
Di Seabert.
Ratu Nagisa keluar dari istana untuk melihat keadaan di sekitar istana. Ratu Nagisa memerintahkan para mermaid kepercayaannya untuk menjaga setiap sudut wilayah Seabert dan segera melapor padanya jika terjadi sesuatu.
Para mermaid yang diberi perintah oleh Ratu Nagisa adalah mereka yang sudah Ratu Nagisa awasi sebelumnya. Setelah memastikan jika mereka tidak memiliki hubungan khusus dengan Cadassi dan Pangeran Merville, Ratu Nagisa mengukuhkan mereka sebagai Morgan-prajurit istana yang bekerja langsung di bawah Ratu.
Itu artinya tidak ada siapapun yang bisa memberikan perintah pada mereka kecuali Ratu Nagisa sendiri. Mereka juga telah mengucapkan sumpah setia yang di atas tetesan darah mereka sendiri.
Dengan begitu, mereka tidak akan bisa berkhianat pada Ratu Nagisa. Jika mereka mengkhianati Ratu Nagisa, maka darah mereka akan membeku dengan cepat.
Itu adalah salah satu keajaiban yang bisa terjadi sesuai dengan kepercayaan di istana Seabert.
Namun, Ratu Nagisa tidak bisa melakukan hal itu pada semua prajurit istana karena dalam pengukuhan itu Ratu Nagisa menghabiskan banyak tenaganya dan itu cukup membahayakan nyawanya karena mutiara biru pelindungnya sudah tidak ada padanya.
Ratu sengaja tidak memberi tahu Cadassi tentang hal itu agar tidak membuat Cadassi curiga akan keputusan pengukuhan yang tiba tiba.
Jika Cadassi curiga, maka ia akan memberi tahu pangeran Merville dan bisa jadi pangeran Merville akan melakukan tindakan yang lebih jauh untuk segera memenuhi keinginannya.
Saat Ratu Nagisa baru saja keluar dari batas wilayah timur, Ratu Nagisa tidak sengaja bertemu dengan Pangeran Merville.
"Selamat pagi Ratu," sapa pangeran Merville.
"Selamat pagi pangeran Merville," balas Ratu Nagisa.
"Bagaimana keadaan Ratu sekarang? saya mendengar kabar yang kurang mengenakkan tentang kesehatan Ratu dari Cadassi!"
"Aaaahh iya.... aku sempat terbaring di ranjang selama beberapa hari, tapi seperti yang kau lihat pangeran, aku sekarang sudah sehat, sangat sehat untuk cukup kuat menjaga Seabert dengan baik," balas Ratu Nagisa dengan senyumnya yang anggun.
"Yaaa.... Seabert memang membutuhkan pemimpin seperti Ratu Nagisa agar tidak terjadi kekacauan seperti kemarin," ucap Pangeran Merville.
"Kekacauan apa maksudmu Pangeran?" tanya Ratu berpura pura tidak tahu.
"Aku mendengar dari Cadassi kalau beberapa wilayah di Seabert menghitam karena ulah Ran, tapi sekarang sepertinya semuanya sudah kembali normal!" jawab pangeran Merville.
"Sepertinya kau sangat dekat dengan Cadassi pangeran Merville, apa kalian sudah lama saling mengenal?" tanya Ratu Nagisa.
"Aaahhh tidak.... kami hanya bertemu beberapa kali di Orton, dia benar benar penasihat istana yang sangat baik, Ratu sangat beruntung karena memiliki Cadassi di istana," jawab pangeran Merville berbohong.
Ratu Nagisa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Bagaimana dengan Nerissa Ratu? sepertinya dia masih tidak setuju dengan pernikahan kita!" tanya pangeran Merville.
"Aku harap kau bisa memahaminya pangeran, dia sangat terpukul dengan kepergian ayahnya, itu kenapa dia memilih untuk menjalankan tugasnya diluar istana bersama Marin," balas Ratu Nagisa.
"Aku akan setia menunggu Putri Nerissa kembali Ratu, aku harap dia akan segera menemuiku saat dia sudah kembali," ucap pangeran Merville.
Ratu Nagisa kembali menganggukkan kepalanya dengan tersenyum anggun meski dalam hatinya mengumpat pangeran Merville yang penuh kebohongan di hadapannya.
"Baiklah Ratu, silakan melanjutkan perjalanan Ratu!" ucap Pangeran Merville sambil membungkukkan badannya pada Ratu Nagisa.
Ratu Nagisa hanya tersenyum lalu berenang menjauh dari pangeran Merville.
Pangeran Merville mengepalkan kedua tangannya dengan kesal karena melihat keadaan Ratu Nagisa yang tampak baik baik saja.
Selama ini ia berpikir jika Ratu Nagisa sedang terbaring lemah di ranjang karena meminum ramuan beracun yang Cadassi berikan.
Ia berpikir jika Cadassi bisa mengontrol keadaan istana Seabert dengan baik karena Ratu Nagisa yang semakin lemah.
Namun, ia tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan Ratu Nagisa yang tampak sehat dan segar.
Dengan emosi yang sudah membuncah dalam dadanya, pangeran Merville berenang ke arah rumah Cadassi.
Ia ingin memberi pelajaran pada Cadassi karena sudah membohonginya dan merahasiakan hal besar itu darinya.
Dengan satu kali dorongan yang kuat, Pangeran Merville berhasil membobol pintu rumah Cadassi.
Chubasca yang saat itu sedang berada di rumah begitu terkejut melihat pintu rumahnya yang tiba tiba terdorong dengan kuat.
"Siapa kau? apa yang kau lakukan disini?" tanya Pangeran Merville pada Chubasca.
"Justru aku yang seharusnya bertanya padamu, siapa kau? kenapa kau merusak pintu rumahku?" balas Chubasca yang sudah memutar kedua tangannya untuk bersiap menciptakan ombak dari kedua tangannya.
Pangeran Merville yang melihat hal itu bisa menerka dengan cepat bahwa mermaid yang ada di hadapannya saat itu adalah Chubasca, mermaid yang terkenal dengan kenakalannya dan kesombongannya.
"Kau..... Chubasca?" tanya Pangeran Merville.
"Kau mengenalku?" balas Chubasca bertanya.
"Tentu saja, siapa yang tidak mengenalmu disini, seluruh lautan tau siapa pemilik kekuatan ombak terbesar di laut," balas pangeran Merville memuji.
Chubasca memicingkan matanya menatap mermaid di hadapannya. Ekor merah dan mahkota di kepalanya membuat tersadar siapa mermaid yang baru saja mendobrak pintu rumahnya.
"Kau... Pangeran Merville?" tanya Chubasca memastikan.
Pangeran Merville hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum sombong.
"aaahhh.... rupanya calon suami Putri Nerissa yang membuat gaduh di rumahku, kalau saja dia bukan calon suami Putri Nerissa, aku pasti sudah menendangnya dengan ombak terkuatku!" batin Chubasca dalam hati.
"Dimana Cadassi? aku ingin bertemu dengannya!" tanya pangeran Merville membuyarkan lamunan Chubasca.
"Ayahku sedang berada di istana," jawab Chubasca.
"Aaahhh... di istana rupanya... baiklah, aku akan kembali lagi nanti!" ucap Pangeran Merville lalu berbalik hendak pergi begitu saja.
"Tunggu pangeran!" ucap Chubasca memanggil Pangeran Merville, membuat Pangeran Merville berbalik menghadap Chubasca.
"Bagaimana dengan pintu rumahku? apa kau akan membiarkannya seperti ini?" tanya Chubasca dengan berani.
Pangeran Merville tersenyum tipis melihat keberanian Chubasca. Ia kemudian berenang kembali menghampiri Chubasca.
"Apa yang kau inginkan dariku? kau tau siapa aku bukan?" tanya pangeran Merville pada Chubasca.
"Kau sudah merusak pintu rumahku, tentu saja aku ingin kau menggantinya, paling tidak kau harus mengembalikannya seperti semula, karena aku tau siapa kau jadi aku yakin kau tidak akan pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab!" balas Chubasca dengan berani.
Mendengar ucapan Chubasca, Pangeran Merville terdiam tak percaya. Selama ini tidak ada yang berani memberikan perintah padanya, bahkan ibunya sekalipun.
Namun saat itu, ia melihat mermaid biasa memberinya perintah tanpa ragu dan dengan berani menatap matanya secara langsung tanpa ada rasa takut sedikitpun yang terlihat dari matanya.
"Bagiamana pangeran? kau pasti bertanggung jawab bukan?" tanya Chubasca membuyarkan lamunan pangeran Merville.
"Iya.... tentu saja, aku tidak akan mengotori tanganku dengan menyentuh pintu yang sudah lapuk itu, aku akan meminta pengawalku untuk menggantinya dengan yang baru," balas Pangeran Merville lalu berenang pergi begitu saja.
Ia benar benar kesal pada apa yang baru saja terjadi. Tapi entah kenapa ia tidak bisa melawan ucapan Chubasca yang membuatnya kesal.
Setelah meminta pengawalnya untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang dilakukannya, pangeran Merville pun segera kembali ke istananya untuk menenangkan dirinya.
Bertemu Ratu Nagisa yang tampak sehat sudah membuatnya sangat kesal, belum lagi saat ia bertemu Chubasca yang membuat kekesalannya memuncak seketika.
**
Di daratan.
Marin masih berada di rumah Daniel.
"Aku dengar dari Alvin, Nerissa kembali ke toko bungamu!" ucap Daniel pada Marin.
"Iya, sejak kejadian kemarin Putri jadi sangat mengkhawatirkanku!" balas Marin.
"Dia teman yang baik, kau beruntung memiliki teman sepertinya!" ucap Daniel.
"Itu kenapa kau menyukai Putri?" balas Marin bertanya.
"Kau mungkin tau apa yang terjadi pada keluargaku Marin, itu yang membuatku tidak mengerti bagaimana cinta sebenarnya, apakah hanya dengan rasa suka itu bisa disebut dengan cinta? atau lebih dari itu?"
"Aku juga tidak tau, yang aku tau aku harus menjalani hidupku dengan bahagia, apapun yang terjadi aku harus membuat hari hariku menjadi bahagia," balas Marin dengan tersenyum.
Daniel menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Marin.
Biiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari sang mama.
"Halo ma!"
"Halo sayang, kau dimana? apa terjadi sesuatu padamu?" tanya mama Daniel dengan khawatir.
"Daniel di rumah ma, Daniel baik baik saja, apa terjadi sesuatu pada mama?"
"Tidak, papamu baru saja menghubungi mama dan..... lupakan saja, tapi kenapa kau di rumah sekarang? bukankah seharusnya kau di kantor?"
Mama Daniel sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin memberi tahu Daniel jika sang suami baru saja menghubunginya dengan penuh emosi.
Mama Daniel segera menghubungi Daniel karena khawatir jika Daniel akan mendapat perlakuan kasar dari sang suami, mengingat bagaimana kebiasaan sang suami saat sedang marah.
"Mmmm... Daniel baru saja mengambil file yang tertinggal, sebentar lagi Daniel akan kembali ke kantor!" balas Daniel beralasan.
"Baiklah kalau begitu, mama hanya ingin memastikan kau baik baik saja!"
"Daniel baik baik saja ma, mama jangan mengkhawatirkan Daniel, jaga kesehatan mama dan.... cepat pulang!" balas Daniel.
"Maafkan mama Daniel," ucap mama Daniel lalu mengakhiri panggilannya.
Daniel menghela nafasnya kemudian menaruh ponselnya di meja.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Marin pada Daniel.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya tanpa berbicara.
**
Di sisi lain, Nerissa masih berada di toko bunga. Ia membiarkan Marin menemui Daniel sampai sore hari.
Tepat pada jam 5 sore, Nerissa bersiap untuk menutup toko bunga. Saat ia baru saja menarik pintu, sebuah mobil berhenti dan si pemilik mobil segera turun dari mobilnya.
"Alvin!"
"Apa kau akan menutupnya?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Iya, apa kau mencari bunga?"
"Iya, tapi sepertinya aku terlambat!" jawab Alvin.
"Tidak apa, masuklah!" ucap Nerissa yang kembali membuka lebar lebar toko bunga Marin.
"Bunga apa yang kau cari?" tanya Nerissa.
"Bunga tulip, apa kau bisa membuatkan buket bunga tulip untukku?"
"Tentu saja, tapi.... mungkin tidak sebagus buatan Marin hehe...." jawab Nerissa.
"Tidak apa, buat saja sebisamu, aku yakin kau dan Marin memiliki ciri khas kalian sendiri," balas Alvin.
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Nerissa kemudian menyiapkan bahan bahan yang ia perlukan untuk membuat buket bunga tulip. Setelah selesai ia segera memberikannya pada Alvin.
"Sudah, apakah sudah terlihat cantik?" tanya Nerissa sambil memberikan buket bunga tulip pada Alvin.
"Sangat cantik," jawab Alvin sambil menatap wajah cantik Nerissa.
"Aku harap seseorang yang menerima bunga ini akan menyukainya," ucap Nerissa.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Buket bunga tulip yang Alvin pesan akan Alvin bawa ke pantai, tempat dimana ia dan mama papanya menghabiskan waktu bersama sebelum ombak besar menerjang kapal yang mereka tumpangi.
Setelah membayar, Alvin segera meninggalkan toko bunga dan mengendarai mobilnya ke arah pantai.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Marin baru saja sampai di rumahnya.
Dengan langkah yang sangat pelan, Marin membuka pintu rumahnya dengan hati hati agar Nerissa tidak melihat kepulangannya.
"Eheeemm!!"
Nerissa berdehem cukup keras saat Marin baru saja membuka pintu.
"Hehehe... apa kau menungguku Putri?" tanya Marin dengan membawa langkahnya pada Nerissa yang sudah menunggunya di sofa.
"Tentu saja, aku membiarkanmu menemui Daniel tapi kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali? aku pikir kau tidak akan lama, aku bahkan tidak bisa menghubungimu!" jawab Nerissa kesal.
"Maafkan aku Putri, ponselku lowbatt," balas Marin dengan memeluk Nerissa.
"Bagaimana keadaan Daniel? apa dia baik baik saja?"
"Dia baik baik saja, tapi sepertinya dia kesulitan mengganti perbannya sendiri di rumah," jawab Marin.
"Dia pasti bisa meminta tolong orangtuanya bukan?"
Marin hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum canggung. Seperti yang ia tau, hubungan Daniel dan kedua orangtuanya terlihat tidak baik baik saja.
"Cepat mandi, kita harus pergi ke pantai lagi sekarang!" ucap Nerissa pada Marin.
"Baiklah, tunggu aku!" balas Marin lalu segera beranjak dari duduknya dan bergegas masuk ke kamarnya.
Setelah selesai bersiap, Nerissa dan Marinpun segera memesan taksi yang akan membawa mereka ke pantai.
"Jagan meninggalkanku lagi seperti kemarin! kau tau aku sangat mengkhawatirkanmu!" ucap Nerissa pada Marin.
"Hehe....maafkan aku Putri, aku tidak akan mengulanginya lagi!" balas Marin.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nerissa dan Marinpun sampai.
Mereka segera berjalan ke arah tepi pantai setelah melepas alas kaki mereka.
"Lihatlah Putri, bulan bersinar sangat cerah malam ini!" ucap Marin pada Nerissa.
Nerissa terdiam dengan mendongakkan kepalanya menatap sinar bulan purnama malam itu.
Sebaris senyum tergaris di bibirnya saat ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Alvin.
Ia sangat ingat kejadian malam itu, di bawah sinar terang bulan purnama wajah tampan Alvin seolah menarik Nerissa dengan sangat kuat, membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Alvin malam itu.
"Berhentilah berkhayal putri, ayo kita mencari mahkotamu!" ucap Marin dengan menepuk bahu Nerissa.
Nerissa menganggukan kepalanya kemudian berjalan ke arah karang besar, tempat dimana Alvin duduk saat Nerissa pertama kali melihatnya.
"Nerissa mohon bunda, bantu Nerissa menemukan petunjuk tentang mahkota milik Nerissa yang hilang di tempat ini," batin Nerissa dalam hati.
Saat sedang memperhatikan sekitarnya, Nerissa mendaratkan pandangannya pada salah satu sudut batu karang besar itu. Ia kemudian berjalan mendekatinya untuk memastikan apa yang ia lihat.
"Buket bunga Tulip?"