
Daniel masih berada di depan rumah Marin, duduk dengan menyandarkan kepalanya di bahu Marin.
"Marin, kenapa kau tidak mengatakan apapun?" tanya Daniel membuyarkan lamunan Marin.
Seketika Marin segera mendorong kepala Daniel dari bahunya.
"Kepalamu sangat berat," jawab Marin sambil mengalihkan pandangannya dari Daniel untuk menyembunyikan raut wajahnya yang tampak gugup saat itu.
Daniel tiba-tiba melepaskan jaket yang dipakainya lalu memakaikannya pada Marin.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Marin yang berusaha menolak.
"Pipimu terlihat merah, kau pasti kedinginan bukan?"
Seketika Marin memegang kedua pipinya, ia segera mengalihkan pandangannya dari Daniel dan berusaha untuk mengatasi kegugupannya saat itu.
"ayolah Marin, kau pasti bisa keluar dari situasi ini," ucap Marin dalam hati.
"Apa kau sudah merasa hangat?" tanya Daniel yang kembali membuyarkan lamunan Marin.
"Aaahhhh iya.... tapi bagaimana denganmu?" jawab Marin sekaligus bertanya pada Daniel yang hanya mengenakan baju berlengan pendek malam itu.
"Aku baik-baik saja, masuklah udara malam ini memang sangat dingin," jawab Daniel lalu beranjak dari duduknya.
Saat Marin akan melepas jaket yang dikenakannya, Daniel menahan tangan Marin, memegang kedua tangan Marin agar Marin tidak melepaskan jaket yang ia pakai.
"Pakai saja, aku pulang dulu, jangan lupa menutup jendela kamarmu atau aku akan kembali masuk ke sana malam ini!" ucap Daniel dengan mengedipkan satu matanya lalu berjalan pergi meninggalkan Marin begitu saja.
Marin hanya terdiam di tempatnya berdiri dengan debaran dalam dadanya yang belum juga reda. Marin kemudian memegang dadanya, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan berusaha menghilangkan debaran dalam dadanya yang membuatnya merasa gelisah.
"tidak...... ini tidak benar, aku tidak boleh merasakan hal ini, sadarlah Marin kau tidak boleh merasakan hal ini, Daniel hanya manusia biasa sedangkan kau hanyalah mermaid yang berpura-pura menjadi manusia," ucap Marin dalam hati berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
Setelah mobil Daniel menjauh dan tak terlihat dari matanya, Marinpun masuk ke dalam rumah.
Setelah mengunci pintu, Marin masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan dirinya di ranjang.
Tanpa ia sadar, tangannya memeluk dirinya sendiri, matanya terpejam dan menghirup aroma parfum Daniel yang tercium dengan jelas dari jaket yang ia kenakan saat itu.
"Bagaimana aku tidak jatuh cinta padanya jika sikapnya semanis ini," ucap Marin dengan tersenyum.
Lalu tiba-tiba Marin menampar pipinya sendiri dan menutup mulutnya dengan rapat.
"bodoh sekali, apa yang baru saja aku katakan, jatuh cinta...... hahaha..... tidak mungkin," ucap Marin dalam hati sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Namun tiba-tiba senyum Daniel kembali terngiang di kepalanya, ucapan manis Daniel padanya seolah kembali menggema di telinganya, membuat Marin tanpa sadar tersenyum dan tersipu dengan kedua pipi yang merona merah.
Saat ia tersadar akan kegilaannya, ia pun kembali menampar pipinya berkali-kali sampai ia merasakan sakit di pipinya akibat dari tamparannya sendiri.
Marinpun berguling-guling ke kanan dan ke kiri berusaha untuk menyadarkan pikiran gilanya saat itu. Hingga tiba-tiba.....
BRUKKKKKK
Marin terjatuh dari ranjangnya dan terkapar di lantai kamarnya. Marin menghela nafasnya kasar lalu beranjak dan kembali membaringkan dirinya di ranjang sambil menenggelamkan kepalanya pada tumpukan bantal.
"sepertinya aku memang sudah gila," ucap Marin dalam hati merutuki kegilaannya sendiri yang tidak bisa berhenti memikirkan Daniel.
**
Di tempat lain, Alvin dan Nerissa masih berada di jalan raya menuju ke arah rumah Nerissa.
"Sepertinya Amanda sangat tergila-gila padamu Alvin," ucap Nerissa.
"Dia hanya memanfaatkanku Nerissa, dia tidak benar-benar menyesali apa yang sudah dia lakukan padaku," balas Alvin.
"Bagaimana jika dia tidak menyerah untuk mendekatimu?" tanya Nerissa.
"Aku juga tidak akan menyerah untuk menjauh darinya," jawab Alvin sambil membawa pandangannya pada Nerissa.
Tak lama kemudian Alvin menghentikan mobilnya, iapun turun dari mobil bersama Nerissa.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Nerissa pada Alvin.
Saat Nerissa akan masuk ke dalam rumah, Alvin menahan tangan Nerissa.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Alvin yang membuat Nerissa berbalik ke arah Alvin dan melepaskan tangan Alvin dari tangannya.
"Kau pernah mencintainya Alvin, kau pernah terluka karenanya, pasti tidak akan mudah bagimu untuk melupakannya, terlebih saat dia kembali padamu seperti saat ini, maafkan aku karena aku tidak sepenuhnya percaya bahwa kau benar-benar sudah melupakannya," jawab Nerissa.
"Aku mengerti, aku akan membuktikannya padamu bahwa aku benar-benar sudah melupakannya dan aku sudah tidak ingin berhubungan lagi dengannya," ucap Alvin.
Nerissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
Setelah Alvin pergi, Nerissapun masuk ke dalam rumah dan menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu.
"aku akan membuktikannya padamu bahwa aku benar-benar sudah melupakannya dan aku sudah tidak ingin berhubungan lagi dengannya."
Ucapan Alvin yang baru sadar Nerissa dengar kembali terngiang di kepalanya.
"aku senang karena kau tahu seperti apa Amanda yang sebenarnya, tapi aku ragu apakah kau benar-benar melupakannya atau hanya marah padanya untuk sesaat, aku tidak ingin lagi terluka karenamu Alvin karena aku tahu kau tidak akan pernah menjadi milikku untuk selamanya," ucap Nerissa dalam hati.
"Putri!" panggil Marin yang baru saja keluar dari kamar lalu berjalan ke arah Nerissa.
"Apa kau pulang bersama Alvin?" tanya Marin yang sudah duduk di samping Nerissa.
"Dari mana kau tahu? apa Daniel yang memberitahumu?" balas Nerissa bertanya.
"Iya, dia kesini untuk memberitahuku itu," jawab Marin.
Nerissa kemudian tersenyum setelah memperhatikan Marin untuk beberapa saat, membuat Marin menatap Nerissa dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu Putri? apa ada yang salah denganku?" tanya Marin.
"Apa saja yang sudah kau lakukan dengan Daniel?" tanya Nerissa yang membuat Marin mengernyitkan keningnya.
"Apa maksudmu Putri? kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" tanya Marin tak mengerti.
"Sepertinya aku sangat mengenal jaket ini dan sepertinya aku baru melihatnya tadi," ucap Nerissa sambil memegang jaket yang Marin pakai saat itu.
"Aaaahhh.... iniii.... iniiii.... aku...... tadiiii....."
"Sudahlah kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku, tidur saja dengan mengenakan jaket itu, kau akan merasa seperti sedang tidur dalam pelukan Daniel hahaha....." ucap Nerissa lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamarnya.
"Apa? tidur dalam pelukan Daniel? tidak...... aku tidak akan mengenakan jaket ini lagi," ucap Marin lalu segera melepaskan jaket Daniel yang ia pakai saat itu.
Nerissa hanya tertawa dari dalam kamarnya sedangkan Marin segera masuk ke dalam kamar lalu melemparkan jaket Daniel ke atas ranjangnya.
Waktupun berlalu, malam semakin larut. Saat tengah tertidur tanpa sadar Marin meraih jaket Daniel yang ada di ranjangnya lalu memeluknya dengan erat sampai pagi datang.
**
Saat ia setengah tersadar hidungnya mencium bau parfum Daniel yang ada pada jaket yang dipeluknya.
"Daniel......"
Seketika Marin membuka matanya lebar-lebar dan menyadari jika ia tengah memeluk jaket Daniel saat itu, ia pun segera melemparnya jauh-jauh saat seluruh kesadarannya sudah kembali.
"Waaaahh..... sepertinya aku benar-benar gila," ucap Marin lalu beranjak dari ranjangnya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Marin mengambil jaket Daniel yang ada di lantai lalu memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor.
Marin keluar dari kamarnya mengambil minuman dan roti untuk ia bawa ke toko bunga. Namun ia begitu terkejut saat melihat Nerissa yang sudah duduk tenang di dalam toko bunga yang sudah terbuka saat itu.
"Waaaah sepertinya tidurmu nyenyak sekali Marin, apa karena kau mengenakan jaket Daniel semalam?" tanya Nerissa mengejek.
"Tidak, aku melepaskannya sebelum aku tidur," balas Marin lalu duduk di samping Nerissa sambil mengunyah roti di tangannya.
"Tidak biasanya kau bangun siang seperti ini," ucap Nerissa yang membuat Marin segera melihat ke arah jam yang ada di dinding.
"Haaahhh, ini sudah siang? kenapa kau tidak membangunkanku Putri? aku pikir kau sengaja membuka toko bunga lebih pagi!"
"Aku sudah berniat untuk membangunkanmu Marin, tapi sepertinya kau tertidur sangat nyenyak jadi aku tidak berani mengganggu tidurmu!" ucap Nerissa.
"Apa kau masuk ke kamarku Putri?" tanya Marin gugup.
"Aku hanya membukanya sedikit dan melihatmu tengah tertidur dengan memeluk jaket Daniel hehehe....."
Marin hanya memejamkan matanya sambil menepuk keningnya mendengar ucapan Nerissa.
"Apa memang senyaman itu?" tanya Nerissa berbisik di telinga Marin, membuat Marin segera beranjak dari duduknya.
"Aku harus segera membuat buket bunga pesanan jadi diamlah dan jangan menggangguku," ucap Marin mengalihkan pembicaraan.
Nerissa hanya terkekeh melihat sikap Marin yang tampak salah tingkah.
**
Di tempat lain, Alvin dan Daniel baru saja keluar dari ruangan meeting di perusahaan lain. Merekapun berjalan keluar dari perusahaan itu.
"Apa yang terjadi semalam? Nerissa baik-baik saja bukan?" tanya Daniel yang sudah duduk di samping Alvin.
"Dia baik baik saja, aku sengaja mengajak Nerissa menemui Amanda untuk meyakinkan Nerissa bahwa aku sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengan Amanda," jawab Alvin sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Bagaimana jika Amanda melakukan hal berbahaya agar kau mau kembali padanya?" tanya Daniel
"Aku sudah memberitahunya, apapun yang akan ia lakukan nanti itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri karena aku tidak akan pernah mau terlibat lagi dengan semua yang dia lakukan," jawab Alvin.
"Kali ini kau benar-benar harus lebih tegas pada Amanda, jangan biarkan Amanda memanfaatkan sedikit saja celah untuk menarikmu kembali padanya," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.
"Terima kasih sudah membantuku Daniel, walaupun Nerissa masih meragukanku setidaknya dia masih memberikan kesempatan padaku untuk membuktikan bahwa aku benar-benar sudah melupakan Amanda," ucap Alvin pada Daniel.
"Pasti tidak mudah baginya untuk mempercayai ucapanmu karena kau sendiri pernah meragukannya," ucap Daniel.
"Kau benar, itu adalah kebodohan yang sudah aku lakukan dan aku sangat menyesalinya," balas Alvin.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Daniel sudah berada di depan rumah Nerissa. Setelah beberapa lama menunggu Neripun keluar dari rumah dan duduk di samping Daniel.
"Kau terlihat lebih cantik jika tersenyum seperti itu Nerissa, sepertinya sudah lama aku tidak melihatmu tersenyum seperti ini," ucap Daniel yang melihat Nerissa tampak tersenyum berseri malam itu.
"Bukankah aku memang selalu cantik?"
"Hahaha..... sejak kapan kau menjadi penuh percaya diri seperti Marin?" balas Daniel yang membuat Nerissa terkekeh.
"Terima kasih Daniel, kau sudah sangat banyak membantuku selama ini," ucap Nerissa pada Daniel.
"Ucapan terima kasihmu ini terdengar seperti kata perpisahan buatku Nerissa," ucap Daniel dengan tersenyum tipis.
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Alvin sudah menyadari kesalahannya Nerissa, dia juga sudah mengakhiri hubungannya dengan Amanda, sekarang sudah tidak ada alasan lagi untuk kita melanjutkan sandiwara kita," jawab Daniel.
"Apa kau ingin mengakhiri sandiwara kita sekarang?" tanya Nerissa.
Daniel kemudian membawa pandangannya pada Nerissa, menatap kedua mata cantik Nerissa yang tampak bersinar di bawah cahaya terang bulan malam itu.
"jika aku boleh jujur, aku tidak ingin mengakhiri sandiwara ini Nerissa, meskipun aku tahu ini hanya sandiwara tapi aku merasa bahagia karena bisa memilikimu sebagai kekasihku," ucap Daniel dalam hati.
"Kau mencintai Alvin, Alvinpun mencintaimu, tidak ada alasan untuk kalian tidak bisa bersama," ucap Daniel.
"Tapi kita akan tetap berhubungan baik seperti sebelumnya bukan?" balas Nerissa bertanya.
"Aku, kau, Alvin dan Marin kita semua akan tetap berhubungan baik Nerissa, apapun hubungan yang terjalin diantara kita tidak akan pernah ada yang saling meninggalkan," jawab Daniel.
"maafkan aku Daniel, suatu saat nanti aku dan Marin harus meninggalkanmu dan Alvin, saat itu tiba aku akan menghapus ingatan kalian berdua tentang aku dan Marin, aku harap kau dan Alvin bisa menjalani hari-hari kalian dengan lebih bahagia tanpa aku dan Marin," ucap Marin dalam hati.
"Kau laki-laki yang baik Daniel, aku harap kau bisa menemukan kebahagiaanmu yang sesungguhnya," ucap Nerissa pada Daniel.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
Di bawah sinar bulan malam itu Nerissa dan Daniel mengakhiri sandiwara mereka.
Meski begitu tidak ada yang berubah dari hubungan baik mereka berdua, mereka tetap menjadi teman baik yang saling memberikan dukungan untuk satu sama lain.
Daniel kemudian beranjak dari duduknya diikuti oleh Nerissa yang kini berdiri tepat di hadapan Daniel.
Mereka saling menatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya Daniel memeluk Nerissa dengan erat.
"Terima kasih sudah menjadi bagian dari kebahagiaan dalam hidupku Nerissa, terima kasih sudah memberi warna yang sangat indah dalam hidupku," ucap Daniel.
"Kau juga menjadi bagian yang indah dalam hidupku Daniel, terima kasih," balas Nerissa.
Daniel kemudian melepaskan pelukannya pada Nerissa lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Danielpun mengendarai mobilnya meninggalkan Nerissa.
"berbahagialah Nerissa, aku juga akan berbahagia dengan rasa sakit yang aku rasakan saat ini," ucap Daniel dalam hati dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Ia sadar sekeras apapun ia mencoba ia tidak akan pernah mendapatkan apa yang tidak ditakdirkan untuknya.
Kini ia hanya perlu berjalan melewati takdir hidup yang sudah digariskan untuknya tanpa berani berbalik ataupun berbelok ke arah lain.
"Apa yang terbaik untukku sudah digariskan pada jalan yang harus aku lewati, semangat Daniel, dunia tidak akan hancur hanya karena hatimu terluka," ucap Daniel berusaha menyemangati dirinya sendiri.