
Nerissa masih terdiam menatap cahaya bintang di langit-langit kamarnya. Ia tidak menyangka jika Alvin akan melakukan hal itu untuknya.
"Halo Nerissa, apa kau masih disana?" tanya Alvin karena tidak mendengar suara Nerissa sama sekali.
"Aahhh iya.... aku masih takjub dengan apa yang aku lihat sekarang, benar-benar indah Alvin," jawab Nerissa.
"Apa kau menyukainya?"
"Tentu saja aku menyukainya, kau seperti membawa bintang-bintang di langit ke hadapanku, ini sangat indah Alvin aku benar-benar menyukainya!" jawab Nerissa dengan tersenyum senang.
"Apa itu artinya kau sudah memaafkanku?"
"Mmmm..... apa aku harus memaafkanmu?" balas Nerissa bertanya berniat untuk menggoda Alvin.
"Aku akan melakukan apapun agar kau memaafkanku Nerissa!" ucap Alvin.
"Aku sudah memaafkanmu Alvin, lagipula aku juga bersalah karena sudah memegang benda milikmu tanpa izin, aku minta maaf," balas Nerissa.
"Mari kita lupakan tentang hal itu Nerissa, kita mulai semuanya dengan lebih baik lagi," ucap Alvin pada Nerissa.
"Tetapi kenapa kau berbohong padaku Alvin? kenapa kau harus berkata jika kau tidak mengenalku saat aku pertama kali ke rumahmu? kau juga bersikap dingin padaku!"
"Daniel memberitahuku kalau dia menyukaimu Nerissa, aku mengatakan hal itu karena aku tidak ingin Daniel kecewa jika dia tahu bahwa aku sudah mengenalmu lebih dulu daripada dirinya," balas Alvin.
"Sampai kapan kau harus merahasiakan hal ini dari Daniel? bukankah dia akan lebih kecewa jika dia tahu bahwa kau sudah berbohong padanya?"
"Entahlah Nerissa, aku juga tidak tahu tapi aku mohon padamu jangan mengatakan hal ini pada Daniel, biarkan dia tahu apa yang dia ketahui saat ini!" ucap Alvin.
"Bagaimana jika suatu saat nanti Daniel tahu tanpa kita memberitahunya?" tanya Nerissa.
"Aku hanya bisa meminta maaf padanya dan berharap dia bisa memaafkanku," jawab Alvin.
"Aku harap persahabatan kalian tidak bermasalah karena kehadiranku di antara kalian berdua," ucap Nerissa.
"Kalaupun itu terjadi, itu bukan karenamu Nerissa, itu karena pilihanku sendiri yang sudah berbohong pada Daniel jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku dan Daniel sama-sama senang karena bisa mengenalmu!"
"Aku harap aku bisa menjadi teman yang baik untuk kalian berdua karena kalian adalah teman yang baik untukku dan juga Marin, kalian sudah banyak membantuku dan Marin selama aku dan Marin disini," ucap Nerissa.
"Kau dan Marin adalah teman yang baik Nerissa, kalian berdua adalah teman yang menyenangkan!" balas Alvin.
Nerissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis. Panggilanpun berakhir, Nerissa menaruh ponselnya di sampingnya.
Matanya menatap bintang-bintang di langit-langit kamarnya. Ia tersenyum dengan memegang dadanya yang tengah berdebar saat itu.
Entah debaran apa sebenarnya yang ia rasakan hanya saja ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman karena debaran di dadanya saat itu.
"Ingat Nerissa kau hanya bisa berteman dengan Alvin dan Daniel ataupun manusia lainnya, jangan berharap apapun dari mereka dan jangan melibatkan perasaanmu terlalu jauh, ingat Nerissa dunia kalian berbeda, kau tidak akan bisa memaksakan apa yang sudah ditakdirkan berbeda," ucap Nerissa pada dirinya sendiri.
Nerissa kemudian beranjak dari ranjangnya hendak menutup tirai di jendelanya. Namun saat matanya menatap hamparan langit gelap ia terdiam menatap kerlip bintang yang ada di langit.
Nerissa kemudian membawa pandangannya ke arah bintang-bintang yang ada di kamarnya.
"mereka sama-sama indah, mereka sama-sama bercahaya dalam kegelapan, tapi mereka berbeda, bintang yang ada disini ini bukanlah bintang sungguhan seperti yang ada di langit, mereka hanya berpura-pura menjadi bintang, sama seperti aku yang hanya berpura-pura menjadi manusia," ucap Nerissa dalam hati kemudian menutup tirai jendela nya dan kembali merebahkan badannya di ranjang.
**
Di tempat lain, Daniel baru saja sampai di rumah neneknya. Ia mengajak Marin turun dari mobil untuk menemui nenek dan mamanya.
Dengan ngan ragu Marin berjalan di belakang Daniel, mengikuti langkah Daniel yang dengan perlahan memasuki rumah besar di hadapannya.
"Ayo Marin, mama sudah menunggu di dalam!" ucap Daniel sambil menghentikan langkahnya menunggu Marin yang berjalan lambat di belakangnya.
"Apa sebaiknya aku pergi saja Daniel?" tanya Marin pada Daniel.
"Apa yang kau katakan Marin? kita sudah sampai di depan rumah nenek sekarang!"
"Maafkan aku Daniel, aku....."
"Daniel, kenapa masih disana?" tanya seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
Daniel tersenyum pada wanita itu lalu menggandeng tangan Marin dan menariknya untuk diajak menghampiri wanita paruh baya yang memanggilnya.
Daniel melepaskan tangan Marin kemudian memeluk sang mama yang berdiri di hadapannya.
"Mama pikir kau akan menjemput mama sendiri," ucap mama Daniel pada Daniel.
"Aaahhh iya.... ini Marin ma, teman Daniel!" balas Daniel memperkenalkan Marin pada sang mama.
Marin menundukkan kepalanya dengan tersenyum pada mama Daniel.
"Cantik sekali, kau memang pandai memilih teman sayang!" ucap mama Daniel memuji Marin kemudian membawa pandangannya pada Daniel.
"Mama jangan tertipu dengan kecantikannya, dia bisa menjadi monster jika sedang marah!" ucap Daniel yang seketika membuat Marin memukul pelan lengan Daniel.
Daniel hanya tertawa kecil sambil menggosok lengan tangannya yang baru saja mendapat pukulan dari Marin.
Daniel kemudian memperkenalkan Marin pada neneknya setelah itu membantu sang mama membawa barang-barang untuk dimasukkan ke dalam mobil.
Daniel, Marin dan sang mama pun meninggalkan rumah nenek.
"Daniel harus mengantar Marin pulang terlebih dahulu ma, mama tidak keberatan bukan?" tanya Daniel pada sang mama.
"Apa tidak sebaiknya kau mengantar mama pulang dulu? setelah itu kalian bisa menghabiskan waktu kalian berdua, jadi mama tidak akan mengganggu kalian!" balas mama sambil membawa pandangannya pada Marin yang duduk di belakang.
"Bagaimana menurutmu Marin?" tanya Daniel pada Marin.
"Aku.... aku terserah kau saja," jawab Marin gugup.
"Lebih baik aku mengantarmu pulang sebelum kau berubah menjadi monster hahaha....." ucap Daniel yang membuat sang mama segera memberikan pukulan pelan di lengan Daniel.
"Marin, kau harus memberitahu tante jika Daniel membuatmu kesal karena ucapannya yang menyebalkan seperti itu, tante berjanji tante akan memukulnya jika dia membuatmu kesal seperti tadi!" ucap mama Daniel sambil membawa pandangannya pada Marin.
Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang karena mendapat dukungan dari mama Daniel.
"Mama baru bertemu Marin satu kali, mama akan tahu bagaimana mengerikannya Marin saat dia menjadi monster, jadi seharusnya Daniel yang harus menghubungi mama saat Marin berubah menjadi monster!" ucap Daniel pada sang mama.
"Tidak ada monster yang secantik Marin, jika dia memang monster dia akan menjadi monster yang paling cantik!" balas mama Daniel memuji Marin.
"Aaahhhh..... lagi lagi mama memujinya, sebenarnya anak mama Daniel atau Marin!" ucap Daniel berpura-pura kesal, membuat sang mama mengacak-ngacak rambut Daniel karena gemas pada sikap sang anak.
Sedangkan Marin hanya tertawa kecil di bangku belakang. Entah kenapa ia bisa merasakan kebahagiaan yang Daniel rasakan saat itu, sangat berbeda dengan apa yang ia lihat saat Daniel bersama papanya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Daniel pun menghentikan mobilnya di depan toko bunga Marin.
"Marin florist, kau memiliki toko bunga Marin?" tanya mama Daniel pada Marin.
"Iya tante, hanya toko bunga kecil, jika sedang senggang tante bisa mampir kesini," jawab Marin.
"Marin tunggu kedatangan tante, Marin permisi turun tante, terima kasih sudah mengantar Marin pulang!" ucap Marin bersiap untuk membuka pintu mobil Daniel.
"Apa kau tidak berterima kasih padaku?" sahut Daniel tiba-tiba bertanya.
"Terima kasih banyak karena sudah mengantarku pulang Daniel," ucap Marin sambil mencibirkan bibirnya.
Daniel hanya tertawa kecil kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Marin setelah Marin turun dari mobilnya.
**
Hari telah berganti, Marin membuka toko bunga bersama Nerissa seperti biasa.
"Marin, apa kau tahu Alvin memasang stiker bintang di kamarku?" tanya nerissa pada marine.
"Tentu saja aku tahu, dia memasangnya saat kau sedang mengantarkan buket bunga pesanan!" jawab Marin.
"Apa menurutmu apa yang dilakukan Alvin itu tidak berlebihan Marin?"
"Menurutku tidak, dia hanya ingin meminta maaf padamu bukan?"
Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian mengeluarkan sepedanya dari dalam toko bunga.
"Marin benar, mungkin hanya aku saja yang terlalu memikirkan Alvin dengan berlebihan, harus berapa kali aku menyadarkan diriku sendiri kalau aku dan Alvin berbeda..... kau memang bodoh sekali Nerissa!" ucap Nerissa dalam hati.
Tak lama kemudian saat Marin sedang membuat buket bunga seorang wanita turun dari taksi dan masuk ke dalam toko bunganya.
"Selamat datang di Marin Florist!" sapa Marin dengan senyumnya yang ramah.
"Selamat pagi Marin," balas si wanita dengan senyumnya yang tampak menawan.
"Selamat pagi tante, apa tante ingin membeli bunga atau memesan buket bunga?" tanya Marin.
"Tante ingin memesan beberapa buket bunga untuk acara di kantor tempat Daniel bekerja, apa kau bisa membuatnya sebelum jam makan siang Marin?"
"Berapa buket bunga yang tante inginkan?" tanya Marin.
"Sekitar lima buket bunga dengan bunga yang bermacam macam, maaf Marin seharusnya tante memesannya jauh jauh hari agar tidak merepotkanmu!" jawab mama Daniel.
"Tidak apa tante, kebetulan pesanan hari ini ada di jam malam semua jadi Marin bisa membuat pesanan tante dulu sekarang!"
"Terima kasih Marin, apa tante boleh menunggunya di sini?"
"Tentu saja boleh tante, tetapi sepertinya Marin akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar tetapi akan Marin pastikan selesai sebelum jam makan siang!" ucap marine.
"Tidak apa, lagi pula tante sedang senggang," balas mama Daniel.
Marin pun mulai membuat buket bunga pesanan mama Daniel setelah ia menyelesaikan satu buket bunga pesanan orang lain.
Waktu pun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang saat Marin baru saja menyelesaikan semua buket bunga pesanan mama Daniel.
"Akhirnya semuanya selesai tante, semoga seperti yang tante harapkan!" ucap Marin pada mama Daniel.
"Ini cantik sekali Marin, apa kau bisa membantu tante untuk membawanya ke kantor tempat Daniel bekerja?"
Marin diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan mama Daniel. Ia tidak ingin menolak permintaan mama Daniel tetapi ia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, mengingat masih banyak pesanan yang harus segera ia selesaikan saat itu juga.
"maaf tante Marin masih harus mengerjakan pesanan buket bunga yang lain, tetapi Marin akan meminta tolong teman Marin untuk membantu tante membawa buket bunga itu ke kantor tempat Daniel bekerja!" ucap Marin pada mama Daniel.
"Baiklah kalau begitu, tante akan memesan taksi sekarang dan akan membawa buket bunga ini bersama temanmu!" balas mama Daniel.
Marin kemudian menghampiri Nerissa yang saat itu baru saja datang setelah mengantar buket bunga pesanan.
"Putri tolong bantu mama Daniel untuk membawa buket bunga ini ke kantor Daniel!" ucap Marin pada Nerissa.
"Sekarang?" tanya Nerissa memastikan.
"Tentu saja, mama Daniel sudah memesan taksi dan sebentar lagi akan datang!"
"Baiklah," balas Nerissa.
Sebelum Nerissa pergi bersama mama Daniel, Marin sempat memperkenalkan Nerissa pada mama Daniel agar mereka tidak canggung selama perjalanan ke kantor Daniel.
Akhirnya taksi yang ditunggupun datang, mama Daniel dan Nerissa masuk ke dalam taksi dengan membawa beberapa buket bunga.
"Apa kau juga mengenal Daniel, Nerissa?" tanya mama Daniel pada Nerissa.
"Iya tante, kita berteman," jawab Nerissa.
Sesampainya mereka di kantor tempat Daniel bekerja, merekapun segera turun dari taksi dengan membawa buket bunga.
Karena sudah mengetahui dimana ruangan Daniel berada, mama Daniel segera membawa langkahnya ke arah ruangan Daniel diikuti oleh Nerissa.
Mama Daniel mengetuk pintu beberapa kali sebelum membuka pintu ruangan Daniel.
Daniel yang saat itu sedang berada di ruangannya bersama Alvin begitu terkejut saat melihat sang mama dan Nerissa yang datang dengan membawa banyak buket bunga.
Danielpun beranjak dari duduknya lalu menghampiri sang mama dan Nerissa.
"Mama membawa buket bunga ini untuk acaramu nanti siang sayang!" ucap mama Daniel sambil memberikan buket bunga di tangannya begitu juga Nerissa yang memberikan buket bunga yang ia bawa untuk Daniel.
"Terima kasih ma, terima kasih Nerissa," ucap Daniel dengan membawa pandangannya pada sang mama dan Nerissa bergantian.
"Apa mama bisa bicara sebentar denganmu Daniel?" tanya mama Daniel pada Daniel.
"Tentu saja, silakan duduk ma!" jawab Daniel sambil menggeser kursi untuk sang mama.
Sedangkan Alvin dan Nerissa segera berpamitan untuk keluar dari ruangan Daniel.
Namun sebelum Nerissa keluar, Daniel menahan tangan Nerissa.
"Tunggu aku di bawah, aku akan segera menghampirimu!" ucap Daniel berbisik pada Nerissa namun cukup jelas terdengar oleh mama Daniel.
Nerissa hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari ruangan Daniel.
Nerissa kemudian berjalan ke arah lift untuk menunggu Daniel di lobby. Tiba-tiba Alvin menghampiri Nerissa dan mengikuti Nerissa masuk ke dalam lift.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Aku tidak mengikutimu, aku memang akan turun untuk menyerahkan berkas ini pada seseorang yang sudah menungguku di lobby!" jawab Alvin yang membuat Nerissa terdiam menahan malu.
"Kau tahu Daniel tidak pernah mengenalkan seorang perempuanpun pada mamanya, jika Daniel memperkenalkanmu pada mamanya itu artinya kau adalah perempuan yang spesial untuknya!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Benarkah? itu artinya Marin adalah perempuan yang spesial untuk Daniel!" balas Nerissa membuat Alvin mengernyitkan keningnya karena ia berfikir jika Nerissa adalah perempuan pertama yang Daniel kenalkan pada sang mama.