
Nerissa masih berada di atas perahu kecil bersama Alvin, semakin lama berada disana ia merasa semakin nyaman dan menikmati apa yang ia lakukan saat itu.
Setelah beberapa lama mengitari danau, perahu kecil itupun membawa Nerissa dan Alvin kembali ke dermaga.
Alvin dan Nerissapun turun dari perahu itu.
"Bagaimana? apa kau masih takut Nerissa?" tanya Alvin pada Nerissa.
Nerissa menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum menjawab pertanyaan Alvin.
"Baguslah kalau begitu, tapi kau juga harus tetap berhati-hati Nerissa!"
"Iya aku mengerti, lagi pula aku hanya akan melakukan hal ini saat bersamamu, tidak dengan orang lain," balas Nerissa.
"Kenapa?" tanya Alvin.
"Karena aku hanya mempercayaimu Alvin, aku hanya merasa aman saat aku bersamamu," jawab Nerissa.
Alvin tersenyum mendengar jawaban Nerissa, ia kemudian mengajak Nerissa untuk meninggalkan taman bermain itu.
"Ayo kita pulang, Marin pasti sudah menunggumu di rumah!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Tunggu aku di tempat parkir, aku ingin ke toilet sebentar," ucap Nerissa kemudian berjalan ke arah toilet yang berada tak jauh dari tempat parkir.
Saat Nerissa baru saja keluar dari toilet, ia melihat seorang perempuan yang berdiri di salah satu pintu toilet.
Tiba-tiba perempuan itu terjatuh dan tak sadarkan diri. Nerissa yang melihat hal itu segera mendekat ke arah perempuan yang terkapar di lantai.
"Apa yang terjadi padanya? kenapa dia tiba-tiba pingsan?" tanya Nerissa sambil berusaha menyadarkan si perempuan.
Nerissa kemudian membawa pandangannya ke sekelilingnya dan tidak melihat seorangpun yang ada di sana.
"Dia pasti sedang sakit, apa aku bisa membantunya? apa aku bisa membuatnya kembali tersadar?" tanya Nerissa dalam hati.
"Entahlah..... tapi aku harus mencobanya!"
Nerissa kemudian memegang tangan seseorang yang ada di hadapannya saat itu. Nerissa berusaha mentransfer energinya agar seseorang yang tengah pingsan itu segera tersadar.
Tanpa Nerissa tahu, seseorang yang ada di hadapannya saat itu tidak hanya pingsan tetapi sedang dalam keadaan kritis karena serangan jantung yang tiba-tiba.
Beberapa lama kemudian seseorang itu mulai mengerjapkan matanya dan tersadar, sedangkan Nerissa masih menggenggam tangan seseorang itu dengan tenaganya yang sudah habis terkuras.
Saat seseorang itu tersadar seketika Nerissa tidak bisa lagi menahan beban tubuhnya sendiri, yang membuatnya hampir saja terjatuh di atas perempuan itu jika perempuan itu tidak segera menangkap tubuh Nerissa.
"Aaaahhhh maafkan aku, aku sedikit pusing," ucap Nerissa yang berusaha untuk tetap membuat dirinya tersadar.
"Apa yang terjadi padaku? apa kau baru saja menolongku?" tanya si perempuan pada Nerissa.
"Kau pingsan disini, aku..... aku hanya berusaha membangunkanmu," jawab Nerissa.
"Benarkah? sepertinya tadi dadaku terasa sakit sekali, tapi terima kasih sudah membantuku," ucap si perempuan kemudian berdiri diikuti oleh Nerissa.
Namun saat Nerissa berdiri, matanya terasa berkunang-kunang, membuatnya hampir saja terjatuh namun si perempuan dengan sigap menahan Nerissa untuk kedua kalinya.
"Apa kau baik-baik saja? wajahmu terlihat sangat pucat, sepertinya kau sakit!" tanya si perempuan pada Nerissa.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing," jawab Nerissa.
"Dimana mobilmu, aku akan membantumu ke tempat parkir!"
Perempuan itu kemudian memegang kedua bahu Nerissa, membantu Nerissa berjalan keluar dari toilet.
Saat mereka baru saja keluar dari toilet, terlihat Alvin berlari kecil ke arah Nerissa.
"Nerissa, apa yang terjadi padamu?" tanya Alvin yang melihat Nerissa tampak sangat pucat saat itu.
"Apa kau mengenalnya?" tanya si perempuan pada Nerissa.
"Iya dia temanku, terima kasih sudah membantuku, aku akan ke tempat parkir bersamanya," jawab Nerissa.
"Baiklah kalau begitu, aku juga berterima kasih karena kau sudah membantuku," ucap si perempuan kemudian meninggalkan Nerissa dan Alvin di depan toilet.
Alvin kemudian memegang kedua bahu Nerissa menggantikan perempuan itu lalu membawa Nerissa masuk ke dalam mobil.
"Apa yang terjadi padamu Nerissa? apa kau sakit?" tanya Alvin mengkhawatirkan Nerissa.
"Aku hanya sedikit lelah Alvin, apa mau pergi ke toilet?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.
"Tidak, aku kesini untuk mencarimu karena aku pikir sudah cukup lama kau belum kembali dari toilet," jawab Alvin.
"Alvin, apa aku terlihat sangat pucat?" tanya Nerissa sambil bercermin.
"Iya, kau terlihat sangat pucat Nerissa, apa kita harus ke rumah sakit dulu sebelum pulang?"
"Tidak Alvin aku baik-baik saja aku hanya sedikit kelelahan dan ingin beristirahat," jawab Nerissa.
"Baiklah kita pulang sekarang," ucap Alvin kemudian menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya keluar dari tempat parkir.
Nerissa menyandarkan kepalanya dengan memejamkan matanya. Ia merasa seluruh tenaganya seperti sudah habis terkuras setelah ia menyelamatkan perempuan di toilet tadi.
Ia berpikir jika perempuan itu hanya pingsan dan ia hanya perlu membuat perempuan itu kembali tersadar tanpa ia tahu jika perempuan itu tengah dalam keadaan kritis karena serangan jantung.
Seperti yang sudah pernah Nerissa dengar sebelumnya, Nerissa memang bisa menyembuhkan tetapi semakin besar luka atau penyakit yang ia sembuhkan maka semakin besar pula tenaga yang harus ia keluarkan yang bisa jadi akan membuatnya kehilangan tenaganya.
"badanku terasa lemas sekali, aku seperti kehilangan seluruh tenagaku, apa perempuan tadi tidak hanya pingsan? entahlah...... yang penting dia sudah baik-baik saja sekarang, tapi aku tidak bisa menemui Marin dengan keadaanku yang seperti ini, Marin pasti akan mengkhawatirkanku dan menanyakan banyak hal padaku!" batin Nerissa dalam hati.
Nerissa kemudian membuka matanya dan membawa pandangannya pada Alvin. Untuk beberapa saat Nerissa hanya diam memperhatikan Alvin dari samping.
"Ada apa Nerissa? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Alvin yang merasa Nerissa tengah memperhatikannya saat itu.
"Mmmmm.... sepertinya aku tidak bisa pulang sekarang Alvin," jawab Nerissa.
"Kenapa? bukankah kau harus segera beristirahat?" tanya Alvin.
"Iya, aku memang sangat ingin beristirahat tetapi aku tidak bisa menemui Marin dengan keadaan seperti ini, dia pasti akan mengkhawatirkanku dan bisa jadi dia akan melarangku untuk berlibur lagi denganmu jika aku pulang dalam keadaan seperti ini," jawab Nerissa menjelaskan.
"Kau benar, kalau begitu apa kau mau pulang ke rumahku? kau bisa beristirahat di rumahku," ucap Alvin pada Nerissa.
"Tidak Alvin, aku terlalu merepotkanmu, aku bisa pergi ke penginapan untuk sementara waktu!" balas Nerissa menolak.
"Siapa yang akan menjagamu disana Nerissa? aku tidak akan membiarkanmu sendirian dalam keadaan seperti ini jadi lebih baik kau beristirahat di rumahku!"
"Tapi....."
"Kalau kau menolak kau hanya akan membuatku semakin mengkhawatirkanmu Nerissa!" ucap Alvin memotong ucapan Nerissa.
"Baiklah kalau begitu, aku akan beristirahat di rumahmu," balas Nerissa menyerah.
"Aku akan meminta bi Sita untuk menyiapkan kamarmu!" ucap Alvin.
"Terima kasih Alvin, maaf aku sudah mengacaukan liburan kita!"
Setelah beberapa lama dalam perjalanan Alvinpun sampai di rumahnya. Ia membantu Nerissa turun dari mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Saat akan mengantar Nerissa ke lantai dua, tiba-tiba bi Sita keluar dari kamar atas dan memberitahu Alvin jika kamar yang akan Nerissa tempati masih belum selesai ia rapikan.
"Maaf tuan bibi belum selesai membereskan kamar untuk non Nerissa, tapi sebentar lagi akan selesai!" ucap bi Sita pada Alvin.
"Bibi lanjutkan saja, Nerissa akan beristirahat di kamar Alvin dulu!" balas Alvin kemudian membawa Nerissa ke kamarnya.
Tiba-tiba Nerissa menghentikan langkahnya di depan kamar Alvin, ia ragu untuk masuk dan beristirahat di kamar Alvin.
"Aku bisa istirahat di ruang tamu atau di ruang tengah Alvin!" ucap Nerissa pada Alvin.
"Kau tidak akan nyaman jika tidak beristirahat di ranjang Nerissa!" balas Alvin.
"Bagaimana denganmu? kau juga harus beristirahat bukan?"
"Aku bisa menggunakan kamar atas setelah bibi selesai membereskannya," jawab Alvin.
"Kalau begitu aku akan menunggu bibi membereskan kamar atas dan akan beristirahat disana!" ucap Nerissa yang masih enggan untuk masuk ke kamar Alvin.
"Kau harus segera beristirahat Nerissa, apa kau tidak nyaman beristirahat di kamarku?"
"Aku..... aku tidak ingin kau marah padaku saat aku tidak sengaja menyentuh barang milikmu," jawab Nerissa karena ia tahu pasti bagaimana Alvin sangat tidak suka jika seseorang menyentuh barang miliknya.
"Aku tidak akan marah padamu Nerissa, jadi jangan banyak beralasan, masuklah dan beristirahatlah," ucap Alvin sambil membuka pintu kamarnya dan menarik tangan Nerissa agar ikut masuk bersamanya.
Nerissapun mengikuti langkah Alvin dan duduk di tepi ranjang Alvin.
"Beristirahatlah dengan tenang, tidak akan ada yang mengganggumu disini," ucap Alvin kemudian keluar dari kamarnya.
Alvin menutup pintu kamarnya kemudian merebahkan badannya di sofa yang ada di ruang tengah.
Alvin mengambil ponsel di saku celananya dan melihat beberapa foto Nerissa yang diambilnya diam-diam saat mereka berada di taman bermain.
"Cantik sekali," ucap Alvin dengan tersenyum saat melihat beberapa foto Nerissa di ponselnya.
Alvin kemudian menghubungi Marin untuk memberitahu Marin jika kemungkinan Nerissa akan pulang terlambat.
"Tidak masalah, asalkan kau bisa menjaganya dengan baik, aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada Putri!" ucap Marin pada Alvin.
"Aku akan menjaganya dengan baik Marin, percaya saja padaku!" balas Alvin.
Panggilan berakhir, Alvin menaruh ponselnya di meja lalu memejamkan matanya.
Waktupun berlalu, Nerissa yang sudah cukup beristirahatpun bangun dari tidurnya. Nerissa melihat ke sekelilingnya dan menyadari jika ia masih berada di kamar Alvin.
"Dia benar-benar laki-laki yang rapi!" ucap Nerissa kemudian beranjak dari ranjang dan berdiri di hadapan cermin besar.
"Wajahku sudah tidak sepucat tadi, aku harus keluar sekarang!" ucap Nerissa sambil merapikan rambutnya kemudian keluar dari kamar Alvin.
Nerissa membawa pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan bi Sita ataupun Alvin.
"Apa Alvin masih beristirahat di kamar atas?" tanya Nerissa sambil berjalan ke arah tangga namun ia menghentikan langkahnya saat ia melihat Alvin yang tertidur di sofa yang ada di ruang tengah.
Nerissa kemudian membawa langkahnya menghampiri Alvin yang tampak terlelap saat itu.
"Kenapa dia tidur disini? pasti rasanya sangat tidak nyaman tidur di tempat yang sempit seperti ini!" ucap Nerissa sambil menatap wajah tampan di hadapannya.
Tiba-tiba kedua mata Alvin tampak bergerak dan mengerjap. Dalam hitungan detik Alvin membuka matanya membuat Nerissa begitu terkejut dan segera mengalihkan pandangannya dari Alvin.
"Kau sudah bangun Nerissa? bagaimana keadaanmu?" tanya Alvin sambil beranjak dari tidurnya.
"Aku...... aku sudah baik-baik saja, maaf sudah membuatmu terbangun, aku tidak bermaksud membangunkanmu!" ucap Nerissa.
"Aku tidak sedang tidur Nerissa, hanya memejamkan mata saja," ucap Alvin.
"Pasti karena kau tidak nyaman tidur disini bukan? seharusnya kau tidur di kamarmu Alvin!"
"Tidur di kamarku bersamamu?" tanya Alvin yang membuat Nerissa terkejut.
"Maksudku kau tidur di kamarmu dan aku tidur di kamar atas, lagi pula kau bisa tidur di kamar atas jika aku tidur di kamarmu, tapi kau malah memilih tidur disini, memang kau sendiri yang menyulitkan dirimu!" ucap Nerissa berbicara panjang berusaha menghilangkan kegugupannya karena pertanyaan Alvin.
"Hahaha..... kau lucu sekali Nerissa, lihatlah kedua pipimu tampak merah!" ucap Alvin yang tampak senang melihat kegugupan Nerissa saat itu.
Nerissa hanya diam dengan mengalihkan pandangannya dan menutup pipinya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar malu saat itu.
"Aku senang kau sudah baik-baik saja Nerissa, wajah pucatmu membuatku sangat khawatir!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Terima kasih karena sudah membiarkanku beristirahat di sini Alvin!"
Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Permisi tuan, bibi baru saja membuat bubur untuk Tuan Alvin dan non Nerissa!" ucap bi Sita yang menghampiri Nerissa dan Alvin.
"Benarkah? tolong bawa kesini Bi, Nerissa pasti akan menyukainya!"
Bi Sita menganggukkan kepalanya kemudian kembali ke dapur dan tak lama kemudian menghampiri Alvin dengan membawa nampan yang berisi dua mangkok bubur.
"Semoga cocok dengan lidah non Nerissa!" ucap bi Sita kemudian meninggalkan Alvin dan Nerissa.
Nerissa hanya diam melihat bubur di hadapannya. Sebelumnya ia tidak pernah melihat secara langsung apalagi memakan makanan seperti itu selama ia berada di daratan.
"Cobalah Nerissa, kau pasti menyukainya!" ucap Alvin sambil memberikan satu mangkok bubur pada Nerissa.
"Bau apa yang ada di bubur ini Alvin? aku tidak pernah mencium bau seperti ini sebelumnya!" tanya nerisa sambil mengaduk-ngaduk bubur di hadapannya.
"Ini adalah bau jahe Nerissa, bibi sering membuatkanku bubur ini jika aku sedang kelelahan ataupun stres karena pekerjaan kantor!" jawab Alvin.
"Ini bau yang aneh untukku Alvin," ucap Nerissa yang seperti enggan untuk memakan bubur di hadapannya.
"Aku sudah menduga kau pasti belum pernah mencobanya sebelumnya, tapi cobalah sedikit Nerissa, kau akan bisa menilai bagaimana rasanya setelah kau mencobanya!" ucap Alvin.
Dengan ragu Nerissa menyendok bubur di hadapannya. Nerissa hanya mengambil bubur itu tepat di ujung sendoknya.
"Kau tidak akan bisa merasakan rasanya jika hanya mengambilnya terlalu sedikit seperti itu," ucap Alvin kemudian mengambil bubur miliknya sampai setengah sendok.
"Cobalah!" ucap Alvin sambil memberikan suapannya pada Nerissa.
Dengan ragu Nerissa membuka mulutnya dan menerima satu suapan bubur dari Alvin.
Saat bubur itu terasa di lidahnya, Nerissa memejamkan matanya merasakan rasa aneh yang ia rasakan saat itu.
"Jangan hanya didiamkan di lidahmu Nerissa, kunyah dan telanlah!" ucap Alvin yang melihat Nerissa enggan untuk menelan bubur di mulutnya.
Nerissapun segera menelan bubur di mulutnya dengan cepat. Nerissa menutup rapat-rapat matanya saat bubur itu masuk ke dalam perutnya.
Seketika ia berpikir jika makanan manusia sangat aneh dan ia tidak akan memakan bubur itu lagi untuk kedua kalinya.
Alvin yang melihat reaksi Nerissa hanya tertawa kecil sambil memberikan minum pada Nerissa.