
Waktu berlalu, sinar mentari pagi telah kembali ke peraduannya membawa cahaya jingga yang menghiasi langit petang.
Daniel duduk di tepi ranjangnya dengan menimang-nimang ponselnya. Ia ingin menghubungi Alvin, menanyakan apakah Alvin sudah kembali dari luar kota atau belum tetapi ia ragu.
Daniel kemudian memutuskan untuk mengirim pesan pada Marin.
"Apa aku bisa bertemu denganmu?"
"Tidak, aku sedang sibuk menonton TV sekarang!"
Daniel tersenyum tipis saat ia membaca pesan balasan dari Marin.
"Hubungi aku jika kau sudah selesai menonton TV, aku akan menunggumu di minimarket dekat toko bungamu!"
"Baiklah."
Daniel kemudian membaringkan badannya di ranjang, ia tersenyum saat mengingat kejadian ketika ia mabuk.
Ia tidak mengerti apa yang membuatnya pergi ke rumah Marin saat dia mabuk. Ia bahkan selalu menceritakan semua masalahnya pada Marin tanpa ia sadar.
Dan setelah ia mengingat semua kejadian saat ia mabuk, ia baru menyadari jika Marin adalah gadis yang lembut dan penuh perhatian.
"gadis yang langka," batin Daniel dalam hati kemudian beranjak dari ranjangnya lalu menyambar kunci mobil dan keluar dari rumahnya.
"Apa kau akan menemui Alvin lagi?" tanya mama Daniel yang tiba-tiba keluar dari kamar.
"Tidak ma, Daniel akan pergi menemui Marin, apa mama mau ikut?" jawab Daniel sekaligus bertanya karena ia tahu sang mama sangat menyukai Marin.
"Menemui Marin? kau serius?" tanya mama Daniel memastikan.
"Tentu saja, Daniel juga berteman dengan Marin ma jadi wajar bukan jika Daniel menemui marin?"
"Baiklah temui saja dia, mama tidak akan menunggumu pulang, jadi habiskan waktumu sepuasnya bersamanya!" ucap mama Daniel bersemangat.
Daniel hanya tersenyum tipis lalu memeluk dan mencium pipi mamanya sebelum ia pergi.
"seharian ini kau hanya berdiam diri di rumah dan tidak berangkat bekerja, tetapi tiba-tiba kau keluar rumah hanya untuk menemui Marin, apa kamu sudah mulai membuka hatimu untuk Marin, Daniel?" batin mama Daniel bertanya dalam hati.
Di sisi lain Daniel mengendarai mobilnya ke arah minimarket yang berada tak jauh dari toko bunga Marin.
Sesampainya disana ia membeli beberapa minuman dan makanan ringan lalu duduk di bangku yang ada di depan minimarket.
Hampir satu jam Daniel hanya duduk seorang diri disana berharap Marin segera datang menemuinya atau sekedar menghubunginya.
Biiiiiippp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari Marin membuat Daniel tiba-tiba bersemangat.
"Halo Marin, apa acara TV yang kau tonton sudah selesai? aku sudah menunggumu disini!"
"Kau serius ingin bertemu denganku?" balas Marin bertanya.
"Apa kau pikir aku bercanda? aku sudah menunggumu selama sejam disini!"
"Kau memang sangat bodoh Daniel, tunggu sebentar aku akan segera kesana!"
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Sambungan berakhir begitu saja membuat Daniel menghela nafasnya dan menyeruput minuman di hadapannya.
Tak lama kemudian Marin sampai di depan minimarket. Dengan nafas yang terengah-engah Marin menghampiri Daniel lalu duduk di hadapan Daniel.
"Apa kau berlari dari rumah sampai kesini?" tanya Daniel pada Marin sambil membuka botol minuman dan memberikannya pada Marin.
Marin menerima minuman itu dan meminumnya sebelum menjawab pertanyaan Daniel.
"Kakiku seperti akan putus Daniel, ternyata berlari sangat melelahkan......." jawab Marin dengan nafas yang masih terengah-engah dan keringat yang membasahi keningnya.
"Tunggu sebentar," ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke minimarket.
Tak lama kemudian Daniel kembali dengan membawa tisu di tangannya lalu memberikan pada Marin.
Marinpun mengusap peluh yang membasahi keningnya karena berlari untuk segera menemui Daniel yang sudah lama menunggunya.
"Kau selalu saja membahayakan dirimu sendiri Marin, berhentilah bersikap seperti itu!" ucap Daniel pada Marin.
"Apa yang kau bicarakan Daniel? kenapa kau tiba-tiba memarahiku?"
"Aku tidak sedang memarahimu, aku hanya tidak suka jika kau membahayakan dirimu, kau menerima seseorang yang baru kau kenal untuk bekerja denganmu, kau berjalan di tengah malam di tempat yang sepi dan sekarang kau berlari dari rumahmu sampai ke sini, apa kau tidak tahu jika semua yang kau lakukan itu berbahaya?"
"Aku berlari kesini karena kau sudah menungguku selama satu jam disini, aku tidak ingin kau menungguku lebih lama lagi!" balas Marin membela diri.
"Aku akan tetap menunggumu disini bahkan jika sampai dua jam," ucap Daniel.
Marin hanya menghela nafasnya kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tidak mengerti kenapa Daniel tiba-tiba mengomelinya seperti itu hanya karena ia berlari untuk menemui Daniel.
"Apa Nerissa tau kau kesini untuk menemuiku?" tanya Daniel pada Marin.
"Tidak, aku hanya memberitahu putri jika aku pergi ke minimarket, sepertinya kau tidak ingin Putri tahu jika kau ingin bertemu denganku, benar bukan?"
"Kau memang cerdas Marin," balas Daniel sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Tentu saja," balas Marin menyombongkan diri sambil menyibakkan rambutnya.
Daniel hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Marin.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku? sepertinya ada sesuatu yang penting!" tanya Marin.
"Tentang kejadian semalam, aku minta maaf," ucap Daniel.
"Minta maaf? untuk apa?" tanya Marin tak mengerti.
"Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa aku datang ke rumahmu saat sedang mabuk, semua yang terjadi semalam benar-benar di luar kendaliku!"
"Apa kau mengingat semua kejadian semalam?"
Daniel hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Marin.
"Apa kau serius dengan apa yang kau ucapkan kemarin Marin? tentang Alvin dan Nerissa, apa mereka benar-benar sudah saling mengenal sebelum aku mengenal Nerissa?" tanya Daniel pada Marin.
"Aku serius Daniel, mungkin Alvin masih menyembunyikannya darimu untuk menjaga perasaanmu," jawab Marin meyakinkan.
"Apa mereka sudah saling jatuh cinta sebelum aku mengenal Nerissa?"
"Aku tidak tahu pasti, yang aku tahu mereka memiliki hubungan baik sebelum kau memperkenalkan Putri pada Alvin, jadi jika tiba-tiba Alvin menjauh dari Putri, Putri pasti merasa sangat sedih," jawab Marin.
Daniel menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Marin. Ia tidak menyangka Alvin melakukan hal itu padanya hanya untuk menjaga perasaannya.
"Apa kau masih bertengkar dengan Alvin?" tanya Marin pada Daniel.
"Aku belum bertemu dengannya sejak terakhir kali aku bertemu dan bertengkar dengannya," jawab Daniel.
"Bukankah semalam dia membawamu ke rumahnya?" tanya Marin.
"Iya tapi dia sudah pergi sebelum aku keluar kamar, Ricky memintanya untuk menghadiri pertemuan penting di luar kota," jawab Daniel.
"Di luar kota? oooooh mungkin itu yang membuat Alvin tidak membalas pesan Putri dan terkesan mengabaikan Putri tiba-tiba," ucap Marin.
"Tentu saja, seharian dia terlihat kesal karena hal itu," jawab Marin.
Daniel menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya. Ia bingung harus bersikap seperti apa pada Nerissa dan Alvin. Di satu sisi ia sangat menyukai Nerissa, di sisi lain ia yakin jika Alvin juga menyimpan perasaan pada Nerissa.
"Selesaikan masalahmu dengan baik Daniel, aku yakin persahabatan kalian berdua lebih kuat dari masalah yang kalian hadapi saat ini," ucap Marin pada Daniel.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Marin? apa aku harus melepaskan Nerissa untuk Alvin? atau aku harus tetap mempertahankan Nerissa dan membiarkan Alvin menyimpan perasaannya selamanya?"
"Kau yang lebih tahu apa yang sebaiknya kau lakukan Daniel, apapun pilihanmu aku berharap kau tidak akan pernah menyesalinya!" balas Marin.
Daniel menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Marin, entah kenapa ia merasa begitu nyaman saat bercerita pada Marin tentang semua masalah yang sedang dihadapinya.
Ia bisa melihat sisi lain dari Marin saat ia sedang menceritakan masalahnya pada Marin. Gadis cantik yang terkadang bersikap seperti monster itu bisa tiba-tiba berubah menjadi peri cantik di hadapannya.
"Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku Marin?" tanya Daniel pada Marin.
"Tidak ada, memangnya apa yang seharusnya aku tanyakan padamu?" balas Marin.
"Tentang kedua orang tuaku, aku sudah menceritakan semuanya padamu bukan?"
Marin menganggukkan kepalanya ragu menjawab pertanyaan Daniel.
"Apa kau tidak ingin bertanya lebih jauh lagi?" tanya Daniel.
"Aku tidak akan bertanya apapun tentang hal itu padamu, tetapi jika kau ingin menceritakannya padaku aku akan mendengarkannya dengan baik," jawab Marin yang berusaha untuk tetap menjaga privasi yang harus Daniel jaga.
"Kau memang gadis yang baik, pantas saja mama sangat menyukaimu!" ucap Daniel sambil menepuk-nepuk kepala Marin.
Marin hanya tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya, berusaha menjaga debaran dalam dadanya agar tidak membuatnya terlihat gugup.
"Apa masih ada yang ingin kau sampaikan? jika tidak aku harus segera pulang, Putri pasti sudah menungguku di rumah!" ucap Marin pada Daniel.
"Aku akan mengantarmu pulang," balas Daniel.
"Tidak perlu, bagaimana jika Putri bertanya karena aku pulang bersamamu?"
"Jawab saja jika kita tidak sengaja bertemu," balas Daniel kemudian membereskan barang-barangnya di meja lalu menarik tangan Marin dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan pulang, diam-diam Marin beberapa kali mencuri pandang ke arah Daniel yang fokus mengendarai mobilnya.
"kenapa dia terlihat sangat tampan malam ini?" batin Marin dalam hati yang tanpa sadar membuatnya tersenyum.
"aaaahhhh tidak...... mataku pasti sudah bermasalah," ucap Marin dalam hati sambil menggelengkan kepalanya berusaha untuk menyadarkan pikirannya.
"Kenapa Marin? apa kepalamu pusing?" tanya Daniel yang melihat Marin menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku aku hanya......"
"Apa kau sedang memikirkanku?" tanya Daniel yang sengaja menggoda Marin.
"Memikirkanmu? hahaha...... aku bahkan tidak pernah menyimpanmu dalam memori otakku," balas Marin dengan tertawa sambil mengalihkan pandangannya.
Daniel hanya tersenyum tipis melihat sikap Marin. Sesampainya di depan rumah, Daniel menghentikan mobilnya.
"Apa kau tidak ingin masuk untuk menemui Putri?" tanya Marin pada Daniel.
"Tidak, aku harus segera kembali ke rumah Alvin, aku harus membicarakan semuanya dengannya," jawab Daniel.
"Aku yakin dan percaya kau akan melakukan hal yang terbaik untuk semuanya!" ucap Marin dengan tersenyum kemudian turun dari mobil Daniel.
Daniel kemudian mengendarai mobilnya ke arah rumah Alvin. Sesampainya disana ia tidak melihat mobil Alvin yang terparkir di garasi.
Daniel kemudian berjalan ke arah pintu rumah dan bertanya pada bibi tentang keberadaan Alvin.
"Apa Alvin belum pulang Bi?" tanya Daniel pada bi sita.
"Belum den, mungkin sebentar lagi," jawab bi sita.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya pelan kemudian duduk di teras untuk menunggu Alvin.
Setelah beberapa lama menunggu, sebuah mobil masuk ke dalam halaman rumah Alvin.
Alvin yang saat itu baru sampai di rumah begitu terkejut karena melihat mobil Daniel yang terparkir di halaman rumahnya.
Alvin kemudian turun dari mobil dan berjalan ke arah Daniel yang sudah menunggunya di teras.
Entah apa yang akan Daniel lakukan padanya, ia tidak peduli, yang terpenting baginya adalah ia bisa berbicara baik-baik pada Daniel untuk menyelesaikan masalah di antara mereka berdua.
"Apa kau menungguku?" tanya Alvin pada Daniel.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
Alvin kemudian duduk di hadapan Daniel.
"Apa kau baru pulang dari luar kota?" tanya Daniel berbasa basi.
"Iya, aku pergi bersama Raka, bagaimana keadaanmu? sepertinya semalam kau sangat mabuk," jawab Alvin sekaligus bertanya.
"Aku baik-baik saja," jawab Daniel.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya pelan, untuk beberapa saat yang ada hanya kecanduan di antara mereka berdua setelah pertengkaran yang terjadi beberapa kali.
"Apa kau sudah menghubungi Nerissa?" tanya Daniel pada Alvin.
"Belum, aku memutuskan untuk menjauhinya, lebih baik aku tidak mengenalnya daripada aku harus kehilangan sahabatku," jawab Alvin.
"Kenapa kau bodoh sekali Alvin? kenapa kau melakukan hal itu? apa kau tidak tahu betapa sedihnya dia karena kau mengabaikannya?"
"Seiring dengan berjalannya waktu dia pasti akan melupakanku, lagi pula ada kau yang selalu di sampingnya," balas Alvin.
"Apa tidak ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku Alvin? apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu yang selama ini kau sembunyikan dariku?" tanya Daniel yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Daniel dan terdiam beberapa saat tanpa mengucapkan apapun.
"Marin sudah mengatakan semuanya padaku tetapi aku ingin mendengarnya darimu secara langsung," ucap Daniel.
"Apa ini tentang Nerissa?" tanya Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
"Maafkan aku Daniel, aku tidak bermaksud untuk berbohong padamu, aku memang sudah mengenal Nerissa sebelum kau membawanya kesini," ucap Alvin.
"Berapa lama kau sudah mengenalnya? apa kau dekat dengannya?"
"Aku hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali, aku tidak bisa menilai apa aku cukup dekat dengannya atau tidak tetapi kita banyak bercerita dan bercanda saat kita bertemu," jawab Alvin.
"Apa kau menyukainya? apa kau jatuh cinta padanya sejak kau pertama kali bertemu dengannya? atau kau baru saja jatuh cinta padanya setelah kau semakin dekat dengannya?"
Alvin hanya diam memikirkan jawaban yang tepat agar tidak membuat Daniel kembali emosi padanya.
"Jika kau memang jatuh cinta padanya, apa kau mau melepaskannya untukku Alvin? kau tahu aku sangat menyukainya bukan? aku bahkan sudah menyukainya sejak pertama kali aku bertemu dengannya sebelum aku mengenal bahkan mengetahui namanya!"
Alvin masih terdiam dengan menundukkan kepalanya. Ada sebuah ragu dalam hatinya untuk mengiyakan ucapan Daniel.
Ia tidak bisa menilai apakah dia telah jatuh cinta pada Nerissa, tetapi hatinya terasa berat saat ia memutuskan untuk menjauhi Nerissa demi persahabatannya dengan Daniel.
Terlebih Daniel baru saja memintanya secara terang-terangan untuk melepaskan Nerissa, membuat sesuatu dalam dadanya bergemuruh, membuatnya merasa sesuatu menghimpit dadanya dengan sangat kuat.