Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Tujuan yang Tercapai



Pagi-pagi sekali Cordelia bangun dari tidurnya, ia segera membantu bibi menyiapkan sarapan untuk Alvin.


Tak lama setelah sarapan selesai, Alvinpun keluar dari kamarnya.


"Apa kau akan menemui papa pagi ini?" tanya Cordelia pada Alvin yang baru saja duduk di depan meja makan.


"Tidak, aku hanya akan menunggu apakah papamu akan datang menemuiku atau tidak," jawab Alvin


"Bagaimana jika papa tidak menemuimu? apa kau akan benar-benar melakukan ancamanmu pada papa?" tanya Cordelia.


"Makan saja makananmu Delia, jangan memikirkan hal itu!" ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Cordelia karena Alvin tidak ingin apa yang ia katakan akan menyakiti hati Cordelia saat itu.


Setelah menyelesaikan sarapannya Alvinpun segera berangkat ke kantor. Alvin sedikit terkejut saat ia melihat seseorang yang sudah duduk di dalam ruangannya ketika ia baru saja datang.


"Kenapa Om datang pagi-pagi sekali?" tanya Alvin pada papa Cordelia yang sudah menunggu kedatangannya.


"Apa Delia bersamamu?" tanya papa Cordelia tanpa menjawab pertanyaan Alvin.


"Iya dia menginap di rumah Alvin," jawab Alvin.


Papa Cordelia menghela nafasnya panjang seolah mengeluarkan semua beban pikiran yang ada di kepalanya.


"Sebenarnya apa rencanamu Alvin? sejak kapan kau merencanakan semua ini?" tanya papa Cordelia.


"Alvin hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik Alvin, sejak pertama kali Alvin menginjakkan kaki di perusahaan ini," jawab Alvin.


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan?" tanya papa Cordelia.


"Tentu saja Alvin akan menjaganya dengan baik karena ini adalah peninggalan mama dan papa untuk Alvin," jawab Alvin tanpa ragu.


Setelah perdebatan batin yang cukup lama sejak malam kemarin pada akhirnya papa Cordelia mengakui kesalahannya pada Alvin.


Papa Cordelia menyerahkan semua keputusan pada Alvin tentang apa yang akan Alvin lakukan selanjutnya, ia bahkan siap untuk mendekam di penjara asalkan Alvin tetap menjaga Cordelia dengan baik seperti sebelumnya.


"Apa yang terjadi antara Alvin dan Om Johan tidak ada hubungannya dengan Delia, jadi Alvin pastikan Delia tidak akan terlibat dalam masalah ini," ucap Alvin yang membuat papa Cordelia bisa bernafas lega.


Papa Cordeliapun mulai berdamai, tidak hanya dengan Alvin tapi juga dengan dirinya sendiri. Ia menyadari semua kesalahan yang sudah ia lakukan dan menyesali semua kesalahan itu.


**


Pada akhirnya Alvin mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya, kini perusahaan Atlanta group sudah ada di tangannya. Perusahaan besar milik orang tuanya yang sempat jatuh kini kembali berjaya berkat tangan dingin Alvin yang bisa mengembalikan masa kejayaan Atlanta Group.


Sedangkan Johan Airlangga memulai mengelola perusahaan kecilnya yang mendapat sokongan dari perusahaan Atlanta Group.


Alvin sengaja melakukan hal itu sebagai bentuk rasa terima kasih Alvin karena papa Cordelia yang selama ini sudah mempercayakan banyak hal padanya.


Meskipun keluarga Cordelia pernah melakukan hal yang buruk pada Alvin, tapi kini Alvin dan keluarga Cordelia bisa menjalin hubungan yang jauh lebih baik, hubungan yang tulus tanpa ada kelicikan yang disembunyikan.


Sedangkan Ricky masih mendekam di balik jeruji besi karena kesalahannya yang sudah merencanakan kecelakaan terhadap Alvin.


"Selamat Alvin, akhirnya usahamu selama ini membuahkan hasil," ucap Daniel pada Alvin.


"Semua ini berkat bantuanmu Daniel, aku sangat berterima kasih padamu karena kau sudah banyak membantuku," balas Alvin.


"Jika kau ingin berterima kasih kepadaku tolong berilah aku cuti satu bulan hehehe....." ucap Daniel yang membuat Alvin menggelengkan kepalanya pelan.


"Ayolah Alvin, sejak aku menjadi asisten pribadimu kau tidak pernah memberiku cuti, kau akan menjadi CEO yang paling jahat jika kau terus memperlakukanku seperti ini," ucap Daniel menggerutu.


"Ada proyek besar yang harus kita selesaikan, setelah kita menyelesaikannya aku akan memberimu cuti selama yang kau mau," ucap Alvin yang membuat Daniel menghela nafasnya pasrah, karena ia harus menuruti ambisi Alvin yang sangat tinggi dalam pekerjaannya.


Tak jauh berbeda dengan kehidupan Alvin yang kini berjalan sesuai dengan keinginannya, Danielpun menjalani hidupnya dengan lebih bahagia dari sebelumnya, karena kedua orang tuanya yang memutuskan untuk membatalkan perceraian mereka.


Sejak papa Daniel mengalami kecelakaan dan menderita kelumpuhan, papa Daniel baru menyadari bahwa sang istrilah yang selalu ada untuknya, selalu menyayangi dan mencintainya walaupun sang istri tidak pernah benar-benar mendapatkan cinta dan kasih sayang dari seorang suami.


Papa Daniel menyesali keputusannya untuk menceraikan sang istri. Iapun berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan bersikap lebih baik pada sang istri, ia akan berusaha memberikan seluruh kasih sayang dan cintanya hanya pada istri dan anaknya setelah ia sembuh dari kelumpuhannya.


Tak butuh waktu lama, papa Danielpun sembuh dari kelumpuhan yang dideritanya karena bantuan dari Nerissa.


Setelah papa Daniel benar-benar sembuh dan kembali menjalani aktivitasnya dengan normal, papa Danielpun membatalkan perceraiannya dengan sang istri, membuat Mama Daniel begitu bahagia atas keputusan sang suami.


Sama halnya dengan sang mama, Danielpun bahagia atas batalnya perceraian kedua orang tuanya. Kini keluarga kecil itu mulai menapaki jalan kebahagiaan yang kini terbentang luas di hadapan mereka.


Masa lalu buruk yang pernah terjadi mereka jadikan pelajaran yang berharga untuk bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Dunia Alvin dan Daniel kini seolah tengah berada di atas putaran roda setelah beberapa lama mereka di bawah dan beranjak sedikit demi sedikit untuk bisa mencapai titik atas kebahagiaan.


Kini apa yang mereka impikan sudah mereka dapatkan, namun masih tersisa kehampaan yang ada jauh di dalam hati mereka.


Alvin dan Daniel memang menjalani kehidupan mereka dengan lebih bahagia saat ini tapi tak bisa dipungkiri bahwa mereka sering merasa kesepian karena kekosongan ruang hati mereka.


**


Malam itu, Alvin mengendarai mobilnya ke arah pantai Pasha. Sesampainya disana ia membawa langkahnya menaiki batu karang besar yang ada di tepi pantai.


Seperti biasa, ia menatap hamparan laut lepas yang terbentang di antara kegelapan malam.


"Alvin sudah berhasil ma pa, Alvin sudah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik Alvin, sekarang Alvin akan menjaganya dengan baik tapi...... Alvin sering merasa kesepian ma pa, Alvin seperti sedang merindukan seseorang yang bahkan tidak Alvin tahu siapa seseorang itu," ucap Alvin di antara riuh deburan ombak yang menghantam karang.


Alvin kemudian mengambil batu-batu kecil di sekitarnya lalu melemparnya ke arah laut lepas.


"entah siapa yang sebenarnya aku rindukan saat ini, tapi aku merasa ada sesuatu yang hilang dari hatiku, sesuatu yang meninggalkan rasa sepi dalam hatiku yang sudah cukup lama terkunci," ucap Alvin dalam hati.


**


Waktu demi waktu telah berlalu hari demi hari telah berganti. Nerissa yang pada awalnya bisa menikmati kehidupannya di laut kini sudah tidak bisa lagi menahan kerinduannya pada laki-laki yang ia cintai.


Nerissa yang dulu selalu ceria, penuh tawa dan cerita kini menjadi mermaid murung dan pendiam yang perlahan meninggalkan keramaian hanya untuk menyendiri.


Nerissa bahkan sering menghabiskan waktunya hanya untuk tidur. Ia sengaja memaksa dirinya untuk tidur agar berhenti memikirkan laki-laki yang tidak ditakdirkan untuknya.


Namun setiap ia membuka matanya hanya nama Alvin yang selalu ada dalam kepalanya bahkan rasa sakit saat mereka harus berpisah masih jelas terasa menusuk ke dalam hatinya.


Sesekali memori kebahagiaan tentang kebersamaannya bersama Alvin membuatnya tersenyum meski kedua matanya berkaca-kaca.


Kenangan kebahagiaannya bersama Alvin seolah menghampirinya bersama rasa sakit yang semakin memeluknya dengan erat.


Bukan ia tidak menyukai kehidupannya sebagai mermaid, bukan juga ia tidak menyukai tinggal bersama sang Bunda, namun ia tidak bisa terlalu lama membohongi perasaannya bahwa ia benar-benar telah jatuh hati pada manusia yang bernama Alvin itu.


Hingga pada suatu hari Ratu Nagisapun sudah tidak tahan dengan sikap Nerissa, Ratu Nagisa masuk ke kamar Nerissa dan mendapati Nerissa yang tengah terpejam di atas ranjangnya.


Ratu Nagisapun duduk di tepi ranjang Nerissa, membelai lembut rambut panjang Nerissa.


"Tolong bangunlah sayang, kau membuat Bunda sangat bersedih jika kau terus seperti ini," ucap Ratu Nagisa.


Nerissapun membuka matanya, namun masih dengan posisinya yang terbaring di ranjang tanpa bergerak sedikitpun.


"Apa sebegitu susah memulai kehidupanmu lagi disini Nerissa? apa tidak ada kebahagiaan yang kau rasakan disini? apakah Bunda tidak bisa memberikan kebahagiaan pada kesedihanmu itu?" tanya Ratu Nagisa.


"Jawaban apa yang ingin Bunda dengar, itu yang akan Nerissa katakan," ucap Nerissa yang membuat Ratu Nagisa menghela nafasnya panjang.


"Dunia kalian sangat berbeda Nerissa, jika kau memang mencintainya seharusnya kau bisa melupakannya karena kebersamaan kalian hanya akan membuat kesulitan dalam kehidupannya," ucap Ratu Nagisa.


"Nerissa tahu dan itulah yang membuat Nerissa seperti ini Bunda, Nerissa tidak menyesal dilahirkan sebagai mermaid di istana Seabert tetapi Nerissa menyesali takdir yang mengharuskan Nerissa untuk melupakannya, tapi takdir itu juga yang membuat Nerissa sama sekali tidak bisa melupakannya."


"Carilah kebahagiaanmu disini Nerissa, banyak hal yang...."


"Jika Nerissa bisa, tentu Nerissa tidak akan seperti ini Bunda, menjalani hidup seperti ini juga sangat menyakitkan untuk Nerissa," ucap Nerissa memotong ucapan sang Bunda.


"Apa kau sudah tidak menyayangi Bunda lagi Nerissa? apa kau lebih mencintai laki-laki itu dibanding Bunda?" tanya Ratu Nagisa yang sudah menyerah untuk membujuk Nerissa.


"Jika Nerissa sudah tidak menyayangi Bunda tentu Nerissa tidak akan kembali ke Seabert setelah Nerissa kembali ke daratan untuk menyelamatkannya, Nerissa sangat mencintai Bunda, Nerissa senang hidup bersama bunda disini tetapi dalam rasa senang itu terselip rasa sedih yang melemahkan Nerissa, yang membuat Nerissa takut untuk membuka mata karena saat itulah rasa sakit itu semakin jelas Nerissa rasakan."


"Maafkan Bunda sayang, ini semua demi kebaikanmu dan kebaikan manusia itu," ucap Ratu Nagisa lalu berenang keluar dari kamar Nerissa.


"Nerissa membenci takdir ini Bunda, karena pada kenyataannya tidak hanya dunia kita yang berbeda, tetapi kebersamaan kita yang hanya akan menjadi masalah baginya," ucap Nerissa pelan lalu kembali memejamkan matanya.


Di sisi lain, Gianira dan Marin sudah berkali-kali ingin menemui Nerissa, namun mermaid penjaga yang ada di depan kamar Nerissa melarang siapapun untuk masuk ke kamar Nerissa kecuali Ratu Nagisa.


Mereka semua mengkhawatirkan Nerissa, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membantu Nerisaa.


Di sisi lain, Marinpun merasakan rasa sakit yang sama seperti Nerissa. Terlebih saat ia datang ke daratan untuk yang terakhir kali, sikap Daniel jauh lebih berbeda daripada waktu mereka pertama kali bertemu.


Sikap Daniel yang manis padanya membuatnya semakin jatuh terlalu dalam pada cinta terlarangnya.


Namun Marin sadar diri bahwa dirinya hanyalah mermaid biasa yang ditakdirkan untuk tinggal di lautan.


Tidak ada kekuatan atau apapun yang ia miliki untuk bisa membuatnya mendapatkan cinta pertamanya.


"Apa hebatnya dia, dia hanya manusia biasa yang lemah," ucap Chubasca yang duduk di samping Marin yang tengah melamun saat itu.


"Kau tidak akan pernah tahu karena kau tidak pernah jatuh cinta," balas Marin.


"Itu yang membuatku bersyukur karena jatuh cinta ternyata hanya membuat kita lemah," ucap Chubasca.


"Berhentilah menggangguku, kau memang sangat menyebalkan!" ucap Marin sambil mendorong Chubasca dengan kesal.


"Bagaimana jika aku membuat gelombang yang sangat tinggi sampai ke daratan dan membawanya masuk ke dalam lautan?" tanya Chubasca yang membuat Marin segera memukul Chubasca dengan kuat.


"Hahaha..... aku hanya bercanda lagi pula kekuatanku tidak sebesar itu," ucap Chubasca.


"Dia hanya manusia yang lemah Marin, dia tidak akan bisa melindungimu," lanjut Chubasca.


"Kau salah, justru dia yang selalu ada untukku saat aku membutuhkan pertolongan, dia bahkan yang menolongku dari amukan ayah saat ayah masih dalam pengaruh Pangeran Merville," ucap Marin.


"Tidak mungkin dia bisa melawan ayah, dia bahkan tidak bisa melawanku, aku hanya mendorongnya satu kali dan dia sudah jatuh, dia juga....."


"Dia manusia, dia bukan mermaid sepertimu, dia memiliki caranya sendiri untuk menyelamatkanku jadi jangan selalu menyebutnya lemah karena dia tidak seperti itu," ucap Marin memotong ucapan Chubasca lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Chubasca begitu saja.


"Aku bisa membantumu keluar dari sini," ucap Chubasca yang membuat Marin segera berbalik menatap Chubasca


"Jika kau memang sangat mencintainya, aku bisa membantumu untuk menemuinya," ucap Chubasca.


"Berhentilah bercanda Chubasca, candaanmu itu sama sekali tidak lucu," ucap Marin lalu kembali berenang pergi meninggalkan Chubasca, namun Chubasca segera berenang dengan cepat untuk mengejar Marin.


"Aku tidak sedang bercanda Marin, percayalah padaku," ucap Chubasca berusaha meyakinkan Marin.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan? kau tidak akan melakukan hal yang gila bukan?" tanya Marin penasaran.


"Tentu saja ini hal yang sangat gila, aku bahkan bisa kehilangan nyawaku karena hal ini," jawab Chubasca yang membuat Marin begitu terkejut.


"Sudah sudah..... aku tidak mau mendengarnya lagi, kau memang benar-benar gila," ucap Marin sambil menutup kedua telinganya, lalu berenang lebih cepat meninggalkan Chubasca.


"Aku juga ingin melihatmu bahagia Marin, aku lebih senang melihatmu yang menyebalkan daripada melihatmu yang pendiam seperti ini, aku merasa menjadi kakak yang sangat tidak berguna karena hanya bisa melihatmu bersedih tanpa mampu melakukan apapun," ucap Chubasca dengan menghela nafasnya panjang.