
Malam yang panjang telah berlalu. Garis jingga sang mentari sudah terlukis di ujung timur langit pagi.
Di atas ranjangnya, Marin menggeliat dan mengerjapkan matanya. Ia kemudian segera keluar dari kamarnya untuk melihat Daniel yang semalam tidur di lantai.
"Dia masih di lantai, apa dia akan baik baik saja?" tanya Marin pada dirinya sendiri.
Marin kemudian berjalan ke dapur dan memasak sup ayam untuk Daniel. Saat sedang memotong sayur, ia menaruh pisau yang dipegangnya.
"Apa yang aku lakukan sekarang? kenapa aku harus peduli padanya?"
Marin kemudian berjalan keluar dari dapur, namun saat melihat Daniel yang masih terlelap, ia tiba tiba teringat ucapan Daniel padanya.
"Mama dan papa dulu saling mencintai, kita dulu keluarga yang harmonis, tapi sepertinya cinta mama dan papa sudah pudar seiring dengan berjalannya waktu, kenapa bisa seperti itu Marin? apa cinta memang bisa pudar dan hilang? apa mereka tidak bisa saling mencintai selamanya?"
Marin menghela nafasnya kemudian kembali ke dapur dan melanjutkan memasak.
"dibalik sikapnya yang menyebalkan, ternyata dia sedang menghadapi masalah hidup yang sulit," ucap Marin dalam hati.
Di sisi lain, Daniel baru saja mengerjapkan matanya. Saat tersadar jika dirinya tertidur di lantai, ia segera membawa pandangannya mengelilingi setiap sudut di sekitarnya.
"dimana aku?" tanya Daniel dalam hati.
Daniel terduduk dengan memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
"sepertinya semalam aku terlalu mabuk!"
Daniel kemudian memfokuskan matanya pada sebuah bunga yang ada di sudut ruangan. Matanya kembali mengelilingi sekitarnya dengan kesadaran penuh dan saat itu juga ia sadar dimana dia berada.
"bunga bunga ini? apa aku berada di rumah Marin? kenapa bisa?"
Saat mendengar langkah kaki, Daniel segera kembali berbaring dan memejamkan matanya, berpura pura tidur.
Daniel membuka sedikit matanya dan melihat Marin yang sedang berjalan ke arah kamar dan tak lama kemudian keluar lagi menuju ke dapur.
"apa yang terjadi semalam? kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali? aku rasa aku tidak terlalu mabuk, aku masih bisa mengendarai mobilku dan...... dan aku bertemu Marin.... lalu....."
KLONTAANG!!!!!
"Aaaahhhh..... panaaasss panasss!!!" teriak Marin dari dalam dapur.
Daniel yang mendengar hal itu segera bangun dan beranjak menghampiri Marin di dapur.
Dilihatnya Marin yang sedang berdiri dengan memegangi tangannya yang tampak memerah dan lantai yang sudah basah oleh air panas.
Daniel segera meraih tangan Marin dan mengguyurnya di bawah air yang mengalir.
"Apa kau terluka?" tanya Daniel.
Marin hanya menggelengkan kepalanya karena terkejut dengan kedatangan Daniel yang tiba tiba.
Marin kemudian menarik tangannya dari Daniel dan membasuh tangannya sendiri.
"Tunggulah di depan, aku akan membawakanmu sup ayam!" ucap Marin pada Daniel.
"Aku akan membantumu mem....."
"Tunggu saja di depan!" ucap Marin memotong ucapan Daniel.
"Baiklah," balas Daniel pasrah.
Daniel berjalan keluar dari dapur. Ia duduk di ruang tamu setelah merapikan selimut yang semalam ia pakai.
"apa dia masih marah padaku? aaahhh kau bodoh sekali Daniel, tentu saja dia marah, kau sudah menyakiti perasaannya dengan ucapanmu yang kasar!" batin Daniel dalam hati sambil memijit kepalanya yang masih terasa pusing.
Tak lama kemudian Marin datang dengan membawa satu mangkok sup ayam yang masih tampak panas.
"Makanlah, ini akan menghangatkanmu!" ucap Marin.
Daniel hanya diam dengan menatap Marin di hadapannya. Selain karena merasa bersalah pada Marin, ia juga berusaha mengingat kejadian semalam yang membuatnya bisa berada di rumah Marin pagi itu.
"Aku akan pergi jika kau merasa terganggu denganku!" ucap Marin beranjak dari duduknya, namun Daniel segera menahannya.
"Duduklah, aku tidak ingin makan sendiri!" ucap Daniel.
Marin menarik tangannya kemudian kembali duduk. Danielpun segera menggeser mangkok sup yang ada di meja dan mulai menikmatinya.
"Mobilmu ada di depan, kau bisa segera pulang setelah menghabiskan makananmu!" ucap Marin.
"mobil? aku mengendarai mobilku, aku bertemu Marin..... aku..... aaahh iya... Marin membawaku naik taksi lalu....."
Tiba tiba Daniel tersedak, memorinya mulai mengulas kembali kejadian semalam dengan runtut.
Ia tidak menyangka ia sudah menceritakan masalah pribadinya pada Marin tanpa ia sadar. Selama ini ia hanya menceritakan masalah keluarganya pada Alvin dan dengan bodohnya ia menceritakan semuanya pada Marin.
Marin yang melihat Daniel tersedak segera mengambilkan Daniel air minum.
"Marin, apa semalam aku melakukan sesuatu yang buruk padamu?" tanya Daniel pada Marin untuk memastikan ingatannya.
"Tidak, apa kau tidak mengingat kejadian semalam?"
"Mmmm... tidak, aku hanya ingat saat aku bertemu denganmu di pinggir jalan, setelah itu.... aku tidak ingat apapun lagi," jawab Daniel berbohong.
"Aku sengaja membawamu kesini karena kau tidak memberi tahuku alamat rumahmu, setelah itu kau tidur di lantai sampai pagi," ucap Marin menjelaskan.
"Apa aku membicarakan sesuatu padamu?" tanya Daniel.
"Tidak, kau langsung tertidur setelah sampai disini," jawab Marin berbohong.
Marin berpikir jika apa yang Daniel ceritakan padanya adalah masalah pribadinya yang tanpa sadar keluar begitu saja dari mulutnya akibat pengaruh alkohol.
Marin tidak ingin Daniel merasa malu karena sudah menceritakan masalah pribadi padanya, apa lagi setelah pertengkaran mereka yang belum lama terjadi.
Daniel mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban Marin, meski ia tau jika Marin berbohong padanya.
"aku selalu ingat apa yang terjadi saat aku mabuk walaupun aku melakukan semuanya tanpa kesadaran penuh," batin Daniel dalam hati.
"Pulanglah, aku harus segera membuka toko bungaku!" ucap Marin pada Daniel setelah Daniel menghabiskan sup ayamnya.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Daniel.
Marin hanya diam, tak menjawab. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah toko bunganya.
Daniel segera mengejar Marin dan menahannya.
"Maafkan aku Marin," ucap Daniel, namun Marin hanya diam.
"Maaf atas sikapku yang sudah keterlaluan padamu, aku menyesal Marin, aku benar benar minta maaf, aku mohon maafkan aku!" ucap Daniel memohon.
"Pergilah Daniel, aku tidak akan mengganggumu lagi, aku akan melupakan janjimu dan semua tentangmu, jadi sekarang pergilah!" ucap Marin dengan menarik tangannya dari Daniel.
Marin berjalan cepat ke arah toko bunganya dan menutup pintunya agar Daniel tidak mengikutinya.
Daniel menghela nafasnya kemudian berjalan keluar dari rumah Marin. Saat Daniel baru saja keluar, sebuah mobil berhenti di depannya.
Daniel mengentikan langkahnya karena ia tau siapa pemilik mobil itu. Benar saja, tak lama setelah mobil itu berhenti, Alvin dan Nerissa keluar dari dalam mobil.
"Kenapa kalian bisa bersama sepagi ini?" tanya Daniel pada Alvin dan Nerissa.
"Dia menginap di rumahku," jawab Alvin.
"Menginap? kenapa....."
"Marin!" panggil Nerissa saat ia melihat Marin yang baru saja membuka toko bunga.
"Putri!" balas Marin sambil melambaikan tangannya pada Nerissa.
Nerissa kemudian berjalan menghampiri Marin, meninggalkan Alvin dan Daniel.
"Aku tau kau sedang bersama Marin semalam, aku sengaja membiarkan kalian berdua menyelesaikan masalah kalian, jadi aku meminta Nerissa untuk bermalam di rumahku," jawab Alvin menjelaskan.
"Apa kau tau apa yang terjadi semalam?" tanya Daniel pada Alvin.
"Tidak, apa semuanya berjalan dengan baik? apa kalian sudah berbaikan?"
Daniel menggelengkan kepalanya lemah, saat Daniel akan berjalan ke arah mobilnya, Nerissa memanggilnya.
"Daniel!" panggil Nerissa sambil berlari kecil ke arah Daniel.
"Ini kunci mobilmu dan ini uang milikmu, Marin yang memberikannya padaku!" ucap Nerissa sambil memberikan kunci mobil dan beberapa lembar uang pada Daniel.
Daniel menghela nafasnya lalu menerima kunci mobil dan uang yang Nerissa berikan.
"Aku bisa meminta bantuanmu Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Tentu saja, apa yang bisa aku bantu?"
"Sebenarnya ada kesalahpahaman diantara aku dan Marin, aku ingin segera meluruskan kesalahpahaman ini, jadi apa kau bisa membiarkan aku berdua dengan Marin hari ini?"
Nerissa kemudian membawa pandangannya pada Alvin, seolah meminta pendapat Alvin.
"Alvin, apa kau bisa meluangkan waktumu untuk menemani Nerissa?" tanya Daniel pada Alvin.
"Tentu saja, kebetulan aku sedang senggang hari ini," jawab Alvin.
"Kalau begitu aku akan pergi bersama Alvin, tapi aku harus memberi tahu Marin dulu jika aku tidak bisa membantunya hari ini," ucap Nerissa.
Nerissa kemudian kembali menghampiri Marin di toko bunga.
"Marin, banyak yang ingin aku tanyakan padamu, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat," ucap Nerissa pada Marin.
"Kenapa?" tanya Marin.
"Aku harus kembali ke rumah Alvin, aku...."
"Pergilah Putri, aku sangat senang jika kau menghabiskan waktumu bersama Alvin, semakin kau sering bersamanya dia akan semakin cepat mengingatmu," ucap Marin dengan senyum cerianya seperti biasa.
"Kau memang selalu mengerti aku Marin, tapi apa kau sudah menemukan penggantiku yang akan membantumu hari ini?"
"Aku akan mewawancarai beberapa orang nanti, jadi pasti ada salah satu dari mereka yang akan lolos untuk menggantikanmu disini, pergilah Putri, jangan mengkhawatirkanku!"
"Baiklah, semoga harimu menyenangkan Marin!" ucap Nerissa sambil melambaikan tangannya.
"Kau juga Putri, semoga Alvin cepat mengingatmu," balas Marin sambil membalas lambaian tangan Nerissa.
Nerissa berjalan ke arah Alvin dan Daniel. Ia membiarkan Daniel menyelesaikan masalahnya dengan Marin walaupun ia tidak tau pasti apa masalah mereka sebenarnya.
Alvin kemudian membawa Nerissa kembali ke rumahnya.
"Apa kita akan kembali ke rumahmu?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Iya, apa ada tempat lain yang ingin kau datangi?" jawab Alvin sekaligus bertanya.
Nerissa menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. Selama ia berada di daratan, tidak banyak tempat yang ia kunjungi.
Pernah suatu kali saat ia menonton tv bersama Marin, ia melihat acara tv yang dilakukan di sebuah taman bermain.
Semua orang disana tampak bersenang senang dan banyak permainan yang bisa dimainkan, mulai dari anak anak sampai orang dewasa.
Saat melihat acara itu, ia mengatakan pada Marin bahwa sangat ingin pergi kesana.
Sesampainya di rumah Alvin, Alvin meminta Nerissa untuk masuk ke kamarnya. Alvin kemudian membuka salah satu pintu lemarinya yang berisi banyak pakaian perempuan.
"Ini pakaian perempuan?" tanya Nerissa.
"Iya, ini semua milik mama, aku sengaja menyimpannya, aku pikir mungkin ukuran pakaianmu tidak jauh berbeda dengan mama," jawab Alvin sambil memilih pakaian milik sang mama.
"Apa maksudmu?"
"Kau belum berganti pakaian dari semalam, kau juga tidak sempat berganti pakaian di rumahmu, jadi untuk sementara pakai pakaian milik mama!"
"Tidak, tidak perlu, aku bisa memakai pakaian ini seharian," ucap Nerissa menolak.
"Kenapa? apa pakaian mama tidak cocok untukmu?"
"Bukan seperti itu, hanya saja.... aku.... aku merasa tidak sopan jika harus mengenakan pakaian milik mamamu!" jawab Nerissa.
"Kau akan lebih tidak sopan jika menolaknya, ini pakailah, aku akan menunggumu di depan!" ucap Alvin sambil memberikan sebuah mini dress dengan motif bunga bunga kecil.
Setelah Alvin keluar dari kamar, Nerissapun mengenakan pakaian yang baru saja Alvin berikan padanya dan memasukkan pakaian lamanya ke dalam tas.
Nerissa kemudian merapikan rambutnya sebelum ia keluar dari kamar Alvin.
Alvin yang menunggu di luar dibuat takjub dengan apa yang dilihatnya saat itu. Nerissa yang baru saja membuka pintu terlihat begitu cantik dengan pakaian sederhana milik sang mama.
Rambut coklat terangnya yang panjang dibiarkan tergerai menambah kecantikan natural yang dimiliknya.
Untuk beberapa saat Alvin hanya diam tanpa berkedip melihat Nerissa yang berjalan pelan ke arahnya.
"Apa ini terlihat cocok untukku?" tanya Nerissa dengan memutar badannya pelan di depan Alvin.
Alvin menganggukkan kepalanya pelan dengan tetap menatap Nerissa tanpa berkedip.
"benar benar seperti bidadari," batin Alvin dalam hati.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? apa kita akan berdiam diri disini seharian?" tanya Nerissa membuyarkan lamunan Alvin.
"Tentu saja tidak, ayo!" jawab Alvin sambil menggandeng tangan Nerissa, mengajaknya keluar dari rumah.
Alvin membukakan pintu mobilnya untuk Nerissa, kemudian berlari kecil ke arah balik kemudi.
"Aku akan membawamu bersenang senang hari ini," ucap Alvin pada Nerissa.
"Benarkah? kemana kita akan pergi?" tanya Nerissa penuh semangat.
"Kau akan tau nanti," ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.
Karena terlalu lama berada dalam perjalanan, Nerissapun tertidur. Sesekali Alvin membawa pandangannya pada Nerissa yang tampak terlelap.
"apa aku harus jujur padamu kalau aku memang masih mengenalmu? itu artinya aku juga harus jujur pada Daniel kalau dari awal aku sudah berbohong padanya, tapi.... apa semuanya akan baik baik saja?" batin Alvin bertanya tanya.
Tak lama kemudian merekapun sampai. Alvin menyentuh pelan tangan Nerissa, untuk membangunkan Nerissa.
Namun satu sentuhannya yang sangat pelan membuat Nerissa segera terbangun dari tidurnya.
"Aaahh aku tertidur, maafkan aku," ucap Nerissa yang merasa bersalah pada Alvin.
"Kita sudah sampai," ucap Alvin pada Nerissa.
"Benarkah? tempat apa ini?" tanya Nerissa sambil memperhatikan bangunan di hadapannya.
Alvin kemudian keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu mobilnya untuk Nerissa.
"ada apa dengannya? kenapa sikapnya manis sekali?" tanya Nerissa dalam hati.
Setelah keluar dari tempat parkir, mereka berjalan memasuki pintu masuk yang kanan dan kirinya terdapat patung mermaid yang cantik.
"tempat apa ini? kenapa ada patung mermaid?" batin Nerissa bertanya tanya.
"Kau pasti akan menyukainya!" ucap Alvin pada Nerissa.
Nerissa hanya tersenyum tipis karena ia belum tau tempat apa yang sedang ia datangi saat itu.
Setelah membayar 2 tiket, Alvin mengajak Nerissa untuk masuk ke dalam gedung yang sudah ramai pengunjung.