Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Memastikan Perasaan



Alvin berada di rumahnya bersama Daniel, ia begitu terkejut dengan apa yang Daniel ucapkan padanya malam itu.


"Dia menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di tepi pantai, mungkin dia sudah jatuh cinta padamu sejak saat itu!"


Alvin terdiam beberapa saat, memastikan bahwa ia tidak salah dengar tentang apa yang baru saja Daniel ucapkan.


"Aku memang menyukai Nerissa, tetapi aku tidak akan memaksanya untuk jatuh cinta padaku karena aku tahu di hatinya sekarang sudah ada dirimu Alvin," ucap Daniel.


"Apa kau sedang bercanda?" tanya Alvin yang masih tidak mempercayai ucapan Daniel.


"Untuk apa aku bercanda tentang hal ini, aku sudah memastikannya sendiri pada Nerissa, aku bertanya padanya agar aku mempunyai alasan untuk berhenti menunggunya dan ternyata jawaban Nerissa berhasil membuatku berhenti berusaha dan menunggunya karena aku sadar aku tidak bisa memasuki hati seseorang yang sudah menyimpan orang lain di dalamnya," jawab Daniel.


Alvin kembali terdiam mendengar ucapan Daniel, ia tidak mengerti apa yang harus ia katakan saat itu.


"Jika kau juga memiliki perasaan yang sama sepertinya katakan padanya Alvin, agar dia tidak menunggumu terlalu lama!" ucap Daniel.


"Bagaimana denganmu? apa kau akan baik-baik saja?" balas Alvin bertanya.


"Jangan mengkhawatirkanku, aku pasti baik-baik saja," jawab Daniel.


Alvin menghela nafasnya lalu menyandarkan dirinya pada sandaran sofa dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan Daniel," ucap Alvin.


"Pikirkan baik-baik Alvin, jangan membuatnya menunggu tanpa kepastian!" ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya.


"Aku pulang dulu, aku harap kau segera memutuskan apa yang harus kau lakukan!" ucap Daniel kemudian berjalan keluar dari rumah Alvin.


Alvin hanya diam di tempatnya duduk, ia masih memikirkan ucapan Daniel padanya.


"Nerissa, apa aku jatuh cinta padanya? sejak kapan? apa aku yakin sudah membuka hatiku untuknya? apa aku bisa memberikan seluruh hatiku untuknya? aku takut aku hanya akan menyakitinya nantinya," ucap Alvin dalam hati kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya.


Di sisi lain Daniel mengendarai mobilnya ke arah rumahnya, ia mengetuk pintu kamar sang mama beberapa kali sebelum akhirnya sang mama membukanya.


"Apa papa belum pulang ma?" tanya Daniel pada sang mama karena tidak melihat mobil papanya di garasi.


"Belum Daniel, ada pekerjaan penting di luar kota, jadi papamu akan menginap beberapa hari disana," jawab Mama Daniel.


"Kalau begitu Daniel akan tidur disini bersama mama," ucap Daniel lalu masuk dan merebahkan badannya di ranjang sang mama.


"Mama baik-baik saja Daniel, kau tidurlah di kamarmu!" ucap mama Daniel yang berpikir jika anak laki-lakinya itu tengah mengkhawatirkan dirinya.


"Daniel yang tidak baik-baik saja ma," balas Daniel dengan membawa pandangannya menatap langit-langit kamar.


"Ada apa denganmu Daniel? apa terjadi sesuatu?" tanya sang mama.


"Menurut mama puncak rasa cinta seseorang itu seperti apa?" balas Daniel bertanya tanpa menjawab pertanyaan sang mama.


"Kenapa kau menanyakan hal itu? apa kau sedang jatuh cinta atau sedang patah hati sekarang?"


"Mungkin keduanya," jawab Daniel.


"Apa Marin tidak memiliki perasaan yang sama sepertimu?" tanya Mama Daniel.


"Tolong jangan membicarakan Marin ma, ini bukan tentang Marin," jawab Daniel.


"kalau bukan tentang Marin, pasti ini tentang Nerissa," ucap Mama Daniel dalam hati.


"Puncak dari rasa cinta seseorang adalah melepasnya jika memang dia tidak bahagia bersama kita," ucap Mama Daniel.


Daniel lalu membawa pandangannya pada sang mama tanpa mengatakan apapun.


"Mungkin pada awalnya kita akan selalu berusaha untuk membahagiakan pasangan kita meski kita tahu bahwa bukan kita yang diharapkan oleh pasangan kita, pada akhirnya kita harus melepaskannya agar dia bahagia bersama dengan kebahagiaan yang diharapkannya, pada akhirnya kita baru menyadari bahwa apa yang kita lakukan hanyalah mengikuti ego kita sendiri tanpa memikirkan apa yang sebenarnya dirasakan oleh pasangan kita," ucap mama Daniel.


"Menyerah?" tanya Daniel.


"Bukan menyerah Daniel, tapi merelakan dia bahagia bersama dengan pilihannya sendiri, karena kita tahu kebahagiaannya bukan bersama kita," jawab mama Daniel.


"Apa itu yang mama lakukan sekarang? merelakan papa pergi dari mama?"


"Mama dan papa sudah membicarakan hal ini, mungkin memang sebaiknya begitu Daniel, maafkan mama dan papa yang sudah mengecewakanmu!"


"Tidak ma, mama dan papa berhak bahagia, Daniel akan lebih bahagia jika mama dan papa bahagia," balas Daniel.


"Jika mama dan papa benar-benar berpisah ikutlah bersama papamu Daniel, papa lebih membutuhkanmu untuk melanjutkan perusahaannya!"


"Bagaimana dengan mama? apa mama tidak membutuhkan Daniel?"


"Kau anak mama satu-satunya Daniel, tentu saja mama sangat membutuhkanmu untuk selalu ada di samping mama, tetapi mama tidak bisa egois bukan?"


"Daniel tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi ma, jadi Daniel tidak akan bertanya kapan hal itu akan terjadi!"


"Papa sudah setuju untuk berpisah dengan mama setelah papa menyelesaikan proyek besarnya nanti, jadi untuk sementara ini keadaan masih seperti sebelumnya," ucap mama Daniel.


"Daniel harap ini yang terbaik untuk mama dan papa, apapun yang terjadi nanti mama dan papa adalah orang tua yang terbaik untuk Daniel," ucap Daniel sambil memeluk sang mama.


"Terima kasih sudah memahami keadaan kita Daniel," ucap mama Daniel.


"mama benar aku harus merelakan Nerissa mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan, aku tidak akan memaksanya lagi karena aku tahu kebahagiaannya bersama Alvin," ucap Daniel dalam hati


**


Waktu berlalu hari pun berganti. Nerissa sudah bangun dari tidurnya begitu juga Marin yang sudah bersiap untuk membuka toko bunganya.


"aku harus siap mendengar cerita Putri, apapun itu aku akan mendengarnya dengan baik," ucap Marin dalam hati saat melihat Nerissa masuk ke dalam toko bunga.


"Sepertinya semalam kau tidur sangat nyenyak Marin," ucap Nerissa pada Marin.


"Benarkah? apa kau membangunkanku Putri?"


"Iya, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu semalam, tetapi kau tidak bisa bangun sama sekali!"


"Hehehe maafkan aku Putri, sepertinya aku sangat lelah kemarin!" balas Marin beralasan.


"Apa kau akan membuat buket bunga?" tanya Nerissa.


"Tidak, belum ada pesanan yang masuk sejak semalam, sepertinya kita akan bersantai hari ini!" jawab Marin.


"Baiklah, sekarang duduklah aku akan menceritakan semuanya padamu," ucap Nerissa sambil menarik tangan Marin agar duduk di sampingnya.


"Apa yang ingin kau ceritakan padaku Putri, sepertinya penting sekali!"


"Ini sangat penting Marin, aku takut apa yang aku lakukan semalam menyebabkan masalah besar padaku!"


"Memangnya apa yang sudah kau lakukan semalam? bukankah semalam kau bersama Alvin?"


"Lalu dimana masalahnya Putri?"


"Sepertinya aku melakukan kesalahan besar Marin, aku memang bodoh sekali karena aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri!"


"Apa ini tentang Alvin atau Daniel?" balas Marin bertanya.


"Sepertinya aku benar-benar menyukai Alvin dan aku sudah jatuh cinta padanya, lebih bodohnya lagi Daniel mengetahui hal itu," jawab Nerissa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Bagaimana Daniel bisa tahu? apa kau mengatakan hal itu pada Daniel?"


"Daniel tiba-tiba menanyakan tentang hal itu padaku, aku tidak menjawabnya dengan pasti tetapi dia bisa mengetahuinya Marin, aku tidak bisa menyembunyikan dari Daniel tentang apa yang aku rasakan pada Alvin, sekarang apa yang harus aku lakukan Marin? aku sangat bodoh karena melibatkan perasaanku disini!"


"Perasaan cinta memang tumbuh tanpa bisa kau kendalikan Putri, jangan menyalahkan dirimu sendiri, itu adalah hal yang wajar yang bisa kita rasakan!"


"Tetapi tidak seharusnya aku merasakan hal itu pada Alvin, dunia kita sangat berbeda apa yang aku rasakan hanya akan meninggalkan rasa sakit di antara kita berdua, sama seperti yang pernah kau ucapkan padaku Marin, semakin dalam perasaanku padanya semakin besar rasa sakit yang akan aku rasakan nantinya."


Marin hanya diam mendengar ucapan Nerissa, ia ingat apa yang pernah ia ucapkan pada Nerissa, tetapi ia sendiri merasakan hal yang sama seperti Nerissa.


Sejak semalam ia hanya memikirkan apa yang ia lihat antara Nerissa dan Daniel. Hatinya tiba-tiba terasa sakit saat melihat Nerissa dan Daniel berpelukan, entah kenapa ia merasa begitu sedih.


"terkadang cinta memang sejahat itu, datang walaupun tanpa kita inginkan, menetap tinggal dalam hati walaupun takdir tahu dunia kita berbeda," ucap Marin dalam hati.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Marin? apa aku harus menjauhi Alvin agar aku berhenti merasakan sesuatu yang tidak seharusnya ada di hatiku?"


"Apa yang ada di hatimu memang melawan takdir Putri, tetapi kau tidak bisa melawan cinta yang sudah tumbuh dalam hatimu, menjauhi Alvin hanya akan membuat masalah menjadi lebih besar, bagaimanapun juga Alvin dan Daniel adalah manusia yang paling dekat dengan kita dan juga sangat baik pada kita!" ucap Marin.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan toko bunga Marin, Nerissa dan Marinpun kompak membawa pandangan mereka keluar dari toko bunga.


Nerissa yang melihat mobil Alvin berhenti segera beranjak dari duduknya berniat untuk pergi, namun Marin menahan tangannya.


"Jangan menghindarinya Putri, dia tidak melakukan kesalahan apapun padamu!" ucap Marin pada Nerissa.


"Tapi......."


"Selamat pagi," sapa Alvin yang baru saja masuk ke dalam toko bunga.


"Selamat pagi Alvin, apa kau ingin memesan bunga atau menjemput Putri?" balas Marin sekaligus bertanya.


"Apa aku boleh mengajak Nerissa keluar bersamaku Marin?" tanya Alvin pada Marin.


"Tentu saja boleh, kau harus menjaganya dengan baik Alvin," jawab Marin yang dibalas anggukan kepala Alvin.


"Pergilah Putri, tidak ada pesanan yang harus kau antar hari ini!" ucap Marin pada Nerissa.


Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian berjalan keluar dari toko bunga bersama Alvin.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Nerissa saat ia sudah duduk di samping Alvin.


"Membeli akuarium dan membuat aquascape yang baru," jawab Alvin.


Nerissa menganggukan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


"sepertinya Alvin belum tahu tentang apa yang aku bicarakan dengan Daniel semalam, memang lebih baik seperti ini," ucap Nerissa dalam hati.


Waktupun berlalu setelah membeli apa yang mereka butuhkan, Alvin segera mengendarai mobilnya ke arah rumahnya.


Sesampainya di rumah, Alvin dan Nerissa segera mengambil barang-barang yang baru saja mereka beli, mereka membawanya ke bagian belakang rumah Alvin dan meletakkannya di dekat kolam renang.


"Apa kita akan membuatnya sama seperti kemarin?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Iya, aquascape yang kemarin hampir jadi sangat cantik, apa kita bisa membuatnya lagi?"


"Tentu saja," balas Nerissa.


Alvin dan Nerissapun mulai sibuk dengan apa yang mereka kerjakan, sesekali mereka bercanda dan tertawa.


"aku tidak tahu pasti apa yang aku rasakan padamu Nerissa, aku akan memastikannya terlebih dahulu agar tidak akan ada hati yang tersakiti nantinya," ucap Alvin dalam hati sambil menatap gadis cantik yang duduk di sampingnya.


Waktu berlalu, haripun semakin siang, Alvin dan Nerissa baru saja menyelesaikan aquascape yang mereka buat.


Setelah memindahkan ikan-ikan ke dalam aquascape yang baru, Nerissa dan Alvinpun beristirahat.


"Akhirnya selesai juga, apa ini sesuai dengan keinginanmu Alvin?"


"Ini lebih dari yang aku harapkan Nerissa, kau membuatnya terlihat semakin cantik," jawab Alvin.


"Tetapi ikan-ikan di dalamnya jauh lebih cantik."


"Dan menurutku kau yang paling cantik," ucap Alvin yang membuat Nerissa menundukkan kepalanya tersenyum tersipu malu.


Setelah cukup beristirahat dan mengobrol, Alvinpun mengantarkan Nerissa pulang.


"Terima kasih sudah membantuku membuat aquascape Nerissa, aku sangat menyukainya!" ucap Alvin saat ia sudah menghentikan mobilnya di depan toko bunga Marin.


"Membuat aquascape adalah kegiatan paling menyenangkan untukku Alvin, terima kasih sudah mengantarku pulang!" ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


Nerissapun keluar dari mobil Alvin, melambaikan tangannya pada Alvin yang semakin menjauh darinya.


Tepat jam 4 sore Nerissapun membantu Marin untuk menutup toko bunga lalu masuk ke dalam rumah.


Saat Nerissa sedang mengisi bathtubnya dengan air, tiba-tiba saja ia melihat bayangan istana Seabert di dalam air.


Seketika Nerissa terdiam menatap bayangan samar di hadapannya. Dilihatnya sang Bunda yang tengah terbaring di ranjang dengan kedua mata yang tertutup rapat.


Namun saat Nerissa menyentuhkan tangannya ke dalam air, tiba-tiba bayangan itu menghilang. Nerissapun segera keluar dari kamar mandi dan memberitahukan pada Marin tentang apa yang baru saja dilihatnya.


"Mungkin kau terlalu merindukan Ratu Nagisa, Putri!" ucap Marin pada Nerissa.


"Aku memang selalu merindukan Bunda, tetapi aku tidak sedang memikirkan hal itu sama sekali, tapi tiba-tiba aku melihat bayangan bunda di dalam air Marin, aku takut terjadi sesuatu pada Bunda!"


"Tenanglah Putri, Ratu Nagisa pasti baik-baik saja, ada Chubasca dan Beetna yang selalu menjaga Ratu," ucap Marin berusaha menenangkan Nerissa.


Waktupun berlalu, tepat saat bulan mulai menampakkan sinarnya seseorang mengetuk pintu rumah beberapa kali, membuat Nerissa dan Marin saling menatap satu sama lain untuk memastikan apa yang mereka berdua dengar.


"Apa kau ada janji dengan Daniel atau Alvin, Putri?" tanya Marin pada Nerissa.


"Tidak," jawab Nerissa sambil menggelengkan kepalanya.


Nerissa dan Marin kembali membawa pandangan mereka ke arah pintu yang masih diketuk dengan kencang oleh seseorang di luar sana.


Dengan pelan dan hati-hati Marin dan Nerissapun berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Marin dan Nerissa begitu terkejut melihat seseorang yang ada di depan rumah mereka saat itu.


"Chubasca!"