Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Bertemu Chubasca



Untuk beberapa saat Marin membiarkan dirinya luluh dalam dekapan Daniel. Semua rasa sedih dan rindu yang tiba-tiba ia rasakan ia tuntaskan dalam tangisnya malam itu.


Tidak ada hal lain yang terpikirkan dalam kepalanya selain kerinduannya akan dekapan hangat seorang ibu.


Setelah Marin lebih tenang, Daniel melepaskan pelukannya pada Marin, ia memegang kedua bahu Marin lalu mengusap sisa air mata di pipi Marin.


"Ternyata kau tetap cantik walaupun baru saja menangis seperti itu," ucap Daniel dengan tersenyum membuat Marin segera memukul dada Daniel dengan tersenyum malu.


Daniel kemudian membawa Marin untuk kembali duduk.


"Apa yang membuatmu bersedih seperti ini Marin? apa kau tidak ingin menceritakannya padaku?" tanya Daniel.


Marin menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan sebelum menjawab pertanyaan Daniel.


"Aku merindukan ibu," jawab Marin dengan menundukkan kepalanya.


"Dimana ibumu tinggal? aku bisa mengantarmu untuk menemui ibumu!"


"Tidak bisa, ibuku sudah pergi Daniel, pergi sangat jauh, aku tidak bisa menemui ibu lagi walaupun aku sangat merindukannya karena takdir sudah memisahkan duniaku dengan ibu," ucap Marin dengan suara bergetar menahan air matanya yang hendak kembali tumpah.


Daniel menghela nafasnya kemudian meraih tangan Marin dan menggenggamnya.


"Aku tahu apa yang kau rasakan adalah kerinduan yang sangat menyakitkan untukmu, tetapi jangan menjadikan hal itu alasan yang membuat kau kehilangan senyummu Marin."


Marin menganggukkan kepalanya pelan, membawa pandangannya pada Daniel dengan tersenyum.


"Seperti ini lebih cantik," ucap Daniel sambil menepuk-nepuk pelan kepala Marin.


"Aku memang selalu cantik," balas Marin dengan tersenyum lebar.


"Ya.... ya.... ya.... kau memang selalu cantik walaupun terkadang menyebalkan hahaha....." ucap Daniel yang berusaha untuk mengembalikan keceriaan Marin.


Marin hanya tersenyum dengan mengalihkan pandangannya dari Daniel, laki-laki menyebalkan yang sering membuatnya kesal itu kini menjadi sosok yang menyenangkan di matanya.


"Apa kau tidak ingin menemui Putri?" tanya Marin pada Daniel.


"Aku akan menemuinya besok, sekarang kau masuklah dan beristirahatlah, aku akan pulang," ucap Daniel sambil beranjak dari duduknya diikuti oleh Marin.


Sebelum Daniel masuk ke dalam mobil, Marin memanggil Daniel membuat Daniel membalikkan badannya ke arah Marin.


"Terima kasih," ucap Marin dengan senyum cantiknya.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil Daniel mulai menjauh, Marinpun masuk ke dalam rumah. Ia duduk di ruang tamu dengan memegang dadanya yang berdebar.


Kesedihan tentang kerinduannya pada sang ibu tiba-tiba membaur menjadi sebuah debaran indah dalam dadanya.


"Tenang Marin, kendalikan dirimu," ucap Marin sambil memegang dadanya, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Tiba-tiba Nerissa keluar dari kamarnya dan menghampiri Marin yang duduk di ruang tamu.


"Kenapa kau duduk disini? apa kau sudah selesai membuat ramuan untuk bunda?" tanya Nerissa pada Marin.


"Belum, aku akan segera membuatnya besok pagi, aku janji akan aku selesaikan sebelum Chubasca dan Beetna datang," jawab Marin.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya kemudian hendak kembali masuk ke kamar namun Marin memanggilnya.


"Tunggu Putri," ucap Marin yang membuat Nerissa menghentikan langkahnya dan kembali menghampiri Marin.


"Ada apa?" tanya Nerissa yang sudah duduk di samping Marin.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, tentang apa yang terjadi padamu kemarin, kenapa kau tiba-tiba pingsan Putri? kau belum menceritakan hal itu padaku!"


"Aah itu, aku...... aku......"


"Masuk ke dalam memoriku?" tanya Marin menerka.


Nerissa menganggukkan kepalanya pelan, ia takut Marin akan marah padanya karena ia memasuki memori Marin tanpa izin.


"Apa yang kau lakukan pada memoriku Putri? apa kau lupa bahwa hal itu membahayakan dirimu?"


"Maafkan aku Marin, aku tidak bermaksud untuk memasuki memorimu tanpa izin, aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk membantumu mengingat beberapa memori masa kecilmu yang terhapus."


"Apa yang kau maksud itu memoriku bersama ibu?" tanya Marin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.


"Aku memang sangat merindukan ibu, sebelum kau masuk ke dalam memoriku aku bahkan tidak pernah mengingat bagaimana paras cantik ibu, bagaimana rasanya kehangatan pelukan ibu, tetapi setelah kau masuk ke dalam memoriku kau membuatku tau secantik apa ibu dan sehangat apa pelukan ibu padaku, hal itu membuatku lebih merindukan ibu dan yang paling menyakitkan adalah serindu apapun aku pada ibuku aku tidak akan pernah bisa menemuinya," ucap Marin dengan menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku Marin, aku tidak bermaksud untuk membuatmu semakin bersedih," ucap Nerissa yang merasa bersalah pada Marin.


"Jangan meminta maaf padaku Putri, justru aku sangat berterima kasih karena setidaknya aku bisa mengingat betapa cantik dan hangatnya pelukan ibu," ucap Marin pada Nerissa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Ibumu pasti sangat bangga padamu Marin, kau gadis yang cantik, baik dan juga pintar," ucap Nerissa lalu memeluk Marin.


"Terima kasih Putri, tapi aku mohon padamu jangan membahayakan dirimu lagi!" ucap Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


Nerissa kemudian melepaskan pelukannya dari Marin lalu menghapus kedua pipi Marin yang sudah basah dengan air mata.


"Aku pingsan karena aku lupa mengenakan mahkotaku Marin, jika saja aku tidak lupa memakai mahkotaku mungkin aku bisa lebih lama berada dalam memorimu dan mencari memori lain tentang masa kecilmu!" ucap Nerissa.


"Memori yang kau berikan padaku sudah lebih dari cukup Putri, aku hanya perlu mengingat betapa cantiknya ibu dan betapa hangatnya pelukan ibu padaku, aku tidak ingin lebih dari itu," balas Marin.


Nerissa menganggukkan kepalanya lalu kembali memeluk Marin.


"Oohh iya, Daniel baru saja datang, dia membeli banyak rumput laut kering untukmu!" ucap Marin sambil melepaskan dirinya dari pelukan Nerissa.


"Daniel? aku tidak mendengar suaranya!"


"Dia..... dia hanya datang sebentar untuk memberikan rumput laut kering ini lalu segera pulang," balas Marin memberi alasan sambil memberikan rumput laut kering pemberian Daniel pada Nerissa.


"Waaaah...... ini banyak sekali Marin!" ucap Nerissa kegirangan saat melihat seberapa banyak rumput laut kering yang Daniel berikan padanya.


"Iya, dia bilang akan kembali kesini besok," ucap Marin.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya sambil menikmati rumput laut kering di hadapannya.


"Kalau Daniel dan Alvin tahu kau seperti ini mungkin mereka berdua tidak akan khawatir lagi padamu Putri," ucap Marin yang membuat Nerissa terkekeh.


"Mereka mengira aku sedang sakit padahal kau tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi padaku!"


Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang. Ia merasa lega karena Nerissa baik-baik saja setelah beberapa saat yang lalu membuatnya begitu khawatir karena tiba-tiba pingsan dan terlihat sangat pucat.


"Sebaiknya kau selalu memakai mahkotamu itu Putri, jangan sampai kejadian tadi terulang lagi!" ucap Marin pada Nerissa.


"Aku tidak bisa selalu memakainya Marin, jika aku terlalu sering memakainya aku takut mahkota itu akan hilang lagi dan aku akan semakin kesulitan untuk menemukan mutiara biru milik Bunda," balas Nerissa.


"Jika begitu kau harus lebih berhati-hati dan jangan bertindak ceroboh lagi dengan memasuki memoriku tanpa mengenakan mahkotamu!"


Nerissa menganggukkan kepalanya dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah rumput laut kering.


Malam telah berlalu, haripun berganti, pagi-pagi sekali Marin menyiapkan ramuan yang harus segera ia buat untuk diberikan pada Chubasca dan Beetna yang akan datang nanti malam.


Sedangkan Nerissa membuat buket bunga pesanan sesuai dengan arahan Marin lalu mengantarnya ke alamat si pemesan.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, Nerissa sedang membuat buket bunga yang harus segera ia antar sebelum jam makan siang selesai.


Karena Marin yang masih sibuk membuat ramuan dan Nerissa yang lambat untuk membuat buket bunga, membuat mereka berdua cukup kewalahan hari itu.


"Ini sudah jam makan siang Marin, tetapi aku belum menyelesaikan pesanan buket bunga ini," ucap Nerissa yang semakin panik saat melihat jam yang sudah menunjukkan lewat dari jam 12.


"Jangan panik Putri, kau akan membuat bunga-bunga itu rusak jika tidak berhati-hati menyentuhnya," ucap Marin sambil membuat ramuan untuk Ratu Nagisa.


Beberapa lama kemudian Nerissapun menyelesaikan buket bunga yang dibuatnya.


"Bagaimana menurutmu? apa ini sudah sesuai dengan pesanan?" tanya Nerissa sambil menunjukkan hasil ia membuat buket bunga pada Marin.


"Kau harus merapikan bagian sampingnya Putri dan jangan lupa memberikan kartu ucapan di dalamnya!"


Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan apa yang Marin instruksikan padanya.


Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan toko bunga Marin, Nerissa yang baru saja menyelesaikan buket bunga itu segera keluar dari toko bunga saat melihat Daniel keluar dari mobilnya.


"Cepat antar aku!" ucap Nerissa sambil menarik tangan Daniel untuk kembali masuk ke dalam mobil.


Danielpun hanya mengikuti Nerissa begitu saja.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Daniel sambil membawa pandangannya pada Nerissa yang duduk di sampingnya sambil membawa buket bunga.


"Ooohh iya aku belum mengambil alamatnya!" ucap Nerissa kemudian kembali turun dari mobil untuk mengambil alamat tujuan lalu kembali masuk ke dalam mobil Daniel.


"Ini alamatnya, kita harus segera sampai disini sebelum jam makan siang selesai," ucap Nerissa sambil memberikan sebuah kertas yang bertuliskan alamat pada Daniel.


"Baiklah, kita berangkat sekarang!" ucap Daniel lalu menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai mobilnya ke arah alamat yang Nerissa berikan padanya.


Sesampainya di tempat tujuan, Nerissa segara turun dari mobil Daniel dan memberikan buket bunga pesanan pada si pemesan yang sudah menunggunya.


Nerissa kemudian kembali masuk ke dalam mobil Daniel dengan menghela nafas panjangnya.


"Akhirnya selesai juga," ucap Nerissa lega.


"Jadi ke mana kita sekarang?" tanya Daniel.


"Kembali ke toko bunga, aku harus membantu Marin untuk melakukan hal lain," jawab Nerissa.


"Baiklah," ucap Daniel kemudian mengendarai mobilnya untuk kembali ke toko bunga.


"Sepertinya kau sudah sehat sekarang, aku senang melihatnya!" ucap Daniel pada Nerissa yang sudah tampak sehat seperti sedia kala.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Daniel.


Sesampainya di toko bunga, saat Daniel akan turun dari mobil, ponselnya berdering sebuah panggilan dari Ricky yang memintanya untuk segera kembali ke kantor.


"Sepertinya aku harus segera kembali ke kantor Nerissa," ucap Daniel sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya.


"Iya tidak apa, terima kasih sudah mengantarku Daniel," balas Nerissa kemudian turun dari mobil Daniel.


Setelah Daniel pergi, Nerissa segera masuk ke dalam toko bunga untuk membantu Marin.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Marin dan Nerissapun menutup toko bunga mereka.


Marin dan Nerissa segera mandi dan berganti pakaian setelah memastikan bahwa ramuan untuk Ratu Nagisa sudah siap untuk Chubasca dan Beetna bawa.


"Apa kau yakin mereka berdua akan kesini Marin?" tanya Nerissa pada Marin.


"Tentu saja Putri, mereka berdua harus kesini untuk mengambil ramuan yang aku buat," jawab Marin penuh keyakinan.


Tepat jam 7 malam saat bulan purnama sudah menyinari langit malam, Chubasca dan Beetna sampai di depan rumah Marin.


Nerissa dan Marin yang sudah menunggu kedatangan Chubasca dan Beetna segera berlari kecil menyambut Chubasca dan Beetna dengan pelukan.


"Akhirnya kalian datang, aku khawatir jika kalian berdua tidak jadi datang," ucap Nerissa pada Chubasca dan Beetna.


"Tentu saja kita akan datang Putri, itu sudah menjadi tugas kami demi menjaga kesehatan Ratu Nagisa," balas Beetna.


"Benar, aku dan Beetna akan melakukan apapun agar bisa datang kesini untuk mengambil ramuan yang dibutuhkan Ratu Nagisa," ucap Chubasca.


"Aku tahu kalian tidak bisa berlama-lama disini jadi aku sudah menyiapkan ramuan ini agar segera kalian bawa kembali ke Seabert," ucap Marin sambil memberikan dua botol ramuan yang ia masukkan ke dalam kantung.


"Tapi sepertinya aku tidak bisa langsung kembali ke Seabert," ucap Beetna sambil memegang tangan Chubasca dengan erat.


"Ada apa denganmu Beetna? kenapa wajahmu sangat pucat?" tanya Chubasca pada Beetna.


"Kakiku.... kakiku terasa sangat lemas," ucap Beetna yang tiba-tiba terjatuh dan bersimpuh di lantai.


"Sepertinya kakimu akan berubah menjadi ekor Beetna, ikutlah denganku, aku harus membawamu masuk ke kamar mandi!" ucap Nerissa sambil berusaha mengangkat tubuh Beetna.


Nerissapun membantu Beetna untuk masuk ke kamar mandi lalu menyalakan bathub mengisinya dengan air sampai penuh.


Setelah Beetna masuk ke dalam bathub, tak lama kemudian kakinya pun berubah menjadi ekor.


Di sisi lain Marin dan Chubasca masih berada di depan rumah.


"Seharusnya kau bisa memperingatkan Beetna agar dia sering memakan rumput laut sewaktu perjalanan kemari!" ucap Marin pada Chubasca.


"Aku sudah memperingatkannya, tetapi dia memang sangat keras kepala, sama sepertimu!" balas Chubasca.


"Aku keras kepala? apa kau tidak salah? kau yang keras kepala, kau yang sering membuat ulah, kau yang sering membuatku malu karena semua tingkahmu!"


"Diamlah anak kecil, kau tidak tahu apa-apa!" ucap Chubasca sambil mendorong Marin dengan tangannya


"Kau......"


Marin menghentikan ucapannya saat ia melihat Daniel yang tiba-tiba datang.


"Ada apa ini?" tanya Daniel sambil menarik tangan Marin, membawa Marin agar berdiri di belakangnya.


"Siapa kau? kenapa kau tiba-tiba datang dan ikut campur?" balas Chubasca bertanya pada Daniel.


"Pergilah, jika tidak ingin ada keributan disini!" ucap Daniel tanpa menjawab pertanyaan Chubasca.


"Apa kau baik-baik saja Marin? apa dia menyakitimu?" lanjut Daniel bertanya pada


"Tidak Daniel, dia........"


"Waaaah...... ada apa ini? apa kau mengenalnya Marin? kenapa dia membelamu seperti ini? apa kau mempunyai hubungan dengan manusia seperti ini?" tanya Chubasca pada Marin sambil membawa pandangannya menatap Daniel dari atas sampai ke bawah dengan tatapan tidak suka.