
Di Seabert, Nerissa sedang menemani sang bunda di kamar. Sejak ia tau apa isi dari ramuan yang Cadassi berikan pada bundanya, Nerissa selalu memastikan untuk mengganti minuman itu sebelum sang bunda meminumnya.
Ia sangat ingin memberi tahu sang bunda tentang hal itu, namun ia takut jika sang bunda akan lebih mempercayai Cadassi daripada dirinya.
Terlebih ia belum mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya Cadassi rencanakan dibalik tindakannya itu.
Di sisi lain, Marin sedang menjemput kakaknya yang baru saja terbebas dari ruang isolasi. Meski sebenarnya ia sangat malas melakukannya, ia tidak bisa membantah perintah ayahnya.
"Akhirnya aku keluar juga dari sini!" ucap Chubasca sambil berenang mengitari Marin.
"Kau jangan berulah lagi atau kau akan benar benar dimasukkan ke dalam penjara kegelapan!" ucap Marin pada sang kakak.
"Hahaha.... tenang saja, jangan terlalu mengkhawatirkan aku adikku," balas Chubasca dengan mengalungkan tangannya di leher Marin.
"Iiihhh.... pergilah, kau menghalangi jalanku," ucap Marin dengan mendorong Chubasca.
Chubasca hanya tertawa lalu berenang cepat mendahului Marin.
"Kau mau kemana? jangan coba coba mencari masalah ya!" teriak Marin namun diabaikan oleh Chubasca.
Chubasca berenang ke arah istana untuk melihat keadaan istana yang sudah cukup lama ia tinggalkan.
"kau terlalu sering menghukumku raja, itu sebabnya kau harus meninggalkan laut dengan cepat hehehe...." batin Chubasca dalam hati.
Saat akan menemui Nerissa di kamarnya, Chubasca melihat ayahnya.
"Ayah, apa yang kau lakukan disini?" tanya Chubasca saat melihat Cadassi yang baru saja keluar dari kamar sang ratu.
"Aku baru saja memberikan ramuan untuk Ratu, apa Marin sudah menjemputmu?"
"Iya, tapi dia segera pulang setelah menjemputku," jawab Chubasca.
"Kau juga pulanglah, tidak ada yang bisa kau lakukan disini!" ucap Cadassi.
"Aku hanya ingin menemui Putri sebentar setelah itu aku akan pulang," balas Chubasca lalu berenang meninggalkan Cadassi.
Saat ia baru saja tiba di depan kamar Nerissa, Chubasca melihat Nerissa yang tampak sedang membuang sesuatu dan memasukkan sesuatu yang lain ke dalam wadah yang sama lalu masuk ke kamar Ratu.
"Apa yang baru saja dia lakukan?" tanya Chubasca pada dirinya sendiri.
Ia kemudian menunggu Nerissa untuk keluar dari kamar sang Ratu, karena ia tidak mempunyai wewenang untuk masuk ke kamar Ratu.
Setelah beberapa lama menunggu, Nerissapun keluar dan Chubasca segera menghampiri Nerissa dari arah belakangnya.
"Putri!" panggil Chubasca mengejutkan Nerissa.
"Aahh Chubasca, kau mengejutkanku saja, kau sudah bebas?"
"Tentu saja, apa Marin tidak memberi tahumu?"
Nerissa menggelengkan kepalanya pelan kemudian berenang ke arah taman bersama Chubasca.
"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Chubasca penasaran.
"Hanya salah paham saja," jawab Nerissa.
"Tentang apa?"
"Kau tidak perlu tau, tapi yang pasti aku masih menganggapnya sahabat terbaikku," ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Chubasca.
"Baiklah kalau itu maumu, sebagai gantinya kau bisa menceritakan semua keluh kesahmu padaku," ucap Chubasca sambil menepuk dadanya, membuat Nerissa terkekeh.
"Apa yang terjadi pada Ratu, Putri? kenapa ayahku memberinya ramuan?" tanya Chubasca pada Nerissa.
"Aku juga tidak tau pasti, tapi Cadassi bilang itu adalah salah satu tanda kebangkitan Ran," jawab Nerissa.
"Kebangkitan Ran? apa kau sedang bercanda Putri? sejak kapan kau percaya dongeng seperti itu?"
"Pada awalnya aku memang tidak mempercayainya, tapi setelah aku mencari tau banyak hal sekarang aku tau kalau Ran memang benar benar ada dan dia bisa mengancam keselamatan semua penghuni Seabert," jawab Nerissa menjelaskan.
"Waaahhh waaahhh, sepertinya aku sudah kehilangan banyak berita, apa kau sekarang menjadi rajin membaca sejak dijodohkan dengan pangeran tampan?"
Seketika Nerissa menatap Chubasca dengan tatapan tajam, membuat Chubasca terkekeh.
"Jujur saja padaku putri, aku sudah mendengarnya dari para Morgan, mereka bilang kau akan segera menikah dengan pangeran tampan, siapa namanya..... Evil? Devil?"
Nerissa terkekeh mendengar candaan Chubasca.
"Itu berita bohong, kau tidak seharusnya mempercayainya, aku sama sekali tidak berniat untuk menikah, apa lagi dengan pangeran Merville," ucap Nerissa.
"Kenapa?"
"Entahlah, aku juga tidak tau kenapa aku merasa kalau pangeran Merville punya niat yang buruk pada istana kita," jawab Nerissa.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Aku juga tidak tau," jawab Nerissa sambil menaikkan kedua bahunya.
"Tak apa, itu artinya aku masih punya kesempatan untuk menjadi suamimu hahaha....."
Nerissa hanya memutar kedua bola matanya mendengar candaan Chubasca yang selalu diulanginya dari dulu.
**
Di daratan.
Rapat Umum Pemegang Saham tengah diadakan di perusahaan Atlanta Grup. Para pemegang saham hadir disana untuk mendengarkan upaya Ricky menyelematkan perusahaan yang akan jatuh.
"Satu satu cara yang bisa saya tawarkan adalah, penjualan saham," ucap Ricky yang membuat semua yang hadir disana saling pandang dan berbisik.
"Tolong tenang semuanya, papa saya, Johan Airlangga sudah mempercayakan perusahaan ini pada saya, jadi apapun keputusan saya beliau pasti akan menyetujuinya," ucap Ricky yang memahami kegelisahan anggota rapatnya karena ketidakhadiran sang papa.
"Tolong jelaskan maksud dari penjualan saham yang baru saja kau ucapakan!" ucap Alvin pada Ricky.
"Baiklah, silahkan disimak baik baik!" ucap Ricky sambil menunjuk layar besar dibelakangnya.
"Ini adalah pembagian saham Atlanta Grup saat ini, saham terbesar dipegang oleh papa saya, Johan Airlangga sebesar 25 persen, yang kedua saya sendiri, Ricky Airlangga sebesar 22 persen, yang ketiga Alvin Anggara 20 persen dan sisanya bisa Anda lihat pada berkas yang sudah saya siapkan di meja," ucap Ricky memulai presentasinya.
"Seperti yang kalian semua ketahui, nilai saham kita mulai menurun sejak 5 tahun terakhir, saya sebagai pengganti papa disini tentu tidak bisa menaikkan nilai saham kita dengan cepat, karena nilai saham kita yang semakin menurun alangkah lebih baiknya jika semua yang hadir disini bersedia menjual sahamnya pada saya sebelum kalian semua semakin merugi," lanjut Alvin yang kembali membuat semua yang ada disana saling pandang dan berbisik.
"Melihat keadaan perusahaan saat ini, bukan tidak mungkin jika perusahaan akan benar benar jatuh dalam waktu yang singkat, bukan karena kelalaian saya sebagai pimpinan disini, tapi karena keadaan perusahaan yang sudah lumpuh sejak 5 tahun terakhir akan membuat perusahaan ini susah untuk kembali merangkak ke atas," lanjut Ricky.
"Tunggu dulu, bukankah kita belum melakukan apapun untuk berusaha menaikkan nilai saham kita? tolong jangan terburu buru untuk menjual saham, kita....."
"Bapak Alvin yang terhormat, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, perusahaan ini sudah lumpuh sejak 5 tahun yang lalu, jadi....."
"Saya keberatan!" ucap seseorang yang tiba tiba mengangkat tangannya.
"Benar apa yang diucapkan Alvin, kita harus berusaha dulu, kita lihat sejauh apa kelumpuhan perusahaan ini setelah kita berusaha bangkit, apakah semakin jatuh atau malah berhasil merangkak dan berdiri dengan tegak!" lanjutnya.
Semua yang ada disana kompak menganggukan kepalanya, menyetujui ucapan salah satu anggota rapat.