Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Fakta tentang Nerissa



Marin hanya terdiam mendengarkan ucapan Daniel padanya. Meski ia merasa senang, tapi ia tidak ingin terlalu berharap mengingat bagaimana sifat Daniel yang sangat suka bercanda.


Marinpun hanya menganggap Daniel asal bicara meskipun dalam hatinya ia berharap bahwa apa yang baru saja Daniel ucapan bukan hanya candaan belaka.


Setelah puas bermain pasir, Marin dan Daniel pun kembali ke tempat mereka menggelar tikar.


Nerissa, Alvin, Marin dan Danielpun memutuskan untuk kembali pulang saat matahari semakin bersinar terik.


**


Hari demi hari telah berlalu. Daniel semakin menunjukkan keseriusannya pada Marin meskipun Marin tidak pernah merespon dengan serius setiap ucapan Daniel.


Sama halnya dengan Daniel, Alvinpun semakin menunjukkan perasaanya pada Nerissa, meskipun Nerissa belum juga memberinya jawaban yang pasti tentang status hubungan mereka saat itu.


Malam itu, Alvin baru saja terpejam di kamarnya. Namun tiba tiba memorinya seolah mengulas kejadian saat ia terdampar di tepi pantai setelah kecelakaan kapal yang merenggut kedua orangtuanya.


Ia kembali melihat ekor besar berwarna biru yang perlahan meninggalkannya. Namun kali itu Alvin kecil membawa pandangannya ke arah batu karang besar yang ada dekat pantai dan mendapati seseorang yang sangat ia kenal, Nerissa.


Tapi tiba tiba Nerissa menceburkan dirinya ke arah lautan lalu berenang mengikuti ekor biru yang semakin menjauh ke tengah lautan luas.


"Nerissa, jangan pergi!" teriak Alvin, namun tidak dihiraukan oleh Nerissa. Seketika Alvinpun terbangun dari tidurnya.


"Jika itu memang halusinasiku, kenapa aku sering memimpikannya? dia seperti mermaid dengan ekor biru yang besar dan sekarang aku melihat Nerissa dalam mimpiku!"


Alvin kemudian beranjak dari duduknya, membasuh wajahnya lalu keluar dari rumah untuk mengendarai mobilnya ke arah pantai.


"Itu hanya mimpi, mungkin aku terlalu merindukan mama papa dan bisa jadi aku terlalu memikirkan Nerissa akhir akhir ini, itu kenapa aku jadi memimpikannya," ucap Alvin pada dirinya sendiri.


Sesampainya di pantai, Alvin segera berjalan ke arah bibir pantai. Namun samar samar ia mendengar suara seorang perempuan dari bawah batu karang besar.


"Aku seperti mengenal suaranya," ucap Alvin dalam hati.


Dengan pelan Alvin membawa langkahnya ke bawah batu karang besar dan mendapati Nerissa yang sedang duduk disana.


Tapi sesuatu yang Alvin lihat saat itu membuatnya begitu terkejut. Di bawah sinar bulan purnama malam itu Alvin melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang perempuan dengan ekor yang berwarna biru terang yang sama persis dengan mimpinya.


Alvin terdiam tak percaya melihat apa yang ada di hadapannya saat itu hingga tanpa sadar ia terjatuh di antara karang bebatuan.


Menyadari ada seseorang yang datang, Nerissapun segera membawa pandangannya ke arah sumber suara. Sedangkan sang bunda segera bersembunyi dengan masuk semakin dalam ke lautan.


"Alvin!" Nerissa begitu terkejut saat melihat Alvin yang sudah terduduk di atas karang yang tak jauh dari tempatnya duduk.


Nerissapun segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Alvin yang saat itu hanya diam dengan pandangan kosong karena terlalu syok dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Alvin, apa yang kau lakukan disini? apa kau terluka?" tanya Nerissa sambil membantu Alvin berdiri.


"Nerissa.... aku.... kau.... kau harus segera pergi dari sini," ucap Alvin terbata bata.


"Ada apa denganmu Alvin? apa kau melihat sesuatu?" tanya Nerissa memastikan apakah Alvin melihat sang bunda atau tidak, meskipun saat itu ia bisa melihat bahwa Alvin tampak syok saat itu.


"Aku tau aku pasti sedang bermimpi sekarang, tapi lebih baik kita pergi, aku tidak ingin kau pergi bersamanya," ucap Alvin sambil menarik tangan Nerissa.


"Bersamanya? bersama siapa maksudmu Alvin?" tanya Nerissa.


"Kau tidak sedang bermimpi Alvin," ucap Nerissa memotong ucapan Alvin.


"Tidak Nerissa, kau juga pasti bagian dari mimpiku, ayo cepatlah!"


Nerissa kemudian mencubit lengan tangan Alvin dengan kencang membuat Alvin mengaduh kesakitan.


"Apa yang kau lakukan Nerissa?"


"Membuktikan bahwa kau tidak bermimpi," jawab Alvin.


"Tapi.... aku.... aaaaarrrghhh.... aku pasti sudah gila sekarang..... aarrrgghhh.... bodohnya aku ....." ucap Alvin sambil memukul mukul kepalanya.


"Alvin hentikan, kau menyakiti dirimu sendiri!" ucap Nerissa sambil menahan kedua tangan Alvin.


"Nerissa, kau pasti tidak akan mempercayai apa yang baru saja aku lihat, kau pasti akan menganggap aku gila jika aku mengatakannya padamu," ucap Alvin dengan memegang kedua bahu Nerissa.


Nerissa kemudian melepaskan kedua tangan Alvin dari bahunya dan menggenggamnya.


Nerissa menghela nafasnya panjang lalu menatap kedua mata Alvin dengan dalam.


"Aku tidak akan seperti itu Alvin, mungkin ini saatnya kau harus tau bagaimana masa laluku yang sebenarnya, entah apa kau akan menerimanya atau tidak tapi kau harus tau yang sebenarnya," ucap Nerissa.


"Apa maksudmu Nerissa? apa kau mau meninggalkanku?"


"Tidak, aku bahkan sudah merelakan hal terbesar dalam hidupku hanya untuk menemuimu Alvin, jadi aku tidak mungkin meninggalkanmu," jawab Nerissa.


"Alvin, apa yang baru saja kau lihat memang benar, kau tidak sedang berhalusinasi ataupun bermimpi, yang baru saja kau lihat adalah bundaku, bunda yang dulu pernah menyelamatkanmu saat kau mengalami kecelakaan kapal," lanjut Nerissa.


"Bunda? tapi.... dia...."


"Iya, bundaku bukan manusia sepertimu, bunda adalah ratu di istana yang ada di dalam laut, bunda adalah ratu mermaid dengan ekor berwarna biru terang yang sering kau mimpikan Alvin," ucap Nerissa menjelaskan.


"Apa maksudmu Nerissa, kau berbicara seperti ini!" ucap Alvin tidak percaya.


"Aku menceritakan yang sebenarnya padamu Alvin, apa kau tidak mempercayaiku?"


"Jika itu bundamu, lalu bagaimana denganmu? kenapa kau tidak memiliki ekor seperti bundamu? kau manusia biasa sepertiku bukan?" tanya Alvin meragukan penjelasan Nerissa.


"Dengarkan penjelasanku baik baik Alvin, aku tau ini sangat tidak masuk akal bagimu, tapi ini benar benar terjadi," ucap Nerissa kemudian menceritakan tentang identitas dirinya yang sebenarnya.


Tentang tujuan awal Nerissa dan Marin datang ke daratan, tentang bagaimana Nerissa mengambil mutiara dalam tubuh Alvin, tentang bagaimana Nerissa kembali ke daratan untuk mengembalikan mutiara itu sampai akhirnya Nerissa mengorbankan kehidupan abadinya demi bisa melanjutkan hidupnya di daratan bersama Alvin.


Alvin yang mendengar semua cerita Nerissa hanya terdiam tanpa mampu berkata kata lagi. Semua yang ia dengar terasa tidak masuk akal baginya.


Gadis cantik di hadapannya itu ternyata seorang mermaid yang sudah menukar hidupnya demi bisa bersamanya.


Dalam hatinya Alvin masih berharap bahwa apa yang terjadi padanya malam itu hanyalah mimpi belaka, tapi berkali kali Nerissa meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang bermimpi.


"Sepertinya aku benar benar gila," ucap Alvin sambil memijit keningnya yang terasa pusing.