Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Pencarian



Waktu berlalu, sinar matahari yang muncul di ujung timur langit pagi menyilaukan mata Alvin yang masih terpejam di atas batu karang.


Alvin mengerjapkan matanya beberapa saat sebelum ia benar-benar membuka matanya dan menyadari jika dirinya tertidur di atas batu karang.


Alvin kemudian beranjak lalu kembali menatap lautan luas di hadapannya. Dalam hatinya ia memanggil Nerissa, berharap Nerissa akan datang menemuinya.


Alvin kemudian membawa langkahnya menuruni batu karang, ia berjalan menyusuri tepi pantai berharap menemukan setidaknya tanda-tanda keberadaan Nerissa disana.


Namun ternyata nihil, Nerissa seperti menghilang begitu saja bak ditelan bumi.


Alvin kemudian berjalan meninggalkan pantai, masuk ke mobilnya dan mengendarai mobilnya kembali ke arah rumah Nerissa dengan harapan Nerissa sudah berada di rumah saat itu.


Sesampainya di depan rumah Nerissa, Alvin mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya ia membukanya karena tidak ada jawaban sama sekali dari Nerissa ataupun Marin.


Alvin berkeliling ke setiap sudut rumah Nerissa untuk memastikan apakah Nerissa dan Marin sudah berada di rumah atau belum, namun sama seperti kemarin, ia tidak menemukan siapapun disana.


Dengan langkah yang tak bersemangat Alvin meninggalkan rumah Nerissa, mengendarai mobilnya ke arah rumahnya.


Bagaimanapun juga ia harus tetap melakukan kewajibannya sebagai pegawai perusahaan Atlanta Grup.


Setelah selesai bersiap, Alvin berjalan keluar dari rumah tanpa menyentuh sarapan yang sudah bi Sita siapkan untuknya.


Alvin kemudian mengendarai mobilnya ke arah ke kantor tempatnya bekerja. Sesampainya disana, ia berjalan ke arah ruangannya dengan raut wajah yang tidak bersemangat.


Alvin membawa langkahnya ke ruangannya lalu menjatuhkan dirinya di kursi.


Tak lama kemudian pintu ruangannya terbuka, Danielpun masuk menghampirinya.


"Dilihat dari raut wajahmu sekarang sepertinya belum ada kabar dari Nerissa!" ucap Daniel menerka.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.


"Aku sudah meminta bantuan seseorang untuk mencari Nerissa dan Marin, tetapi sampai sekarang belum ada kabar apapun dari mereka dan kita juga tidak bisa meminta tolong pada pihak kepolisian sebelum 24 jam!" ucap Daniel merasa frustasi.


Daniel kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Alvin untuk kembali ke ruangannya.


Alvin dan Daniel saat itu merasa frustasi karena kepergian Nerissa dan Marin yang tiba-tiba.


Meski begitu, mereka harus tetap profesional pada pekerjaan mereka berdua, bagaimanapun juga mereka berdua adalah dua laki-laki dewasa yang seharusnya bisa membedakan masalah pribadi dengan masalah kantor.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 siang, Alvin membawa berkas-berkas yang dibutuhkannya ke ruang meeting di mana semua orang sudah menunggunya disana.


Ketika sedang menjelaskan materi meetingnya, beberapa kali Alvin tampak kurang fokus dan kesulitan menjawab pertanyaan dari para peserta meeting, membuat Ricky beberapa kali menegur Alvin agar kembali fokus pada materi meeting yang ia jelaskan saat itu.


Setelah meeting selesai, Alvin masih berada di ruangan meeting menatap kosong layar monitor di hadapannya.


"Walaupun ini hanya meeting internal seharusnya kau bisa lebih baik dari hari ini Alvin, kau benar-benar mengecewakan!" ucap Ricky pada Alvin.


Alvin hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia hanya memikirkan dimana Nerissa berada dan kenapa Nerissa tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Apapun masalahmu jangan membawanya ke kantor Alvin, bukankah semua orang mengenalmu sebagai pegawai dengan tingkat profesionalisme paling tinggi disini?"


"Diamlah Ricky, jangan mengajakku berdebat!" ucap Alvin lalu beranjak dari duduknya.


"Aku menegurmu karena kesalahan yang kau lakukan bukan karena aku membencimu, aku memang tidak pernah menyukaimu dan kau pun tidak pernah menyukaiku tapi setidaknya tunjukkan hormatmu padaku Alvin!"


"Aku minta maaf jika sudah mengecewakanmu karena meeting yang tidak sesuai dengan keinginanmu, aku sudah berusaha sebaik mungkin tapi ada sesuatu yang......."


"Persetan dengan semua alasanmu itu Alvin, disini kau adalah pegawai yang harus bertanggung jawab pada pekerjaanmu!" ucap Ricky lalu berjalan ke arah pintu.


"Kau tidak akan tahu apa yang aku rasakan sebelum kau benar-benar jatuh cinta!" ucap Alvin dengan suara yang cukup pelan.


Ricky yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis lalu keluar dari ruangan meeting.


"Jatuh cinta? kekanak-kanakan sekali!" ucap Ricky sambil berjalan meninggalkan ruangan meeting.


Di sisi lain Alvin yang masih berada di ruangan meeting kembali membawa dirinya duduk, ia baru saja menyadari apa yang ia ucapkan pada Ricky.


"jatuh cinta? apa benar aku sudah jatuh cinta padanya?" tanya Alvin dalam hati


Alvin menghela nafasnya, ia merasa sangat bodoh karena terlambat menyadari perasaannya pada Nerissa.


"Sejak pertama kali aku melihatnya aku merasa nyaman dekat dengannya, dia satu-satunya perempuan asing yang aku kenal yang membuatku bisa dengan cepat merasa nyaman, lalu apa yang aku ragukan lagi dari perasaan itu? kenapa aku bodoh sekali?" batin Alvin merutuki kebodohannya sendiri.


Dia menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di tepi pantai, mungkin dia sudah jatuh cinta padamu sejak saat itu


Tiba-tiba Alvin teringat ucapan Daniel padanya bahwa Nerissa ternyata menyimpan perasaan padanya.


"Daniel sudah memberitahuku jika Nerissa menyukaiku, seharusnya aku segera menyatakan perasaanku padanya bukan hanya menunggu dan memastikan keraguan yang aku ciptakan sendiri" ucap Alvin dalam hati.


Tiba-tiba pintu ruangan meeting terbuka, Daniel berlari ke arah Alvin lalu duduk di hadapan Alvin.


"Kenapa kau masih disini? aku mencarimu kemana-mana!" tanya Daniel pada Alvin yang hanya duduk berdiam diri di dalam ruangan meeting.


Alvin hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Daniel.


"Aku sudah mendapatkan tanda keberadaan Nerissa!" ucap Daniel.


"Benarkah? apa kau tahu dimana dia sekarang? apa kau sudah memeriksanya?"


"Dari riwayat pemesanan taksi yang ada di ponsel Marin, dia dan Nerissa pergi ke pantai Pasha tepat sebelum aku mendatangi rumah mereka malam itu dan setelah itu tidak ada lagi aktivitas di ponsel Nerissa ataupun Marin, tetapi aku belum memastikan apakah mereka disana atau tidak!" jawab Daniel menjelaskan.


"Pantai Pasha? kenapa mereka ke sana malam hari?"


"Aku juga tidak tahu, bukankah pantai itu tempat kau dan Nerissa pertama kali bertemu?"


"Iya, aku pertama kali bertemu Nerissa disana dan semalam aku sudah pergi ke sana tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan mereka berdua!" jawab Alvin.


"Apa kau sudah menanyakan pada orang-orang di sekitar pantai?"


"Belum, karena saat aku datang kesana sudah tidak ada siapapun di sana," jawab Alvin.


"Jam makan siang nanti aku akan pergi ke sana untuk memastikannya sendiri!" ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya.


"Aku ikut denganmu!" balas Daniel yang berlari kecil mengikuti Alvin keluar dari ruangan meeting.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Alvin segera membereskan pekerjaannya lalu keluar dari ruangannya, ia berjalan cepat ke arah lift diikuti oleh Daniel yang juga baru keluar dari ruangannya.


"Apa orang suruhanmu belum memberi kabar?" tanya Alvin pada Daniel.


"Belum," jawab Daniel sambil menggelengkan kepalanya.


Dengan menggunakan mobil Alvin, Alvin dan Daniel pun meninggalkan perusahaan dan pergi ke pantai Pasha.


Sepanjang perjalanan mereka berdua berharap akan menemukan Nerissa dan Marin disana.


Sesampainya di pantai, Alvin segera memarkirkan kendaraannya dan berlari ke arah tepi pantai. Sedangkan Daniel bertanya pada orang-orang yang berada di sekitar pantai.


Beberapa lama kemudian Alvin dan Danielpun kembali ke tempat parkir. Alvin menggelengkan kepalanya pelan pada Daniel, begitu juga Daniel, artinya tidak ada tanda-tanda keberadaan Nerissa dan marin disana.


"Apa kau yakin mereka datang kesini Daniel?" tanya Alvin pada Daniel.


"Orang suruhanku sudah memastikannya Alvin dan dari data yang mereka dapatkan memang Marin memesan taksi malam itu," jawab Daniel meyakinkan Alvin.


"Apa mungkin sesampainya disini mereka menaiki bus dan pergi ke tempat lain?"


"Sepertinya tidak mungkin, kau tahu sendiri tidak ada bus atau angkutan umum yang melewati tempat ini saat malam," jawab Daniel.


"Kau benar, lalu ke mana mereka pergi? kenapa tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka disini jika memang tempat terakhir yang mereka tuju adalah pantai ini?"


Daniel hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun, ia pun tidak mengerti apa yang membuat Nerissa dan Marin tiba-tiba menghilang dan pergi begitu saja tanpa memberi kabar.


Alvin dan Daniel kemudian memutuskan untuk kembali ke kantor dan menyerahkan pencarian Nerissa pada orang-orang suruhan Daniel.


Tiba-tiba Alvin teringat ucapan dokter Jessica padanya.


Alvin, yang saat ini dia butuhkan adalah rasa nyaman dan aman, jadi sebaiknya bantu dia untuk berdamai dengan masa lalunya tanpa menanyakan apapun tentang masa lalu yang bisa jadi begitu buruk untuk dia ingat


"Daniel sebaiknya kita tidak melibatkan polisi untuk mencari keberadaan Nerissa dan Marin!" ucap Alvin yang membuat Daniel sedikit terkejut.


"Kenapa? bukankah akan lebih cepat jika polisi ikut turun tangan?"


"Jika polisi ikut turun tangan maka polisi akan menanyakan banyak hal tentang identitas Nerissa dan Marin, seperti yang kau tahu kita bahkan tidak tahu pasti tentang identitas mereka berdua," jawab Alvin.


"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka berdua? setidaknya dengan bantuan polisi kita akan lebih cepat menemukan mereka berdua!"


"Bukankah kau pun tahu, mereka berusaha menyembunyikan identitas mereka, entah apa yang sebenarnya mereka sembunyikan tetapi aku rasa ada masalah besar yang terjadi pada mereka berdua yang membuat mereka seolah mengubur identitas mereka yang sebenarnya!" ucap Alvin.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang Alvin? apa kita hanya akan menunggu mereka kembali?"


"Aku akan berusaha mencari mereka berdua tanpa melibatkan polisi dan aku harap kau pun melakukan hal yang sama, aku tidak ingin mereka berdua kembali namun menjauh lagi karena identitas yang mereka sembunyikan terbongkar, apa kau tidak pernah berpikir bahwa bisa jadi mereka memiliki masa lalu yang buruk yang tidak ingin mereka ingat? itu kenapa mereka berusaha untuk membangun kehidupan mereka yang baru di sini!"


Daniel diam beberapa saat memikirkan ucapan Alvin. Ada sedikit keraguan dalam hatinya untuk mengiyakan ucapan Alvin karena ia takut terjadi hal buruk pada Nerissa dan Marin jika Nerissa dan Marin tidak segera mereka temukan.


"Mereka hanyalah dua gadis yang polos Daniel, kita tidak tahu masa lalu menyakitkan seperti apa yang mereka alami di tempat mereka yang dulu, jadi aku mohon padamu sekali lagi jangan melibatkan polisi!" ucap Alvin memohon pada Daniel.


Seketika Daniel mengingat tentang seorang laki-laki yang ia temui di rumah Marin. Daniel bisa mengingat dengan jelas laki-laki yang diakui sebagai kakak oleh Marin itu tampak begitu kasar pada Marin.


"Baiklah, aku tidak akan melibatkan polisi lagi," ucap Daniel menyetujui ucapan Alvin.


**


Di Seabert.


Nerissa masih berada di kamar sang Bunda, ia sengaja ingin menghabiskan waktunya beberapa lama bersama sang bunda sebelum ia kembali ke daratan.


Saat Nerissa membuka matanya, ia melihat sang Bunda yang masih terpejam di sampingnya.


"apa aku harus memasuki memori Bunda agar aku tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum keadaan Bunda seperti ini?" tanya Nerissa dalam hati.


Setelah memastikan mahkotanya terpakai di kepalanya, Nerissapun menyentuh kening sang Bunda untuk memasuki memori sang Bunda.


Tidak seperti sebelumnya, saat Nerissa berhasil memasuki memori sang Bunda ia hanya melihat daratan yang sangat luas tanpa terlihat ujung dari daratan yang ia pijak saat itu.


Nerissa juga tidak melihat pintu-pintu memori seperti saat ia memasuki memori Marin dan Daniel.


"Kenapa seperti ini? kenapa berbeda dengan saat aku memasuki memori Marin dan Daniel?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri.


"Pasti ada sesuatu disini, aku harus berjalan sampai aku menemukan sesuatu yang bisa menjawab pertanyaanku," ucap Nerissa sambil membawa langkahnya berjalan menyusuri daratan luas yang tak berujung.


"Sepertinya aku hanya berputar-putar disini, aku bahkan tidak tahu dimana ujung daratan ini!" ucap Nerissa sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Ada apa ini Bunda? kenapa aku tidak bisa melihat pintu memori bunda disini?" tanya Nerissa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Suara misterius, kenapa kau juga tidak terdengar disini? apa hanya ada aku sendirian disini?" tanya Nerissa yang tidak mendapat jawaban apapun dari suara misterius yang biasa ia dengar sebelumnya.


Setelah lama berkeliling ke daratan luas yang tak berujung dalam memori sang Bunda, Nerissapun memutuskan untuk keluar.


Nerissa terdiam melihat sang Bunda yang masih terpejam, kedua matanya yang berkaca-kaca kini sudah meneteskan air mata yang perlahan berubah menjadi butiran mutiara yang terjatuh di ranjang.


Nerissa memeluk sang Bunda dengan air mata yang seolah tidak sanggup untuk ia hentikan. Hatinya terasa sedih melihat sang Bunda yang terbaring dengan mata terpejam sejak kedatangannya, bahkan ketika ia akan pergi ia masih tetap melihat sang Bunda terpejam, membuatnya merasa begitu berat untuk meninggalkan sang Bunda.


Marin yang melihat hal itu hanya bisa mengusap punggung Nerissa, berusaha untuk menguatkan Nerissa.


"Kau harus tetap kuat Putri, aku yakin Ratu Nagisa akan baik-baik saja, aku akan selalu ada di sampingmu untuk membantumu menemukan mutiara biru yang akan menyadarkan Ratu Nagisa!" ucap Marin pada Nerissa.


"Tapi aku tidak ingin meninggalkan Bunda dalam keadaan seperti ini Marin, rasanya sangat menyakitkan melihat Bunda yang terpejam dan hanya terbaring seperti ini!"


"Jika kau tetap disini maka semakin lama Ratu Nagisa akan terpejam tidak berdaya, kau harus segera kembali ke daratan Putri dan temukan mutiara biru agar Ratu Nagisa segera bangun dari tidur panjangnya!" ucap Marin pada Nerissa.