Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Alat Lukis



Nerissa masih berada di gudang setelah ia mengembalikan alat pembakaran. Nerissa berdiri di hadapan sebuah lukisan besar yang ia yakini adalah milik Amanda.


"Maaf non bibi harus kembali ke dapur sekarang!" ucap bibi membangunkan lamunan Nerissa.


"Ooh iya bi, sebentar lagi Nerissa akan keluar, bibi duluan saja!" balas Nerissa.


Bibi pun meninggalkan Nerissa di gudang seorang diri.


Nerissa lalu membawa pandangannya ke arah rak kayu yang ada di sampingnya, ia melihat sebuah kotak yang tertutup namun terlihat kuas yang keluar dari kotak itu.


Nerissa kemudian membukanya dan mendapati beberapa alat lukis di dalamnya.


Di setiap alat lukis itu ada gambar berbentuk bintang kecil sama persis seperti apa yang ada pada lukisan bunga mawar merah milik Amanda.


"apa ini memang milik Amanda? ada hubungan apa antara Amanda dan Alvin?" batin Nerissa bertanya-tanya.


Tanpa sepengetahuan Nerissa, Alvin pergi ke gudang untuk mencari Nerissa yang sudah cukup lama tidak kembali.


Saat baru saja sampai di depan gudang, ia melihat Nerissa yang sedang memegang alat lukis saat itu.


Alvin pun segera membawa langkahnya masuk ke dalam gudang dan menghampiri Nerissa.


"Apa yang kau lakukan disini Nerissa? kita semua sudah menunggumu!" ucap Alvin sambil merebut alat lukis yang Nerissa bawa lalu mengembalikannya ke kotak dan menutupnya dengan rapi.


"Maafkan aku," balas Nerissa kemudian mengikuti Alvin berjalan keluar dari gudang.


Melihat sikap Alvin yang tiba-tiba datang dan merebut alat lukis yang dipegangnya, Nerissa semakin yakin dengan apa yang ada di pikirannya saat itu.


"Lukisan di gudang tadi, dari mana kau membelinya?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Kenapa kau menanyakan itu? apa kau juga suka lukisan?" balas Alvin bertanya.


"Tidak, tetapi lukisan itu terlihat sangat cantik, terlihat seperti bunga mawar sungguhan bukan?"


"Aku tidak membelinya, aku mendapatkannya dari seseorang," jawab Alvin.


"Seseorang siapa?" tanya Nerissa.


"Kau tidak perlu tahu Nerissa, ambilah jika kau mau memilikinya, lukisan itu sudah tidak penting lagi untukku!" jawab Alvin dengan nada suara yang tidak bersahabat, kemudian berjalan cepat meninggalkan Nerissa.


"lukisan itu sudah tidak penting lagi, itu artinya lukisan itu adalah lukisan yang penting untukmu sebelum akhirnya kau menaruhnya di gudang, apa benar seperti itu?" batin Nerissa bertanya dalam hati.


Nerissa kemudian menghampiri Marin dan Daniel yang masih berada di halaman rumah Alvin.


"Dimana Alvin? apa kau tidak bertemu dengannya di dalam?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Aku pikir dia sudah keluar lebih dulu tadi," jawab Nerissa sambil membawa pandangannya mengelilingi sekitarnya untuk mencari keberadaan Alvin.


"Mungkin dia sedang ke kamar mandi," sahut Marin.


Tak lama kemudian Alvin pun datang bergabung bersama Marin, Nerissa dan Daniel.


"Ada apa denganmu? apa kau baik-baik saja?" tanya Daniel pada Alvin yang terlihat lesu.


"Aku hanya sedikit tidak enak badan," jawab Alvin.


"Kalau begitu istirahatlah, aku Nerissa dan Marin akan pulang menggunakan taksi!" ucap Daniel.


"Pakai saja mobilku, maaf karena tidak bisa mengantar kalian pulang," balas Alvin.


"Tidak apa Alvin, justru kami berterima kasih karena kau sudah membiarkan kami berpesta di rumahmu malam ini!" ucap Marin pada Alvin.


Akhirnya, dengan mengendarai mobil Alvin, Daniel mengantar Marin dan Nerissa pulang.


Sepanjang perjalanan dari rumah Alvin, Nerissa memikirkan sikap Alvin yang tiba-tiba berubah. Dalam hatinya ia sedikit merasa bersalah karena Alvin tiba-tiba menjadi dingin setelah Nerissa menanyakan tentang lukisan yang ada di gudang.


"kalau memang benar lukisan itu pemberian Amanda apa mungkin hubungan Alvin dan Amanda tidak baik-baik saja?" tanya Nerissa dalam hati.


"Putri, ada apa denganmu? kenapa kau hanya diam saja dari tadi?" tanya Marin yang melihat Nerissa hanya diam sejak mereka meninggalkan rumah Alvin.


"Apa kau masih ingin berpesta Nerissa?" sahut Daniel bertanya.


"Tidak Daniel, aku ingin istirahat di rumah," jawab Nerissa.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu Putri? sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu!" tanya Marin yang masih penasaran dengan sikap Nerissa yang tiba-tiba menjadi diam.


"Tidak ada Marin, aku hanya kelelahan saja dan ingin segera beristirahat di rumah," jawab Nerissa memberi alasan.


Sesampainya di depan rumah, Nerissa dan Marinpun turun dari mobil.


"Terima kasih sudah mengantar kami pulang Daniel, hati-hati di jalan!" ucap Nerissa pada Daniel.


Daniel kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Nerissa.


Nerissa dan Marin pun masuk kedalam rumah, Nerissa segera membawa langkahnya ke dalam kamar lalu merebahkan badannya di ranjang dengan masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi antara Amanda dan Alvin.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Suara ketukan pintu membuat Nerissa beranjak dari ranjangnya. Pintu terbuka, Marinpun masuk dan menghampiri Nerissa lalu duduk di samping Nerissa.


"Apa kau tidak ingin menceritakan sesuatu padaku Putri?" tanya Marin pada Nerissa.


Ia tau Nerissa sedang tidak baik-baik saja saat itu.


"Apa yang harus aku ceritakan padamu marin? aku baik-baik saja!" balas Nerissa yang tidak juga berkata jujur pada Marin.


"Aku sangat mengenalmu dengan baik Putri, kau tidak bisa berbohong padaku, jika kau memang tidak ingin menceritakannya padaku tidak apa, aku hanya tidak ingin kau merasa tertekan dengan apa yang kau pikirkan saat ini!"


"Kau memang sahabat yang baik Marin, aku akan menceritakan semua masalahku padamu jika aku sudah siap untuk menceritakannya, tetapi untuk saat ini aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun padamu, maafkan aku!"


"Jangan meminta maaf Putri, aku mengerti aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan apapun padaku tapi satu yang harus kau ingat aku akan selalu ada untukmu, aku akan selalu menemanimu dan kau jangan pernah merasa sendirian karena aku selalu disini untukmu!" ucap Marin.


Nerissa tersenyum bahagia mendengar apa yang Marin ucapkan padanya. Ia benar-benar bersyukur karena memiliki Marin disampingnya. Ia kemudian menggeser posisi duduknya dan memeluk Marin dengan erat.


"Kau memang yang terbaik Marin, terima kasih untuk semua hal yang sudah kau lakukan untukku!"


"Kau juga yang terbaik untukku Putri, beristirahatlah dan jangan terlalu memikirkan apa yang membuatmu tertekan!" ucap Marin sambil melepaskan dirinya dari pelukan Nerissa.


Nerissa menganggukkan kepalanya, setelah Marin keluar dari kamarnya Nerissa pun berganti pakaian lalu kembali merebahkan badannya di ranjang menarik selimut dan memejamkan matanya.


"Jika Alvin tidak ingin memberitahuku maka aku akan mencari tahunya sendiri, aku akan menanyakan hal itu pada Amanda!" ucap Nerissa pada dirinya sendiri.


Namun sebelum Nerissa benar-benar tertidur pikirannya tiba-tiba berubah.


"kenapa aku harus mengetahui tentang hubungan Alvin dan Amanda? seharusnya aku tidak terlalu ikut campur tentang masalah di daratan, aku harus fokus pada tujuan ku kesini aku tidak boleh terlalu banyak memikirkan hal lain!" batin Nerissa dalam hati.


Waktu berlalu membawa malam semakin larut dan mengantarkan Nerissa ke alam mimpinya.


**


Hari telah berganti, Daniel mengendarai mobil Alvin ke arah rumah Alvin. Sesampainya disana ia segera duduk di meja makan bersama Alvin dan ikut menyantap sarapan yang sudah bi Sita siapkan.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya sambil mengunyah makanannya. Setelah selesai sarapan Alvin dan Daniel pun berangkat ke kantor dengan menggunakan mobil Alvin.


"Aku tidak tahu kenapa sepertinya sikap Nerissa tiba-tiba berubah setelah dia pulang dari rumahmu!" ucap Daniel memecah kesunyian diantara dirinya dan Alvin karena sepanjang perjalanan Alvin hanya diam dengan segala macam pikiran yang mengganggunya sejak semalam.


"Kenapa?" tanya Alvin.


"Aku tidak tahu Alvin, apa kau mengucapkan sesuatu yang menyinggung perasaannya saat kau mencarinya kemarin?"


Alvin diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Daniel.


"menyinggung perasaannya? sepertinya tidak," ucap Alvin dalam hati.


"Apa yang kau bicarakan padanya saat kau mencarinya di gudang kemarin?" tanya Daniel penasaran.


"Tidak ada, aku hanya memintanya segera keluar karena kau dan Marin sudah menunggunya!" jawab Alvin memberi alasan.


"Mungkin dia hanya kelelahan," lanjut Alvin.


"Dia memang mengatakan hal itu, tapi aku sedikit meragukannya," ucap Daniel sambil membawa pandangannya pada Alvin.


Alvin hanya diam mendengarkan ucapan Daniel, ia memikirkan apa yang membuat Nerissa tiba-tiba diam seperti apa yang Daniel ucapkan.


Sesampainya di kantor, Alvin dan Daniel segera masuk ke ruangan mereka masing-masing.


Bukannya segera mengerjakan pekerjaannya, Alvin masih terdiam memikirkan apa yang terjadi semalam.


kau tidak perlu tahu Nerissa, ambilah jika kau mau memilikinya, lukisan itu sudah tidak penting lagi untukku!


"apa semalam aku bersikap berlebihan pada Nerissa? dia tidak tahu apapun tentang lukisan dan alat lukis itu..... sepertinya dia memang tersinggung karena ucapanku saat itu, aku harus segera meminta maaf padanya!" ucap Alvin dalam hati.


Alvin menghela nafasnya kemudian berusaha untuk fokus pada pekerjaannya.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang namun Alvin masih berada di depan komputernya.


"Apa kau tidak akan makan siang?" tanya Daniel yang tiba-tiba membuka pintu ruangan Alvin saat Alvin masih fokus pada pekerjaannya.


"Tidak, kau saja," jawab Alvin tanpa membawa pandangannya pada Daniel.


"Baiklah, aku akan makan siang bersama Nerissa di luar," ucap Daniel kemudian menutup pintu ruangan Alvin.


Mendengar ucapan Daniel seketika Alvin menghentikan tangannya yang sedang sibuk mengetik. Ia kemudian membawa pandangannya pada Daniel yang sudah tidak ada di hadapannya.


Alvin kemudian mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan pada Nerissa.


"Tolong luangkan waktumu nanti malam ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu!"


**


Di Marin Florist.


Nerissa menaruh buket bunga mawar yang baru saja Marin buat di keranjang sepedanya. Setelah berpamitan pada Marin, Nerissapun bersiap untuk mengantarkan buket bunga mawar merah itu.


Sesampainya di depan rumah itu Nerissapun segera memencet bel dan tak lama kemudian gerbang tinggi di hadapannya terbuka.


Entah kenapa Nerissa tidak semangat seperti sebelumnya saat ia tahu jika ia harus mengantar buket bunga mawar merah itu ke rumah Amanda.


"Hai Nerissa, kemarilah!" panggil Amanda yang sudah membuka pintunya sesaat setelah Nerissa mengambil buket bunga dari keranjang sepedanya.


Nerissa tersenyum kemudian berlari kecil menghampiri Amanda.


"Ini buket bunga pesananmu Amanda," ucap Nerissa pada Amanda.


"Terima kasih Nerissa, sekarang ikutlah denganku, aku akan menunjukkan......"


"Maaf Amanda, aku harus segera pergi untuk mengantar buket bunga yang lain!" ucap Nerissa memotong ucapan Amanda.


"Benarkah? tetapi tidak ada buket bunga yang lain di keranjang sepedamu!"


"Iya, aku aku harus mengambilnya dulu ke toko bunga jadi aku....."


"Aku hanya ingin menunjukkan lukisan baruku padamu, hanya sebentar saja, apa kau tidak bisa meluangkan waktumu sebentar saja?"


"Baiklah jika hanya sebentar, maaf karena aku tidak bisa berlama-lama disini!"


Amanda tersenyum dengan menganggukkan kepalanya kemudian menarik tangan Nerissa untuk diajaknya ke kolam renang di halaman belakang rumahnya.


"Ini lukisanku yang baru saja selesai, bagaimana menurutmu?" tanya Amanda pada Nerissa.


"Sama seperti yang lain, lukisanmu selalu terlihat cantik Amanda," ucap Nerissa memuji lukisan Amanda yang memang benar-benar terlihat menakjubkan.


Amanda tersenyum senang mendengar jawaban Nerissa yang membuatnya semakin bersemangat untuk kembali melukis.


"Kalau aku boleh tahu sejak kapan kau suka melukis Amanda?" tanya Nerissa pada Amanda.


"Sudah lama, sejak aku masih kecil tetapi beberapa tahun belakangan ini aku sudah tidak pernah melukis lagi dan aku mulai kembali melukis saat aku kembali kesini!" jawab Amanda menjelaskan.


"Apa kau memang selalu menandai alat lukis dengan bintang seperti ini?" tanya Nerissa dengan menunjuk kuas yang Amanda pegang.


"Oohh ini...... bintang ini bukan aku yang menandainya, ini memang merk alat lukis kesukaanku jadi tidak hanya aku yang memiliki alat lukis ini tetapi banyak pelukis lainnya yang juga memilikinya," jawab Amanda.


"Benarkah?"


"Tentu saja, kau bisa menemukan banyak pelukis terkenal yang memakai alat lukis dengan gambar bintang seperti ini!" jawab Amanda.


Nerissa menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Amanda.


"Maaf Amanda aku harus pergi sekarang, aku tidak ingin pelangganku yang lain menunggu terlalu lama," ucap Nerissa pada Amanda.


"Baiklah, lain kali aku akan datang ke toko bungamu secara langsung, boleh kan?"


"Tentu saja boleh, kau bisa memilih banyak bunga di sana," jawab Nerissa.


Nerissa kemudian keluar dari rumah Amanda, mengayuh sepedanya ke arah toko bunga Marin.


Sepanjang perjalanan, Nerissa masih memikirkan tentang Amanda dan Alvin. Meskipun sebenarnya ia tidak ingin terlalu memikirkan hal itu, namun dalam hati kecilnya masih memaksa pikirannya untuk tetap memikirkannya.


"alat lukis yang ada di gudang Alvin bisa jadi bukan milik Amanda tetapi lukisan itu..... itu pasti lukisan Amanda dan Alvin mendapatkannya dari Amanda, padahal Amanda tidak menjual lukisan miliknya, itu artinya Amanda memberikannya pada Alvin secara cuma-cuma dan itu sempat menjadi lukisan yang penting untuk Alvin itu artinya......."


TIIIIIINNNNN!!!


Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Nerissa, membuat keseimbangan Nerissa goyah dan akhirnya ia pun terjatuh dari sepedanya.


TIIIIIINNNN TIIIIIIIINN TIIIIINNNN


Suara klakson yang bersahut-sahutanpun terdengar semakin nyaring karena mobil yang hendak menabrak Nerissa berhenti mendadak, membuat beberapa mobil di belakangnya ikut berhenti mendadak dan menyalakan klaksonnya dengan kencang.


Sedangkan Nerissa masih bersimpuh di tengah jalan raya dengan sepedanya yang tergeletak di sampingnya.