Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Memberi Maaf



Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Nerissa menemani Marin menghitung penjualannya hari itu.


"Marin, ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu," ucap Nerissa pada Marin.


"Ada apa Putri? katakan saja!"


"Kau ingat saat aku pingsan beberapa hari yang lalu?"


"Iya, aku ingat, Dokter bilang tekanan darahmu rendah, aku baru tau kalau ternyata kita bisa pingsan karena tekanan darah kita rendah," jawab Marin.


"Sebenarnya bukan hanya karena itu," ucap Nerissa.


"Apa maksudmu Putri? apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Marin khawatir.


"Aku.... aku menemukan satu kekuatanku yang lain," jawab Nerissa.


"Kekuatan yang lain? kenapa kau baru memberi tahuku Putri? apa itu membahayakanmu?"


"Sebenernya tidak membahayakan, hanya saja aku akan menjadi sangat lemah dan kehilangan tenagaku jika aku menggunakan kekuatan itu, satu satunya cara agar aku bisa mengetahui lebih jauh tentang kekuatanku adalah dengan menggunakan mahkota pemberian bunda," jawab Nerissa menjelaskan.


"Aaahhh.... mahkota itu lagi, apa itu yang membuatmu memaksa untuk pergi kemarin?"


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Marin.


"Apa kau tidak ingin tau kekuatan apa yang aku miliki?" tanya Nerissa pada Marin.


"Tentu saja aku sangat ingin tau, tapi aku tidak akan memaksamu untuk memberi tahuku Putri, aku akan menunggumu sampai kau mau menceritakannya padaku," jawab Marin dengan tersenyum.


"Terima kasih Marin, kau memang yang terbaik," ucap Nerissa sambil memeluk Marin.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Putri? bagiamana kita bisa menemukan mahkota itu?"


"Aku juga bingung Marin, kekuatanku, mahkota, mutiara biru dan Seabert, semuanya terhubung," balas Nerissa.


"Apa kita harus ke pantai lagi?" tanya Marin.


"Iya, karena tidak ada lagi tempat yang bisa kita datangi untuk mencari mahkota itu," jawab Nerissa.


Marin menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Nerissa. Meski sebenarnya ia sangat ingin tahu kekuatan seperti apa yang sebenarnya Nerissa miliki, ia tidak akan menanyakannya jika bukan Nerissa sendiri yang memberi tahunya.


Marin mengerti, saat ini adalah masa masa yang sulit untuk Nerissa. Putri yang dari dulu hanya menghabiskan waktunya untuk bermain sekarang harus dihadapkan dengan takdir yang membalikkan jalan hidupnya seketika.


"Bagaimana dengan toko bungamu? apa kau sudah menemukan penggantiku?" tanya Nerissa


"Sudah, besok dia akan mulai bekerja," jawab Marin.


"Baguslah kalau begitu, tapi.... ada yang ingin aku tanyakan padamu tentang Daniel."


"Hoooaaammm.... aku sangat mengantuk Putri, besok saja kau tanyakan itu," ucap Marin dengan berpura pura menguap.


"Kau tidak bisa berbohong padaku Marin, aku tau kau belum mengantuk," ucap Nerissa.


"Hehehe.... keluarlah Putri, kau harus tidur di kamarmu!"


"Aku akan keluar setelah kau menjawab pertanyaanku," ucap Nerissa.


"Baiklah kalau begitu jangan tidur!" balas Marin sambil merapikan buku bukunya.


"Kalau begitu aku akan terus bertanya padamu," ucap Nerissa dengan senyum nakalnya.


Marin menghela nafasnya pasrah.


"Baiklah, apa yang mau kau tanyakan?"


"Tentang kejadian kemarin, apa kau sengaja meninggalkanku di pantai?" tanya Nerissa.


"Mmmm.... aku.... waktu itu.... aku tidak sengaja bertemu Daniel, dia sedang mabuk jadi aku mengantarnya pulang," jawab Marin beralasan.


"Mengantarnya pulang kesini maksudmu?"


"Aku membawanya kesini karena dia tidak memberi tahuku alamat rumahnya, dia sedang mabuk Putri, dia tidak benar benar sadar malam itu," jawab Marin menjelaskan.


"Mabuk?"


"Iya, keadaan dimana kesadaran seseorang tidak stabil karena pengaruh alkohol yang diminumnya, kau bisa pusing, tidak bisa mengontrol perilaku dan ucapanmu saat mabuk," jelas Marin.


"Aaaahhhh.... mengerikan sekali, tapi dia tidak melakukan hal yang buruk padamu bukan?"


Marin menggelengkan kepalanya kemudian membaringkan dirinya di ranjang


**


Malam telah berlalu, mentari pagi sudah menampakan sinarnya di ujung langit timur. Nerissa sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Alvin saat Marin baru saja membuka toko bunganya.


Tak lama setelah Nerissa pergi ke halte, sebuah mobil berhenti di depan toko bunga Marin. Sang pemilik mobil segera turun dan berjalan ke arah toko bunga Marin.


"Selamat pagi," sapanya dengan tersenyum.


Marin yang sedang menata bunga bunganya segera berbalik dan membawa pandangannya ke arah sumber suara.


"Daniel!" ucap Marin terkejut dengan kedatangan Daniel.


"Aku tidak terlambat bukan? aku datang lebih pagi hari ini!"


"Untuk apa?"


"Mengantar buket bunga pesanan!" jawab Daniel.


"Kau tidak perlu mengantarnya lagi, kau juga tidak perlu kesini lagi, kau bisa langsung menemui Putri jika kau memang ingin menemuinya," ucap Marin lalu berjalan meninggalkan Daniel, namun Daniel mengikutinya.


"Aku harus bagaimana agar kau memaafkanku Marin?" tanya Daniel.


"Aku sudah memaafkanmu," jawab Marin sambil menyiapkan buket bunga pesanan, tanpa membawa pandangannya pada Daniel.


"Benarkah? sungguh?" tanya Daniel meyakinkan.


Marin hanya menganggukkan kepalanya tanpa berbicara.


"Tapi sikapmu masih dingin padaku!" ucap Daniel.


Marin menghela nafasnya kemudian menaruh bunga di tangannya dan membawa pandangannya pada Daniel.


"Aku sudah memaafkanmu Daniel, jadi sekarang pergilah, aku sudah tidak membutuhkanmu disini!" ucap Marin.


"Kalau kau memang memaafkanku seharusnya kau tidak memintaku pergi!" balas Daniel.


"Kau....."


"Selamat pagi Marin!" sebuah suara membuat Marin menghentikan ucapannya dan membawa pandangannya ke arah pintu dengan tersenyum.


"Pagi, masuklah!" balas Marin dengan tersenyum.


Daniel kemudian membawa pandangannya ke arah mata Marin memandang dan melihat seorang laki laki yang sudah berdiri disana.


"Siapa dia?" tanya Daniel pada Marin.


"Bukan urusanmu," jawab Marin lalu meninggalkan Daniel dan mengambil beberapa buket bunga yang sudah dia siapkan sejak pagi.


"Ini buket bunganya dan ini alamatnya!" ucap Marin sambil memberikan buket bunga dan secarik kertas pada laki laki itu.


"Baiklah, aku akan pergi!" balas laki laki itu kemudian berjalan pergi dari toko Marin.


"Siapa dia Marin? apa dia yang menggantikanku?" tanya Daniel pada Marin.


Marin hanya menganggukkan kepalanya.


"Siapa namanya? kau mengenalnya dengan baik? apa kau yakin dia bukan laki laki yang jahat? apa dia....."


"Dia baik, dia tidak pernah membentakku apa lagi merendahkanku dengan memberiku uang untuk menebus janjinya!" ucap Marin memotong ucapan Daniel lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.


Daniel menghembuskan napasnya kasar lalu keluar dari toko bunga Marin.


"aku memang salah, walaupun dia memaafkanku bukan berarti dia melupakan sikap burukku padanya," batin Daniel dalam hati lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya meninggalkan toko bunga Marin.


Daniel mengendarai mobilnya ke arah tempat kerjanya dengan malas. Dia sengaja bangun dan berangkat lebih pagi untuk menemui Marin, mengantar buket bunga seperti yang Marin inginkan.


Tetapi...


jadi sekarang pergilah, aku sudah tidak membutuhkanmu disini!


Daniel tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri.


"apa yang sebenarnya aku lakukan? sudahlah abaikan saja, aku sudah bertanggung jawab dengan meminta maaf dan dia sudah memaafkanku, sekarang urusanku dengan Marin selesai, aku harus kembali pada Nerissa sebelum laki laki lain mendekatinya," batin Daniel dalam hati.


**


Nerissa menghela nafasnya saat menyadari siapa pemilik mobil itu. Meski malas dan tak bersemangat, ia tetap berjalan masuk ke dalam rumah Alvin.


Nerissa mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya mbak Tina membukanya.


"Selamat pagi non," sapa mbak Tina.


"Pagi mbak," balas Nerissa dengan senyum cantiknya.


Nerissa kemudian berjalan menghampiri akuarium yang ada di ruang tamu, menatap ikan ikan di dalamnya dengan bibir yang manyun.


"jangan tanya kenapa, kalian pasti tau kenapa aku tidak bersemangat hari ini," ucap Nerissa dalam hati.


"Nerissa!" panggil Alvin yang melihat Nerissa hanya diam di depan akuarium.


"Kemarilah, apa yang kau lakukan disana?" lanjut Alvin.


Nerissa kemudian membawa langkahnya ke arah Alvin dan berjalan mengikuti Alvin ke arah meja makan.


"Aku sudah menunggumu, duduklah!" ucap Alvin pada Nerissa


Nerissa menganggukan kepalanya kemudian duduk di hadapan Delia. Tampak raut wajah Delia yang saat itu kesal karena kedatangan Nerissa dan Nerissa menyadari hal itu.


"Apa yang kau tunggu? makanlah!"


Nerissa kembali menganggukkan kepalanya kemudian menikmati sarapannya bersama Alvin dan Cordelia.


Setelah selesai sarapan, Alvin kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil tas kerjanya. Sedangkan Delia membawa piring kotor ke dapur.


"Apa kau tidak akan membantuku?" tanya Cordelia pada Nerissa.


"Aku harus memberi makan ikan," jawab Nerissa.


"Cuci piringmu sendiri, kau bukan nyonya disini!" ucap Cordelia sinis.


Nerissa hanya menghela nafasnya kemudian membawa piringnya ke dapur. Namun saat Alvin melihatnya, Alvin segera merebut piring kotor itu dari tangan Nerissa dan memberikannya pada Cordelia.


"Kau tau pekerjaanmu bukan?" tanya Alvin pada Nerissa.


"Menjaga dan memberi makan ikan milikmu," jawab Nerissa.


"Bagus, jangan melakukan hal lain selain itu," ucap Alvin dengan mengusap rambut Nerissa.


Nerissa tersenyum senang kemudian berjalan ke arah akuarium yang berada di bawah tangga, sedangkan Cordelia menaruh piring kotor di dapur dengan kesal.


Cordelia masih berada di rumah Alvin setelah Alvin pergi. Ia sengaja datang pagi pagi sekali untuk menemui Alvin dan menanyakan tentang keberadaan Nerissa disana pada Alvin.


"Sebenarnya siapa kau? dari mana asalmu dan apa tujuanmu kesini?" tanya Cordelia pada Nerissa yang sedang memberi makan ikan.


"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" balas Nerissa bertanya.


"Tentu saja, kau pikir kau siapa? aku bisa dengan mudah membuat Alvin mengusirmu dari sini!"


"Lakukan saja!" balas Nerissa tenang.


"Lihat saja, kau pikir cuma kau yang bisa menjaga dan merawat ikan ikan disini? aku akan mencari orang lain yang bisa menggeser posisimu sekarang!" ucap Cordelia kesal kemudian pergi meninggalkan Nerissa.


Cordelia keluar dari rumah Alvin setelah menghubungi seseorang yang akan ia temui saat itu juga.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Daniel keluar dari ruangannya dengan tergesa gesa.


Daniel mengendarai mobilnya meninggalkan kantor ke arah toko bunga Marin. Sesampainya disana ia melihat Marin sedang mengobrol dan tampak bercanda dengan seorang laki laki yang merupakan pegawai barunya.


"kenapa aku kesini? dia sudah tidak membutuhkanku lagi!" batin Daniel dalam hati lalu melanjutkan mengendarai mobilnya ke arah rumah Alvin untuk menemui Nerissa.


Sesampainya di rumah Alvin, Daniel segera berlari kecil ke arah pintu utama dan mendapati Nerissa yang sedang duduk di samping akuarium.


"Nerissa!" panggil Daniel dengan melambaikan tangannya.


Nerissa tersenyum dengan membalas lambaian tangan Daniel dan beranjak dari duduknya.


"Apa kau mencari Alvin?" tanya Nerissa pada Daniel.


"Tidak, aku mencarimu!" jawab Daniel.


"Apa kau sudah makan siang?" lanjut Daniel bertanya.


"Sudah," jawab Nerissa sambil memamerkan bungkus rumput laut kering pada Daniel.


"Hanya itu?"


Nerissa menganggukan kepalanya.


"Apa kau sedang diet?" tanya Daniel.


"Apa itu?"


"Sudahlah, kau harus makan yang banyak, aku sudah membeli dua porsi makan siang untuk kita," ucap Daniel lalu menarik tangan Nerissa dan membawanya ke meja makan.


Merekapun makan siang bersama.


"Aku harus segera kembali Nerissa, nanti sore aku akan menjemputmu!" ucap Daniel setelah menyelesaikan makan siangnya.


"Apa tidak sebaiknya kau menyelesaikan masalahmu dengan Marin dulu?" tanya Nerissa.


"Sudah, tadi pagi aku menemuinya dan dia sudah memaafkanku," jawab Daniel.


"Jadi kalian sudah berbaikan?"


"Tentu saja," jawab Daniel.


Daniel kemudian keluar dari rumah Alvin dan kembali ke kantor.


Di sisi lain, saat jam makan siang, Cordelia menemui Alvin di ruangannya.


"Aku membawakanmu makan siang, jadi kau tidak perlu ke kantin lagi!" ucap Cordelia sambil menaruh makanan dan minuman di meja Alvin.


"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Alvin menerka.


"Aku mau kau berhenti mempekerjakan Nerissa di rumahmu!" jawab Cordelia tanpa basa basi.


"Kenapa aku harus melakukannya? lagipula dia hanya bekerja sementara untuk menggantikan bibi!" balas Alvin.


"Aku sudah mencarikan seseorang untuk menggantikannya!"


"Tidak Delia, aku tidak ingin kesalahan yang sama terulang lagi karena....."


"Aku bisa menjaminnya Alvin, seseorang yang akan aku kenalkan padamu adalah seseorang yang sudah profesional, dia jauh lebih baik dibanding Nerissa!" ucap Cordelia memotong ucapan Alvin.


"Tidak, aku tidak bisa meminta Nerissa untuk berhenti begitu saja!" ucap Alvin menolak.


"Kenapa? siapa sebenarnya dia? apa kau mengenalnya dengan baik? apa kau tau seperti apa latar belakangnya?"


"Aku cukup mengenalnya Delia, kalau kau tidak menyukai kehadirannya di rumahku, maka jangan datang ke rumahku, aku yang memiliki hak sepenuhnya atas rumahku sendiri!" ucap Alvin dengan tegas.


"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu Alvin, kau tidak mengenalnya dengan baik, bisa jadi dia hanya perempuan biasa yang suka menjual kecantikannya untuk menggoda laki laki!"


"Hentikan ucapanmu Delia, kau keterlaluan!" ucap Alvin yang emosi mendengar ucapan Delia.


"Kenapa kau sangat membelanya Alvin? apa kau menyukainya? apa Daniel tau kalau kau menyukainya?" tanya Cordelia yang membuat Alvin semakin emosi.


"Kau....."


Alvin meghentikan ucapannya saat pintu ruangannya tiba tiba terbuka dan Daniel masuk ke ruangannya.


"Kebetulan kau disini Daniel, mari kita dengar seperti apa jawaban Alvin!" ucap Cordelia dengan tersenyum tipis.


"Jawaban apa?" tanya Daniel.


"Jawablah Alvin, kau tidak mungkin berbohong pada Daniel bukan?" ucap Cordelia.


"Berbohong? berbohong soal apa?" tanya Daniel yang tidak mengerti dengan situasi saat itu.


"Kalian sudah bersahabat lama, aku yakin kalian adalah sahabat yang saling memahami satu sama lain," ucap Cordelia.


Alvin masih terdiam sebelum ia menjawab pertanyaan Daniel. Ia tidak ingin apa yang akan ia katakan merusak persahabatannya dengan Daniel.