena aku masih sangat sibuk memindahkan bunga-bunga ini," ucap Nerissa dengan suara bergetar sambil mengangkat salah satu pot dan membawanya masuk ke dalam toko bunga.
"Aku ingin memesan buket bunga mawar merah, apa kau bisa membuatnya sekarang?" tanya Amanda pada Marin yang masih berdiri di sana.
"Tidak bisa, bunga mawar merah yang aku jual terlalu cantik, jadi aku tidak bisa sembarangan menjualnya," balas Marin sambil menatap Amanda dengan tajam.
"Kenapa seperti itu? bukankah aku salah satu pelanggan tetap kalian?"
"Sekali lagi maaf dan silakan pergi dari sini!" ucap Marin sambil tersenyum namun pada Amanda.
"Baiklah aku akan pergi, ayo Alvin kita mencari toko bunga lain," ucap Amanda sambil menarik tangan Alvin untuk kembali masuk ke dalam mobil.
Saat Amanda sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil, Marin memanggil Alvin.
"Alvin tunggu!" ucap Marin memanggil Alvin.
Alvinpun menghentikan langkahnya, saat ia berbalik menghadap Marin, seketika tamparan keras mendarat di pipi Alvin.
"Tamparan ini belum sebanding dengan sakit yang dirasakan oleh Putri karena sikapmu!"
"Aku......"
PLAAAAAAAKKKK!!
"Karena Putri tidak akan mungkin menamparmu, maka aku yang harus menamparmu, kau memang laki-laki brengsek Alvin, kau memang tidak pantas untuk mendapatkan Putri!"
"Aku bisa menjelaskan semuanya pada Nerissa Marin, jika perlu aku sekarang akan....."
"Tidak perlu, lanjutkan saja hidupmu dengan perempuan egois itu, aku yakin kau akan menyesal dengan apa yang sudah kau lakukan pada Putri, semesta akan menunjukkan padamu bagaimana karma bekerja dengan baik," ucap Marin dengan tatapan tajam lalu melangkah pergi meninggalkan Alvin begitu saja.
Alvin hanya terdiam membiarkan Marin pergi meninggalkannya. Entah kenapa ia merasakan sakit dalam hatinya, bukan karena tamparan Marin padanya, tetapi karena ia merasa sudah menyakiti Nerissa.
"apa ini pilihan yang tepat untukku? apa aku akan menyesali apa yang aku pilih saat ini?" tanya Alvin dalam hati.
"Alvin!" panggil Amanda sambil mengeluarkan kepalanya dari mobil, membuat Alvin tersadar dari lamunannya lalu berjalan masuk ke dalam mobil.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Apa yang dia katakan padamu? sepertinya serius sekali!"
"Dia memberitahuku toko bunga terdekat dari sini," jawab Alvin memberi alasan.
"Baiklah ayo kita berangkat kesana sekarang!" ucap Amanda bersemangat.
Alvin mengendarai mobilnya meninggalkan toko bunga Marin untuk mencari toko bunga terdekat dari sana.
Sepanjang perjalanan Alvin hanya terdiam memikirkan ucapan Marin.
"Alvin, ada apa denganmu? apa kau baik-baik saja?" tanya Amanda yang melihat Alvin hanya diam.
"Aku hanya sedikit memikirkan masalah pekerjaan," jawab Alvin beralasan.
"Jika kau sedang bersamaku tolong jangan memikirkan apapun selain aku," ucap Amanda dengan memanyunkan bibirnya kesal.
"Iya maafkan aku," balas Alvin sambil meraih tangan Amanda dan menggenggamnya.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Alvin mengendarai mobilnya berniat untuk menemui Amanda.
Namun sepanjang perjalanan Alvin hanya memikirkan Nerissa. Sejak bertemu Nerissa bersama Amanda tadi siang, Alvin tidak bisa berhentikan memikirkan Nerissa.
Rasa bersalah pada Nerissa seolah menghantuinya sepanjang hari. Melihat raut wajah Nerissa yang bersedih membuat hatinya terasa teriris perih. Meski tanpa air mata di kedua sudut matanya, tetapi Alvin bisa melihat dengan jelas wajah cantik Nerissa yang penuh dengan kesedihan saat itu.
Alvin kemudian membelokkan mobilnya ke arah rumah Nerissa. Sesampainya disana, Alvin menghentikan mobilnya namun enggan untuk turun dari dalam mobil.
Alvin ragu untuk menemui Nerissa, ia takut ia hanya akan semakin menyakiti Nerissa jika ia menemui Nerissa.
Alvin hanya diam di dalam mobilnya untuk beberapa lama tanpa melakukan apapun, pikirannya dipenuhi oleh Nerissa dan rasa bersalahnya pada Nerissa.
Hingga akhirnya sebuah panggilan membuyarkan lamunannya. Alvin menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah panggilan dari emoticon mawar merah, Alvin kemudian menerima panggilan itu.
"Alvin, apa kau masih di rumah?" tanya Amanda.
"Aku sudah di jalan, sebentar lagi akan sampai," jawab Alvin.
"Cepatlah, aku sudah menunggumu dari tadi," ucap Amanda kemudian mengakhiri panggilannya.
Alvin kemudian menyalakan mesin mobilnya, mengendarai mobilnya ke arah rumah Amanda. Tanpa Alvin tahu, seseorang memperhatikan Alvin dari dalam taksi.
Setelah mobil Alvin pergi, seseorang itu turun dari dalam taksi lalu berjalan ke arah rumah Nerissa.
Daniel mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka dan Marin berdiri disana.
"Apa Alvin baru saja kesini?" tanya Daniel pada Marin.
"Tadi siang dia kesini bersama Amanda," jawab Marin.
"Bersama Amanda? tapi baru saja dia juga datang kesini bukan?"
"Tidak Daniel, Alvin hanya datang tadi siang, memangnya kenapa? apa Alvin memberitahumu sesuatu?"
"Tidak, aku baru saja melihat mobil Alvin ada di depan rumahmu sangat lama," jawab Daniel.
"Benarkah? tapi dia tidak kesini, mungkin mobil orang lain yang sama dengan mobil Alvin."
"Tidak Marin, aku bahkan hafal plat mobil Alvin dan aku yakin itu adalah mobil Alvin!"
"Sudahlah lupakan saja, kau ke sini untuk mencari Alvin atau mencari putri?"
"Tentu saja mencari Nerissa, dimana dia?"
"Masuklah, aku akan memanggilnya!" jawab Marin kemudian berjalan masuk diikuti oleh Daniel yang duduk di ruang tamu.
Tak lama kemudian Nerissapun keluar dari kamarnya dan duduk di ruang tamu bersama Daniel.
"Aku dengar dari Marin, Alvin tadi siang kesini bersama Amanda, apa dia mengatakan sesuatu padamu Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Tidak," jawab Nerissa singkat.
"Apa Marin sudah menceritakan padamu tentang siapa Amanda?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Nerissa? aku tahu tidak akan mudah bagimu untuk melupakan Alvin, tapi apa kau akan terus berharap padanya jika dia sudah bersama Amanda?"
"Aku tidak bisa mengendalikan apa yang ada di hatiku Daniel, jika aku bisa tentu saja aku ingin melupakannya dengan mudah, tetapi kau tahu tidak akan semudah itu."
"Aku baru saja melihat Alvin di depan rumahmu, sepertinya dia tidak benar-benar ingin meninggalkanmu Nerissa," ucap Daniel yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya menatap Daniel.
"Apa maksudmu Daniel?"
"Aku sangat mengenal Alvin, aku tahu bagaimana dulu dia sangat menyukai Amanda dan aku pun tahu bagaimana dia menyukaimu setelah lama Amanda pergi darinya," jawab Daniel.
"Jika dia memang menyukaiku tidak mungkin dia kembali pada Amanda!"
"Kau benar, tapi Alvin tidak mungkin berniat untuk menyakiti seseorang yang dia sukai, kedatangan Amanda yang tiba-tiba membuat Alvin bimbang pada hatinya, masa lalu yang belum ia selesaikan kembali datang dan membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih apakah dia masih menyukai Amanda seperti dulu atau dia hanya merindukan Amanda yang sudah lama pergi darinya," ucap Daniel berspekulasi.
"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu Daniel," ucap Nerissa dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Sejak kedatangan Amanda hati Alvin pasti mudah sekali goyah, dia tidak bisa memastikan apakah ia benar-benar memilih untuk kembali dengan Amanda atau memulai hidup barunya denganmu."
"Tetapi dia sudah beberapa kali meninggalkanku, apa itu tidak cukup bukti yang menunjukkan bahwa Alvin lebih memilih Amanda?"
"Seperti yang selalu kau bilang, Alvin mempunyai alasan saat dia meninggalkanmu, yang pertama adalah saat Amanda kecelakaan dan yang kedua adalah saat Amanda terjebak di jalanan curam, Amanda selalu menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Alvin dan dengan bodohnya Alvin luluh begitu saja," balas Daniel menjelaskan.
Nerissa hanya terdiam mendengar ucapan Daniel,a dalam hatinya ia membenarkan apa yang Daniel jelaskan padanya. Alvin meninggalkannya bukan karena Alvin mengabaikannya tetapi karena Amanda yang memanfaatkan kesempatan untuk membuat Alvin datang padanya.
"Alvin sekarang berada di puncak kebimbangannya Nerissa, seperti yang kau tahu Amanda bukan perempuan yang baik, dia meninggalkan Alvin demi laki-laki lain yang baru dikenalnya dan saat laki-laki itu menghianatinya, Amanda datang dan kembali mendekati Alvin!"
"Lalu apa yang harus aku lakukan Daniel? aku bahkan sudah kalah dari Amanda!"
"Tidak Nerissa, aku tahu apa yang harus kita lakukan untuk memastikan bagaimana perasaan Alvin yang sebenarnya, apakah dia memilihmu atau memilih Amanda!"
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nerissa penuh tanda tanya.
"Kita buat Alvin cemburu," jawab Daniel.
"Dengan cara?"
"Kau dan aku harus berpura pura mempunyai hubungan yang serius untuk membuatnya cemburu, kita bisa melihat bagaimana sikapnya saat dia tau bahwa kita sudah menjadi sepasang kekasih," jawab Daniel yang membuat Nerissa terdiam.