
Alvin mengendarai mobilnya ke arah tempatnya bekerja. Sesampainya disana ia berjalan ke arah pintu utama Atlanta group bersama Cordelia.
"Apa kau bisa makan siang denganku nanti?" tanya Cordelia pada Alvin.
"Mmmm sepertinya untuk saat ini tidak bisa Delia, aku....."
"Menemui Nerissa?" tanya Cordelia memotong ucapan Alvin.
"Ada yang harus aku kerjakan bersama Daniel, kau tahu tentang peragaan busana bulan depan bukan? ada sedikit masalah yang harus segera aku selesaikan," jawab Alvin.
"Baiklah kalau begitu," balas Cordelia.
Saat mereka memasuki lift, seseorang berlari dengan cepat masuk ke dalam lift sebelum pintu lift tertutup.
"Huuuffttt..... hampir saja," ucap Daniel dengan nafas yang terengah-engah.
"Apa kau baru saja berlari dari rumah? kau terlihat berantakan sekali," tanya Cordelia sambil menggeser posisinya menjauh dari Daniel.
"Tapi aku tetap tampan bukan?" balas Daniel penuh percaya diri.
"Kalau kau memang setampan itu Nerissa tidak mungkin mengabaikanmu hahaha....." ucap Cordelia dengan tertawa penuh kemenangan.
Daniel menggelengkan kepalanya pelan sedangkan Alvin hanya terkekeh.
"Apa kalian datang berdua?" tanya Daniel sambil membawa pandangannya pada Alvin dan Cordelia.
"Tentu saja, aku bahkan datang ke rumah Alvin pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapannya," jawab Cordelia.
"Sepertinya kau berbakat untuk menggantikan bibi di rumah Alvin hahaha......" ucap Daniel yang membuat Cordelia seketika memukul bahu Daniel.
slSetelah pintu lift terbuka, merekapun keluar dari lift dan masuk ke ruangan masing-masing, sedangkan Cordelia berjalan ke arah ruangan Ricky.
"Sepertinya Ricky belum datang, apa kau mau menunggu di ruanganku?" ucap Alvin sekaligus bertanya pada Cordelia.
"Tidak, aku akan menunggu di ruangannya," jawab Cordelia lalu masuk ke ruangan Ricky.
Setelah Cordelia menunggu beberapa lama, Rickypun datang.
"Kenapa kau lama sekali, apa kau tidak tahu aku juga sibuk hari ini?" ucap Cordelia kesal pada Ricky yang baru saja tiba.
Ricky hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, ia kemudian mengambil sebuah amplop coklat yang dari laci mejanya lalu memberikannya pada Cordelia.
"Apa ini?" tanya cordelia sambil membuka amplop coklat di tangannya.
"Lihat dulu sebelum kau menanyakannya," balas Ricky.
Cordeliapun mendengus kesal lalu mengambil selembar kertas di dalamnya dan membacanya, ia membelalakkan matanya tak percaya melihat apa yang ada di hadapannya saat itu.
"Apa ini sungguhan?" tanya Cordelia tak percaya saat ia melihat tiket untuk mengikuti acara fashion di Paris.
"Tentu saja, aku bahkan akan menyiapkan transport dan hotel untukmu disana," jawab Ricky.
"Kenapa kau tiba-tiba memberiku tiket ini? bukankah ini sangat mahal bahkan jumlahnyapun sangat terbatas dan kau bisa mendapatkannya untukku?"
"Aku tahu kau sangat menyukai fashion, kau bisa banyak belajar disana, bagaimanapun juga kau adikku Delia, walaupun terkadang kau sangat menyebalkan," jawab Ricky.
"Waaaaah rasanya aku masih tidak percaya kau memberikan ini padaku," ucap Cordelia yang masih terheran-heran.
"Tapi ada satu hal yang harus kau lakukan sebelum kau mendapatkan tiket itu," ucap Ricky yang membuat Cordelia segera membawa pandangannya pada Ricky.
"Apa maksudmu?" tanya Cordelia dengan raut wajah yang berubah.
"Gagalkan acara peragaan busana bulan depan," jawab Ricky tanpa basa-basi.
Cordelia menggelengkan kepalanya pelan mendengar ucapan Ricky, ia tidak mungkin melakukan hal itu karena ia tahu Alvin sudah bersusah payah untuk menyiapkan acara peragaan busana bulan depan.
"Aku tidak bisa melakukannya, lagi pula aku ikut terlibat pada acara peragaan busana itu," ucap Cordelia.
"Justru karena aku tahu kau terlibat dengan acara itu, aku akan membantumu untuk menggagalkan acara itu tanpa seorangpun tahu," balas Ricky.
"Kenapa kau melakukan hal ini Ricky? Alvin dan Daniel sudah menyiapkan acara itu dengan sangat baik, bukankah acara itu nanti akan melibatkan banyak brand besar yang akan bekerja sama dengan Atlanta Group? jika kau menggagalkan acara itu bukankah itu akan merugikan Atlanta Group?" tanya Cordelia yang tak mengerti arah pemikiran Ricky.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang perusahaan ini Delia, lakukan saja yang aku minta setelah itu kau bisa pergi ke Paris, aku akan membiayai semua kebutuhanmu selama kau disana," balas Ricky.
Cordelia hanya terdiam menatap tiket yang ada di tangannya, mengikuti acara fashion di Paris adalah keinginannya sejak lama tapi ia ragu untuk menerima tiket itu dari Ricky.
Ricky kemudian beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Cordelia.
"Pikirkan baik-baik keputusanmu Delia, aku hanya memberimu waktu dua hari, jika kau tidak mau membantuku maka kau tidak akan mendapatkan tiket ini, kau sangat tahu bukan acara fashion di Paris hanya diadakan beberapa tahun sekali dan tidak semua orang seberuntung dirimu Delia!" ucap Ricky lalu merebut tiket yang ada di tangan Cordelia kemudian berjalan keluar dari ruangannya.
Cordelia masih terdiam di tempatnya, rasa senang dan bahagia yang baru saja dirasakannya tiba-tiba lolos begitu saja.
Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya Ricky rencanakan, ia tidak mengerti kenapa Ricky berusaha untuk menggagalkan acara peragaan busana yang seharusnya memberikan banyak dampak positif bagi perusahaan.
Cordelia kemudian berjalan keluar dari ruangan Ricky. Cordelia berjalan dengan melamun karena masih memikirkan apa yang Ricky ucapkan padanya, ia bahkan tidak menyadari jika Alvin ada di dekatnya saat itu.
Melihat Cordelia yang berjalan melewatinya begitu saja, Alvinpun meraih tangan Cordelia karena tidak biasanya cordelia bersikap seperti itu padanya.
Seketika cordelia begitu terkejut saat Alvin meraih tangannya, menyadarkan dirinya dari lamunannya.
"Alvin, kau membuatku terkejut!" ucap Cordelia.
"Apa yang terjadi padamu? apa kau baik-baik saja?" tanya Alvin pada Cordelia yang tampak sedang melamun.
"Aaahhh aku.... aku baik-baik saja," jawab Cordelia berbohong.
"Apa Ricky mengatakan sesuatu padamu Delia? apa dia memarahimu?" tanya Alvin yang dibalas gelengan kepala oleh Cordelia.
"Aku harus pergi sekarang, ada sesuatu yang harus aku kerjakan," ucap Cordelia pada Alvin
"Baiklah hati-hati di jalan," balas Alvin.
Cordelia kemudian berjalan meninggalkan Alvin begitu saja. Ia tidak ingin Alvin curiga padanya jika ia terlalu lama bersama Alvin.
"pikirkan baik-baik keputusanmu Delia, aku hanya memberimu waktu dua hari, jika kau tidak mau membantuku maka kau tidak akan mendapatkan tiket ini, kau sangat tahu bukan acara fashion di Paris hanya diadakan beberapa tahun sekali dan tidak semua orang seberuntung dirimu Delia!"
"aku memang sangat ingin menghadiri acara fashion di Paris, sudah bertahun-tahun aku menunggu untuk bisa menghadiri acara itu tapi aku gagal mendapatkan tiket untuk ke sana dan sekarang tiket itu ada di depan mataku tapi..... apakah aku harus mengorbankan hal lain untuk bisa mendapatkan tiket itu?" batin Cordelia bertanya pada dirinya sendiri.
**
wlWaktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore saat Marin dan Nerissa sudah bersiap-siap untuk menutup toko bunga mereka.
Namun tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan toko bunga tepat saat Marin akan menutup pintu toko bunganya.
"Tunggu.... tunggu!" ucap Cordelia sambil berlari kecil setelah ia keluar dari mobilnya.
"Kau terlambat," ucap Marin sambil menutup pintu namun Cordelia berusaha menahan pintu itu.
"Dimana Nerissa? aku hanya ingin bertemu dengannya," tanya Cordelia.
"Untuk apa kau bertemu Putri? kau ......"
"Berhentilah mencurigaiku Marin, aku hanya ingin bertemu dengannya," ucap Cordelia memotong ucapan Marin.
"Ada apa Marin?" tanya Nerissa yang mendengar keributan di toko bunga.
"Nerissa, aku hanya ingin bertemu denganmu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Cordelia pada Nerissa yang menghampirinya
"Masuk saja ke rumah," balas Nerissa lalu berjalan ke arah rumah diikuti oleh Cordelia.
Marin hanya menghela nafasnya lalu menutup toko bunga, kemudian mengikuti Nerissa dan Cordelia.
Nerissa, Cordelia dan Marin duduk di ruang tamu, dengan pandangan tidak suka Marin menatap Cordelia dan tidak mengalihkan sedetikpun pandangannya dari Cordelia.
"Bisakah kau pergi? aku hanya ingin berbicara dengan Nerissa," ucap Cordelia pada Marin.
"Apa kau lupa apa yang sudah kau lakukan? aku sama sekali tidak mempercayaimu!" balas Marin.
"Apa kau lupa kalau aku sudah membantu Nerissa untuk menemui bibi?" tanya Cordelia yang membuat Marin terdiam dan membawa pandangannya pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum pada Marin seolah memberikan kode pada Marin agar Marin meninggalkannya berdua dengan Cordelia.
"Baiklah, kali ini aku akan mempercayaimu, jika sampai terjadi sesuatu pada Putri aku benar-benar tidak akan pernah mempercayaimu walaupun kau berbuat baik sekalipun,” ucap Marin sambil menatap tajam Cordelia kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya.
Cordelia hanya menghela nafasnya kasar melihat sikap Marin padanya.
"Ada apa kau mencariku Delia? apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Nerissa pada Cordelia.
"Aku tidak ingin berbasa-basi lagi Nerissa, aku hanya akan menanyakan hal ini satu kali, apa kau benar-benar mencintai Alvin?" tanya Cordelia yang membuat Nerissa sedikit terkejut.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" balas Nerissa bertanya.
"Sudah kuduga kau tidak akan langsung menjawabnya," ucap Cordelia yang sudah bisa menerka respon Nerissa atas pertanyaannya.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan Delia? apa kau ke sini hanya untuk menanyakan hal itu?" tanya Nerissa.
"Kau pasti tahu aku mencintai Alvin, aku sangat dekat dengannya sejak kita masih kecil dan selama itu dia selalu baik padaku, aku merasa dia sangat menyayangiku tapi setelah dewasa aku sadar bahwa rasa sayangnya ternyata hanyalah sebatas kasih sayang seorang kakak kepada adik," ucap Cordelia dengan menundukkan kepalanya.
"Entah sebagai adik atau bukan, bukankah yang terpenting dia masih menyayangimu?"
"Entahlah, aku seperti tidak bisa menerima hal itu, walaupun aku tahu dia hanya menganggapku sebatas adik tetapi aku tidak bisa berhenti berusaha untuk membuatnya mencintaiku," balas Cordelia.
Nerissa hanya terdiam mendengarkan ucapan Cordelia, ia masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan Cordelia sebenarnya.
"Jika kau mencintai seseorang, apa kau akan mengorbankan impianmu demi seseorang yang kau cintai?" tanya Cordelia pada Nerissa.
Nerissa terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Cordelia. Ia sadar ia sudah hanyut dalam perasaan cinta yang tidak seharusnya ada.
Jika memang harus berkorban untuk Alvin, dalam hatinya Nerissa mempertanyakan pengorbanan apa yang harus Nerissa lakukan sedangkan Nerissa sendiri tidak memiliki impian apapun selain hidup bahagia bersama sang Bunda di Seabert.
"tujuanku kesini hanyalah untuk mencari mutiara biru Bunda, meskipun aku sangat mencintai Alvin aku tetap harus kembali ke Seabert demi kesembuhan Bunda dan demi kedamaian di Seabert, lalu pengorbanan seperti apa yang aku lakukan untuk Alvin? laki-laki satu-satunya yang aku cintai selain ayah," batin Nerissa bertanya dalam hati.
"Jawablah Nerissa, jangan hanya diam," ucap Cordelia membuyarkan lamunan Nerissa.
"aku dan Alvin memang ditakdirkan untuk bertemu dan saling mencintai, tapi kita tidak ditakdirkan untuk bersama selamanya, yang bisa aku lakukan hanyalah menghapus ingatan Alvin tentangku lalu pergi jauh darinya, membiarkan aku sendiri yang merasakan rasa cinta ini meskipun aku sangat ingin bersama dengannya selamanya, apa ini bisa disebut pengorbanan?" batin Nerissa bertanya.
"Jika kau memang mencintainya kau pasti tahu apa yang terbaik untuknya Delia, meskipun terkadang apa yang terbaik untuknya bukanlah apa yang kau inginkan tapi kau pasti akan melakukannya demi seseorang yang kau cintai itu," ucap Nerissa.
Cordelia menghela nafasnya, kembali menundukkan kepalanya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ada apa Delia, apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Nerissa yang melihat Cordelia tampak tidak sedang baik-baik saja.
Cordelia kembali menghela nafasnya panjang seolah membuang beban pikiran dalam kepalanya.
"Apa kau bisa meninggalkan Alvin untukku Nerissa?" tanya Cordelia yang membuat Nerissa begitu terkejut.
"Apa maksudmu Delia? kenapa kau bertanya seperti itu padaku?" balas Nerissa bertanya.
"Aku hampir saja mendapatkan apa yang aku impikan selama ini, tetapi untuk mendapatkannya aku harus melakukan hal bodoh yang bisa membuat Alvin bersedih," ucap Cordelia.
"Lalu apa kau akan melakukan hal bodoh itu untuk mendapatkan apa yang kau impikan?" tanya Nerissa.
"Aku sudah mengatakannya padamu Nerissa, aku mencintai Alvin meskipun aku tahu Alvin tidak mencintaiku, jadi tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang membuat Alvin bersedih, tetapi......."
"Tetapi apa Delia?" tanya Nerissa saat Cordelia menggantung ucapannya.
"Tetapi jika itu menyangkut apa yang aku impikan selama ini aku ragu apakah aku bisa melepas impianku itu demi Alvin," ucap Cordelia.
"Lalu apa maksud dari pertanyaanmu padaku? kenapa kau menanyakan hal itu padaku?"
"Jika kau mencintai Alvin kau pasti tidak ingin dia bersedih bukan? jadi maukah kau berkorban untuknya dengan cara menjauh darinya? dengan begitu aku akan melepaskan impianku demi Alvin, dengan begitu semuanya akan baik-baik saja dan tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada Alvin," jawab Cordelia menjelaskan.
Nerissa terdiam mendengar ucapan Cordelia, saat Alvin sudah melepaskan Amanda kini Cordelia kembali memintanya untuk menjauh dari Alvin.
Dalam hatinya Nerissa ragu apakah ia dan Alvin ditakdirkan untuk bersama meski hanya sesaat, mengingat banyaknya jalan berliku yang harus mereka berdua lewati.
Sama halnya dengan Nerissa, Cordeliapun hanya terdiam berkutat dengan segala macam pikiran dalam kepalanya. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk melepaskan impiannya jika Nerissa bersedia untuk menjauh dari Alvin, dengan begitu tidak akan ada lagi penghalang baginya untuk mendapatkan Alvin.