
Nerissa masih berada di rumah Alvin, sikap Alvin padanya yang begitu berbeda membuat Nerissa benar benar kesal.
Alvin yang ia temui di tepi pantai adalah seorang laki laki yang menyenangkan dan penuh perhatian.
Sangat berbeda dengan Alvin yang ada di hadapannya saat itu, laki laki yang dingin tanpa ada senyum di wajahnya.
"Putri, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Marin pada Nerissa.
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian merebahkan badannya di ranjang.
"Menurutmu siapa perempuan yang di bawah tadi? kenapa dia terlihat tidak suka dengan kita?"
"Entahlah Marin, aku juga tidak tau," jawab Nerissa.
"Dia memanggil Alvin dengan panggilan 'sayang', Alvin juga terlihat sangat baik padanya, apa mungkin dia....."
"Hentikan Marin, aku tidak peduli siapa perempuan itu dan apa hubungannya dengan Alvin, aku hanya ingin pergi dari sini!" ucap Nerissa kesal.
"Tapi..... ada yang masih mengganggu pikiran ku Putri, kemana kita akan pergi ketika Daniel menjemput kita nanti?"
Nerissa kemudian membawa pandangannya pada Marin. Ia bahkan belum sempat memikirkan hal itu.
"Kita bahkan tidak tau harus tinggal dimana!" lanjut Marin.
"Iya, kau benar, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Marin kemudian ikut merebahkan badannya di samping Nerissa, memikirkan apa yang harus ia lakukan saat itu.
"Apa kau sedang bersedih karena sikap Alvin padamu Putri?" tanya Marin tiba tiba.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" balas Nerissa bertanya.
"Kalau kau bersedih, menangislah, mutiara dari air matamu bisa kita jual untuk membeli tempat tinggal," jawab Marin menjelaskan.
"Kau ada ada saja, aku sedang tidak ingin menangis sekarang, aku hanya kesal saja padanya karena tidak mengenalku," ucap Nerissa.
Waktu berlalu, Nerissa dan Marin belum juga mendapatkan jawaban atas kebingungan mereka.
Di sisi lain, Alvin yang khawatir dengan keadaan Nerissa meminta bibi untuk memeriksa kaki Nerissa.
Ia tidak ingin apa yang tadi ia lakukan membuat keadaan kaki Nerissa memburuk. Bibipun menghampiri Nerissa dan kembali memijit kaki Nerissa.
Saat mentari sudah pulang ke peraduannya, Daniel baru saja sampai di rumah Alvin. Ia segera menghampiri Nerissa di kamar yang ada di lantai dua.
"Maaf karena sudah membuatmu menunggu Nerissa, ada sesuatu yang harus aku lakukan tadi pagi," ucap Daniel pada Nerissa.
"Tidak apa Daniel, maaf karena aku dan Marin merepotkanmu," balas Nerissa.
"Jangan berbicara seperti itu, aku senang bisa membantu kalian," ucap Daniel.
Marin hanya memutar kedua bola matanya mendengar ucapan Daniel. Pertemuan pertamanya dengan Daniel masih menyisakan kesan yang buruk bagi Marin tentang Daniel.
"Bagiamana keadaan kakimu? apa sudah membaik?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Iya, bibi sudah membantu menyembuhkan kakiku," jawab Nerissa.
"Baguslah kalau begitu, aku membawa ini untuk kalian, semoga ukurannya sesuai," ucap Daniel dengan memberikan paper bag pada Nerissa.
Nerissa membukanya dan melihat dua pasang sepatu. Danielpun membantu Nerissa untuk memakainya, sedangkan Marin dibiarkan memakainya sendiri.
"Sekarang ayo kita turun!" Ucap Daniel.
Nerissa menganggukan kepalanya, saat ia akan berjalan, ia kembali hendak terjatuh, namun Daniel menangkapnya dengan sigap.
Mata mereka bertemu saat satu tangan Daniel menopang pinggang Nerissa, sedangkan satu tangannya yang lain memegang erat tangan Nerissa.
"benar benar cantik," batin Daniel dalam hati.
BUUUUGGHHH
Sebuah pukulan keras di punggungnya menyadarkan Daniel dari lamunannya.
"Jangan mencari kesempatan!" ucap Marin dengan tatapan tajam pada Daniel.
Daniel hanya menggosok gosok punggungnya yang terasa sakit kemudian berjalan keluar terlebih dahulu, sedangkan Nerissa berjalan dengan bantuan Marin.
"Kalian tunggu sebentar disini, aku akan memanggil Alvin," ucap Daniel saat mereka sudah turun di ruang tengah.
Daniel kemudian masuk ke kamar Alvin, sedangkan Nerissa dan Marin masih berada di ruang tengah.
Nerissa memperhatikan setiap sudut ruangan itu dan mendapati banyak akuarium disana.
Nerissapun berjalan mendekat ke salah satu akuarium yang ada disana.
"Lihat Marin, mereka sangat lucu, tapi kenapa mereka berada disini? hai... kenapa kalian berada disini? apa laki laki itu yang membawa kalian kesini? dia memang sangat jahat, dia mengurung kalian semua disini," ucap Nerissa berbicara pada ikan dan bintang laut yang ada di hadapannya.
Nerissa kemudian berjalan ke arah akuarium yang lain dan membicarakan hal yang sama.
"Ayo, aku akan mengantar kalian pulang!" ucap Daniel yang sudah keluar dari kamar Alvin.
Nerissa lalu membawa pandangannya ke arah kamar Alvin, seolah bertanya kemana laki laki itu.
"Alvin sedang sibuk, aku sudah menyampaikan ucapan terima kasih kalian padanya," ucap Daniel yang seolah mengerti isi pikiran Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya pelan kemudian berjalan keluar dari rumah itu bersama Marin dan Daniel.
Mereka lalu memasuki mobil Daniel dan meninggalkan rumah Alvin.
Tanpa Nerissa tau, Alvin berdiri di tepi jendelanya melihat Nerissa masuk ke dalam mobil sampai mobil itu keluar dari halaman rumahnya.
"maafkan aku," batin Alvin dalam hati.
"Kemana aku harus mengantar kalian?" tanya Daniel pada Nerissa dan Marin.
"Mmmmm.... kita.... mmmm....."
Nerissa bingung harus menjawab apa pertanyaan Daniel karena ia belum banyak mengerti tentang dunia manusia.
"Sebenarnya kita tidak mempunyai tempat tinggal," ucap Marin.
"Tidak mempunyai tempat tinggal? maksudnya?" tanya Daniel tidak mengerti.
Daniel kemudian menepikan mobilnya dan membalikkan badannya menatap kedua gadis di bangku belakangnya.
"Kalian tidak sedang membodohiku kan?" tanya Daniel waspada.
"Untuk apa membodohi laki laki yang sudah bodoh sepertimu!" jawab Marin kesal.
"Nerissa, tolong jelaskan padaku, kemana dan apa tujuan kalian sebenarnya?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Apa kau sedang mencurigaiku sekarang?" balas Nerissa bertanya.
"Tidak, bukan itu maksudku, aku.... aku hanya tidak tau harus membawa kalian kemana sekarang!" jawab Daniel.
"Aku akan turun disini, terima kasih sudah membantuku dan Marin sampai sejauh ini," ucap Nerissa yang hendak membuka pintu mobil, namun Daniel menahannya.
"Maaf kalau ucapanku menyinggung perasaanmu Nerissa, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Daniel yang merasa bersalah.
Tidak seharusnya ia mencurigai Nerissa dan Marin, walaupun ia tidak menyukai Marin, tapi ia yakin bahwa Nerissa adalah gadis yang baik.
"Kita berasal dari pulau yang jauh, kita sengaja kesini ingin mencari pekerjaan, tapi ada orang orang jahat yang mengambil semua barang barang kita," ucap Marin berbohong.
"Kalian dirampok?" tanya Daniel memastikan.
"Ii....iya... seperti itulah," jawab Marin.
"Astaga, kenapa kalian tidak menceritakannya padaku sejak kemarin? apa kalian punya alamat yang kalian tuju disini?"
Marin hanya menggelengkan kepalanya dengan membawa pandangannya ke arah Nerissa, membuat Nerissa ikut menggelengkan kepalanya.
"Kalau tau seperti ini, aku pasti meminta kalian untuk tinggal lebih lama di rumah Alvin," ucap Daniel.
"Tidak, aku tidak mau tinggal di rumah itu!" ucap Nerissa cepat.
"Aku... aku hanya tidak nyaman saja tinggal disana," jawab Nerissa beralasan.
"Itu pasti karena kalian baru mengenalnya, percayalah, dia laki laki yang baik," ucap Daniel.
Nerissa kemudian membawa pandangannya pada Marin untuk meminta pertimbangan dari Marin.
"Aku akan mengantar kalian kembali ke rumah Alvin, besok kita pikirkan lagi apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian," ucap Daniel kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya.
"Apakah Alvin akan menerima kita lagi? sepertinya dia tidak menyukai kedatangan kita!" tanya Marin.
"Iya benar, ada satu perempuan juga yang tidak menyukai keberadaan kita disana," sahut Nerissa.
"Satu perempuan? siapa? bibi?" tanya Daniel.
"Bukan, dia perempuan muda yang cantik," jawab Nerissa.
"Dia datang dan memeluk Alvin, dari cara bicaranya aku tau dia tidak menyukai keberadaan kita disana," lanjut Marin menimpali.
"Ooohhh, namanya Delia, kalian tidak perlu menghiraukannya," ucap Daniel.
"Tapi....."
"Untuk sementara kalian bisa tinggal di rumah Alvin, besok aku akan mencarikan kalian tempat tinggal dan juga pekerjaan," ucap Daniel.
"Terima kasih Daniel," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
Sesampainya di rumah Alvin, Daniel segera masuk bersama Nerissa dan Marin.
"Ada apa lagi?" tanya Alvin yang mengetahui kedatangan Daniel.
"Apa kau bisa membiarkan mereka menginap disini malam ini? hanya satu malam saja setelah itu....."
"Kemarin kau juga mengatakan hal yang sama, hanya satu malam dan sekarang kau membawa mereka kembali kesini," ucap Alvin memotong ucapan Daniel.
Daniel kemudian menarik tangan Alvin untuk diajak menjauh dari Nerissa dan Marin.
"Mereka datang dari pulau yang jauh Alvin, mereka dirampok dan tidak memiliki apapun saat ini, jadi tolong biarkan mereka disini, besok aku akan menjemput mereka sepulang kerja," ucap Daniel menjelaskan dengan berbisik.
"Terserah kau saja!" balas Alvin.
"Kau serius?"
"Lagipula tidak ada untungnya menolak permintaanmu, kau akan tetap memohon dan mencari alasan bukan!"
"Hehehe.... kau sangat memahamiku ternyata, terima kasih kawan!"
Alvin hanya menghela nafasnya, ia membawa pandangannya pada Nerissa beberapa saat sebelum berjalan masuk ke kamarnya.
Daniel kemudian mengantarkan Nerissa dan Marin untuk masuk ke kamar mereka yang berada di lantai dua.
**
Hari telah berganti, pagi pagi sekali Nerissa dan Marin sudah terbangun. Nerissa sudah banyak belajar berjalan bersama Marin, sehingga ia bisa berjalan dengan lebih baik dibanding sebelumnya.
Rasa sakit dan bengkak di kakinya juga sudah menghilang berkat pijatan bibi.
Nerissa dan Marin kemudian turun dan melihat akuarium besar milik Alvin satu per satu. Tiba tiba Nerissa panik saat melihat salah satu ikan kecil terjebak diantara batu karang buatan yang ada di dalam akuarium itu.
"Bersabarlah, aku akan membantumu," ucap Nerissa dengan berusaha menggeser batu karang buatan di dalam akuarium.
Sampai beberapa lama, Nerissa belum juga berhasil mengeluarkan ikan yang terjebak disana sampai ikan itu terlihat lemas dan mati.
Nerissapun menangis dan kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa membantu ikan itu.
"Tahan air matamu Putri, jangan sampai Alvin melihat air matamu berubah menjadi mutiara!" ucap Marin berbisik pada Nerissa.
Berkali kali Nerissa menghapus air mata di pipinya agar tidak sampai terjatuh, karena jika air mata itu terjatuh dari pipinya, maka secara otomatis butir air matanya akan berubah menjadi mutiara.
Di sisi lain, Alvin yang baru saja keluar dari kamarnya begitu terkejut karena melihat Nerissa yang terlihat sedang merusak aquascape miliknya.
"Apa yang kau lakukan Nerissa!" teriak Alvin dengan menarik tangan Nerissa dari dalam akuarium.
"Aku.... aku.... hanya ingin menyelematkan ikan itu!" jawab Nerissa dengan terisak.
Alvin lalu membawa pandangannya ke arah ikan yang sudah mati di dalam akuariumnya.
"Kau membunuh ikan ini?" tanya Alvin dengan tatapan tajam pada Nerissa.
"Justru kau yang membunuhnya, kau sengaja mengurung mereka di tempat yang sempit ini dan memberi batu karang buatan yang bisa mencelakai mereka, apa kau tidak pernah berpikir bahwa apa yang kau lakukan ini menyiksa mereka?" balas Nerissa penuh emosi.
"Kau tidak tau apa apa, jadi jangan...."
"Kau yang tidak tau apa apa Alvin, mereka diciptakan untuk hidup di lautan luas, bukan di tempat sempit hanya demi kepuasanmu sendiri, kau benar benar manusia yang egois!" balas Nerissa dengan air mata yang kembali luruh, namun ia berkali kali menghapus air matanya.
Ia begitu sedih melihat teman ikannya mati di hadapannya tanpa ia bisa membantunya. Sebagai putri istana, ia merasa gagal melindungi rakyatnya.
"Kau berlebihan!" ucap Alvin kemudian pergi begitu saja meninggalkan Nerissa dan Marin.
Sebelum meninggalkan rumah, Alvin meminta bibi untuk membersihkan dan mengubur ikan yang mati di akuariumnya.
Sedangkan Nerissa masuk ke dalam kamar dan menangis sepuasnya, membiarkan butir butir mutiara jatuh ke lantai.
"Sudahlah Putri, ini bukan salahmu," ucap Marin berusaha menenangkan Nerissa.
"Kalau aku bisa menolongnya dengan cepat, mungkin dia tidak akan mati Marin," balas Nerissa.
"Kau sudah berusaha dengan baik Putri, tapi ikan itu memang sudah tidak bisa bertahan lagi," ucap Marin.
"Aku tidak ingin tinggal disini Marin, aku ingin segera pergi dari sini," ucap Nerissa dengan air mata yang masih berlinang.
"Apa kau mau pergi sekarang?" tanya Marin yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Marin.
Marin kemudian tersenyum dan mengumpulkan satu per satu mutiara yang ada di lantai.
"Apa yang kau lakukan Marin?" tanya Nerissa.
"Kita bisa membeli tempat tinggal dengan mutiara mutiara ini Putri," jawab Marin.
"Apa itu cukup?"
"Lebih dari cukup, apa kau masih ingin menangis? kita bisa membeli istana megah jika kau mau menangis lebih lama lagi!"
"Apa kau senang melihatku bersedih?"
"Hahaha.... tentu saja tidak, jadi sekarang hentikan tangisanmu dan kita keluar dari sini sekarang juga!"
Nerissa menganggukan kepalanya kemudian bersiap untuk pergi bersama Marin.
Sebelum pergi, mereka meminta sebuah kertas dan pena pada Bi Sita. Nerissa menulis sebuah surat untuk Daniel yang ia letakkan di meja yang ada di kamar itu.
"Apa kau tidak akan menulis surat untuk Alvin?" tanya Marin.
"Tidak," jawab Nerissa singkat.
"Aku pikir ada kesalahpahaman diantara kalian berdua, jadi jangan terburu buru untuk membencinya, dia...."
"Hentikan Marin, aku tidak ingin mendengar apapun tentang Alvin," ucap Nerissa kesal.
"Tapi dia juga membantu kita dengan mengizinkan kita untuk tinggal disini Putri!"
"Itu karena Daniel memohon padanya!" balas Nerissa.
"Tetap saja, kau....."
"Kau saja yang berterima kasih padanya," ucap Nerissa dengan memberikan kertas dan pena pada Marin.
Marin menghela nafasnya kemudian menulis ucapan terima kasihnya untuk Alvin dan menitipkannya pada Bi Sita.
Setelah berpamitan dan berterima kasih pada Bi Sita, Nerissa dan Marinpun meninggalkan rumah Alvin.
Mereka berjalan ke jalan raya mencari taksi yang bisa membawa mereka pergi dari sana.