
Hari telah berganti pagi pun datang. Setelah bersiap-siap, Alvin segera keluar dari rumah untuk pergi ke kantor.
Sesampainya di kantor, Alvin segera membawa langkahnya masuk ke dalam ruangannya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Alvin berdering, sebuah panggilan dari nomor yang belum disimpannya. Alvin hanya melihat layar ponselnya, ia ragu apakah ia harus menerima panggilan itu atau tidak.
Namun pada akhirnya Alvin tidak menghiraukan panggilan itu dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
Alvin mulai menghidupkan komputernya dan fokus untuk mengerjakan pekerjaannya. Beberapa kali ponselnya berdering namun tidak Alvin hiraukan sama sekali.
Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang saat Daniel masuk ke ruangan Alvin dengan membawa berkas yang baru saja dikerjakannya.
"Aku sudah menyelesaikannya, aku yakin tidak akan ada revisi lagi kali ini!" ucap Daniel sambil memberikan hasil pekerjaannya pada Alvin.
"Jangan terlalu percaya diri," balas Alvin sambil tersenyum tipis lalu memeriksa hasil pekerjaan Daniel.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Alvin kembali berdering, Alvin hanya melihatnya dan saat mengetahui nomor yang sama menghubunginya Alvin hanya mengabaikannya.
Tetapi nomor itu terus saja menghubungi Alvin sampai berkali-kali, membuat Daniel penasaran siapa yang berkali-kali menghubungi Alvin dan sama sekali tidak dijawab oleh Alvin.
"Ponselmu berisik sekali, apa kau tidak akan mengangkatnya?$
"Bukan sesuatu yang penting," jawab Alvin yang masih fokus memeriksa laporan Daniel.
"Siapa?" tanya Daniel penasaran.
"Kau terlalu banyak bertanya, fokus saja pada laporan yang kau kerjakan, masih ada beberapa yang harus kau revisi!" jawab Alvin sambil mengembalikan hasil laporan Daniel.
"Kau terlalu perfeksionis Alvin," gerutu Daniel lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Alvin.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Alvin beranjak dari duduknya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Lagi lagi sebuah nomor yang sama menghubunginya.
Alvin masih mengabaikan panggilan dari nomor itu, namun tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor itu.
Pesan yang masuk itu menunjukkan sebuah foto yang tampak seperti dipotret dari atas gedung yang tinggi.
"Sepertinya aku memang sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi disini, mungkin lebih baik aku pergi menemui mama dan papa di surga."
Setelah membaca pesan itu, Alvin segera keluar dari ruangannya dan berlari ke arah lift. Karena pintu lift tidak segera terbuka, Alvinpun berlari ke arah tangga darurat.
"Alvin!" panggil Daniel yang melihat Alvin berlari ke arah tangga darurat.
Alvin yang mendengar panggilan Daniel terus berlari tanpa menghiraukan Daniel, ia ingin segera meninggalkan kantor untuk menemui seseorang baru saja mengirim pesan padanya.
Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Amanda.
Dengan nafas yang masih terengah-engah Alvin mengendarai mobilnya meninggalkan tempat kerjanya, ia mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit untuk mencari Amanda.
Sesampainya di rumah sakit, Alvin segera membawa langkahnya ke arah ruangan Amanda dan tidak mendapati siapapun disana. Alvinpun berlari ke arah lift yang akan membawanya ke rooftop rumah sakit.
Alvin mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan mendapati Amanda yang berdiri di tepi rooftop.
Alvinpun segera berlari ke arah Amanda dan menarik tangan Amanda, membuat Amanda terjatuh bersama Alvin.
"Apa yang kau lakukan Amanda!" ucap Alvin lalu membantu Amanda untuk duduk.
Dengan balutan perban yang masih menempel di kepalanya, Amanda hanya menundukkan kepalanya sambil menangis terisak.
Alvinpun meraih Amanda, berniat untuk memeluk Amanda, namun Amanda mendorong Alvin dan segera berdiri dari duduknya.
"Pergilah Alvin, jangan memperdulikanku lagi!" ucap Amanda pada Alvin.
"Kau jangan bodoh Amanda, apa yang kau lakukan ini tidak berguna sama sekali!"
"Aku memang bodoh dan semua yang ku lakukan memang tidak berguna sama sekali, jadi lebih baik aku mengakhiri hidupku disini," balas Amanda yang berniat untuk kembali berdiri di tepi rooftop, namun Alvin menarik tangan Amanda dengan kasar.
Alvin memegang kedua bahu Amanda dan menatap Amanda yang masih tertunduk dengan terisak.
"Sadarlah Amanda, ini tidak akan menyelesaikan masalahmu!"
"Lalu apa yang harus aku lakukan Alvin? tidak ada yang peduli lagi padaku, tidak ada lagi yang mencintaiku, untuk apa lagi aku hidup, untuk siapa lagi aku bertahan menjalani takdir yang tidak aku inginkan ini!"
"Aku disini untukmu Amanda, aku disini karena aku peduli padamu, apa kau masih tidak bisa melihatku?"
Amanda hanya menangis terisak tanpa menjawab pertanyaan Alvin.
Alvinpun merengkuh Amanda ke dalam dekapannya, memeluk Amanda dengan erat, berusaha untuk menenangkan Amanda.
"Tolong jangan melakukan hal ini lagi Amanda, aku tidak ingin kau pergi untuk kedua kalinya," ucap Alvin pada Amanda.
"Aku sendirian Alvin, aku tidak mempunyai siapapun yang ada di sampingku," balas Amanda di tengah isak tangisnya.
"Aku yang akan selalu ada untukmu, jadi jangan pernah berpikir bahwa kau sendirian lagi!"
Setelah Amanda lebih tenang, Alvinpun membawa Amanda kembali ke ruangannya.
"Apa yang Dokter katakan padamu? apa kau sudah boleh pulang?" tanya Alvin saat Amanda sudah berbaring di ranjangnya.
"Dokter sudah memperbolehkanku pulang, aku juga sudah berkali-kali menghubungimu tetapi kau tidak pernah menerima panggilanku, aku berpikir mungkin kau akan menjauhiku," jawab Amanda.
"Maafkan aku, aku janji ini tidak akan terulang lagi, beristirahatlah sebentar disini, aku akan menjemputmu setelah aku pulang kerja nanti!" ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Amanda.
Setelah memastikan emosi Amanda sudah stabil, Alvinpun membawa langkahnya untuk keluar dari ruangan Amanda.
Alvin mengendarai mobilnya kembali ke kantor sebelum jam makan siangnya selesai. Sepanjang perjalanan ia memikirkan apa yang baru saja ia lakukan.
Ia sadar bahwa ia tidak sepenuhnya melupakan Amanda sebagai masa lalu yang pernah ada dalam hatinya.
Meski Amanda sudah memberikan kekecewaan yang begitu dalam padanya, pada kenyataannya ia tidak bisa membiarkan Amanda kembali pergi darinya.
Ia tidak bisa berpikir secara jernih, apakah yang ia lakukan sudah benar atau belum. Ia melakukan semuanya tanpa berpikir panjang.
Tetapi satu yang pasti ia yakini, ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Amanda. Saat Amanda sudah kembali padanya, ia seolah tidak ingin Amanda kembali pergi meninggalkannya.
Namun di sisi lain, ia juga tidak ingin mengecewakan Nerissa, gadis cantik dengan rambut coklat terang itu telah berhasil meneteskan embun pada hatinya yang sempat segersang gurun.
Alvin bimbang, apakah ia harus menyatakan perasaannya pada Nerissa atau tidak, karena ia sendiri sadar ia belum benar-benar melupakan Amanda dan masih menyimpan Amanda dalam hatinya.
Satu hal yang pasti, ia tidak ingin kedua gadis itu bersedih dan terluka karenanya.
**
Waktu berlalu, hari-haripun telah berganti, tanpa sepengetahuan siapapun Alvin dan Amanda semakin dekat, mereka sering menghabiskan waktu bersama, entah sekedar melukis bersama ataupun menonton film bersama.
Meski begitu, Alvin juga tetap membagi waktunya untuk Nerissa. Alvin sudah berjanji pada Nerissa untuk mengajak Nerissa pergi berlibur ke perkebunan teh karena Alvin tahu Nerissa sangat menyukai pemandangan alam dari ketinggian.
Pagi itu Alvin keluar dari rumahnya, ia mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa.
Nerissa yang melihat Alvin datang segera membawa langkahnya pada Alvin.
"Aku sudah melihatnya di internet, sepertinya pemandangan di perkebunan teh itu sangat cantik!" ucap Nerissa saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Alvin.
"Kau benar, aku yakin kau akan menyukainya," balas Alvin lalu mengendarai mobilnya ke arah perkebunan teh.
"Alvin, akhir-akhir ini sepertinya kau sangat sibuk, apa terjadi sesuatu di tempatmu bekerja?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Tidak, hanya saja pekerjaanku sedikit menumpuk," jawab Alvin beralasan.
Nerissa mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun. Entah kenapa ia merasa Alvin sedikit berbeda dari biasanya. Tetapi ia tidak terlalu memikirkannya, baginya yang terpenting adalah Alvin masih ada di dekatnya.
Di sisi lain, dalam hati Alvin merasa bersalah pada Nerissa karena sejak kedatangan Amanda, Alvin lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Amanda.
Alvin merasa Amanda lebih membutuhkannya karena Amanda hanya tinggal seorang diri tanpa mama papa ataupun saudaranya, sedangkan Nerissa masih memiliki Marin yang selalu ada untuknya.
Sesampainya di tempat tujuan, Alvin dan Nerissapun turun dari mobil. Alvin dan Nerissa berjalan berdua menyusuri jalan setapak yang membawa mereka ke bukit perkebunan teh.
Setelah beberapa lama berjalan, merekapun sudah berdiri diantara hamparan perkebunan teh. Alvin mengulurkan tangannya pada Nerissa, mengajak Nerissa menaiki titik tertinggi yang ada di bukit perkebunan teh itu.
"Berhati-hatilah, jalanan menjadi sedikit becek karena semalam hujan," ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
Wesampainya mereka di titik tertinggi yang ada di bukit perkebunan teh itu, Nerissa mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ia tersenyum senang melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat itu.
"Udara disini terasa berbeda dengan di rumah, apa kau juga merasakannya Alvin?" tanya Nerissa.
"Iya aku juga merasakannya, itu karena disini belum terlalu terpapar polusi seperti di kota," jawab Alvin.
"Sepertinya menyenangkan jika tinggal disini," ucap Nerissa sambil memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam udara segar yang ada di sana.
"Aku bisa sering mengajakmu kesini jika kau mau," ucap Alvin yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Alvin.
"Benarkah? tetapi tempat ini cukup jauh dari tempat tinggal kita!"
"Tidak masalah, aku juga perlu menghirup udara segar disini," balas Alvin yang membuat Nerissa bersorak senang.
Alvin tersenyum tipis melihat Nerissa yang tampak bahagia saat itu.
"kau memang gadis yang sederhana Nerissa, sangat mudah untuk membuatmu tersenyum bahagia seperti ini," ucap Alvin dalam hati.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Alvin berdering, sebuah panggilan dari kontak tanpa nama. Alvin sengaja menyimpan kontak Amanda dengan sebuah emoticon bunga mawar tanpa menamainya.
Alvin hanya diam membiarkan ponselnya berdering, lalu kembali memasukkannya ke dalam saku jaketnya, namun Amanda kembali menghubunginya.
"Kenapa kau membiarkan ponselmu berdering Alvin? angkatlah, sepertinya itu penting!" ucap Nerissa pada Alvin.
Alvin menganggukkan kepalanya kemudian berjalan sedikit menjauh dari Nerissa untuk menerima panggilan Amanda.
"Halo Alvin, apa aku mengganggumu?" tanya Amanda setelah Alvin menerima panggilannya.
"Tidak, ada apa Amanda?"
"Sepertinya aku tersesat, aku mengikuti arah GPS tetapi sepertinya ini bukan jalan yang benar," jawab Amanda.
"Dimana kau sekarang? apa kau tidak bisa mengalihkan rute pada GPS mu?"
"Aku bisa saja mengalihkan rute GPS, tetapi aku tidak bisa memindahkan mobilku dari sini, aku terjebak disini Alvin," jawab Amanda.
"Terjebak? dimana kau sebenarnya Amanda?" tanya Alvin yang mulai panik.
"Aku berada di jalanan curam dan sempit, aku takut mobilku akan tergelincir ke depan jika aku melanjutkan perjalananku, tetapi aku tidak bisa memundurkan mobilku karena di sisi kanan jalan adalah jurang yang dalam sedangkan di sisi kiri adalah perbukitan," jawab Amanda menjelaskan.
"Kau jangan panik, diamlah disana dan jangan banyak bergerak, bagikan lokasimu padaku, aku akan mencoba untuk melacaknya sekarang!" ucap Alvin pada Amanda.
Amanda kemudian membagikan lokasinya pada Alvin. Alvin yang sudah mendapatkan lokasi Amanda segera memeriksa dimana keberadaan Amanda saat itu.
Alvin begitu terkejut saat menyadari jika Amanda berada tak jauh dari tempatnya saat itu.
Alvin kemudian membawa pandangannya pada Nerissa, ia ragu apakah ia harus mengajak Nerissa untuk menemui Amanda atau tidak.
"Alvin!" panggil Nerissa sambil melambaikan tangannya.
Alvinpun membawa langkahnya kembali mendekat ke arah Nerissa.
"Lihatlah, disana langit mulai gelap!" ucap Nerissa sambil menunjuk ke arah langit yang mulai mendung.
"Kau benar, sebaiknya kita turun sekarang," ucap Alvin lalu meraih tangan Nerissa untuk mengajaknya turun dari bukit perkebunan teh.
"Aku benar-benar menyukai udara disini Alvin, sepertinya aku akan sering mengajakmu kesini jika kau tidak keberatan," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Alvin.
"Ada apa Alvin, apa terjadi sesuatu?" tanya Nerissa yang melihat raut wajah Alvin yang tampak tegang.
"Apa kau bisa menungguku sebentar disini Nerissa?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Kemana kau akan pergi?" balas Nerissa bertanya.
"Temanku membutuhkan bantuanku, dia berada tidak jauh dari sini, aku akan segera kembali setelah aku selesai membantunya," jawab Alvin.
"Apa itu akan lama? apa aku tidak bisa ikut denganmu?" tanya Nerissa yang seolah enggan untuk menunggu Alvin disana, mengingat tempat itu cukup sepi.
"Aku tidak akan lama Nerissa, tolong tunggulah disini, aku akan segera kembali," jawab Alvin sambil mendudukkan Nerissa pada gazebo yang ada di sana.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini!"
"Kau tidak marah padaku bukan?" tanya Alvin memastikan.
"Tidak, cepatlah berangkat dan segera kembali," jawab Nerissa dengan menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Alvin menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan Nerissa, ia mengendarai mobilnya menemui Amanda yang terjebak di jalanan curam.
Menit demi menitpun berlalu, mendung gelap yang menutup langit siang itu perlahan menjatuhkan rintik hujannya. Nerissa yang masih duduk di gazebo segera melepas sepatunya lalu duduk di tengah gazebo agar tidak basah oleh hujan yang semakin deras saat itu.
Tiba-tiba seorang laki-laki datang untuk berteduh di dekat Nerissa.
"Hujannya sangat lebat, apa aku boleh berteduh disini?" tanya laki-laki itu.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Laki-laki itu kemudian mengeluarkan sebotol minuman dari tasnya.
"Hujan di daerah ini sangat dingin, minumlah, ini akan menghangatkan tubuhmu!" ucap laki-laki itu sambil memberikan sebotol minuman pada Nerissa.
Nerissa yang memang merasa kedinginan tanpa ragu menerima minuman itu dari seseorang yang tidak ia kenal.
Nerissapun meminumnya dan benar saja ia merasa tubuhnya lebih hangat dari sebelumnya, namun ia merasa sedikit pusing.
"Habiskan saja, kau akan merasa lebih baik setelah menghabiskannya," ucap laki-laki itu sambil sedikit memaksa Nerissa untuk menghabiskan minuman dalam botol itu.