Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Kecupan



Nerissa masih berada di kamarnya bersama Daniel. Sebenarnya ia tidak ingin Alvin meninggalkannya karena ia merasa hanya Alvin yang bisa membuat dirinya tetap hangat saat itu.


Namun ia tidak bisa memaksa Alvin untuk tetap bersamanya, ia juga harus menyelesaikan masalahnya dengan Daniel.


Belum sempat ia dan Daniel menyelesaikan masalah mereka, Nerissa kembali merasa seluruh tubuhnya menjadi sangat dingin.


Ia seperti kehilangan seluruh tenaganya tiba tiba dan detak jantungnya pun semakin melemah.


"Ada apa denganmu Nerissa? apa yang terjadi padamu?" tanya Daniel khawatir.


Di sisi lain, Alvin yang duduk di ruang tamu segera beranjak untuk melihat keadaan Nerissa saat ia mendengar suara Daniel yang terdengar panik.


Alvin masuk ke kamar Nerissa meski Daniel masih berada disana. Bukannya ia tidak mau memberikan kesempatan Daniel untuk menyelesaikan masalahnya dengan Nerissa, ia hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Nerissa.


Alvin segera menggeser posisi Daniel dan menarik tangan Nerissa ke dalam genggamannya.


"Nerissa, bangunlah Nerissa!" ucap Alvin yang begitu khawatir karena wajah Nerissa yang kembali pucat dan seluruh tubuhnya menjadi sangat dingin.


"Apa yang terjadi padanya Alvin? kenapa dia seperti ini?" tanya Daniel pada Alvin.


"Aku juga tidak tau, dia seperti ini setelah dia tenggelam di kolam renang," jawab Alvin.


"Minggirlah, aku akan membawanya ke rumah sakit!" ucap Daniel dengan menarik tangan Alvin dari Nerissa.


"Tidak Daniel, aku hanya perlu....."


"Lebih baik Dokter yang menyembuhkannya Alvin!" ucap Daniel memotong ucapan Alvin.


"Tidak, kau tidak bisa membawa Putri ke rumah sakit tanpa izinku!" sahut Marin yang tiba tiba datang.


"Apa maksudmu Marin? apa kau tidak lihat keadaan Nerissa sekarang seperti apa? dia harus segera dibawa ke rumah sakit!" balas Daniel.


"Pergilah, biarkan Alvin yang menemani Putri," ucap Marin dengan mendorong Daniel agar menjauh dari ranjang Nerissa.


"Lakukan seperti apa yang kau lakukan sebelumnya Alvin," ucap Marin pada Alvin.


Alvin kemudian duduk di samping Nerissa dan membawa tangan Nerissa ke dalam genggamannya.


"Apa yang kalian lakukan sekarang? kalian sudah membahayakan nyawanya dengan....."


"Kau tidak tau apa apa Daniel, pergilah dan jangan membuat gaduh disini!" ucap Marin dengan mendorong Daniel agar keluar dari kamar Nerissa.


Marin kemudian menutup pintu kamar Nerissa dan menguncinya dari dalam saat Daniel sudah berhasil keluar dari dalam kamar.


"Aku tidak akan memaafkan kalian berdua jika terjadi sesuatu pada Nerissa!" ucap Daniel berteriak dari depan pintu kamar Nerissa.


"Apa yang harus aku lakukan Marin? kenapa dia belum sadar juga? badannya juga masih sangat dingin, bahkan lebih dingin dari sebelumnya," tanya Alvin dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.


"Terus genggam tangannya Alvin, aku yakin dia akan segera bangun jika dia sudah merasa hangat," jawab Marin.


Alvin terus menggenggam tangan Nerissa, sesekali ia mengusap kening Nerissa, berharap Nerissa bisa kembali merasakan kehangatan darinya.


Namun sampai beberapa lama Nerissa tidak juga sadar, badannya juga masih terasa sangat dingin, bahkan lebih dingin dari sebelumnya.


"Marin, apa kau yakin tidak ada yang bisa aku lakukan? aku benar benar khawatir sekarang!"


Marin hanya diam namun tampak gelisah. Sebenernya ia baru saja ingat apa yang bisa membuat mermaid menjadi normal kembali setelah merasa dingin karena tenggelam ke dalam air tanpa ekornya.


Namun Marin ragu untuk mengatakannya pada Alvin, karena ia sendiri ragu pada dongeng yang sudah dibacanya itu.


"itu hanya dongeng, itu bukan kisah sungguhan, mungkin aku harus membiarkan Alvin menggenggam tangan Putri lebih lama, tapi....."


"Marin, lihatlah!" ucap Alvin membuyarkan lamunan Marin.


Marin kemudian mendekat dan melihat tangan Nerissa yang perlahan membeku seperti dilapisi es tipis.


"tidak.... aku tidak bisa membiarkan jantung Putri membeku, apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku....."


Marin tiba tiba membelalakkan matanya tak percaya melihat apa yang baru saja terjadi. Ia hanya bisa terdiam dan kehilangan kata katanya tiba tiba.


Saat Marin tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, entah mendapat bisikan dari mana, Alvin tiba tiba mendaratkan kecupannya tepat di bibir Nerissa.


Alvin bisa merasakan hawa dingin yang ada pada tubuh Nerissa, ia bahkan bisa merasakan sensasi dingin dari bibir Nerissa yang hampir membeku.


Namun Alvin tetap bertahan melawan dingin yang dirasakannya saat itu karena ia yakin apa yang ia lakukan bisa menghangatkan Nerissa.


Perlahan Alvin merasa suhu tubuh Nerissa mulai naik, tangannya yang menggenggam tangan Nerissa sudah tidak terasa sedingin tadi.


Hembusan nafas Nerissa yang sebelumnya terasa dingin juga mulai terasa hangat dan bibir Nerissa yang sebelumnya membeku kini terasa begitu lembut.


Alvin kemudian melepaskan kecupannya pada Nerissa, ia menatap wajah cantik yang perlahan memudarkan raut pucatnya.


Alvin tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat perlahan Nerissa membuka matanya.


"Alvin....."


"Akhirnya kau bangun, kau membuat kita semua khawatir Nerissa," ucap Alvin yang masih menggenggam tangan Nerissa.


"Maafkan aku," ucap Nerissa.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? apa kau masih merasa dingin?" tanya Alvin.


"Tidak, aku sudah merasa hangat sekarang, aku merasa aku lebih hangat dari sebelumnya," jawab Nerissa yang membuat Alvin tersenyum canggung.


"Marin, kenapa kau hanya diam saja?" tanya Nerissa membuyarkan lamunan Marin.


"Aaahhh..... iya... aku... aku sangat senang karena kau sudah bangun Putri," jawab Marin tergagap.


Marin kemudian membawa pandangannya pada Alvin dengan penuh tanda tanya. Ia tidak mengerti kenapa Alvin tiba tiba melakukan hal itu dan yang membuatnya lebih heran lagi adalah apa yang dilakukan Alvin ternyata mampu menyadarkan Nerissa.


"Alvin, kau....."


"Apa kau tidak kembali ke toko bungamu Marin?" tanya Alvin memotong ucapan Marin.


Alvin tau apa yang dilakukannya pada Nerissa bukanlah hal yang seharusnya dilakukan, mengingat mereka hanya memiliki hubungan sebatas teman.


Ia juga siap jika harus menerima kemarahan dari Marin atas apa yang baru saja terjadi, namun ia tidak ingin Nerissa tau tentang apa yang sudah ia lakukan pada Nerissa.


"Aku sudah baik baik saja Marin, kembalilah ke toko bunga," ucap Nerissa pada Marin.


"Baiklah, segera hubungi aku jika terjadi sesuatu!" ucap Marin dengan membawa pandangannya pada Alvin dan Nerissa.


Marin kemudian keluar dari kamar Nerissa. Saat ia akan masuk ke toko bunga, ia melihat Daniel yang masih menunggu di ruang tamu.


"Apa yang kau lakukan disini? pergilah!"


"Bagaimana keadaan Nerissa? dia baik baik saja bukan?" tanya Daniel khawatir.


"Dia sudah membaik, tapi lebih baik kau tidak menemuinya saat ini," jawab Marin lalu melangkah pergi meninggalkan Daniel.


Danielpun berlari kecil mengikuti Marin.


"Itu karena kau tidak bisa menjaganya dengan baik," jawab Marin ketus.


"Aku tau aku salah dan aku kesini untuk meminta maaf padanya," balas Daniel.


"Dia hampir saja kehilangan nyawanya karenamu Daniel, apa kau pikir dengan hanya meminta maaf saja itu cukup untuknya? mungkin mudah bagi Putri untuk memaafkanmu, tapi tidak bagiku!"


"Aku juga tidak ingin hal itu terjadi Marin, aku juga sangat mengkhawatirkan keadaan Nerissa sekarang dan aku juga sangat menyesal karena tidak menjaganya dengan baik, jadi tolong beri aku kesempatan untuk meminta maaf secara langsung padanya!"


"Pergilah Daniel, kau hanya membuat suasana menjadi kacau," ucap Marin tanpa membawa pandangannya pada Daniel.


"Aku tidak akan pergi sebelum aku berbicara pada Nerissa, Marin!"


"Keadaan Putri sedang tidak baik baik saja saat ini, walaupun dia sudah membaik, dia harus beristirahat Daniel, jadi jangan menggangunya, setidaknya sampai dia sudah kembali sehat!" ucap Marin.


Daniel menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan Marin.


Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Nerissa dan menanyakan hal itu sekarang bukanlah waktu yang tepat baginya.


"Baiklah, aku akan pergi, tolong segera hubungi aku jika terjadi sesuatu padanya, aku benar benar mengkhawatirkannya!" ucap Daniel namun diabaikan oleh Marin.


Daniel kemudian keluar dari toko bunga Marin dengan segala macam pikiran dalam kepalanya.


Ia menyesal karena sempat mengabaikan Nerissa saat berada di pesta ulang tahun Cordelia, ia juga menyesal karena tidak mempercayai Nerissa malam itu.


Dan yang lebih membuatnya menyesal adalah saat ia melihat Alvin yang menolong Nerissa, bukan dirinya.


Sekarang ia harus bisa menerima kekecewaan Nerissa padannya. Ia juga harus menahan dirinya agar tetap bisa berpikir jernih meski ia merasa cemburu pada Alvin yang lebih dekat dengan Nerissa dibanding dirinya.


"anggap saja ini balasan untukku karena sudah mengabaikannya," batin Daniel dalam hati.


Di sisi lain, setelah Nerissa mulai membaik dan suhu tubuhnya kembali normal, Nerissa tertidur saat Alvin masih menggenggam tangannya.


Alvin kemudian melepas tangan Nerissa dengan perlahan agar tidak membuat Nerissa terbangun.


"aku harap kau selalu baik baik saja Nerissa, tolong jangan membuatku khawatir seperti tadi, rasanya sangat menyakitkan," ucap Alvin dalam hati.


Alvin kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Nerissa. Dengan langkah ragu, Alvin menghampiri Marin di toko bunga.


Marin yang menyadari kedatangan Alvin hanya berpura pura tidak melihatnya, ia tidak tau harus bersikap seperti apa pada Alvin mengingat apa yang baru saja dilihatnya di kamar Nerissa.


"Marin, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Alvin pada Marin.


"Bicaralah, aku akan mendengarnya dari sini," balas Marin sambil merapikan bunga bunganya di sudut ruangan yang cukup jauh dari Alvin.


Marin merasa canggung dengan Alvin karena untuk pertama kalinya ia melihat hal itu di hadapannya secara langsung.


Ia tidak marah pada Alvin, justru ia merasa harus berterima kasih pada Alvin karena sudah menyelamatkan Nerissa.


Namun karena ia terlalu terkejut dan tidak menyangka jika Alvin akan melakukan hal itu, ia menjadi canggung pada Alvin.


"Aku tidak bisa berbicara terlalu keras Marin, aku tidak ingin Nerissa terbangun nanti!" ucap Alvin.


Marin kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Alvin.


"Apa Putri sudah tidur?" tanya Marin pada Alvin.


"Iya, dia sudah tidur, suhu tubuhnya juga sudah kembali normal, jadi aku keluar dari kamarnya untuk menemuimu," jawab Alvin.


Marin hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Alvin.


"Marin, tentang apa yang tadi aku lakukan pada Nerissa, aku minta maaf jika aku melakukannya begitu saja, aku juga tidak tau kenapa aku melakukan hal itu, aku.... aku hanya mengikuti apa yang ada dipikiranku saja saat itu," ucap Alvin pada Marin.


"Aku akan sangat marah jika kau melakukan hal itu tanpa alasan yang jelas, tapi karena putri Nerissa bisa bangun karena hal itu, jadi aku tidak akan mempersalahkannya," balas Marin.


"Terima kasih karena kau sudah memahaminya Marin!"


"Tapi bukan berarti kau bisa melakukannya lagi semaumu Alvin, aku akan menggilasmu dengan truk besar jika kau berani melakukan hal tadi pada Putri hanya untuk memenuhi keinginan liarmu!"


"Hahaha.... tidak, aku tidak akan melakukannya lagi, aku bukan laki laki seperti itu Marin, kau tidak perlu khawatir," balas Alvin.


"Jangan berani macam macam padanya Alvin, kau tau seperti apa aku jika sudah sangat marah bukan?"


"Iya, aku tau, aku tidak akan melakukan hal yang diluar batas padanya," balas Alvin.


"Baguslah kalau begitu, apa sekarang kau mau pulang?"


"Iya, ada yang pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan di rumah, tapi.... aku ingin meminta tolong padamu!"


"Meminta tolong apa?"


"Tolong jangan ceritakan apa yang kau lihat tadi pada Nerissa, aku mohon," ucap Alvin memohon.


"Kenapa?"


"Aku hanya tidak ingin dia salah paham padaku, apa kau bisa merahasiakan hal ini Marin?"


"Hmmmm.... baiklah, aku tidak akan memberi tahunya," balas Marin.


"Terima kasih Marin, aku akan pulang sekarang dan tolong segera hubungi aku jika terjadi sesuatu padanya," ucap Alvin.


Marin hanya menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan merapikan bunga bunganya setelah Alvin pergi.


Di sisi lain, Alvin segera menghubungi Daniel untuk menanyakan keberadaan Daniel saat itu. Ia tidak ingin hubungannya dengan Daniel memburuk karena melihat kedekatannya dengan Nerissa.


Alvin sebenarnya ingin menjaga jarak dengan Nerissa, tapi takdir seperti membawanya untuk tetap dekat dengan Nerissa.


Meski begitu ia tidak akan membawa perasaannya terlalu jauh, mengingat betapa Daniel sangat menyukai Nerissa.


Tiba tiba Alvin teringat saat dirinya memberikan kecupan nya pada Nerissa. Rasa dingin yang ia rasakan seolah masih terasa di bibirnya.


Alvin tidak bisa menahan senyumnya saat ia mengingat kejadian itu. Ia tidak mengerti kenapa ia melakukan hal itu, namun ia bersyukur karena ia bisa menyelamatkan Nerissa saat itu.


"apa yang sebenarnya terjadi padanya? kenapa dia menjadi sedingin itu? bibirnya bahkan terasa membeku, apa dia selalu seperti itu setelah dia tenggelam?" tanya Alvin dalam hati.


Setelah Daniel memberi tahunya jika Daniel berada di rumah, Alvin segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Daniel.


Sesampainya disana, ia segera masuk ke rumah Daniel dan menghampiri Daniel yang saat itu sedang berada di kolam renang.


"Kenapa kau kesini? bukankah Nerissa membutuhkanmu saat ini?" tanya Daniel tanpa membawa pandangannya pada Alvin.


"Dia sudah tertidur sekarang, keadaanya sudah membaik, suhu tubuhnya juga sudah kembali normal," ucap Alvin.


Daniel menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Alvin. Dalam hatinya ia bersyukur karena keadaan Nerissa sudah membaik.


"Sebenernya banyak yang ingin aku tanyakan padanya Alvin!" ucap Daniel.


"Pada Nerissa?" tanya Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.


"Siapa sebenarnya dia? dari mana asalnya? apa tujuannya kesini? darimana dia mendapatkan mutiara asli itu? apa yang terjadi padanya hari ini? dan masih banyak pertanyaan yang menggangu pikiranku tentang Nerissa!"