
Chubasca dan Beetna masih berada di kamar Ratu Nagisa, mereka sudah melakukan pengukuhan dengan menggunakan darah mereka yang berarti mereka tidak bisa berkhianat pada Ratu Nagisa.
Dengan pengukuhan itu Ratu Nagisa memberikan tugas khusus pada Chubasca dan Beetna untuk menemui Nerissa dan Marin yang sedang berada di daratan.
Chubasca dan Beetna sempat terkejut karena mereka berpikir jika Nerissa dan Marin sedang dalam masa penugasan, tapi ternyata Nerissa dan Marin sedang berada di daratan untuk melakukan tugas yang sudah Ratu Nagisa berikan secara khusus.
Ratu Nagisa kemudian memberikan sebuah alat pada Chubasca dan Beetna yang bisa mendeteksi keberadaan Nerissa dan Marin melalui gelang mutiara yang Nerissa dan Marin pakai.
"Pakai gelang ini, gelang ini akan memberikan radar keberadaan Nerissa dan Marin!" ucap Ratu Nagisa sambil memakaikan gelang yang berbentuk seperti jam tangan pada Chubasca dan Beetna.
"Bawa tanaman ini pada Marin dan beritahu dia bahwa Cadassi yang membawa tanaman ini ke Seabert lalu tanyakan padanya apa yang harus aku lakukan untuk menghindari efek dari tanaman ini!"
"Baik Ratu!"
"Baik Ratu!" balas Chubasca dan Beetna kompak.
"Besok pagi datanglah ke wilayah Selatan, aku akan menunggu kalian disana dan mengantar kepergian kalian, jika ada yang menanyakan tentang kepergian kalian minta mereka untuk menanyakan sendiri padaku karena akulah yang memberikan perintah pada kalian berdua!" ucap Ratu Nagisa pada Chubasca dan Beetna.
"Baik Ratu,"
"Baik Ratu!" ucap Chubasca dan Beetna bersamaan.
"Sekarang kalian berdua pergilah, persiapkan diri kalian untuk perjalanan panjang yang akan kalian lakukan besok pagi!"
Chubasca dan Beetna menganggukan kepala mereka kemudian keluar dari kamar Ratu Nagisa.
Esok paginya seperti yang sudah dikatakan oleh Ratu Nagisa Chubasca dan Beetna pergi ke wilayah Selatan untuk menemui Ratu Nagisa yang sudah menunggu mereka.
Ratu Nagisa pun mengantar kepergian Chubasca dan Beetna, tak lupa Ratu Nagisa membawa tanaman yang harus mereka berikan pada Marin.
Ratu Nagisa sengaja mengantar mereka ke arah pantai yang lebih jauh agar tidak ada manusia yang melihat keberadaan mereka saat itu karena Ratu Nagisa tahu jika pagi hari di pantai Pasha pasti akan banyak manusia yang berada di sana.
Akhirnya Ratu Nagisa pun kembali ke Seabert, membiarkan Chubasca dan Beetna berenang mendekat ke tepi pantai untuk melakukan tugas sesuai dengan arahannya.
Setelah memastikan tidak ada siapapun yang berada di tepi pantai Chubasca dan Beetnapun semakin mendekat ke bibir pantai.
Mereka kemudian memakan rumput laut yang sudah mereka siapkan agar ekor mereka berubah menjadi kaki untuk beberapa waktu lamanya.
"Waaahh..... seperti ini ternyata rasanya memiliki kaki, rasanya sedikit aneh!" ucap Beetna sambil menggerakkan kedua kakinya dengan masih terduduk di atas pasir pantai.
"Ayo cepatlah, kita tidak punya banyak waktu, kita harus bisa menemukan keberadaan Marin sebelum kaki kita berubah menjadi ekor," ucap Chubasca pada Beetna.
Saat Beetna akan berdiri, ia tiba-tiba terjatuh karena tidak terbiasa berdiri menggunakan kaki di daratan. Namun dengan sigap Chubasca menahan tubuh Beetna, membuat mereka berdua saling menatap untuk beberapa saat.
Ketika menyadari hal itu, Chubasca pun segera melepaskan tangannya membuat Beetna terjatuh di atas pasir.
"Aaaahh..... sakit sekali...... kau benar-benar menyebalkan Chubasca!" ucap Beetna sambil mengusap kepalanya yang terasa sedikit sakit.
"Jangan manja Beetna, kau tahu kita tidak punya banyak waktu!" ucap Chubasca kemudian berjalan meninggalkan Beetna begitu saja.
"Tunggu aku Chubasca, kau akan semakin kesusahan kalau aku hilang di daratan!" ucap Beetna setengah berteriak, membuat Chubasca menghentikan langkahnya untuk menunggu Beetna yang berjalan dengan sangat pelan.
"Apa kau tahu kau bahkan lebih lambat dari kura-kura!" ucap Chubasca pada Beetna.
"Apa kau tahu kau lebih menjengkelkan dari ucapan orang orang tentangmu!" balas Beetna yang tak mau kalah
Chubasca hanya menghela nafasnya kemudian melihat kearah gelang yang ada di tangannya.
"Kita harus berjalan ke sana!" ucap Chubasca pada Beetna.
Beetna hanya menganggukkan kepalanya mengikuti langkah Chubasca. Satu jam berlalu namun radar tidak juga menunjukkan dengan pasti di mana keberadaan Nerissa dan Marin.
"Apa kau yakin kita tidak salah jalan Chubasca?sepertinya kita berjalan sudah sangat lama!" tanya Beetna pada Chubasca.
"Tidak ada yang bisa kita percaya selain alat pemberian Ratu Nagisa, jadi ikuti saja!" balas Chubasca.
Matahari pun semakin naik, membuat udara semakin panas.
"Aaahhh...... aku sudah tidak sanggup lagi Chubasca, ini terlalu panas..... aku ingin segera kembali ke lautan!" ucap Beetna sambil duduk di trotoar jalan raya.
"Kembalilah ke lautan jika kau ingin darahmu membeku karena sudah mengabaikan perintah Ratu Nagisa!" balas Chubasca yang sebenarnya juga sangat kelelahan saat itu.
Beetna pun kembali berdiri dan berjalan mengikuti Chubasca dengan sangat pelan.
Saat Chubasca membalik badannya, ia melihat Beetna yang berada terlalu jauh darinya. Chubascapun menunggu Beetna kemudian membungkukkan badannya membelakangi Beetna saat Beetna sudah berada di dekatnya.
"Apa yang kau lakukan? apa kau juga merasa lelah?" tanya Beetna pada Chubasca.
"Naiklah!" ucap Chubasca sambil menepuk punggungnya, meminta Beetna untuk naik ke punggungnya.
"Hahaha...... kau mau menggendongku? apa kau sedang bercanda atau sedang mengejekku saat ini?"
"Cepatlah, aku tidak akan memintamu dua kali!" ucap Chubasca tanpa menjawab pertanyaan Beetna.
Dengan ragu Beetna mendekat ke arah punggung Chubasca. Chubasca kemudian menarik kedua tangan Beetna, mengalungkan di lehernya dan menggendong Beetna di punggungnya.
Beetna tersenyum senang karena ia tidak lagi merasa lelah. Setelah beberapa lama berjalan dengan menggandeng Beetna, Chubasca menghentikan langkahnya.
"kenapa berhenti? apa kau sudah lelah?" tanya Beetna pada Chubasca.
Chubasca hanya diam sambil memastikan radar yang terlihat di gelang yang Ratu Nagisa berikan padanya.
Gelang itu berkedip-kedip menandakan bahwa Putri Nerissa atau Marin berada didekat mereka saat itu.
"Turunlah, sepertinya kita sudah sampai," ucap Chubasca pada Beetna.
Beetnapun turun dari gendongan Chubasca dan melihat ke arah gelang yang ada di tangannya untuk memastikan ucapan Chubasca.
"Kau benar, kita sudah sampai, tapi di mana mereka? di mana Putri Nerissa dan Marin?"
Chubasca dan Beetnapun mengedarkan pandangan mereka untuk mencari keberadaan Putri Nerissa dan Marin.
Chubasca kemudian menarik tangan Beetna, mengajaknya mendekat ke arah toko bunga milik Marin.
Benar saja sesampainya Chubasca dan Beetna di sana mereka melihat Marin yang sedang merangkai sebuah bunga di dalam toko bunga.
"Selamat datang di Marin Florist," ucap Marin memberi sapaan seperti biasa sambil tersenyum ramah.
Namun tiba-tiba senyumnya berubah saat melihat siapa yang ada di toko bunganya saat itu.
Marin membelalakkan matanya tak percaya melihat sang kakak yang berdiri di hadapannya dengan sepasang kaki layaknya manusia pada umumnya.
"Kau......"
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Marin pada Chubasca.
Sebelum Chubasca sempat menjawab pertanyaan Marin, tiba-tiba Beetna meraih tangan Chubasca dan memegangnya dengan erat.
"Chubasca, sepertinya terjadi sesuatu pada kakiku...... kakiku terasa sangat kaku!" ucap Beetna pada Chubasca.
Mendengar hal itu Marin segera mengajak Chubasca dan Beetna untuk masuk ke dalam rumah dan menyiapkan bathub yang sudah diisi dengan air yang penuh.
Beetna pun masuk ke dalam bathub itu dan seketika kedua kakinya pun berubah menjadi ekor.
"Terima kasih Marin!" ucap Beetna pada Marin.
Marin hanya menganggukkan kepalanya kemudian memberikan rumput laut pemberian Chubasca pada Beetna.
Setelah memakan rumput laut, ekor Beetna pun kembali berubah menjadi sepasang kaki. Beetna dan Marin pun keluar dari kamar mandi menghampiri Chubasca yang masih berada di ruang tamu sambil memakan beberapa rumput laut agar kakinya tidak berubah menjadi ekor.
"Kenapa kalian berdua bisa di sini? apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Marin sambil membawa pandangannya pada Chubasca dan Beetna.
"Ratu Nagisa yang meminta kita untuk datang ke daratan dan menemuimu, aku dan Beetna sudah mengetahui semuanya Marin, tentang ayah dan juga tentang kepergianmu bersama Putri Nerissa," jawab Chubasca.
"Kenapa Ratu Nagisa meminta kalian kesini? apa terjadi sesuatu pada Ratu Nagisa?" tanya Marin khawatir
"Ratu Nagisa baik-baik saja, tapi entah sampai kapan Ratu akan baik-baik saja karena seperti yang kau tahu ayah sedang merencanakan hal buruk pada Seabert!" jawab Chubasca.
"Apalagi yang ayah lakukan sekarang?"
Beetna kemudian memberikan sebuah tanaman pada Marin.
"Bunga mawar merah? ada apa dengan bunga ini?" tanya Marin pada Beetna.
"Aku menemukan bunga ini dari Chubasca, dia yang membawa bunga ini ke perpustakaan istana, kau pasti tahu betapa berbahayanya bunga ini bukan?"
"Kau membawa bunga ini ke istana? dari mana kau mendapatkan bunga ini? apa kau pernah ke daratan sebelumnya?" tanya Marin pada sang kakak.
"Aku mendapatkan bunga itu dari ayah, aku diam-diam mengambilnya saat ayah baru saja pulang dari daratan dan tidak sengaja menjatuhkannya," jawab Chubasca menjelaskan sebelum Marin salah paham padanya.
"Aku akan menghubungi Putri Nerissa agar dia tahu apa yang terjadi," ucap Marin kemudian menghubungi Nerissa meminta Nerissa agar segera pulang.
Nerissa yang saat itu sedang menemani Amanda melukis di rumahnya segera berpamitan untuk pulang karena ia khawatir terjadi sesuatu pada Marin yang tiba-tiba memintanya untuk pulang.
Nerissa menaruh sepedanya di depan toko bunga seperti biasa lalu masuk ke dalam toko bunga, tetapi tidak mendapati siapapun disana.
"Marin, di mana kau?" panggil Nerissa setengah berteriak.
"Marin, kau....." Nerissa menghentikan ucapannya saat ia memasuki rumah dan melihat Chubasca yang sedang duduk di ruang tamu bersama Beetna dan juga Marin.
"Duduklah dulu Putri, aku akan menjelaskan sesuatu padamu," ucap Marin sambil membawa Nerissa untuk duduk di dekatnya.
Marin kemudian menjelaskan pada Nerissa apa yang membuat Chubasca dan Beetna ke daratan.
"Bunga mawar merah? ada apa dengan bunga mawar merah? bukankah kau juga menjual bunga seperti ini?" tanya nerissa pada Marin.
"Bunga mawar merah ini memang terlihat cantik Putri, dia juga mempunyai wangi yang harum tapi bunga ini akan menjadi bunga yang mematikan bagi mermaid di lautan!" jawab Marin yang membuat Nerissa begitu terkejut.
"Apa yang akan Cadassi lakukan dengan bunga mawar merah ini? apa dia akan kembali membuat ramuan untuk meracuni bundaku?" tanya Nerissa dengan membawa pandangannya pada Marin, Chubasca dan juga Beetna.
"Mungkin ayahku merasa ramuan yang dibuatnya sudah tidak memiliki efek apapun pada Ratu, karena melihat keadaan Ratu yang semakin membaik jadi ayah memilih untuk membuat ramuan baru yang lebih berbahaya," jawab Marin.
"Seberapa berbahaya ramuan dari bunga mawar merah ini marin?" tanya Nerissa.
"Kau ingat cairan yang pernah aku gunakan untuk ekorku bukan? salah satu bahan yang ada pada cairan itu adalah ekstrak dari bunga mawar ini, jika aku tidak salah bisa jadi ayah akan membuat Ratu tidak bisa meninggalkan ranjangnya karena ekor milik Ratu yang akan semakin mengeras," jawab Marin menjelaskan.
"Kalau memang itu masalahnya, Bunda bisa mengembalikan ekornya lagi dengan bantuan ubur-ubur seperti apa yang kulakukan dulu!" ucap Nerissa.
"Kau benar putri tetapi ada hal lain lagi yang membuat bunga mawar ini begitu berbahaya bagi lautan, saat mermaid meminum ramuan yang mengandung bunga mawar ini dalam satu kali teguk saja jantung mermaid akan melemah dan seiring berjalannya waktu semua kemampuan yang dimiliki mermaid akan menghilang satu persatu, membuat mermaid menjadi terbaring tak berdaya di atas ranjang," ucap Marin menjelaskan.
"Itu pasti sangat menyiksa Marin, aku tidak ingin hal buruk itu terjadi pada Bunda," ucap Nerissa dengan raut wajah sedih.
"Kalau begitu kita hanya perlu memastikan agar Raru Nagisa tidak meminum apapun yang Cadassi berikan!" ucap Beetna.
"Kau benar, kita harus memberitahu Ratu Nagisa tentang hal ini!" balas Chubasca.
"Tetapi tidak hanya itu, aroma yang dihasilkan oleh ramuan dengan memakai bahan mawar merah itu juga bisa memberikan efek yang buruk pada mermaid di lautan, bahkan tanpa meminumnya aroma bunga mawar merah ini sangat berbahaya," ucap Marin yang membuat Nerissa, Beetna dan Chubasca begitu terkejut.
"Jika Ratu Nagisa atau mermaid lain menghirup aromanya, yang akan terjadi Marin?"
"Jika ayahku membuat ramuan menggunakan mawar merah itu untuk mengeluarkan aromanya dan jika Ratu Nagisa atau mermaid lain menghirup aroma ramuan mawar merah itu, mereka akan menjadi berhalusinasi dan kehilangan kemampuannya untuk berpikir, dampak terburuknya adalah mermaid lain bisa saja mengambil kesempatan itu untuk memasuki alam bawah sadar mermaid yang sudah kehilangan kemapuan berpikirnya," jawab Marin menjelaskan.
Nerissa terdiam mendengarkan penjelasan Marin. Semua yang Marin jelaskan terdengar sangat menakutkan baginya, membuatnya khawatir akan keselamatan sang Bunda di Seabert.
Tanpa sadar Nerissa menjatuhkan air matanya dan dalam sekejap bulir air mata itu berubah menjadi mutiara yang tercecer di lantai.
"Tenangkan dirimu Putri, kita semua tidak akan membiarkan hal yang buruk terjadi pada Ratu Nagisa!" ucap Marin sambil menghapus air mata di pipi Nerissa.
"Maafkan aku Putri, maaf atas sikap ayahku yang buruk!" ucap Chubasca yang merasa menyesal atas sikap sang ayah yang menjadi penghianat istana.