
Alvin masih berada di teras rumahnya bersama Daniel. Bisa mengobrol dengan Daniel setelah pertengkaran mereka merupakan suatu hal yang melegakan untuk Alvin, tetapi permintaan Daniel pada Alvin cukup membuat Alvin merasakan sesak dalam dadanya.
"Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta padanya!" ucap Daniel pada Alvin yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Daniel.
"Aku sudah berusaha untuk menjauhinya Daniel, aku sudah mengabaikan panggilannya, aku sudah mengabaikan pesan darinya dan sekarang aku akan menganggap bahwa aku tidak pernah bertemu dan mengenalnya!" ucap Alvin bersungguh-sungguh.
Alvin tahu pasti, ada sesak dalam dadanya yang ia rasakan saat ia mengatakan hal itu pada Daniel, tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain, karena baginya persahabatannya dengan Daniel tidak bisa tergantikan oleh apapun.
Bukan hanya karena Daniel adalah sahabat baiknya, tetapi karena Daniellah Alvin bisa keluar dari masa lalu buruk yang menghantuinya.
"Apa kau tidak akan menyesali ucapanmu Alvin?" tanya Daniel memastikan.
"Tidak akan pernah ada penyesalan dalam persahabatan Daniel," balas Alvin.
Daniel tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya.
"Aku ke sini karena ingin minta maaf padamu, maafkan sikapku yang berlebihan kemarin," ucap Daniel pada Alvin.
"Aku bisa memahamimu Daniel, aku harap setelah ini tidak ada lagi pertengkaran di antara kita berdua," ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Daniel.
"Apa aku boleh menginap disini malam ini?" tanya Daniel.
"Tentu saja, kenapa kau masih bertanya, ayo masuklah!" balas Alvin lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Daniel.
Alvin kemudian masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian, sedangkan Daniel duduk di ruang tengah sambil menonton TV.
Tak lama kemudian Alvin keluar dari kamar dan menghampiri Daniel.
"Sepertinya Ricky akan sangat marah padaku besok!" ucap Daniel pada Alvin.
"Aku sudah memberitahunya bahwa kau sedang sakit hari ini, jadi aku mengajak orang lain untuk menemaniku menghadiri pertemuan di luar kota."
"Waaaah...... kau pandai berbohong sekarang!"
Alvin hanya tersenyum tipis tanpa mengucapkan apapun.
"Tentang ucapanmu saat di kantor kemarin, apa kau serius ingin resign dari Atlanta Grup?" tanya Alvin pada Daniel.
"Tentu saja tidak, aku tidak sebodoh itu Alvin, walaupun aku sangat marah padamu tetapi aku tidak akan melakukan hal itu hanya untuk menjaga jarak denganmu!"
"Baguslah kalau begitu karena jika kau resign itu akan sangat menguntungkan bagi Ricky!"
"Kau benar," balas Daniel sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aku masih ragu, apa kau akan benar-benar menjauhi Nerissa sekarang?" tanya Daniel pada Alvin.
Alvin kemudian mengambil ponselnya dan memberikannya pada Daniel. Alvin menunjukkan banyak pesan dan panggilan dari Nerissa yang ia abaikan.
"Apa kau tidak sadar jika kau membuatnya bersedih?" tanya Daniel.
"Ada kau yang akan membuatnya bahagia," balas Alvin.
"Bagaimana jika dia lebih bahagia bersamamu?"
"Apa yang kau bicarakan Daniel, aku hanya temannya, dia bisa menemukan banyak kebahagiaan dengan cara yang lain," jawab Alvin.
"Apa kau juga hanya menganggapnya sebagai teman?" tanya Daniel yang membuat Alvin terdiam beberapa saat.
"Banyak orang berkata bahwa tidak ada pertemanan di antara laki-laki dan perempuan, entah salah satu atau keduanya pasti menyimpan perasaan lebih dari sekedar teman," lanjut Daniel.
"Bukankah kau juga berteman dengan Marin? apa itu artinya kau menyukai Marin atau bisa jadi Marin yang memiliki perasaan lebih padamu?" balas Alvin mengalihkan pembicaraan.
"Mmmmm..... khusus untukku dan Marin berbeda, kita berteman tapi juga bermusuhan hahaha....." balas Daniel.
Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar jawaban Daniel.
Malampun semakin larut, Alvin dan Daniel masih berada di depan TV membicarakan banyak hal sampai lewat tengah malam.
Tepat pukul satu dini hari, Alvin beranjak dari duduknya untuk masuk ke kamar, begitu juga Daniel yang masuk ke kamarnya.
Daniel merebahkan badannya di ranjang yang selalu ia tempati saat menginap di rumah Alvin.
"sampai kapan kau akan menyembunyikan hal itu padaku Alvin, kapan kau akan jujur pada dirimu sendiri bahwa kau memang benar-benar sudah jatuh cinta pada Nerissa," ucap Daniel dalam hati.
**
Malam telah berlalu berganti pagi. Daniel mengerjapkan matanya lalu beranjak dari tidurnya.
Daniel keluar dari kamarnya lalu menghampiri bibi yang sedang memasak di dapur.
"Alvin belum bangun Bi?" tanya Daniel pada bi Sita.
"Sepertinya belum den," jawab bi Sita.
"Kalau dia sudah keluar dari kamar tolong sampaikan padanya bahwa Daniel sudah pulang ya bi!"
"Baik Den."
"Terima kasih Bi, Daniel pulang dulu!" ucap Daniel kemudian keluar dari rumah Alvin.
Daniel mengendarai mobilnya kembali pulang ke rumah. Ia merasa lega karena permasalahannya dengan Alvin sudah selesai. Ia sekarang tahu apa yang harus ia lakukan.
"aku tahu kau mencintainya Alvin, terima kasih karena sudah berusaha mempertahankan persahabatan kita," ucap Daniel dalam hati sambil tersenyum
Sesampainya di rumah, Daniel segera membawa langkahnya masuk ke dalam kamar.
Baru saja ia membuka pintu kamar, sang mama sudah berlari kecil ke arahnya.
"Kenapa kau baru pulang? apa kau menginap di rumah Marin?" tanya Mama Daniel penuh semangat.
"Daniel menginap di rumah Alvin ma, mana mungkin Daniel menginap di rumah Marin!" jawab Daniel lalu masuk ke dalam kamar diikuti sang mama.
"Mama pikir kau tidak pulang ke rumah karena menginap di rumah Marin!" ucap Mama Daniel.
Daniel lalu membawa pandangannya pada sang mama, memegang kedua bahu sang mama dan menatap kedua mata sang mama.
"Apa yang sebenarnya membuat mama sangat menyukai Marin?" tanya Daniel.
"Karena dia cantik, baik hati dan dia cocok denganmu, terlebih dia memiliki hobi yang sama seperti mama, sangat cocok bukan?"
"Nerissa juga cantik, dia juga baik walaupun dia tidak terlalu banyak mengerti tentang bunga, tetapi dia juga menyukai bunga," ucap Daniel.
"Marin itu istimewa karena dia adalah perempuan pertama yang kau kenalkan pada mama, entah itu kebetulan atau tidak tetapi mama sangat menyukainya sejak pertama kali mama melihatnya dan mama merasa dia adalah perempuan yang cocok untukmu!" ucap mama Daniel.
Daniel menghela nafasnya kemudian berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan sang mama begitu saja.
"Kau juga setuju dengan mama bukan?" tanya mama Daniel.
"Tidak," jawab Daniel singkat sambil menutup pintu kamar mandi setelah ia masuk ke dalamnya.
Mama Daniel hanya tersenyum kemudian meninggalkan kamar Daniel untuk menyiapkan sarapan di meja makan.
Bagi mama Daniel, secantik apapun perempuan lain di matanya, Marin memiliki tempat tersendiri untuknya.
Entah kenapa ia begitu menyukai Marin meski hanya beberapa kali bertemu dengan Marin.
Tak lama setelah sarapan selesai disiapkan di meja, Daniel dan sang papa berjalan ke arah meja makan lalu sarapan bersama layaknya keluarga bahagia yang harmonis.
**
Di Atlanta Grup.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Daniel keluar dari ruangannya dengan membawa sebuah map yang akan ia berikan pada Alvin.
Daniel mengetuk pintu ruangan Alvin beberapa kali sebelum membukanya.
"Ini laporan yang kau minta, apa aku sudah boleh pulang sekarang?" ucap Daniel sekaligus bertanya pada Alvin.
"Apa ada sesuatu yang bisa aku bantu?"
"Tidak, kau pulang saja, aku bisa menyelesaikannya sendiri," jawab Alvin.
"Baiklah, aku pulang dulu!" ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.
Danielpun keluar dari ruangan Alvin lalu meninggalkan kantor, mengendarai mobilnya ke arah toko bunga Marin.
Seperti yang ia harapkan, sesampainya disana ia melihat Nerissa yang sedang duduk bersama Marin di dalam toko bunga.
Danielpun segera keluar dari mobilnya lalu menghampiri Nerissa dan Marin.
"Seperti yang kau harapkan, kau tidak terlambat kali ini!" ucap Marin pada Daniel yang baru saja datang.
Daniel hanya terkekeh kemudian duduk di samping Nerissa.
"Apa kau akan mengantar bunga lagi?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Tidak, aku dan Marin akan menutup toko sebentar lagi," jawab Nerissa.
Daniel mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Nerissa.
Tak seperti biasanya, Nerissa tampak sedang memegang ponselnya dan berkali-kali melihat ke arah ponselnya.
"Kenapa kau terlihat gelisah Nerissa? apa kau menunggu seseorang menghubungimu?" tanya Daniel pada Nerissa yang biasanya jarang memegang ponselnya.
"Tidak," jawab Nerissa lalu menaruh ponselnya.
Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp
Ponsel Nerissa berdering, dengan cepat Nerissa mengambil ponselnya, namun ia tampak kecewa setelah membaca pesan yang masuk ternyata hanyalah spam dari operator.
Nerissapun kembali menaruh ponselnya tak bersemangat.
"Sebenarnya siapa yang kau tunggu Nerissa? aku yakin kau pasti sedang menunggu seseorang untuk menghubungimu!"
"Temanmu itu sangat menyebalkan Daniel, dia tiba-tiba menghilang begitu saja seperti ditelan bumi," jawab Nerissa.
"Alvin maksudmu?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa dengan wajah cemberutnya.
"Apa dia belum menghubungimu juga?"
"Dia bahkan belum membalas pesanku sejak kemarin," jawab Nerissa dengan raut wajah kesal dan sedih yang menjadi satu.
"Mungkin dia sangat sibuk, karena setahuku dia ditugaskan untuk menghadiri pertemuan di luar kota," ucap Daniel.
"Benarkah? apa tidak ada waktu sedikit saja untuk membalas pesanku?"
"Pertemuan yang dihadiri Alvin sangat penting Nerissa, dia juga harus menyiapkan materi presentasi dan menulis laporan sedetail mungkin, dia pasti akan menghubungimu setelah semuanya selesai, jadi aku harap kau bisa memahaminya!" ucap Daniel.
Nerissapun menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
Daniel kemudian membantu Marin dan Nerissa untuk menutup toko bunga karena hari sudah semakin sore.
Setelah toko bunga selesai ditutup, Danielpun berpamitan untuk pulang. Saat Daniel akan masuk ke dalam mobilnya, ia melihat seorang perempuan yang tidak asing baginya.
Perempuan itu turun dari taksi dan berjalan ke arah toko bunga Marin. Daniel yang yakin dengan apa yang dia lihatpun segera menghampiri perempuan itu.
Namun saat perempuan itu menyadari keberadaan Daniel ia segera berlari pergi dan kembali masuk ke dalam taksi
"Amanda tunggu!" ucap Daniel sambil mengetuk kaca jendela taksi yang dinaiki Amanda.
Namun Amanda hanya diam dan meminta supir taksi untuk segera meninggalkan tempat itu. Daniel kemudian segera masuk ke dalam mobilnya untuk mengikuti taksi yang membawa Amanda pergi.
Namun sayangnya Daniel kehilangan jejak taksi itu, membuat Daniel memutar arah untuk kembali pulang ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan pulang Daniel memikirkan tentang siapa yang baru saja ia lihat.
"Kalau dia bukan Amanda tidak mungkin dia menghindariku, aku yakin dia memang benar-benar Amanda, tapi sejak kapan dia disini? apa Alvin sudah bertemu dengannya?"
Daniel menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaannya sendiri.
"Tidak..... tidak mungkin Alvin bertemu Amanda, jika memang mereka sudah bertemu Alvin pasti menceritakannya padaku, apa aku harus memberitahu Alvin atau aku berpura-pura tidak tahu saja jika Amanda sudah kembali dari luar negeri?"
Daniel kembali menggelengkan kepalanya, ia ragu apakah ia harus memberitahu Alvin atau tidak tentang kepulangan Amanda.
Sesampainya di rumah, Daniel segera masuk ke dalam kamar. Ia tiba-tiba memikirkan Nerissa yang tampak bersedih karena Alvin mengabaikannya beberapa hari ini.
"mungkin memang benar apa yang mama ucapkan, aku tidak bisa memaksakan hati yang tidak tercipta untukku, karena sepertinya Nerissa juga menyukai Alvin," ucap Daniel dalam hati.
"Lalu bagaimana dengan Amanda? apa Alvin akan baik-baik saja saat dia bertemu Amanda?"
Daniel menghela nafasnya kemudian menjatuhkan dirinya di ranjang, pusing memikirkan apa yang harus ia lakukan.
"Alvin pasti baik-baik saja, kejadian itu sudah lama berlalu dan Alvin sudah tidak pernah lagi membicarakan Amanda, jadi lebih baik aku tidak memberitahu Alvin tentang Amanda, jadi sekarang aku hanya perlu fokus untuk memperbaiki hubungan Alvin dan Nerissa!"
Daniel beranjak dari ranjangnya kemudian mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan pada Marin.
"Aku tunggu jam 7 malam di tempat kemarin!"
Tak lama kemudian Marinpun membalas pesan Daniel.
"Aku akan sampai di sana lebih dulu agar aku tidak perlu berlari seperti kemarin hehehe...."
Daniel hanya tersenyum tipis kemudian menaruh ponselnya dan kembali membaringkan badannya di ranjang.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Daniel baru saja sampai di depan minimarket.
Dilihatnya Marin yang sudah duduk disana dengan dua botol minuman dan makanan ringan di hadapannya
Danielpun segera menghampiri Marin dan duduk di hadapan Marin.
"Apa aku terlambat?" tanya Daniel.
"Tidak, aku memang berangkat lebih awal," jawab Marin.
"Kenapa kau suka sekali menemuiku seperti ini? apa kau tidak ingin menemui Putri di rumah?" lanjut Marin bertanya.
"Apa yang akan aku katakan padamu adalah rahasia yang harus kau rahasiakan dari Nerissa dan Alvin," jawab Daniel.
"Rahasia apa?" tanya Marin.
"Aku sudah memutuskan apa yang seharusnya aku lakukan Marin, tentang aku, Nerissa dan Alvin, aku sudah mengambil keputusan yang aku harap tidak akan pernah aku sesali," jawab Daniel.
"Keputusan apa maksudmu Daniel?"
"Walaupun Alvin tidak memberitahuku secara langsung tetapi aku tahu dia menyukai Nerissa, bisa jadi dia sudah jatuh cinta pada Nerissa sejak pertama kali dia bertemu Nerissa!"
"Benarkah? apa kau yakin?"
"Aku sangat mengenal Alvin, aku tahu bagaimana sikapnya saat dia menyukai seorang perempuan."
"Bagaimana denganmu? bukankah kau juga sangat menyukai Putri?"
"Aku tidak bisa memaksa Nerissa untuk menyukaiku Marin, jika dia sudah menyukai Alvin maka tidak ada harapan bagiku untuk membuat Nerissa jatuh cinta padaku, tetapi sebelum Nerissa menentukan pilihannya, aku tidak akan menyerah," jawab Daniel.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Marin.
"Bantu aku untuk memperbaiki hubungan Alvin dan Nerissa terlebih dahulu, Nerissa sudah cukup bersedih dengan sikap Alvin yang tiba-tiba menjauh darinya, kau tahu sendiri bukan bahwa Alvin melakukan hal itu karena tidak ingin bertengkar denganku!"
Marin terdiam beberapa saat, ia hanya menatap laki-laki di hadapannya tanpa mengucapkan apapun.