
Flashback sebelum Daniel ke rumah Alvin.
Alvin sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya. Setelah beberapa lama berkutat dengan laptop di hadapannya, Alvin kemudian menyimpan file yang baru saja dikerjakan lalu keluar dari ruang kerjanya.
Alvin duduk di ruang tengah sambil memeriksa beberapa laporan pekerjaan yang dikirim ke emailnya.
Setelah memeriksa beberapa laporan pekerjaan yang masuk, Alvin membuka galeri di ponselnya. Tampak beberapa foto Nerissa saat Nerissa sedang berada di taman bermain bersama dengannya.
Alvin tersenyum melihat betapa cantiknya Nerissa meski Alvin mengambil fotonya diam-diam.
"kau memang sangat cantik Nerissa, wajar jika Daniel menyukaimu sejak pertama kali dia melihatmu" ucap Alvin dalam hati.
BRAAAAKKKK
Terdengar suara barang jatuh dengan cukup keras dari arah gudang, Alvin pun segera menaruh ponselnya dan berjalan ke gudang untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata bi Sita tidak sengaja menjatuhkan tumpukan kardus yang ada di gudang. Alvin kemudian membantu bi Sita untuk membereskan beberapa kardus dan barang-barang di dalamnya yang tercecer.
"Maaf tuan, bibi tidak sengaja!" ucap bi Sita.
"Tidak apa Bi, Bi kembali saja ke dapur, sepertinya bibi sedang memasak tadi!"
"Aaahh iya, bibi masih merebus sayur di dapur!"
"Bibi lanjutkan memasak saja, Alvin akan membereskan barang-barang ini!" ucap Alvin.
"Terima kasih Tuan, bibi permisi," ucap bibi kemudian keluar dari gudang lalu kembali ke dapur.
Tak lama setelah bibi kembali ke dapur, Daniel datang dan menanyakan keberadaan Alvin.
Flashback off
Daniel benar-benar terkejut karena Alvin menyimpan banyak foto Nerissa di ponselnya. Saat Daniel mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, ia mengembalikan ponsel Alvin di meja.
"Sejak kapan kau disini? kenapa tidak memanggilku?" tanya Alvin yang baru mengetahui jika ada Daniel di rumahnya.
Daniel hanya diam dengan raut wajah menahan emosi. Sedangkan Alvin mengambil minuman yang ada di kulkas hendak memberikannya pada Daniel.
Baru saja Alvin menyodorkan minuman itu pada Daniel, Daniel segera berdiri dari duduknya dan melayangkan tinjunya pada Alvin.
Karena tidak menyangka akan mendapat serangan dari Daniel, Alvin terjatuh bersama minuman yang tercecer di lantai.
"Ada apa Daniel? kenapa kau....."
"Seharusnya aku yang bertanya padamu Alvin, ada apa denganmu? apa kau sudah bosan berteman denganku?" tanya Daniel sambil berjongkok dan mencengkeram kerah baju Alvin.
"Ya ampun tuan, ada apa ini? kenapa kalian bertengkar seperti ini?" tanya bi Sita panik.
"Bibi masuk saja Bi, ini hanya salah paham, tolong tinggalkan kita berdua," ucap Alvin pada bi Sita.
"Salah paham apa maksudmu Alvin? semuanya sudah jelas sekarang!" ucap Daniel yang bersiap untuk melayangkan tinjunya pada Alvin namun Alvin menahan tangan Daniel dan mendorong Daniel sekuat tenaganya.
"Kau memang brengsek Alvin!" ucap Daniel penuh emosi sambil kembali menyerang Alvin namun Alvin berhasil menahan serangan Daniel.
"Tunggu dulu Daniel, kita bicarakan baik-baik apa maksud semua ini, kenapa kau melakukan ini padaku!"
"Aku yang seharusnya bertanya padamu Alvin, kenapa kau melakukan ini padaku, aku temanmu tetapi kau malah menusukku dari belakang!" ucap Daniel dengan emosi yang sudah memenuhi kepalanya.
"Apa ini tentang Nerissa?" terka Alvin.
Daniel tersenyum tipis hendak kembali menyerang Alvin, namun lagi lagi Alvin berhasil menahan serangan Daniel.
"Tahan emosimu Daniel, jangan membuatku kehabisan kesabaran karena sikapmu yang seperti ini!" ucap Alvin dengan mencengkeram kuat kedua tangan Daniel.
Daniel hanya diam dengan menatap tajam kedua mata Alvin. Ia merasa benar-benar kecewa dan marah pada Alvin saat itu.
Ia tahu Nerissa memang tidak menyukainya tetapi ia masih berusaha untuk membuat Nerissa jatuh cinta padanya, ia juga tahu jika Alvin dan Nerissa dekat sebatas teman, tetapi ia tidak menyangka jika Alvin diam-diam menyukai Nerissa.
Selama ini Daniel selalu berusaha untuk berpikir positif setiap melihat kedekatan Alvin dan Nerissa karena ia tahu Alvin adalah sahabat baiknya dan ia percaya Alvin tidak akan menghianatinya karena Alvin tahu betapa ia sangat menyukai Nerissa.
"Aku mohon tenanglah dan dengarkan penjelasanku!" ucap Alvin pada Daniel.
Daniel hanya diam, ia menarik kedua tangannya dengan kuat dari genggaman Alvin.
"Apa yang ingin kau jelaskan Alvin? apa kau ingin memberitahuku bahwa kau diam-diam menyukai Nerissa? apa kau ingin memberitahuku bahwa diam-diam kau ingin merebut Nerissa dariku?"
"Tidak Daniel, aku.....
"Nerissa memang tidak menyukaiku Alvin, tetapi apa harus kau memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekari Nerissa saat kau tahu bahwa aku sangat menyukainya, apa ini yang dinamakan teman? apa sebatas ini persahabatan kita? kau benar-benar membuatku sangat kecewa Alvin!" ucap Daniel kemudian berjalan meninggalkan Alvin begitu saja.
"Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu Daniel, persahabatan kita lebih dari segalanya buatku, jadi tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu!"
"Persetan dengan persahabatan, lanjutkan rencanamu untuk mendekatinya Alvin tetapi aku akan pastikan bahwa dia juga tidak akan menjatuhkan hatinya padamu karena aku yang akan membuatnya jatuh cinta padaku!" ucap Daniel sambil menutup pintu rumah Alvin dengan keras kemudian berlari masuk ke dalam mobilnya.
Daniel mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah Alvin. Ia masih tidak menyangka jika hal ini akan terjadi pada persahabatannya dengan Alvin.
Dalam hatinya ia merasa sedih, tidak hanya karena Alvin menyukai Nerissa tetapi karena persahabatannya harus berakhir dengan penghianatan yang Alvin lakukan padanya.
Ia kecewa karena persahabatan yang selalu diutamakan olehnya ternyata sudah dirusak oleh Alvin.
"Kau benar-benar brengsek Alvin, selama ini kau pasti menertawakanku yang ditolak mentah-mentah oleh Nerissa, ucap Daniel dengan raut wajah yang masih menahan emosi dan kekecewaan yang dalam.
"Jika kau bukan sahabatku, kau akan habis hari ini juga Alvin," ucap Daniel sambil memukul setir mobilnya dengan penuh amarah.
Di sisi lain Alvin mengambil ponselnya lalu melihat foto Nerissa yang ada di sana. Tanpa pikir panjang Alvin segera menghapus semua foto Nerissa yang tersimpan di galeri ponselnya.
Bagi Alvin persahabatannya dengan Daniel lebih penting daripada apapun. Ia tidak ingin hubungannya dengan Daniel memburuk seperti yang ia takutkan selama ini.
Tak lama kemudian bi Sita datang dengan membawa kotak P3K karena melihat sudut bibir Alvin yang berdarah.
"Alvin minta tolong pada bibi untuk merahasiakan apa yang baru saja bibi lihat!" ucap Alvin pada bi Sita.
"Baik Tuan," balas Bi Sita.
"Terima kasih Bi," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala bibi.
Alvin kemudian menyeka darah dari sudut bibirnya yang terasa perih akibat tonjokan Daniel padanya.
Hanya karena melihat foto Nerissa yang ada di ponselnya ia tidak menyangka Daniel akan melakukan hal itu padanya.
**
Di tempat lain Daniel menghentikan mobilnya di depan toko bunga Marin. Ia masih terdiam di dalam mobilnya untuk beberapa saat, ia hanya diam dengan menatap Nerissa yang berada di dalam toko bunga.
"kau adalah perempuan pertama yang membuatku jatuh cinta Nerissa, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah meskipun aku tahu Alvin menyukaimu," ucap Daniel dalam hati.
Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca pintu mobil Daniel.
"Apa yang kau lakukan disini? apa kau sedang mengintai Putri?" tanya Marin saat Daniel sudah menurunkan kaca mobilnya.
"Iya, karena aku akan menculiknya," jawab Daniel setelah ia membuka pintu mobilnya.
"Mengerikan sekali, sepertinya aku harus segera melaporkanmu pada polisi," ucap Marin sambil berlari kecil ke arah toko bunganya meninggalkan Daniel.
Daniel yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis kemudian mengikuti Marin berjalan ke arah toko bunga.
"Putri kau jangan dekat-dekat dengannya karena dia berniat untuk menculikmu!" ucap Marin pada Nerissa sambil menunjuk ke arah Daniel yang baru saja masuk ke toko bunga.
"Benarkah? kalau begitu aku harus segera lari sekarang!" ucap Nerissa sambil berlari kecil keluar dari toko bunga dengan membawa buket bunga mawar merah.
"Apa kau akan mengantar pesanan Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa yang berjalan melewatinya.
"Iya, kau jangan mengantarku karena ini pesanan bunga spesial jadi aku akan mengantarnya sendiri," jawab Nerissa yang mengerti jika Daniel ingin mengantarnya.
"Buket bunga itu akan lebih cepat sampai jika aku mengantarmu Nerissa!" ucap Daniel berusaha membujuk Nerissa.
"Pemesan bunga ini sangat baik hati, jadi dia tidak akan memarahiku sekalipun aku terlambat mengantarkan buket bunga pesanannya," ucap Nerissa kemudian segera menaruh buket bunga di keranjang sepedanya lalu mengayuh sepedanya meninggalkan toko bunga Marin.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini!" ucap Daniel setengah berteriak.
Daniel menghela nafasnya kasar kemudian duduk di dalam toko bunga.
"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu Daniel?" tanya Marin sambil menyodorkan sebotol minuman pada Daniel lalu duduk di samping Daniel.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?" balas Daniel bertanya.
"Aku memang tidak secantik Putri, tetapi aku lebih peka daripada Putri, kau harus tahu itu!" ucap Marin sambil meneguk minuman yang ia bawa.
"Kau juga cantik Marin," balas Daniel yang membuat Marin tersedak minumannya dan terbatuk karena ucapan Daniel.
"Berhati-hatilah, tidak akan ada yang merebut minumanmu Marin!" ucap Daniel sambil menggosok punggung Marin.
"Apa kau gugup karena aku mengatakan bahwa kau cantik?" tanya Daniel dengan tersenyum tipis.
Marin membawa pandangannya pada Daniel dengan menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan apapun.
"Kau juga cantik Marin, jangan membandingkan dirimu dengan orang lain, kau memiliki kelebihanmu sendiri yang tidak dimiliki orang lain!" ucap Daniel dengan menatap kedua mata Marin.
Untuk beberapa saat Marin hanya terdiam dengan debaran yang ada di dadanya.
"Kenapa kau hanya diam? apa kau terpesona dengan kata-kataku?" tanya Daniel sengaja menggoda Marin.
"Hahaha...... tergoda dengan kata-katamu? tidak mungkin, aku memang tahu kalau aku cantik tanpa kau harus memberitahuku," balas Marin dengan tertawa menutupi kegugupannya saat itu.
"Hahaha..... kau lucu sekali Marin!" ucap Daniel yang sudah tidak bisa menahan tawanya melihat kegugupan Marin yang terlihat jelas.
Marin hanya tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya dari Daniel yang semakin membuatnya gugup.
"Menurutmu apa yang sedang aku pikirkan saat ini?" tanya Daniel pada Marin.
"Mana mungkin aku tahu Daniel, aku penjual bunga bukan cenayang!"
"Hahaha...... kau benar, pertanyaan yang bodoh sekali Daniel hahaha....."
Marin hanya diam menatap Daniel dari samping, laki-laki di hadapannya itu tampak sedang memikirkan suatu masalah yang berat tetapi ia berusaha untuk menutupinya dengan tawanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? apa kau tidak takut akan jatuh cinta padaku?" tanya Daniel yang merasa Marin sedang menatapnya saat itu.
"Berhenti berbohong Daniel, aku tahu kau tidak sedang baik-baik saja saat ini!" ucap Marin.
"Benarkah? apa yang kau tahu tentangku dengan hanya melihatku seperti ini?" tanya Daniel.
Marin hanya menghela nafasnya kemudian beranjak dari duduknya berniat untuk meninggalkan Daniel, namun Daniel menahan tangan Marin, tidak ingin Marin pergi meninggalkannya.
"Jangan pergi, temani aku!" ucap Daniel dengan raut wajah memohon.
Marin menari tangannya dari Daniel kemudian kembali duduk di samping Daniel.
"Sudah berapa lama kau berteman dengan Nerissa, Marin?" tanya Daniel pada Marin.
"Aku mengenal putri dari kecil Daniel, jadi sudah lebih dari 25 tahun aku berteman dengan Putri," jawab Marin.
"Apa menurutmu kau sudah sangat mengenal Nerissa dengan baik?"
"Aku tidak tahu pasti Daniel, yang aku tahu aku hanya berusaha untuk menjadi teman baiknya yang selalu ada di sampingnya," jawab Marin.
"Apa kalian saling terbuka satu sama lain?"
"Tidak juga, ada beberapa hal yang tidak Putri ceritakan padaku, begitu juga aku yang tidak bisa menceritakan beberapa hal padanya, kami sama-sama menghargai hal itu dan tidak mempermasalahkannya," jawab Marin
Daniel mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Marin.
"Persahabatan bukan hanya tentang selalu menemani satu sama lain, tetapi juga saling memahami satu sama lain Daniel, aku tidak pernah memaksa Putri untuk menceritakan suatu hal padaku begitu juga Putri yang bisa menghargai keputusanku untuk merahasiakan beberapa hal darinya," ucap Marin.
"Bukankah itu artinya kalian tidak saling terbuka satu sama lain?" tanya Daniel.
"Kita saling terbuka tetapi bukan berarti kita harus memaksa kehendak diri sendiri Daniel, bagaimanapun juga kita harus saling menghargai dan memahami satu sama lain, apa kau tidak mengerti maksudku?"
"Jawabanmu terlalu klise Marin," ucap Daniel.
"Terserah kau saja, tetapi memang seperti itu persahabatan yang terjalin diantara aku dan Putri," balas Marin.
"Apa kalian berdua pernah bertengkar?"
"Kalau hanya pertengkaran kecil sering, tetapi hanya pernah satu kali aku benar-benar bertengkar dengan Putri dan aku menyesalinya karena sudah bertengkar dengannya waktu itu," jawab Marin.
"Apa yang membuat kalian berdua bertengkar hebat dan bagaimana kalian berdua bisa kembali bersahabat?"
"Ada masalah besar yang menyangkut keluargaku dengan Putri, aku tidak bisa menjelaskan detailnya padamu, jika kau bertanya bagaimana kita bisa kembali bersahabat itu karena sebenarnya kita tidak saling membenci meski kita bertengkar hebat," jawab Marin.
"Apa kau tidak pernah membencinya sekalipun kau baru saja bertengkar dengannya?"
"Tidak, aku hanya kecewa padanya, kekecewaan itu ada karena kepercayaanku dan rasa sayangku yang tulus pada Putri, jika aku tidak benar-benar tulus bersahabat dengannya mungkin aku tidak akan kecewa padanya," jawab Marin.
"Bagaimana persahabatanmu dengan Alvin? kalian juga sangat dekat, apa kalian juga pernah bertengkar?" lanjut Marin bertanya pada Daniel.
"aku memang sedang bertengkar dengannya sekarang Marin, aku sangat kecewa padanya, tetapi sepertinya aku tidak bisa membencinya meskipun hatiku terasa sakit karena kekecewaanku padanya," ucap Daniel dalam hati.