
Dua pasang mata saling menatap dalam diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya Marin tersadar dan segera beranjak lalu merebut ponselnya dari tangan Daniel.
Daniel kemudian ikut berdiri dan sedikit canggung karena apa yang baru saja terjadi.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang!" ucap Daniel pada Marin.
Marin hanya menganggukkan kepalanya tanpa membawa pandangannya pada Daniel. Dengan langkah yang ragu Daniel perlahan keluar dari toko bunga Marin.
Daniel akhirnya benar benar keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
"Mungkin aku memang harus pergi dulu, besok aku akan kembali lagi," ucap Daniel pada dirinya sendiri sambil menyalakan mesin mobilnya.
Daniel mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Daniel melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di garasi.
Saat baru saja membuka pintu, ia melihat papanya yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita.
Daniel tersenyum tipis lalu menghampiri sang papa.
"Apa papa sudah menjemput mama?" tanya Daniel pada sang papa.
"Masuklah, papa akan berbicara padamu nanti," ucap sang papa tanpa menjawab pertanyaan Daniel.
"Mama pasti sangat merindukan papa, papa....."
"Daniel! masuklah! papa sedang membicarakan masalah penting dengan klien papa!" ucap sang papa memotong ucapan Daniel dengan suara tinggi.
"Apa klien papa lebih penting daripada mama? apa perusahaan lebih penting daripada keluarga?"
"Hentikan Daniel!" ucap sang papa sambil menarik tangan Daniel dengan kasar dan membawanya naik ke lantai dua.
Di depan kamarnya, Daniel menarik tangannya dengan kasar dari cengkeraman sang papa.
"Apa dia yang sering menemani papa keluar kota? apa dia perempuan yang membuat papa melupakan mama?" tanya Daniel dengan suara bergetar.
"Jaga ucapanmu Daniel, dia klien papa dari perusahaan X, dia sudah banyak membantu perusahaan papa, dia yang......"
"Berhenti bicara tentang perusahaan pa, tolong sekali ini saja pikirkan tentang keluarga kita, tentang mama dan juga Daniel!" ucap Daniel memotong ucapan sang papa.
"Papa berkerja untukmu dan juga mamamu Daniel, papa bekerja keras untuk kalian, tapi kalau kalian tidak bisa menghargai usaha papa itu terserah kalian, papa tidak mungkin membiarkan perusahaan yang sudah papa bangun dari nol runtuh begitu saja!"
"Tapi bukan berarti papa harus menyia-nyiakan keluarga papa, mama juga butuh papa dan Daniel yakin papa juga membutuhkan mama, kalian dulu saling mencintai, kalian...."
"Waktu merubah segalanya Daniel, tidak akan ada cinta yang abadi di dunia ini, semuanya akan berubah seiring dengan berjalannya waktu, bukan hanya papa yang berubah, tapi mamamu juga, dia tidak pernah mendukung dan mengerti kesibukan papa lagi sekarang!"
"Itu karena papa terlalu sibuk dengan perusahaan dan mengabaikan mama!" ucap Daniel lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan kencang.
Daniel merebahkan badannya di ranjang, matanya menatap foto keluarga yang tergantung di dinding kamarnya.
"Dulu kita sangat bahagia ma pa, dulu tidak pernah ada kesedihan dari raut wajah mama, tapi sekarang, Daniel bahkan tidak pernah melihat mama tersenyum bahagia seperti dulu," ucap Daniel penuh kesedihan.
Daniel kemudian mengambil ponsel di saku celananya untuk menghubungi sang mama.
"Halo, bagiamana keadaan mama?" tanya Daniel saat sang mama sudah menerima panggilannya.
"Mama baik baik saja Daniel, bagiamana denganmu? apa pekerjaanmu lancar?"
"Daniel baik baik saja ma, semuanya berjalan lancar," jawab Daniel.
"Dimana kau sekarang? apa papamu sedang ada di rumah?" tanya sang mama.
"Daniel di rumah ma, papa.... papa ada di rumah, sedang membicarakan masalah kantor dengan kliennya," jawab Daniel.
"Apa kau mengenal klien papamu?" tanya sang mama penasaran.
"Tidak, tapi papa bilang dia klien dari perusahaan X," jawab Daniel.
"Dia lagi," ucap sang mama pelan.
"Apa mama mengenalnya?" tanya Daniel.
"Tidak, kau pergilah berlibur Daniel, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu!"
"Kapan mama akan pulang? Daniel ingin berlibur bersama mama!"
"Mama akan mengabarimu jika mama sudah siap untuk pulang," jawab sang mama.
Setelah panggilan berakhir, Daniel menaruh ponselnya dan memejamkan matanya.
**
Di tempat lain, Alvin dan Nerissa masih berkeliling di jalan raya kota. Nerissa tidak berhenti berdecak kagum melihat bangunan besar di setiap jalan yang ia lewati.
"Lihatlah, itu seperti gedung tempatmu bekerja!" ucap Nerissa pada Alvin.
"Hahaha.... sudah berkali kali kau mengucapkan hal yang sama Nerissa!" balas Alvin yang membuat Nerissa tersenyum malu.
Bagi Nerissa gedung gedung besar itu mirip dengan gedung tempat Alvin bekerja, Atlanta Grup.
"Kau hebat Alvin, kau bisa bekerja di gedung besar seperti itu, disana pasti juga banyak orang orang hebat sepertimu!" ucap Nerissa.
"Kau benar, disana memang banyak orang orang hebat, tapi tidak sedikit dari mereka yang menyalahgunakan kehebatan mereka," balas Alvin.
"Apa mereka orang yang jahat?" tanya Nerissa.
Alvin hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.
"Apa pekerjaanmu sebelum pindah kesini Nerissa?" tanya Alvin.
"Pekerjaanku? aku..... aku.... hanya membantu Marin, dia mempunyai toko bunga di tempat lama kita dan aku membantunya," jawab Nerissa berbohong.
"Sudah berapa lama kau mengenal Marin? sepertinya kalian sangat dekat!"
"Kita memang sudah saling mengenal dari kecil, dari semua temanku dia yang paling dekat denganku," jawab Nerissa.
"Sepertinya dia teman yang baik," ucap Alvin.
"Iya, dia memang sangat baik, bagaimana dengan Daniel? sepertinya kalian juga sangat dekat!"
"Aku mengenalnya setelah orang tuaku meninggal, sejak aku diasuh oleh orangtua Delia, aku pindah sekolah dan disana aku mengenal Daniel," jawab Alvin.
"Apa kalian dekat sejak saat itu?" tanya Nerissa.
"Tidak, setelah orangtuaku meninggal, aku menjadi sangat pendiam dan jarang bergaul, Daniel selalu mendekatiku tapi aku selalu menghindar darinya, tapi seperti yang kau tau dia memang tidak mudah menyerah, pada akhirnya kita menjadi teman baik sampai sekarang," jawab Alvin menjelaskan.
"Dia memang laki laki yang baik dan menyenangkan, semua orang akan senang berada di dekatnya," ucap Nerissa.
"Termasuk dirimu?" tanya Alvin.
"Tentu saja, Daniel yang membantuku saat aku pertama kali datang kesini, dia sama sekali tidak ragu untuk membantuku walaupun dia belum mengenalku, dia juga selalu membuatku tertawa, dia memang laki laki yang menyenangkan!" jawab Nerissa dengan tertawa kecil mengingat Daniel.
"Kau menyukainya?" tanya Alvin yang membuat Nerissa terdiam seketika.
Nerissa membawa pandangannya pada Alvin dan saat itu juga Alvin sedang menatap Nerissa ketika lampu lalu lintas menyala merah.
Tiiiiiiinn...... tiiiiiinnn...... tiiiiinnnn.....
Suara klakson membuat Alvin dan Nerissa sama sama terkejut. Untuk beberapa saat mereka saling menatap dalam diam membuat Alvin tidak sadar jika lampu lalu lintas sudah menyala hijau.
"Kenapa mereka berisik sekali?" tanya Nerissa.
Alvin hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.
**
Di Seabert.
Sejak kepergian Nerissa dan Marin, Ratu Nagisa selalu membuat sendiri ramuan yang sudah Marin ajarkan padanya sebelum Marin pergi.
Ramuan itu berguna untuk meningkatkan kesehatan dan juga menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh.
Ratu Nagisa memberi tahu Cadassi jika ia menugaskan Nerissa dan Marin untuk menjaga wilayah lain di luar istana.
"Tolong beri tahu pada saya dimana Marin ditugaskan Ratu, saya hanya ingin memastikan jika dirinya baik baik saja!" ucap Cadassi pada Ratu.
"Seperti yang sudah aku katakan padamu sebelumnya Cadassi, aku tidak bisa memberi tahumu dimana Marin dan Nerissa berada karena itu permintaan Marin sendiri," balas sang Ratu.
"Saya adalah ayahnya, saya berhak untuk mengetahui dimana anak saya tinggal Ratu, saya mohon kebijakan Ratu untuk...."
"Cadassi, aku sudah berjanji pada Marin untuk merahasiakan hal ini darimu, sebagai Ratu aku harus bisa menjaga kepercayaan rakyat terhadapku, tak terkecuali janjiku pada Marin yang harus aku tepati," ucap Ratu memotong ucapan Cadassi.
"Tapi Ratu...."
"Ini permintaan Marin sendiri Cadassi, ini syarat dari Marin agar ia menerima tugas yang aku berikan padanya jadi tidak ada alasan bagiku untuk memberi tahu dirimu!" ucap Ratu dengan tegas.
"Baik Ratu, saya permisi," ucap Cadassi kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Ratu.
Cadassi keluar dari istana dan pergi untuk menemui pangeran Merville. Seperti biasa mereka bertemu diam diam di tempat yang sepi.
Sejak kepergian Nerissa yang tiba tiba, Cadassi dan Pangeran Merville hanya bisa menunggu sampai penugasan Nerissa selesai.
Mereka tidak menyadari jika Ratu Nagisa sudah mengetahui kebusukan mereka dan berencana untuk menggagalkan rencana mereka.
"Maafkan aku pangeran, aku belum mendapatkan informasi apapun tentang Putri Nerissa, Ratu bahkan masih merahasiakan tempat penugasan Putri walaupun aku menggunakan Marin sebagai alasan," ucap Cadassi pada Pangeran Merville.
"Kemana sebenernya mereka ditugaskan? kenapa lama sekali?"
"Bersabarlah pangeran, masa penugasan hanya berlangsung 3 bulan, setelah itu kita bisa melancarkan rencana yang sudah kita siapkan dengan baik," ucap Cadassi.
"Bagaimana kalau mereka belum kembali setelah 3 bulan?" tanya pangeran Merville.
"Itu berarti Ratu sudah menyalahi aturan istana, Ratu Nagisa tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu Pangeran, apa lagi sudah tidak ada Raja yang membelanya sekarang," jawab Cadassi.
"Baiklah aku akan menunggu sampai 3 bulan, lalu bagiamana dengan Ratu? apa Ratu masih meminum ramuan yang kau buat?"
"Tentu saja, aku selalu membuatkan ramuan itu setiap hari," jawab Cadassi.
"Baiklah, kau harus pastikan agar Ratu semakin lemah, agar Ratu tidak mempunyai cukup kekuatan untuk memperhatikan Seabert dengan baik," ucap Pangeran Merville lalu pergi meninggalkan Cadassi.
Cadassi kemudian pulang ke rumahnya. Ia memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya selama beberapa hari.
Beberapa kali ia mendapat laporan bahwa Ratu keluar dari istana untuk melihat keadaan Seabert secara keseluruhan.
Ia sengaja tidak memberi tahu pangeran Merville tentang hal itu sebelum ia memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
"apa ada yang salah? kenapa Ratu terlihat sehat dan bugar akhir akhir ini? bukankah seharusnya Ratu semakin lemah karena ramuan yang aku berikan? apa Ratu tidak meminumnya? apa....."
BRAAAAAKKKKK
Suara gebrakan pintu membuat Cadassi begitu terkejut.
"Apa yang kau lakukan Chubasca?"
"Hahaha.... maaf ayah, aku pikir ayah sedang ada di istana!" balas Chubasca tanpa rasa bersalah.
"Kenakalan apa lagi yang kau lakukan kali ini? apa kau ingin kembali lagi ke tempat isolasi?"
"Tentu saja tidak, aku hanya sangat bosan ayah, tidak ada Marin yang bisa aku ganggu dan tidak ada Putri Nerissa yang bisa menyegarkan mataku," jawab Chubasca.
"Tentang kepergian Putri dan Marin, apa kau tau sesuatu? apa Putri Nerissa atau Marin mengatakan sesuatu padamu sebelum mereka pergi?" tanya Cadassi.
"Tidak, mereka tidak mengatakan apapun, mereka bahkan bertengkar sebelum mereka pergi," jawab Chubasca.
"Bertengkar? bertengkar karena apa?"
"Entahlah, perempuan memang sulit dimengerti," jawab Chubasca.
"Saat Marin kembali nanti, kau harus ubah sikapmu, kau harus menjadi kakak yang baik untuknya Chubasca!" ucap Cadassi.
"Kenapa? dia bahkan bukan adik yang baik buatku!"
"Kalian bersaudara, tentu kalian harus menjaga hubungan baik kalian, kalian harus saling berbagi cerita sebagai sebagai saudara," ucap Cadassi.
"Ayah saja yang melakukannya, aku tidak mau," balas Chubasca lalu kembali keluar dari rumah dan pergi begitu saja.
Chubasca berenang ke arah Orton dimana dia bertemu banyak mermaid lain. Ia ingin menghilangkan pikirannya yang dipenuhi banyak pertanyaan sejak ia keluar dari ruang isolasi.
"kenapa ayah sangat ingin mengetahui keberadaan Marin dan Putri? bukankah Ratu sudah memberi tahu ayah jika Marin dan Putri Nerissa ditugaskan keluar istana, kenapa ayah begitu khawatir? bukankah itu hal yang biasa? dan Marin, kenapa dia tidak ingin ayah tau kemana dia ditugaskan? kenapa dia merahasiakannya dari ayah? bukankah selama ini dia sangat dekat dengan ayah dan selalu berbagi cerita pada ayah? ada apa sebenarnya? apa yang tidak aku ketahui?" batin Chubasca bertanya tanya.
**
Di daratan.
Alvin mengantarkan Nerissa kembali pulang ke rumah Marin. Mereka berdua turun dari mobil setelah mereka sampai.
"Aku akan mencucinya sebelum mengembalikannya padamu," ucap Nerissa sambil memegang pakaiannya.
"Aku rasa itu sangat cocok untukmu, kau bisa memilikinya," balas Alvin.
"Kau serius? bukankah ini salah satu peninggalan dari mamamu?"
"Aku sudah menyimpan banyak pakaian mama dan papa, jadi tidak masalah jika aku memberikannya satu padamu," jawab Alvin.
"Tapi...."
"Terima lah, aku yakin mama tidak akan keberatan," ucap Alvin memotong ucapan Nerissa.
"Baiklah, jika kau memaksa, aku akan menerima pakaian ini, terima kasih Alvin," ucap Nerissa dengan tersenyum senang.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Terima kasih juga karena telah membawaku ke banyak tempat yang menyenangkan hari ini," ucap Nerissa.
"Aku akan mengajakmu lagi lain kali, masuklah dan beristirahatlah!"
Nerissa menganggukan kepalanya kemudian berbalik dan berjalan masuk ke arah pintu rumah.
Nerissa melambaikan tangannya pada Alvin sebelum ia membuka pintu. Setelah memastikan Alvin pergi, Nerissa menutup pintu dan berlari kecil menghampiri Marin.
"Waaahhh waaahhh waaahhh sepertinya ada yang sedang bahagia sekarang!" ucap Marin sambil membuat buket bunga.
"Apa kau juga sedang bahagia?" tanya Nerissa pada Marin.
"Tentu saja, aku selalu bahagia dengan hidupku, kau tau itu!" balas Marin.
"Bagiamana dengan Daniel?" tanya Nerissa.
Marin hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.
"Jangan berbohong pada dirimu sendiri Marin, kau tau dia laki laki yang baik," ucap Nerissa pada Marin.
Marin hanya diam, sibuk membuat buket bunga yang tampak kurang rapi karena ia sudah kehilangan fokusnya sejak Nerissa mengucapkan nama "Daniel".