Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Pertengkaran



Waktu demi waktu telah berlalu membawa hari yang berganti lembaran baru. Tinta hitam siap memulai kembali satu persatu kata dari takdir yang sudah Tuhan siapkan.


Alvin mengendarai mobilnya keluar dari rumahnya untuk berangkat ke kantor. Tak seperti biasanya raut wajahnya tampak tak bersemangat pagi itu.


Bukan karena ia malas bekerja, tetapi karena Daniel yang masih marah padanya. Sejak semalam Alvin berusaha menghubungi Daniel, namun Daniel selalu mengacuhkan panggilannya.


Ia tidak ingin permasalahannya dengan Daniel mempengaruhi kinerja mereka berdua di kantor.


Sesampainya Alvin di kantornya ia segera berjalan ke arah lift yang akan membawanya naik ke ruangannya.


Saat pintu lift hampir saja tertutup, sebuah tangan menahan pintu lift agar tetap terbuka. Seseorang kemudian segera masuk ke dalam lift setelah pintu lift kembali terbuka lebar.


"Daniel aku....."


"Jangan membicarakan apapun padaku selain tentang pekerjaan," ucap Daniel memotong ucapan Alvin.


Alvin hanya diam tidak melanjutkan ucapannya. Untuk beberapa saat mereka berdua hanya diam dalam keheningan karena hanya ada mereka berdua di dalam lift saat itu.


Liftpun berhenti pintu terbuka, Alvin dan Daniel keluar dari lift lalu masuk ke ruangan mereka masing-masing tanpa mengucapkan apapun.


"mungkin untuk sementara waktu lebih baik seperti ini," ucap Alvin dalam hati kemudian membuka pintu ruangannya.


Alvinpun mulai mengerjakan pekerjaannya.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 9 saat Daniel masuk ke ruangan Alvin dan menyerahkan laporan yang baru saja Daniel selesaikan.


Daniel hanya memberikan sebuah map pada Alvin tanpa mengucapkan apapun kemudian keluar dari ruangan Alvin, sedangkan Alvin segera memeriksa hasil laporan Daniel.


Setelah beberapa lama memeriksa laporan Daniel, Alvin beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruangannya untuk masuk ke ruangan Daniel.


"Ada beberapa bagian yang harus kau revisi, aku sudah menggarisbawahinya!" ucap Alvin pada Daniel.


Daniel hanya menerima map yang Alvin berikan padanya tanpa mengucapkan apapun. Melihat sikap Daniel yang dingin, Alvin hanya menghela nafasnya kemudian keluar dari ruangan Daniel.


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, Daniel kembali menghampiri Alvin di ruangannya lalu memberikan hasil revisi laporannya pada Alvin.


Lagi lagi Daniel tidak mengucapkan apapun, hanya memberikan begitu saja map di tangannya pada Alvin.


Alvin lalu menaruh map itu di mejanya dengan membawa pandangannya pada Daniel yang masih saja mengabaikannya.


"Apa kau akan terus seperti ini padaku?" tanya Alvin pada Daniel yang hendak keluar dari ruangan Alvin.


Daniel kemudian membalik badannya dan membawa pandangannya pada Alvin dengan pandangan penuh kemarahan dan kekecewaan.


"Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pengkhianatan seorang sahabat Alvin, kau tidak akan pernah merasakannya karena aku tidak akan melakukan penghianatan sekecil apapun pada sahabatku sendiri," ucap Daniel.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Nerissa, aku dan Nerissa....."


"Mungkin sekarang tidak ada, tapi tidak tahu beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan selanjutnya, bukan tidak mungkin jika dia menolakku karena dia sebenarnya menyukaimu jika kau terus saja mendekatinya!"


"Aku tidak bermaksud untuk mendekatinya, aku tahu kau sangat menyukainya, dia juga hanya menganggapku sebagai teman baiknya sama sepertimu," ucap Alvin.


"Hentikan omong kosongmu Alvin, jangan memaksaku untuk menghajarmu lagi karena aku tidak akan berpikir panjang untuk melakukan hal itu lagi padamu!" ucap Daniel kemudian keluar dari ruangan Alvin sambil menutup pintu ruangan Alvin dengan kencang.


Daniel meninggalkan kantor, mengendarai mobilnya ke arah toko bunga Marin untuk menemui Nerissa. Ia tidak akan memberikan Alvin kesempatan untuk mendekati Nerissa karena bagaimanapun juga ia tidak akan merelakan Nerissa bersama Alvin.


Sedangkan Alvin hanya duduk di kursi kerjanya sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya tiba-tiba.


**


Di toko bunga Marin.


Marin sedang membuat buket bunga pesanan yang harus segera Nerissa antar.


"Putri, bagaimana hubunganmu dengan Daniel? sepertinya dia semakin menunjukkan perasaannya padamu!" tanya Marin pada Nerissa.


"Aku hanya menganggapnya sebagai teman baik Marin, aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya, aku juga sudah memintanya untuk tidak berharap apapun padaku tetapi sepertinya dia tidak akan mudah menyerah," jawab Nerissa.


"Bagaimana dengan Alvin?"


"Alvin? aku juga hanya berteman dengannya sama seperti aku berteman dengan Daniel," jawab Nerissa.


"Tetapi kau menyukai Alvin lebih dari seorang teman bukan? perasaanmu pada Daniel dan perasaanmu pada Alvin berbeda, benar bukan?"


Nerissa tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Marin.


"Berbeda atau tidak itu sama-sama tidak penting lagi untukku karena aku tahu perasaan yang ada dalam hatiku hanya akan berakhir sia-sia," ucap Nerissa.


"Bagaimana jika Alvin menyatakan perasaannya padamu? apa kau akan menerimanya?" tanya Marin yang membuat Nerissa terdiam untuk beberapa saat.


"Alvin dan Daniel bersahabat dekat Putri, seperti yang kau tahu Daniel sangat menyukaimu dan jika memang benar Alvin juga menyukaimu mungkin akan terjadi masalah besar di antara mereka berdua," lanjut Marin.


Nerissa masih diam mendengarkan ucapan marin. Ia juga memikirkan hal yang sama dengan apa yang Marin pikirkan jika memang Alvin benar-benar menyukainya.


"Kau sendiri bagaimana hubunganmu dengan Daniel? sepertinya kalian berdua semakin dekat!" tanya Nerissa pada Marin.


"Aku hanya berteman dengannya, dia memang laki-laki yang baik tetapi dia juga sangat menyebalkan, dia bahkan mengataiku sebagai monster di depan mamanya, sangat menyebalkan bukan?" balas Marin dengan raut wajah kesal yang membuat Nerissa terkekeh.


"Kau juga sangat dekat dengan mama Daniel, sepertinya mama Daniel menyukaimu Marin!"


"Aku sudah mengatakannya padamu Putri, itu karena aku dan mama Daniel menyukai hobi yang sama," balas Marin.


"Benarkah? bukan karena mama Daniel berniat untuk menjadikanmu istri Daniel? hehehe...."


"Istri Daniel? hahaha..... kau lucu sekali Putri, bahkan jika dia adalah mermaidpun aku tidak akan mau menjadi istrinya, aku pasti akan sangat stres jika memiliki suami menyebalkan sepertinya," balas Marin dengan menggelengkan kepalanya.


Tidak bisa dipungkiri, Marin memang menilai Daniel laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Beberapa kali Daniel menyelamatkan dirinya dan beberapa kali juga dadanya selalu berdebar setiap Daniel berada dekat dengannya.


Namun itu hanya bertahan sesaat karena tak lama setelah itu Daniel akan kembali menjadi laki-laki yang sangat menyebalkan bagi Marin.


Setelah beberapa lama membuat buket bunga, akhirnya buket bunga itu selesai, Marinpun memberikannya pada Nerissa beserta alamat tempat si pemesan buket bunga tinggal.


Nerissa pergi dari toko bunga dengan membawa buket bunga yang harus ia antar.


Sepeninggalan Nerissa, Marin merapikan bunga-bunga yang ada di toko bunganya untuk mengisi kejenuhannya.


Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan toko bunganya, saat Marin membawa pandangannya ke arah pintu ia melihat Daniel yang berjalan ke arahnya.


"laki-laki menyebalkan ini lagi, baru saja aku dan Putri membicarakannya!" ucap Marin dalam hati.


"Kenapa kau tidak menyambutku dengan ramah seperti biasa Marin?" protes Daniel pada Marin yang tidak menyambutnya.


"Untuk apa menyambutmu? aku tahu kau kesini hanya untuk mencari putri bukan?"


"Hahaha..... kau selalu tahu isi pikiranku, dimana Nerissa? apa dia belum pulang?"


"Dia bahkan baru saja berangkat mengantar bunga, sepertinya kau harus menunggu lebih lama jika ingin menemui Putri," jawab Marin.


Daniel menghela nafasnya kemudian menjatuhkan dirinya di kursi yang ada di sana.


Marin hanya menggelengkan kepala sambil merapikan bunga-bunga di hadapannya.


Daniel kemudian beranjak dari duduknya menarik tangan Marin dan membawanya ke arah wastafel.


"Apa yang kau lakukan Daniel?" tanya Marin sambil menarik tangannya dari Daniel.


"Cuci tanganmu dan makan sianglah bersamaku!" ucap Daniel lalu memberikan satu burger pada Marin.


"Ini untuk Putri bukan?" tanya Marin memastikan.


"Tadinya aku memang ingin memakannya bersama Nerissa, tetapi sepertinya aku terlambat, daripada aku membuangnya ke tempat sampah lebih baik aku membuangnya padamu bukan hahaha....."


"Apa kau baru saja menyamakan aku dengan tempat sampah? waaaaah...... kau memang benar-benar keterlaluan Daniel!" ucap Marin sambil menyemprotkan air ke arah Daniel.


"Hahaha....... aku hanya bercanda Marin!" ucap Daniel.


Marin kemudian duduk di kursi diikuti Daniel yang duduk di sebelah Marin.


"Anggap saja burger ini berjodoh denganmu, jadi makanlah!" ucap Daniel sambil kembali memberikan satu burger yang belum Marin terima.


"Baiklah, burger ini akan masuk ke tempat sampah yang cantik ini," balas Marin yang membuat Daniel terkekeh sambil mengusap kepala Marin.


"Hahaha..... kau lucu sekali," ucap Daniel tertawa.


Marin hanya tersenyum tipis dengan berusaha menahan dadanya yang kembali berdebar.


"Hmmm.... enak, aku belum pernah makan ini sebelumnya," ucap Marin.


"Benarkah?" tanya Daniel tak percaya.


"Iya, aku hanya pernah melihatnya di tv," jawab Marin.


"Bukanlah disini banyak yang menjual burger?"


"Iya, tetapi aku tidak pernah membelinya," jawab Marin


"Kenapa?"


"Karena aku suka memasak jadi aku sering melihat acara memasak di tv dan aku tidak pernah melihat chefnya memasak burger, jadi aku tidak bisa menirukannya," jawab Marin.


"Aku baru tahu jika kau suka memasak," ucap Daniel.


"Aku memang tidak sejago chef yang ada di TV tetapi rasa masakanku cukup enak menurutku hehe...."


"Waaahh.... kau memang istri idaman karena pandai memasak!" ucap Daniel yang membuat marine tiba-tiba tersedak.


"istri? kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal itu?" tanya Marin dalam hati sambil menepuk-nepuk dadanya karena tersedak.


"Makanlah pelan-pelan Marin, aku bisa membelikanmu lagi jika kau memang sangat menyukainya!" ucap Daniel sambil memberikan minuman cola pada Marin.


"Minumlah perlahan," ucap Daniel.


Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis, berusaha menghilangkan kegugupan yang ia rasakan saat itu.


Daniel kemudian melihat jam yang ada di tangan kirinya lalu beranjak dari duduknya.


"Aku harus kembali ke kantor Marin, tolong sampaikan pada Nerissa kalau aku baru saja mencarinya," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Marin.


Daniel kemudian meninggalkan toko bunga Marin, mengendarai mobilnya kembali ke kantor karena jam makan siangnya sebentar lagi akan selesai.


Sesampainya di kantor, seseorang memberitahu Daniel bahwa Ricky menunggunya di ruangannya.


Danielpun membawa langkahnya ke arah ruangan Ricky. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Danielpun membukanya dan melihat Alvin yang sedang berada disana bersama Ricky.


"Duduklah!" ucap Ricky pada Daniel.


Dengan wajah datarnya Daniel berjalan masuk lalu duduk di samping Alvin.


Ricky kemudian memberikan sebuah map pada Alvin dan Daniel.


"Aku menugaskan kalian berdua untuk mengikuti pertemuan di luar kota besok!" ucap Ricky pada Alvin dan Daniel.


"Aku tidak bisa," balas Daniel lalu mengembalikan map itu pada Ricky namun Ricky tidak menerimanya.


"Ini bukan pilihan, kau tidak bisa menolaknya," ucap Ricky.


"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan disini, lagi pula masih banyak orang lain yang bisa menghadiri pertemuan itu selain aku!"


"Aku tahu semua orang di kantor ini bekerja keras Daniel, itu kenapa aku mempercayaimu dan Alvin yang harus menghadiri pertemuan penting ini!" ucap Ricky.


"Jika kau ingin mendapatkan laporan yang sesuai dengan keinginanmu maka jangan memintaku untuk menghadiri pertemuan ini, karena itu hanya akan sia-sia," ucap Daniel.


"Sepertinya lebih baik aku pergi bersamamu Ricky," sahut Alvin yang berusaha memahami bahwa Daniel tidak ingin berada dekat dengannya apalagi jika harus pergi ke luar kota bersama.


"Tidak bisa Alvin, aku juga harus menghadiri pertemuan lain yang lebih penting, kau harus pergi bersama Daniel, ini keputusanku kalian berdua tidak bisa menolaknya!" balas Ricky dengan tegas.


"Aku sudah memberitahumu, Daniel pasti akan menolak untuk menghadiri pertemuan ini, aku akan mengajak orang lain untuk menemaniku menghadiri pertemuan ini," ucap Alvin.


"Kau salah," ucap Daniel yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Daniel.


"Aku akan menghadiri pertemuan itu jika tidak denganmu, tetapi aku akan menolaknya jika aku harus menghadiri pertemuan itu denganmu!" ucap Daniel dengan tatapan tajam ke arah Alvin.


"Ada apa sebenarnya? apa kalian berdua sedang bertengkar?" tanya Ricky pada Alvin dan Daniel.


"Sampai kapan kau akan terus seperti ini Daniel? tolong bersikaplah profesional!" ucap Alvin pada Daniel tanpa menjawab pertanyaan Ricky.


"Aku sudah cukup bersabar selama ini Alvin, aku sudah cukup memendam semua emosi dan rasa cemburuku dan sekarang aku tidak akan menahannya lagi!" ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya dan meninggalkan map yang Ricky berikan di meja.


"Kau tidak bisa seperti ini Daniel, kita bicarakan masalah kita baik-baik, kau harus tetap profesional di kantor dan kita selesaikan masalah kita di luar jam kantor!" ucap Alvin yang berusaha menahan Daniel keluar dari ruangan Ricky.


"Mungkin itu mudah buatmu Alvin, tapi tidak denganku, mungkin sebaiknya aku resign saja dari kantor yang sebentar lagi akan jatuh ini!" balas Daniel lalu keluar dari ruangan Ricky sambil menutup pintu ruangan Ricky dengan kencang.


"Waaaahhh dia benar-benar keterlaluan, sangat kekanak-kanakan!" ucap Ricky menggelengkan kepalanya melihat sikap Daniel.


"Jaga ucapanmu Ricky, kau tidak berhak menilainya seperti itu jika kau tidak tahu permasalahannya!" ucap Alvin dengan menatap tajam ke arah Ricky.


Ricky hanya tersenyum tipis tanpa mengucapkan apapun.


"Aku juga tidak akan menghadiri pertemuan ini, terima kasih karena sudah mempercayakan pertemuan penting ini padaku, lebih baik kau mencari orang lain saja!" ucap Alvin sambil menaruh map yang diberikan Ricky padanya di meja.


"Apa maksudmu Alvin? kau tidak bisa menolaknya seperti ini, kau....."


BRAAAAKKKK


Ricky menghentikan ucapannya saat Alvin keluar dari ruangannya sambil menutup pintu ruangannya dengan kencang seperti yang Daniel lakukan.


Ricky hanya bisa kesal dengan mengucapkan sumpah serapahnya melihat sikap Alvin dan Daniel.