Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Dua Mutiara Biru



Ricky keluar dari ruangan rapat dengan raut wajah kesal. Rapat Umum Pemegang Saham yang baru saja Ricky lakukan ternyata tidak berjalan sesuai dengan rencananya.


"apa yang sebenarnya membuat orang orang bodoh itu bertahan di perusahaan ini? benar benar menyebalkan," batin Ricky kesal.


Ricky kemudian masuk ke ruangannya disusul dengan Alvin.


"Ini adalah proposal pengajuan yang dibuat oleh Tim Perencanaan dari Divisi Pemasaran, aku sudah memeriksanya dan menurutku ini hal yang bagus," ucap Alvin sambil memberikan sebuah map pada Ricky.


"Peragaan busana? siapa model model ini? aku bahkan tidak mengenal mereka sama sekali!"


"Mereka para model yang dulu sempat hits, tapi sekarang karir mereka meredup, mereka sengaja dipilih karena kita harus tetap menekan pengeluaran kita, aku juga sudah menghubungi Cordelia dan dia bersedia untuk membantu acara ini," jawab Alvin menjelaskan.


"Cordelia? kau mau memanfaatkan adikku?"


"Aku hanya meminta tolong padanya dan dia menerimanya, dengan bantuan Cordelia aku yakin kita akan mendapatkan banyak pengunjung, kau tau seperti apa pengaruh Cordelia di dunia maya saat ini," jawab Alvin.


Ricky hanya diam menatap kosong map di hadapannya.


"Sekarang orang orang akan lebih tertarik pada sesuatu yang sedang ramai di dunia maya, kita gunakan kesempatan ini untuk menarik banyak pengunjung, kita akan menampilkan berbagai macam produk mulai dari pakaian remaja sampai dewasa, dengan begitu pasar kita akan lebih luas," ucap Alvin pada Ricky.


"Apa kau yakin ini tidak hanya membuang dana perusahaan?" tanya Ricky memastikan.


"Tentu saja tidak, Tim Perencanaan sudah memperhitungkan semuanya dengan detail, dan menurutku tidak ada yang salah dengan itu, kau bisa memeriksanya sendiri dan segera menandatanganinya agar aku bisa merealisasikan acara itu dalam waktu dekat," ucap Alvin.


"Aku akan memikirkannya, pergilah!" balas Ricky.


Alvinpun keluar dari ruangan Ricky. Sedangkan Ricky memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


"mungkin aku harus sedikit mengalah, aku tidak boleh terlihat terlalu berambisi, setelah aku berhasil mencuri perhatian para pemegang saham, mereka akan mempercayaiku dan memberikan saham mereka padaku," batin Ricky dalam hati.


**


Di Seabert.


Cadassi dan pangeran Merville sedang bertemu di tempat yang sepi. Seperti biasa pangeran Merville kembali memarahi Cadassi karena Putri Nerissa belum juga mau menikah dengannya.


"Kau harus melakukan pekerjaanmu dengan baik jika kau memang ingin menjadi Raja Cadassi!" ucap pangeran Merville pada Cadassi.


"Aku sudah melakukan semua yang ku bisa pangeran, tapi Putri Nerissa sangat keras kepala," balas Cadassi.


"Kau adalah penasihat kepercayaan istana, terus hasut Ratu Nagisa agar memaksa Nerissa untuk menikah denganku!"


"Aku sudah melakukan semua yang kau perintahkan pangeran, tapi kau tau Ratu Nagisa sangat lemah terhadap Putri Nerissa," balas Cadassi.


Pangeran Merville mengepalkan tangannya kesal dengan situasi saat itu. Ia sudah menunggu cukup lama agar Nerissa mau menikah dengannya.


"Tapi pangeran, bukankah kau tau kalau kau tidak akan bisa menggunakan kekuatan mutiara biru itu seorang diri? itu sangat berbahaya dan nyawamu yang akan menjadi taruhannya!"


"Tentu saja aku tau Cadassi, kau pikir aku bodoh?"


Pangeran Merville kemudian mengeluarkan gelang mutiara yang tersembunyi dibalik gelang rumput lautnya.


Pada salah satu mutiara itu terdapat satu mutiara biru yang berkilau indah.


"Kau..... kau mempunyai mutiara biru? darimana kau mendapatkannya?" tanya Cadassi.


"Maksudmu kakakmu yang sudah meninggal?" tanya Cadassi.


"Iya kau benar, menurutmu kenapa dia meninggal?"


"Dia bunuh diri dengan memakan tanaman beracun kan?"


"Hahaha..... ternyata semua orang mempercayai cerita itu, tentu saja bukan karena itu, aku yang membunuhnya hahaha....."


Cadassi terdiam dan bergidik ngeri mendengar ucapan Pangeran Merville. Ia tidak menyangka jika pangeran Merville akan bertindak sejauh itu.


"Sayangnya bunda mengetahui perbuatanku, tapi dia memilih untuk bungkam karena tidak ingin disebut sebagai ratu yang gagal mendidik anak anaknya, itu kenapa aku harus mendapatkan mutiara biru Putri Nerissa karena aku tau bunda tidak akan memberikan mutiara birunya padaku," ucap Pangeran Merville menjelaskan.


Cadassi masih terdiam mendengarkan setiap kata yang diucapkan pangeran Merville. Sekarang ia tau bahwa pangeran Merville tidak hanya menginginkan mutiara biru Putri Nerissa, tapi ia ingin mempunyai kekuatan yang tidak tertandingi.


Karena jika dia memiliki dua mutiara biru, maka ia bisa mengendalikan kekuatan terbesar yang dimiliki mutiara biru itu tanpa membutuhkan pasangan hidup.


Dengan kata lain, Pangeran Merville sebenarnya tidak membutuhkan Nerissa, ia hanya ingin memiliki mutiara biru peninggalan Raja Zale agar ia bisa mempunyai kekuatan yang tidak tertandingi.


Karena Nerissa adalah anak satu satunya Raja dan Ratu di Seabert, sudah pasti Nerissa lah yang akan menerima mutiara biru jika salah satu dari orangtuanya meninggal.


Pangeran Merville sengaja menargetkan Raja Zale yang meninggal terlebih dulu karena ia berpikir jika Ratu Nagisa lebih mudah untuk dibujuk agar mau menikahkan Nerissa dengannya.


Di sisi lain, Chubasca yang baru saja pulang ke rumahnya begitu terkejut saat melihat Marin yang berada di kamar sang ayah.


"Apa yang kau lakukan disana Marin?" tanya Chubasca pada sang adik.


"Aku.... aku hanya....."


Chubasca segera menarik tangan Marin dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Kalau sampai ayah melihatmu di depan pintu ruangan itu, ayah akan sangat marah padamu, jadi jangan lakukan itu lagi, mengerti?"


"Aku tau.... ayah memang sudah memarahiku, itu kenapa ayah memasang tali yang besar dan panjang pada pintu itu," jawab Marin yang membuat Chubasca lebih terkejut lagi.


Pasalnya ia sangat tau bahwa adiknya itu adalah anak yang penurut, ia tidak mengerti apa yang membuat Marin melanggar perintah ayahnya untuk tidak mendekati ruangan itu.


"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? kau ingin masuk kesana?" tanya Chubasca yang hanya dibalas anggukan kepala Marin.


"Kau gila? kau tau ayah sangat melarang kita untuk masuk kesana, apa yang membuatmu menjadi seperti ini Marin? cukup aku yang membuat ulah di keluarga kita, kau jangan mengikuti jejakku!"


"Kalau begitu kau saja yang masuk kesana!" balas Marin.


"Tidak, aku memang suka membuat keributan, tapi aku tidak pernah berniat membuat ayah marah padaku!"


Marin hanya mendengus kesal lalu berenang keluar dari kamar Chubasca.


"Oh ya, kenapa kau bertengkar dengan Putri Nerissa?" tanya Chubasca saat Marin baru saja meninggalkan kamarnya.


"Jawabannya ada di ruangan itu," jawab Marin dengan membawa pandangannya ke arah kamar sang ayah.


Chubasca mengernyitkan keningnya tak mengerti maksud ucapan Marin.