Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Menunggu Alvin



Daniel masih berada di jalan raya untuk menuju ke toko bunga Marin, ia berniat untuk menemui Nerissa saat itu.


Namun tiba-tiba mobil di hadapannya berhenti mendadak, membuatnya ikut menginjak rem secara mendadak. Beruntung tidak ada mobil di belakangnya saat itu dan mobilnya pun tidak menabrak mobil di hadapannya.


Setelah menunggu beberapa lama mobil di hadapannya belum juga bergerak, begitu juga kendaraan di kanan dan kirinya.


Daniel kemudian turun dari mobilnya untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Ternyata ada beberapa mobil yang juga berhenti dengan jarak yang cukup dekat.


Saat Daniel semakin maju ke depan ia melihat seorang gadis yang bersimpuh di jalan raya dengan sepedanya yang tergeletak di sampingnya.


"Nerissa!"


Danielpun segera berlari mendekat ke arah Nerissa.


"Apa yang terjadi padamu Nerissa? apa kau terluka?" tanya Daniel sambil membantu Nerissa untuk berdiri.


Karena panik dan gugup dengan keramaian yang ada di sekitarnya, Nerissa hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Daniel.


Daniel kemudian membantu Nerissa untuk duduk di trotoar jalan raya dan membawa sepeda Nerissa menepi ke jalan raya.


"Tunggu sebentar, aku akan menepikan mobilku dulu!" ucap Daniel kemudian berlari ke arah mobilnya, mengendarainya menepi ke arah tempat parkir yang tak jauh dari tempatnya saat itu.


Daniel kembali menghampiri Nerissa sambil membawa sebotol minuman yang baru saja dibelinya.


"Minumlah dan tenangkan dirimu!" ucap Daniel sambil memberikan satu botol minuman pada Nerissa.


Nerissapun menerimanya lalu meminumnya.


"Apa kau terluka? apa kita harus ke rumah sakit?" tanya Daniel yang masih mengkhawatirkan keadaan Nerissa.


"Tidak, aku baik-baik saja Daniel, aku hanya sedikit terkejut karena banyak orang yang memarahiku tadi!"


"Apa yang terjadi padamu Nerissa? kenapa kau bisa terjatuh disana?"


"Aku juga tidak tahu Daniel, aku hanya mengayuh sepedaku seperti biasa, tetapi aku tidak sadar jika aku mengayuhnya ke tengah jalan raya dan aku kehilangan keseimbangan ketika aku mendengar klakson mobil yang begitu kencang," jawab Nerissa menjelaskan.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu Nerissa?"


Nerissa menggelengkan kepalanya pelan, meski sebenarnya ia masih memikirkan Alvin dan Amanda yang membuatnya tanpa sadar mengayuh sepedanya ke tengah jalan raya.


"Ikut aku, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Daniel sambil mengulurkan tangannya pada Nerissa.


Nerissa menganggukkan kepalanya lalu menerima uluran tangan Daniel.


Daniel juga membawa sepeda Nerissa, memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya lalu kemudian mengantarkan Nerissa kembali ke toko bunga Marin.


"Daniel, apa aku boleh minta tolong padamu?" tanya Nerissa pada Daniel.


"Apa itu?" balas Daniel bertanya.


"Tolong jangan memberitahu Marin tentang apa yang baru saja terjadi, aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku dan melarangku untuk mengantarkan bunga lagi!"


Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ucapan Nerissa terasa seperti dejavu bagi Daniel.


Ia kembali teringat saat ia hampir saja menabrak Marin di jalan raya. Saat itu Marin juga mengatakan hal yang sama seperti yang baru saja Nerissa ucapkan.


Marin melarang Daniel untuk menceritakan kejadian itu pada Nerissa karena tidak ingin Nerissa khawatir.


"persahabatan yang menarik!" batin Daniel dalam hati.


"Sebenarnya aku berniat untuk menghampirimu karena aku ingin mengajakmu makan siang bersama, apa ini bukan waktu yang tepat untuk kita bisa makan siang bersama?" ucap Daniel sekaligus bertanya pada Nerissa.


"sebenarnya aku ingin segera pulang, tetapi apa aku harus menolak Daniel untuk kedua kalinya? sepertinya dia akan sangat kecewa jika aku menolaknya lagi!" batin Nerissa dalam hati.


"Kita bisa makan siang di dekat toko bunga kalau kau tidak keberatan!" ucap Nerissa yang membuat Daniel segera membawa pandangannya pada Nerissa.


"Aku pikir kau ingin segera pulang, apa kau tidak keberatan jika kita makan siang dulu?"


Nerissa hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Daniel pun tersenyum senang kemudian menepikan mobilnya ke arah tempat makan yang tak jauh dari toko bunga Marin.


Daniel dan Nerissapun keluar dari mobil dan dan masuk ke dalam tempat makan itu bersama. Merekapun menikmati makan siang mereka berdua.


"Terima kasih karena sudah membantuku tadi, aku benar-benar panik dan gugup karena tidak pernah berada di situasi seperti itu sebelumnya!" ucap Nerissa pada Daniel.


"Lain kali kau harus lebih berhati-hati Nerissa, jangan sampai masalah pribadimu mengganggu kegiatan sehari-harimu, karena bisa jadi itu sangat membahayakanmu!" ucap Daniel.


"Iya aku mengerti," balas Nerissa.


"Nerissa, mungkin aku bukan seseorang yang berarti untukmu saat ini, tapi izinkan aku menjadi seseorang yang bisa mendengarkan semua keluh kesahmu, mendengarkan cerita bahagia dan dukamu!" ucap Daniel dengan menatap kedua mata Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengucapkan apapun. Daniel memang teman yang baik untuknya tetapi ia tidak memiliki perasaan apapun pada Daniel, apalagi berharap untuk memilikinya lebih dari seorang teman.


"aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu Nerissa, aku tidak tahu alasan yang sebenarnya kenapa kau tidak bisa menerimaku sebagai pasanganmu, entah karena sudah ada laki-laki lain di hatimu atau karena kau memang benar-benar sedang tidak memikirkan hal itu, tetapi apapun itu aku akan terus berusaha untuk bisa mendapatkanmu dan membuatmu jatuh cinta padaku!" ucap Daniel dalam hati.


Setelah menghabiskan makan siang mereka, Daniel kembali melanjutkan mengantarkan Nerissa ke toko bunga Marin.


Sesampainya disana Daniel segera mengeluarkan sepeda Nerissa dari bagasinya.


"Terima kasih Daniel!" ucap nerissa pada Daniel lalu berjalan masuk ke dalam rumah bukan ke toko bunga.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya, ia masih terdiam di tempatnya berdiri, menatap Nerissa yang perlahan menjauh darinya.


"Kenapa Putri pulang bersamamu?" tanya Marin yang tiba-tiba menghampiri Daniel.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya lalu mengantarnya pulang!" jawab Daniel.


"Tidak terjadi sesuatu padanya bukan?" tanya Marin khawatir.


"Tidak, dia baik-baik saja, kau tahu cuaca hari ini sangat terik, jadi dia kelelahan mengayuh sepedanya," jawab Daniel meyakinkan Marin.


"Kau benar, beberapa hari ini cuaca memang sangat terik, terima kasih karena sudah mengantar Putri pulang!" ucap Marin kemudian berbalik hendak meninggalkan Daniel, namun ia menghentikan langkahnya saat Daniel memanggilnya.


"Marin tunggu!" panggil Daniel.


"Ada apa?" tanya Marin yang sudah kembali menghampiri Daniel.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu, apa kau sedang sibuk?"


"Tidak, masuklah!" jawab Marin kemudian berjalan masuk ke dalam toko bunga di ikuti oleh Daniel.


Mereka berdua duduk di dalam toko bunga, diantara bermacam-macam bunga dengan warna warnanya yang indah.


"Apa Nerissa mengatakan sesuatu padamu semalam?" balas Daniel bertanya.


"Tidak, kenapa?"


"Apa menurutmu Nerissa sedang baik-baik saja? sepertinya aku melihat dia tampak sedang memikirkan sesuatu yang berat, tetapi dia tidak ingin menceritakannya padaku, apa kau tahu sesuatu Marin? tolong katakan padaku yang jika kau mengetahui apa yang terjadi pada Nerissa!"


"Aku juga memikirkan hal yang sama sepertimu Daniel, tetapi Putri tidak menceritakan apapun padaku, aku juga tidak bisa memaksa Putri untuk menceritakan masalahnya padaku Daniel!"


"Kau sahabat dekatnya Marin, seharusnya kau lebih tahu tentangnya!"


"Justru karena aku sahabat dekatnya, aku tidak akan memaksa Putri untuk melakukan apa yang tidak diinginkannya, jika memang dia merasa ingin bercerita padaku pasti dia akan menceritakannya dan kapanpun itu aku akan siap mendengarnya!" balas Marin.


Daniel menghela nafasnya panjang, ia belum menemukan jawaban tentang apa yang membuat sikap Nerissa tiba-tiba berubah.


Daniel kemudian meninggalkan toko bunga Marin dan kembali ke kantor karena sebentar lagi jam makan siangnya sudah habis.


**


Waktu berlalu, matahari mulai kembali ke peraduannya. Nerissa membawa langkahnya ke arah toko bunga untuk membantu Marin menutup toko bunganya.


"Bukankah aku sudah mengirim pesan padamu kalau aku akan menutup toko bunga sendiri, kau bisa beristirahat jika kau masih kelelahan Putri!" ucap Marin pada Nerissa.


"Aku belum melihat ponselku, sepertinya ponselku kehabisan daya, aku juga sudah cukup beristirahat Marin, sekarang waktunya kau yang beristirahat!" balas Nerissa.


"Jangan lupa mengisi daya ponselmu Putri, kau tahu ponsel itu sangat penting bagi kita saat kita berada di daratan!" ucap Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


Setelah selesai menutup toko bunga, Nerissapun kembali masuk ke kamarnya mengambil ponselnya untuk diisi daya baterainya yang sudah lemah.


Saat itu juga ia baru menyadari satu pesan yang masuk dari Alvin.


"Tolong luangkan waktumu nanti malam, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu!"


"apa yang ingin dia katakan kepadaku? kenapa dia tidak mengatakannya melalui pesan saja?" tanya Nerissa dalam hati.


Nerissa kemudian membalas pesan Alvin.


"Baiklah, aku menunggumu jam 8 malam di depan rumah!"


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Nerissa sudah menunggu Alvin di depan rumahnya


"Apa yang kau lakukan disini Putri? masuklah!"


"Aku sedang menunggu Alvin," jawab Nerissa.


"Sudah hampir 1 jam kau duduk disitu Putri, tunggu saja dia di dalam rumah!"


"Tidak Marin, aku akan menunggunya disini, mungkin sebentar lagi dia akan datang!"


"Baiklah jika itu maumu!" ucap Marin kemudian kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan Nerissa yang masih duduk di tempatnya.


Detik jam terus berdetak melewati menit dan jam. Nerissa masih menunggu Alvin tanpa berpindah sedikitpun.


Meski kesal karena sudah lama menunggu, Nerissa tetap berada di tempatnya karena ia ingin tahu apa yang yang akan Alvin sampaikan padanya, mengingat pertemuan mereka yang terakhir kali Alvin begitu dingin padanya.


Setelah hampir 2 jam akhirnya seseorang yang ditunggupun datang, sebuah mobil berhenti di depan Nerissa dan si pemilik segera keluar dari dalam mobil.


"Maaf aku terlambat, ada sesuatu yang harus aku selesaikan, apa kau sudah lama menungguku?" ucap Alvin sekaligus bertanya pada Nerissa.


"Apa yang ingin kau katakan padaku Alvin?" tanya Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Alvin.


"Kita pergi ke tempat lain Nerissa, aku....."


"Tidak, aku tidak ingin pergi kemanapun bersamamu, jika memang ada yang ingin kau sampaikan katakan saja disini, jika tidak aku akan kembali masuk ke dalam rumah dan kau pulanglah!" ucap Nerissa memotong ucapan Alvin.


Alvin menghela nafasnya kemudian duduk di samping Nerissa.


"Apa kau marah padaku?" tanya Alvin yang menyadari sikap dingin Nerissa padanya.


"Jangan banyak bertanya Alvin, katakan saja apa yang ingin kau katakan!" ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Alvin.


Dari nada bicara Nerissa, terdengar jelas jika dia sedang kesal saat itu. Bukan hanya karena sudah menunggu Alvin terlalu lama, tetapi juga karena ia masih memikirkan hubungan yang mungkin terjadi antara Alvin dan Amanda.


Jika memang benar sosok gadis cantik itu adalah seseorang yang berarti untuk Alvin maka tidak ada celah bagi Nerissa untuk dekat dengan Alvin, mengingat betapa sempurnanya sosok Amanda sebagai seorang perempuan seutuhnya.


Meski ia sadar dirinya berbeda dengan Alvin, tetapi dalam hati kecilnya ia masih memiliki perasaan yang menginginkan Alvin untuk menjadi miliknya.


Perasaan itu tumbuh begitu saja, menyingkirkan semua fakta yang sudah ada di depan mata, membuatnya tidak bisa lagi memikirkan hal itu dengan logika karena tanpa dia sadar perasaan yang ada dalam hatinya adalah sebuah rasa cinta bukan sekedar suka.


"Nerissa dengarkan aku, aku minta maaf karena aku terlambat datang, ada sesuatu yang harus aku selesaikan di kantor dan aku juga minta maaf atas sikapku saat kita berada di gudang kemarin, aku benar-benar menyesalinya!" ucap Alvin dengan menatap wajah Nerissa dari samping.


Nerissa hanya diam beberapa saat mendengar ucapan Alvin. Ia masih bisa mengingat dengan jelas saat Alvin menghampirinya di gudang, Alvin merebut alat lukis yang Nerissa pegang dengan kasar kemudian memasukkannya ke dalam kotak dan menutupnya.


Alvin juga sempat bersikap dingin pada Nerissa malam itu tanpa Nerissa tau apa kesalahan yang sudah Nerissa lakukan sebenarnya.


"Apa yang salah dari sikapmu Alvin? kenapa kau meminta maaf padaku?" balas Nerissa bertanya


"Sikapku kemarin mungkin berlebihan, aku hanya..... aku..... aku tidak terbiasa melihat barang-barangku disentuh orang lain tanpa seizinku!" ucap Alvin memberi alasan.


"Apa sebegitu istimewanya barang-barang itu sampai aku tidak boleh menyentuhnya?" tanya Nerissa.


"Bukan seperti itu Nerissa, maaf jika apa yang aku lakukan kemarin menyinggung perasaanmu dan maaf jika ucapanku menyakiti hatimu," ucap Alvin.


"kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku Alvin, apa memang lukisan itu sangat berharga untukmu? seberapa berharga lukisan itu untukmu Alvin? apa sama berharganya seperti seseorang yang memberikan lukisan itu padamu?" batin Nerissa bertanya dalam hati.


"Masih ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu Nerissa, aku harap hal ini tidak membuatmu semakin marah padaku!" ucap Alvin pada Nerissa.


Nerissa hanya diam membiarkan Alvin melanjutkan ucapannya.


"Sebenarnya aku tahu siapa dirimu Nerissa...." ucap Alvin yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Alvin.


"Apa maksudmu Alvin? kau mengenal aku yang sebenarnya?" tanya Nerissa memastikan.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Alvin mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.


"apa dia benar-benar mengetahui siapa aku sebenarnya apa selama ini dia sudah mengetahui bahwa aku aku berbeda dengannya apa dia tahu kalau aku bukan manusia sepertinya?" batin Nerissa bertanya dalam hatinya.


Alvin menganggukkan kepalanya pelan berharap Nerissa tidak akan semakin marah karena apa yang baru saja ia ucapkan.