
Marin terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Nerissa. Ia sangat tau jika Daniel menyukai Nerissa, tapi ia juga tau jika Nerissa menyukai Alvin.
Marin kemudian tersenyum tipis, ia sadar tujuannya ke daratan bukan untuk memikirkan tentang siapa yang ia sukai, ia harus membantu Nerissa untuk segera mendapatkan mahkota dan mutiara milik Ratu Nagisa.
"Bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku hanya menyukai mermaid tampan dengan ekor biru yang berkilau," ucap Marin pada Nerissa.
Nerissa menganggukan kepalanya mendengar jawaban Marin. Jawaban Marin seolah tamparan baginya yang menyukai Alvin sejak pertemuan mereka yang pertama kali.
Ia seharusnya sadar siapa dirinya dan siapa Alvin. Mereka sangat berbeda dan tidak akan mungkin bisa bersama.
"Aku sudah mengantuk Putri!" ucap Marin sambil menguap.
"Tidurlah, sebentar lagi aku juga akan tidur," balas Nerissa.
Nerissa masih memikirkan ucapan Marin padanya. Ia merasa sangat bodoh karena menyukai Alvin tanpa ingat siapa dirinya.
Namun dalam hati kecilnya, ia masih membenarkan apa yang ia rasakan pada Alvin.
"aku hanya menyukainya, aku tau aku tidak bisa bersama dengannya selamanya, aku juga tidak mengharapkan hal itu, aku hanya menyukainya, itu saja, menyukai manusia tidak termasuk kesalahan bukan?"
Nerissa tersenyum tipis lalu menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya.
**
Malam telah berlalu, pagi pagi sekali Nerissa sudah bersiap untuk menemui Alvin. Ia ingin mengatakan secara langsung pada Alvin jika dirinya tidak bisa membantu Alvin untuk merawat ikan ikan di rumahnya.
Nerissa menaiki bus paling pagi untuk sampai di rumah Alvin. Sesampainya disana, ia segera masuk ke rumah Alvin seperti biasa.
"Selamat pagi mbak Tina," sapa Nerissa pada mbak Tina.
"Selamat pagi non, Tuan Alvin masih di kamar, mau saya panggilkan?"
"Tidak perlu mbak, saya akan menunggunya," balas Nerissa.
Tak lama kemudian Alvin keluar dari kamarnya karena mendengar suara Nerissa.
"Nerissa, kenapa kau datang sangat pagi?" tanya Alvin.
"Aku datang pagi pagi karena ada yang ingin aku sampaikan padamu Alvin," jawab Nerissa.
"Duduklah, apa yang membuatmu datang sepagi ini?"
Nerissa kemudian duduk dan mengatakan pada Alvin apa yang ingin ia sampaikan.
"Aku harap kau bisa mengerti," ucap Nerissa di akhir penjelasannya.
Alvin menganggukkan kepalanya memahami ucapan Nerissa.
"Aku mengerti kekhawatiranmu pada Marin, tapi kalian sudah bisa tenang sekarang karena laki laki itu sudah mendekam di penjara," ucap Alvin yang membuat Nerissa begitu terkejut.
"Di penjara? laki laki yang melukai Daniel sudah di penjara?" tanya Nerissa tak percaya.
"Iya, polisi sudah menangkapnya dan dia sudah berada dalam penjara sekarang, kau dan Marin tidak perlu khawatir lagi," jawab Alvin menyakinkan.
"Cepat sekali, apa Daniel sudah memberi tahu Marin tentang hal ini?"
"Entahlah, tapi kau dan Marin juga harus tetap berhati hati, jangan mudah percaya dengan orang yang baru kalian kenal!"
Nerissa menganggukan kepalanya mendengar ucapan Alvin.
"Kau bisa menemani Marin hari ini, tapi aku harap kau bisa kembali kesini saat Marin sudah mendapatkan penggantimu!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Aku tidak bisa berjanji apapun padamu Alvin, aku.... aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Marin," balas Nerissa.
"Aku mengerti, tunggu sebentar, aku akan mengantarmu pulang sekarang!" ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya untuk mengambil jasnya di kamar.
Alvin kemudian meninggalkan rumahnya untuk mengantar Nerissa pulang sebelum berangkat ke kantor.
"Terima kasih Alvin," ucap Nerissa saat ia sudah sampai di depan toko bunga Marin.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan mengendarai mobilnya ke arah kantor.
"Bagiamana Putri? apa Alvin menerima keputusanmu?" tanya Marin pada Nerissa.
"Iya, dia membiarkanku menemanimu hari ini, tapi dia memintaku untuk kembali jika kau sudah menemukan penggantiku," jawab Nerissa.
"Hmmmm.... sepertinya dia tidak ingin jauh jauh darimu!" ucap Marin dengan menyenggol lengan Nerissa.
"Aaahhh iya... apa Daniel sudah menghubungimu?" tanya Nerissa.
"Belum, kenapa? apa terjadi sesuatu padanya?"
"Waaahhh waaahhh sejak kapan kau jadi mengkhawatirkan Daniel seperti ini!" balas Nerissa membalas menggoda Marin.
"Aku... aku tidak mengkhawatirkannya, aku hanya...."
"Dia baik baik saja, dia bahkan sudah berhasil membuat laki laki jahat itu masuk penjara!" ucap Nerissa.
"Kau serius Putri? apa Daniel sendiri yang memberi tahumu?"
"Tidak, Alvin yang memberi tahuku," jawab Nerissa.
Marin mengangguk anggukkan kepalanya mendengar ucapan Nerissa.
"Marin, sepertinya kau harus menemui Daniel," ucap Nerissa.
"Kenapa?"
"Apa kau tidak ingin berterima kasih padanya?"
"Aku akan menghubunginya nanti," jawab Marin.
"Jangan Marin, temui dia, dia sudah membahayakan dirinya demi menolongmu, jadi alangkah lebih baiknya kalau kau datang dan berterima kasih secara langsung padanya," ucap Nerissa.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya," balas Marin lalu segera berjalan meninggalkan Nerissa.
Marin mengambil beberapa bunga, kertas, gunting dan peralatan lainnya yang akan ia gunakan untuk membuat buket bunga pesanan.
"apa aku memang harus menemuinya? Putri benar, dia sudah membahayakan dirinya untuk menolongku, tapi.... aahhh sudahlah, aku tidak peduli, aku hanya perlu menghubunginya untuk berterima kasih!" batin Marin dalam hati.
Waktu berlalu, matahari sudah mulai naik ke atas. Dari pagi Marin masih memikirkan ucapan Nerissa. Meski ia tidak ingin menemui Daniel, namun dalam hati kecilnya mengatakan jika ia harus menemui Daniel dan berterima kasih padanya secara langsung.
"Putri, apa menurutmu Daniel masih berada di rumah sakit?" tanya Marin pada Nerissa yang baru saja datang setelah mengantarkan pesanan.
"Entahlah, apa kau mau menemuinya?"
"Mmmmm.... aku rasa ucapanmu ada benarnya, aku.... aku harus berterima kasih secara langsung padanya," jawab Marin ragu.
"Bagus, itu memang yang harus kau lakukan Marin, aku akan menghubunginya untuk menanyakan keberadaannya!"
"Jangan!" ucap Marin cepat.
"Kenapa? bukankah kau harus tau apakah dia masih berada di rumah sakit atau tidak? atau kau mau menghubunginya sendiri?"
"Tidak perlu, aku akan langsung ke rumah sakit, jika dia sudah tidak berada di rumah sakit, anggap saja itu artinya aku tidak perlu berterima kasih secara langsung padanya," ucap Marin.
"Hmmmm.... terserah kau saja, pergilah, aku akan menjaga toko bunga selama kau pergi!" balas Nerissa.
Marin menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam rumah. Marin berganti pakaian dan menata rambutnya sebelum ia keluar dari kamar.
Entah kenapa ia begitu bersemangat untuk menemui Daniel saat itu.
"Tunggu dulu, kenapa aku harus berdandan seperti ini? tidak Marin, kau tidak boleh terlihat antusias seperti ini!" ucap Marin kemudian mengikat rambut panjangnya seperti biasa.
Marin menyambar tas selempangnya kemudian mengambil buket bunga yang sudah ia siapkan untuk Daniel.
Kini buket bunga yang berisi bunga matahari dan bunga anyelir sudah ada di tangan Marin. Setelah taksi yang dipesannya datang, ia segera meninggalkan rumah untuk pergi menemui Daniel di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Marin segera berjalan ke arah ruangan Daniel. Marin terdiam di tempatnya berdiri saat ia sudah tidak melihat Daniel disana.
Marin kemudian bertanya pada perawat yang sedang berada disana dan perawat itu menjawab jika Daniel sudah keluar dari beberapa jam yang lalu.
Dengan langkah tak bersemangat, Marin pun berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
"tidak apa Marin, itu artinya kau tidak perlu berterima kasih secara langsung padanya," ucap Marin dalam hati.
"Marin!"
Marin segera berbalik dan membawa pandangannya ke arah sumber suara yang memanggilnya.
"Suster bilang kau sudah pulang!" ucap Marin saat Daniel menghampirinya.
"Aku baru saja mengambil barangku yang tertinggal, apa kau kesini untuk menemuiku?"
"Tidak, aku.... aku hanya.... Putri yang menyuruhku kesini!" jawab Marin terbata bata.
"Hahaha.... baiklah kalau begitu, apa itu? apa itu untukku?" tanya Daniel sambil menunjuk buket bunga yang Marin pegang.
Marin hanya diam sambil memberikan buket bunga yang dipegangnya pada Daniel.
"Bunga matahari dan anyelir, keceriaan dan ketenangan," ucap Daniel saat menerima buket bunga dari Marin.
"Kau mengerti tentang bunga?" tanya Marin.
"Sedikit, karena mama sangat menyukai bunga jadi aku sedikit memahaminya," jawab Daniel.
Marin menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Daniel. Ia tidak menyangka jika Daniel mempunyai pengetahuan tentang bunga.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Daniel pada Marin.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," balas Marin.
"Ayolah, apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku? katakan saja saat kita berdua di mobil jika kau malu mengatakannya disini!" ucap Daniel dengan senyum jahilnya.
Marin hanya tersenyum tipis kemudian berjalan bersama Daniel ke arah tempat parkir. Daniel dan Marinpun meninggalkan rumah sakit.
Tak berapa lama kemudian, Daniel tampak merintih dengan memegangi perutnya yang terluka.
"Ada apa? apa lukamu bermasalah?" tanya Marin khawatir.
Daniel kemudian mengangkat bagian bawah bajunya dan terlihat perbannya yang sudah dipenuhi darah.
"Kau berdarah lagi, kita harus kembali ke rumah sakit!" ucap Marin khawatir.
"Tidak, ini pasti karena aku berlari saat mengambil barangku yang tertinggal tadi!" balas Daniel.
"Apa kau sebodoh itu? kau masih terluka, kenapa kau berlari?"
"Aaaahhhh... lukaku semakin terasa sakit saat kau memakiku Marin," ucap Daniel sambil berpura pura merintih.
"Kau memang bodoh.... sangat bodoh....!" ucap Marin dengan kesal.
"Hahaha..... kau benar aku memang sangat bodoh, apa kau bisa membantuku Marin?"
"Membantu apa?" tanya Marin.
"Memasang perban yang baru di rumahku," jawab Daniel.
Marin hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Danielpun mengendarai mobilnya ke arah rumahnya. Sesampainya di rumah ia segera keluar dari mobil dan berjalan bersama Marin memasuki rumahnya.
"waaah rumahnya sangat besar!" ucap Marin dalam hati.
"Ayo, masuklah!" ucap Daniel saat melihat Marin yang hanya berdiri di depan pintu.
Marin menganggukkan kepalanya kemudian berjalan masuk mengikuti Daniel.
Saat baru saja menaiki tangga, terdengar suara yang membuat Marin menghentikan langkahnya, begitu juga Daniel.
"Daniel, ada yang ingin papa bicarakan padamu!"
Daniel membalikkan badannya membawa pandangannya pada sang papa.
"Daniel sangat lelah pa, Daniel...."
"Turun!" ucap sang papa dengan nada tinggi.
"Naiklah Marin, tunggu aku di atas!" ucap Daniel pada Marin.
Daniel kemudian turun menghampiri sang papa.
"Apa yang kau bicarakan pada mamamu Daniel?" tanya sang papa dengan emosi.
"Daniel tidak membicarakan apa apa, Daniel bahkan belum bertemu mama," jawab Daniel sambil memegang perutnya yang terluka.
"Jangan bohong Daniel, kau sudah dewasa, seharusnya kau tau apa yang harus dan tidak harus kau ceritakan pada mamamu!"
"Apa yang papa maksud tentang perempuan yang papa bilang klien itu?" tanya Daniel.
"Daniel, papa dan mamamu sudah tidak bisa seperti dulu lagi, kau pasti mengerti maksud papa, jadi tolong jangan memperkeruh suasana dengan....."
"Memperkeruh suasana? bukankah papa sendiri yang mempekeruh suasana? mama selalu sabar menghadapi papa, mama selalu menerima dan mengerti kesibukan papa tapi papa malah bermain wanita lain di belakang mama, papa....."
PLAAAAAKKKKK
Satu tamparan mendarat dengan keras di pipi Daniel, membuat Daniel terdiam seketika.
"Jaga ucapanmu Daniel, papa tidak akan bersikap keras padamu jika kau masih punya sopan santun pada papa!"
"Tampar Daniel sesuka papa, itu tidak akan merubah sikap Daniel sedikitpun!" balas Daniel dengan tersenyum tipis.
Papa Daniel hanya diam dengan kedua tangan yang menggenggam erat seolah berusaha menahan emosi yang sudah memuncak di ubun ubun.
Papa Daniel kemudian berjalan pergi begitu saja meninggalkan Daniel.
Di sisi lain, Marin yang melihat hal itu hanya bisa diam dan berpura pura tidak melihatnya. Tak lama kemudian Daniel menghampirinya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman, aku pikir papa sedang tidak di rumah," ucap Daniel pada Marin.
"Tidak apa, buka bajumu, aku akan mengobati lukamu," balas Marin.
"Membuka baju?" tanya Daniel.
"Iya, aku juga harus membersihkan lukamu sebelum mengobatinya!" balas Marin.
"Waaahhh.... kau sangat berani Marin, kau memintaku membuka baju di kamar yang hanya ada kita berdua disini!" ucap Daniel dengan tersenyum nakal.
"Buang pikiran kotormu itu Daniel, aku hanya ingin mengobati lukamu!" balas Marin sambil memukul pelan lengan Daniel.
"Hahaha.... baiklah, aku harap kau tidak akan jatuh cinta padaku karena melihat ku tanpa baju!"
"Jangan harap!" balas Marin kesal.
Daniel tertawa kecil kemudian membuka bajunya, membiarkan Marin membersihkan dan mengobati lukanya lalu menutupnya dengan perban.
"Marin, tentang apa yang baru saja kau lihat, apa kau bisa merahasiakannya?" tanya Daniel pada Marin.
"Maksudmu perutmu yang buncit?" balas Marin bertanya.
"Apa kau bilang? buncit? yang seperti ini kau bilang buncit?"
"Hahaha.... tenang saja, lagipula tidak akan ada yang berminat pada perut buncitmu!" balas Marin yang sengaja menggoda Daniel.
Danielpun ikut tertawa melihat Marin tertawa.
"dia cantik sekali saat tertawa seperti ini," ucap Daniel dalam hati.
"Terima kasih Marin, maaf karena sudah sempat salah paham padamu," ucap Daniel pada Marin.
"Tidak Daniel, aku yang seharusnya berterima kasih padamu, tidak hanya karena sudah membantuku dan Putri, tapi kau juga sudah membahayakan nyawamu untuk menolongku, aku sangat berterima kasih padamu," ucap Marin pada Daniel.
"Apa aku sudah menjadi laki laki yang baik di matamu?" tanya Daniel.
"Mmm.... laki laki baik yang menyebalkan," jawab Marin dengan tertawa kecil.
"Aaahhh.... aku masih menyebalkan rupanya," balas Daniel dengan menggelengkan kepalanya pelan.
Mereka berdua pun tertawa. Kesalahpahaman diantara mereka berdua telah berlalu. Lembar baru dalam kehidupan mereka baru saja terbuka, siap untuk menerima goresan tinta cerita baru tentang mereka berdua.