Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Koma



Nerissa masih berada di istana Ratu Baruna, ia bisa bernafas lega setelah Ratu Baruna berhasil mengambil mutiara miliknya dari dalam tubuh Pangeran Merville setelah Pangeran Merville meminum ramuan buatan Marin.


Namun ia masih tidak mengerti kenapa Ratu Baruna memberinya mutiara merah muda yang sekarang ada pada genggamannya.


Mutiara merah muda yang bisa mengabulkan semua permintaan pemiliknya kini ada di dalam genggaman tangan Nerissa.


"Kau perlu tahu Putri, bahwa sudah banyak mermaid yang ingin memiliki mutiara merah muda ini agar keinginannya bisa terwujud tapi setelah mereka tahu bahwa mereka harus mengorbankan hal besar milik mereka, merekapun mengurungkan niat mereka untuk menggunakan mutiara merah muda ini," ucap Ratu Baruna pada Nerissa.


"Jika Nerissa boleh tahu hal besar seperti apa yang harus dikorbankan sehingga para mermaid berubah pikiran setelah mereka mengetahuinya?" tanya Nerissa penasaran.


"Maaf Putri aku tidak bisa memberitahumu, jika memang ada sesuatu yang sangat ingin kau wujudkan kau bisa membawa mutiara merah muda ini pada mermaid tua penjaga persimpangan dunia laut dan manusia, mermaid tua itu akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Ratu Baruna.


"Nerissa pikir keberadaan mermaid tua penjaga persimpangan dunia manusia dan laut hanyalah dongeng belaka, Nerissa tidak tahu jika mermaid tua menjaga dua dunia itu memang benar-benar ada," ucap Nerissa.


"Keberadaannya benar-benar ada Putri, jika kau memang ingin menemuinya maka berenanglah ke arah timur, tepat setelah kau melihat cahaya matahari terbit lepaskan mutiara itu dari genggamanmu maka mutiara itu akan menunjukkan jalannya padamu," ucap Ratu Baruna.


Nerissa menganggukkan kepalanya memahami ucapan Ratu Baruna, meski ia tidak yakin apakah ia akan menggunakan mutiara merah muda itu atau tidak.


"Terima kasih sudah memberikan mutiara ini pada Nerissa, meskipun Nerissa tidak tahu apakah Nerissa akan menggunakannya atau tidak, tetapi Nerissa akan menjaganya dengan baik," ucap Nerissa.


"Aku juga berterima kasih atas bantuanmu Putri, sekarang aku akan membawa putraku ke dalam penjara kegelapan agar dia menyesali apa yang sudah dia lakukan."


Nerissa menganggukkan kepalanya lalu berpamitan untuk kembali ke istananya.


"Bagaimana Putri, kau baik-baik saja bukan?" tanya Chubasca yang segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berenang mengikuti Nerissa.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," jawab Nerissa.


"Syukurlah kalau begitu, lalu bagaimana dengan pangeran Merville? apa rencana kita berhasil?"


"Ratu Baruna sudah berhasil mendapatkan kembali mutiaranya dari tuhuh Pangeran Merville dan Ratu Baruna memutuskan untuk memasukkan Pangeran Marvel ke penjara kegelapan dengan harapan Pangeran Merville akan menyesali hal buruk yang sudah dilakukan olehnya," jawab Nerissa menjelaskan.


"Aaaahhhh akhirnya semua kekacauan ini selesai, sepertinya aku bisa bersantai setelah ini," ucap Chubasca sambil mengangkat kedua tangannya.


"Terima kasih sudah menjaga Bunda dengan baik Chubasca, bunda pasti akan memberikan hadiah untukmu," ucap Nerissa.


"Aku tidak mengharapkan hadiah apapun Putri, aku hanya menjalankan tugasku karena aku sudah mengikat perjanjian darah dengan Ratu, jadi aku akan melakukan semua yang terbaik untuk menjaga ratu dan memastikan ratu dan Seabert dalam keadaan baik-baik saja," balas Chubasca.


"Waah kau sudah dewasa ternyata sekarang, kau membuatku kagum Chubasca," ucap Nerissa sambil bertepuk tangan kecil.


"Jika aku sudah dewasa, apa itu artinya aku boleh menikahimu hehehe....."


"Bagaimana jika kau menikahi Beetna saja, sepertinya dia lebih cocok denganmu," balas Nerissa dengan terkekeh.


"Kenapa aku harus menikah dengan Beetna, dia adalah mermaid paling menyebalkan yang aku kenal selama ini, bahkan dia jauh lebih menyebalkan daripada marin!" ucap Chubasca dengan menggelengkan kepalanya.


Nerissa hanya tertawa mendengar ucapan Chubasca, mereka kemudian berenang ke arah istana bersama.


Sesampainya di istana, Nerissapun memberitahukan tentang keberhasilan misinya untuk membantu Ratu Baruna mengambil kembali mutiara miliknya dari tubuh pangeran Merville.


Semuanyapun bersorak senang terlebih saat Nerissa memberitahu bahwa Ratu Baruna sudah memutuskan untuk memenjarakan pangeran Merville di penjara kegelapan.


"Akhirnya semua masalah ini selesai Putri, rasanya aku bisa bernafas lega sekarang," ucap Marin sambil memeluk Nerissa.


"Aku sangat berterima kasih pada kalian semua yang sudah banyak membantuku, tanpa kalian mungkin rencanaku ini tidak akan berhasil seperti saat ini, jadi aku benar-benar sangat berterima kasih," ucap Nerissa sambil membawa pandangannya pada Marin, Gianira, Chubasca dan Cadassi yang sudah banyak membantunya.


"Sebagai Ratu sekaligus Bunda Nerissa, aku juga sangat berterima kasih pada kalian semua yang sudah banyak membantu Nerissa," ucap Ratu Nagisa.


"Bagaimana jika malam ini kita mengadakan pesta, Ratu?" sahut Chubasca tiba-tiba yang membuat Marin segera memukul punggung Chubasca.


"Ide yang bagus Chubasca, bagaimana menurutmu Nerissa?" balas Ratu Nagisa sekaligus bertanya pada Nerissa.


"Nerissa setuju Bunda," jawab Nerissa tanpa ragu.


"Kalau begitu siapkan semuanya dengan baik dan jangan lupa undang seluruh penghuni Seabert dalam pesta kali ini," ucap Ratu Nagisa yang dibalas anggukan semua yang ada disana.


Waktupun berlalu, pesta yang ditunggu-tunggupun sudah ada di depan mata, semua mermaid tampak tertawa bahagia dengan adanya pesta yang diadakan di aula istana.


Di antara riuh kebahagiaan semua yang ada disana, Nerissa berenang ke arah taman istana seorang diri.


"Apa aku akan menggunakan mutiara merah muda ini suatu saat nanti?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri sambil mengamati mutiara merah muda di tangannya.


"Apa yang kau lakukan disini Putri?" tanya Marin sambil berenang menghampiri Nerissa.


"Hanya ingin duduk sendirian Marin," jawab Nerissa.


"Apa aku mengganggumu? apa kau mau aku pergi?" tanya Marin.


"Tidak, duduklah," jawab Nerissa yang membuat Marin segera duduk di samping.


"Lihatlah Marin, mutiara ini sangat cantik bukan?" ucap Nerissa sambil menunjukkan mutiara merah muda yang ada di genggamannya.


"Waah aku baru pertama kali melihatnya Putri, dari mana kau mendapatkan mutiara merah muda ini, setahuku mutiara milikmu berwarna biru!"


"Aku mendapatkan mutiara ini dari ratu Baruna, Ratu Baruna memberikannya padaku sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantunya mengambil mutiara miliknya dari tubuh Pangeran Merville," jawab Nerissa menjelaskan.


"Mutiara ini sangat cocok dengan ekormu Putri, tapi kenapa kau hanya menggenggamnya? apa kau tidak akan menaruhnya di mahkotamu?"


Nerissa menganggukkan kepalanya lalu mengambil mahkotanya dan menaruh mutiara merah muda itu di samping mutiara biru miliknya.


"Kau terlihat semakin cantik Putri," ucap Marin mengagumi kecantikan Nerissa.


"Aku yakin kau juga sedang merindukannya Marin, meskipun kau dan Daniel sering bertengkar tapi kalian berdua saling memberikan perhatian dengan cara kalian sendiri," ucap Nerissa.


Marin hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia membenarkan apa yang Nerissa ucapkan.


Ia memang merindukan Daniel bahkan saat matanya akan terpejam setiap malam, selalu ada bayang-bayang Daniel di pelupuk matanya.


"Apa kau menyesali keputusanmu Marin?" tanya Nerissa.


"Tidak Putri, aku menyadari perbedaanku dengannya, dia adalah manusia sungguhan sedangkan aku hanya mermaid yang berpura-pura menjadi manusia, meskipun hatiku berkata bahwa aku mencintainya tetapi logika memaksaku untuk menolak perasaan itu karena aku tahu apa yang aku rasakan itu hanya akan menyisakan rasa sakit dalam hatiku," ucap Marin.


"Tapi aku yakin masih ada kebahagiaan dalam hatimu, karena pada akhirnya dia menyatakan perasaannya padamu," ucap Nerissa yang yang membuat Marin tersenyum dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Pada akhirnya aku tahu bahwa perasaanku berbalas, itu membuatku senang sekaligus membuatku sangat sedih Putri, karena pada saat itu juga aku harus meninggalkannya dan membuatnya melupakanku untuk selamanya," ucap Marin.


"Setelah semua masalah ini selesai, aku akan meminta izin pada bunda untuk kembali ke daratan," ucap Nerissa yang membuat Marin segera membawa pandangannya pada Nerissa.


"Apa Ratu akan mengizinkannya Putri? apa aku boleh ikut bersamamu nanti?" tanya Marin.


"Aku akan mencari alasan agar Bunda mengizinkanku dan tentu saja kau ikut bersamaku jika Bunda sudah mengizinkanku, bagaimanapun juga aku harus kembali ke daratan untuk memberikan mutiara biru milik ayah pada Alvin," ucap Nerissa.


"Apa kau yakin akan memberikan mutiara itu pada Alvin, Putri? apa itu tidak akan mempengaruhi kekuatanmu nantinya?" tanya Marin.


"Aku tidak peduli apakah aku masih memiliki kekuatan atau tidak, bagiku keselamatan Alvin lebih penting Marin, kalau memang aku harus meninggalkannya setidaknya aku tidak membiarkannya seperti mayat hidup untuk selamanya," ucap Nerissa.


"Bagaimana jika Ratu Nagisa mengetahui apa yang kau lakukan di daratan? apa Ratu Nagisa tidak akan marah padamu?"


"Aku akan menjelaskannya pada Bunda setelah aku kembali dari daratan, aku akan menerima semua kemarahan Bunda jika memang bunda marah padaku, tapi aku tidak akan menyesali apa yang sudah aku lakukan, setidaknya itulah yang bisa aku lakukan pada Alvin karena dia sudah menjaga mahkotaku dan membiarkanku mengambil kembali mutiara milik Bunda yang bisa aku gunakan untuk mengalahkan Ran," jawab Nerissa panjang.


"Kenapa takdir harus membawa kita pada jalan yang seperti ini Putri? aku tidak bermaksud untuk menyesali semuanya, hanya terkadang semua ini terasa sangat menyedihkan."


"Bersabarlah Marin, aku yakin akan ada keindahan dibalik semua ini," ucap Nerissa lalu memeluk Marin, begitu juga Marin yang membalas pelukan Nerissa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Apa yang kalian berdua lakukan disini?" tanya Ratu Nagisa yang tiba-tiba datang menghampiri Nerissa dan Marin.


"Nerissa dan Marin hanya membicarakan hal-hal kecil Bunda," jawab Nerissa dengan berusaha tersenyum menyembunyikan kesedihannya.


"Kalian belum pernah menceritakan tentang kehidupan kalian di daratan, apa disana menyenangkan?" tanya Ratu Nagisa.


"Sangat menyenangkan Bunda, Nerissa jadi tau bahwa di daratan banyak manusia dengan segala macam sifat dan sikapnya yang berbeda-beda," jawab Nerissa.


"Apa tidak ada seseorang yang membuat kalian betah berlama-lama tinggal di daratan?" tanya Ratu Nagisa yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Marin.


"Aahh Bunda mengerti, dari sekian banyak manusia di daratan pasti ada laki-laki yang mencuri perhatian kalian bukan? tapi kalian harus tetap mengerti bahwa kehidupan kalian yang sesungguhnya berada disini, bukan di daratan," ucap Ratu Nagisa yang membuat Nerissa dan Marin hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepala mereka.


"maafkan Nerissa Bunda, meskipun Nerissa tahu bahwa kehidupan Nerissa adalah disini tetapi Nerissa sudah jatuh cinta padanya, Nerissa sangat mencintainya dan sepertinya tidak akan mudah bagi Nerissa untuk melupakannya," ucap Nerissa dalam hati.


**


Di daratan.


Daniel dan Cordelia sedang berada di rumah sakit, dokter baru saja menjelaskan bahwa tidak ada kemajuan sama sekali pada kondisi Alvin sampai beberapa hari setelah dia melewati masa kritisnya.


"Berapa lama dia akan koma Dok? dia pasti akan segera sadar bukan?" tanya Cordelia dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Tidak bisa dipastikan kapan dia akan sadar, kita hanya bisa menunggunya dengan semua peralatan medis yang melekat pada tubuhnya, kita hanya bisa berdoa agar ada keajaiban yang menyembuhkannya," jawab dokter lalu berpamitan pergi meninggalkan Daniel dan Cordelia yang masih berada di ruangan Alvin.


"Bangunlah Alvin, kau membuatku sangat sedih jika kau terus seperti ini," ucap Cordelia sambil menggenggam tangan Alvin.


"Pulanglah Delia, kau juga harus istirahat dan menjaga kesehatanmu," ucap Daniel.


"Aaahhh iya, tentang mutiara yang pernah aku temukan disini, aku sudah membawanya pada ahlinya dan dia bilang mutiara itu adalah mutiara sungguhan yang sangat jarang ditemukan dan memiliki harga yang sangat mahal," ucap Cordelia.


"Aku tidak peduli dengan mutiara itu Delia, terserah kau ingin menyimpannya atau membuangnya, saat ini yang ada di pikiranku hanyalah masalah perusahaan dan dalang dibalik kecelakaan Alvin," balas Daniel.


"Baiklah kalau begitu, untuk sementara aku akan menyimpannya, tolong segera hubungi aku jika kau sudah mendapatkan informasi terbaru tentang kasus kecelakaan Alvin," ucap Cordelia yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Daniel.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari sang mama.


"Halo ma, Daniel masih....."


"Cepat pergi ke rumah sakit Daniel, papa baru saja kecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit saat ini," ucap mama Daniel dengan suara panik.


"Di rumah sakit mana mama dan papa sekarang?" tanya Daniel.


Setelah Daniel mengetahui bahwa papanya dirawat di rumah sakit yang sama dengan Alvin, Danielpun meminta Cordelia untuk menemani Alvin, sedangkan dia segera berlari ke arah ruangan sang papa dirawat.


"Apa yang terjadi pada papa ma?" tanya Daniel saat ia menghampiri sang mama yang terduduk di depan ruang ICU.


"Papa mengalami kecelakaan Daniel, tulang belakangnya patah dan kemungkinan besar papa akan mengalami kelumpuhan," jawab Mama Daniel dengan air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi.


Daniel yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam tanpa mampu mengatakan sepatah katapun, ia kemudian membawa sang mama ke dalam dekapannya berusaha untuk menenangkan sang mama.


"masalah apa lagi ini ya Tuhan, kenapa banyak sekali masalah yang harus aku hadapi sebelum aku menyelesaikan masalah yang lain," rintih Daniel dalam hati dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Baru saja sang papa menyelesaikan proyek besarnya dan akan berniat untuk menceraikan sang mama setelah proyek besarnya itu selesai.


Namun tiba-tiba musibah kecelakaan itu terjadi yang membuat sang papa terbaring di ranjang rumah sakit dengan ancaman kelumpuhan.