
"Daniel tunggu!" ucap Amanda tiba tiba.
Dengan kompak Daniel dan Nerisaa menghentikan langkah mereka dan membawa pandangan mereka pada Amanda.
Amanda tersenyum lalu menarik tangan Alvin untuk menghampiri Daniel dan Nerissa.
"Aku dan Alvin akan pergi makan siang berdua, bagaimana jika kalian berdua ikut?" ucap Amanda bertanya sambil membawa pandangannya pada Daniel dan Nerissa.
"Tidak perlu, aku hanya ingin berdua dengan Nerissa," jawab Daniel lalu berniat pergi, namun tangan Nerissa menahannya.
"Sepertinya makan siang berempat lebih baik," ucap Nerissa dengan tersenyum pada Daniel.
"Apa kau yakin?" tanya Daniel memastikan.
"Tentu saja, bukankah kau juga harus memberi tahu Alvin sesuatu?"
Daniel menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu menyetujui ajakan Amanda.
"Kalian berangkat lebih dulu, aku akan mengikuti mobil kalian!" ucap Daniel pada Amanda dan Alvin.
Alvin hanya diam tidak mengatakan apapun, ia merasa hanya dirinya yang canggung di situasi itu.
Alvinpun mengendarai mobilnya ke arah restoran yang tidak jauh dari kantornya.
"Kenapa kau mengajak mereka berdua Amanda?" tanya Alvin pada Amanda yang duduk di sampingnya.
"Seperti yang Nerissa bilang, makan siang berempat lebih baik," jawab Amanda.
Amanda sengaja mengajak Nerissa dan Daniel untuk makan siang bersama. Sejak pertama kali ia melihat Alvin dan Nerissa bertemu di rumahnya, ia merasa Alvin dan Nerissa memiliki hubungan yang tidak biasa.
Meski pada akhirnya Alvin lebih memilih dirinya, tetapi Amanda tetap tidak tenang terlebih saat melihat bagaimana Alvin menatap Nerissa meski tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"aku yakin ada sesuatu di antara kalian berdua, tapi aku juga yakin aku yang akan memenangkanmu Alvin, akulah yang harus menjadi milikmu, Nerissa harus tau bahwa hanya ada aku di matamu, dengan begitu dia akan pergi darimu," ucap Amanda dalam hati.
"Bukankah hubunganmu dengan Daniel tidak baik baik saja? aku tidak ingin makan siang kita menjadi canggung nanti!" ucap Alvin pada Amanda.
"Tenang saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak akan menyalahkan Daniel jika dia masih membenciku, tapi lambat laun dia pasti akan mengerti bukan?"
"Iya, semoga saja," balas Alvin sekenanya.
Dalam hatinya Alvin ragu, jika boleh memilih ia tidak ingin makan siang berempat seperti itu.
Bagaimanapun juga Nerissa bukan gadis biasa yang baru ia kenal. Nerissa adalah satu satunya gadis yang mampu mengembalikan debar debar dalam hatinya setelah kepergian Amanda.
Makan siang berempat bersama Amanda, Nerissa dan Daniel hanya akan membuat dirinya tidak nyaman dan canggung.
"Ada apa Alvin? apa kau tidak ingin makan siang berempat?" tanya Amanda yang melihat raut wajah Alvin tampak tak bersemangat.
"Aku sengaja mengawali meeting ku hari ini hanya untuk makan siang bersamamu Amanda, tetapi kau malah mengajak Nerissa dan Daniel!"
"Kau tau hubunganku dengan Daniel sedang tidak baik, aku hanya ingin berhubungan baik dengan teman temanmu Alvin, aku juga ingin mereka menerimaku sepertimu, bukankah Nerissa juga temanmu?"
Alvin hanya menghela nafasnya tanpa mengatakan apapun. Sikap Amanda membuatnya kecewa.
"Apa kau marah padaku?" tanya Amanda yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Alvin.
"Aku mengerti jika kau marah, pergilah jika kau tidak ingin kita makan siang berempat, aku akan makan siang sendiri bersama mereka berdua," ucap Amanda saat Alvin sudah menghentikan mobilnya di area parkir restoran yang dituju.
Amanda lalu membuka pintu mobil, namun Alvin menahannya.
"Maafkan aku," ucap Alvin pada Amanda.
"Aku sudah menunggumu lama di kantor dan sekarang sikapmu sangat dingin padaku, apa aku salah karena mengajak Nerissa dan Daniel makan siang bersama?"
"Tidak, kau tidak salah, maafkan aku," balas Alvin sambil menggenggam tangan Amanda lalu memeluknya.
Di sisi lain, sepanjang perjalanan ke restoran, tidak banyak hal yang Nerissa dan Daniel bicarakan.
"Apa kau baik baik saja Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa yang hanya diam.
"Aku baik baik saja," jawab Nerissa sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Jika kau berubah pikiran aku bisa membawamu makan siang ke tempat lain," ucap Daniel.
"Tidak perlu Daniel, bukankah kau juga harus memberi tahu Alvin tentang hubungan kita?"
"Aku bisa memberi tahunya sendiri tanpa ada Amanda disana, aku takut kau akan terluka melihat kedekatan mereka berdua," ucap Daniel.
"Apa hanya aku yang akan terluka nanti?" tanya Nerissa sambil membawa pandangannya pada Daniel.
"Jika Alvin menyukaimu, dia juga akan terluka melihatmu denganku, biarkan dia terluka agar dia sadar bagaimana perasaanya padamu yang sebenarnya," jawab Daniel.
"Jika dia tidak terluka?"
"Itu artinya kau harus mundur, meninggalkannya dan menjadi kekasihku sungguhan hehehe....."
"Daniel......."
"Aku hanya bercanda Nerissa," ucap Daniel sambil menepuk nepuk kepala Nerissa dengan pelan.
"Apa yang harus aku lakukan di depan Alvin dan Amanda nanti? apa aku harus selalu menggandeng tanganmu? apa aku harus selalu berdekatan denganmu? apa aku harus memelukmu?"
"Tidak perlu berlebihan Nerissa, kau hanya akan membuat Alvin curiga dan tidak percaya pada hubungan kita," balas Daniel.
"Lalu aku harus bagaimana Daniel? aku tidak pernah berpacaran sebelumnya!"
"Aku juga tidak pernah, anggap saja aku seseorang yang kau cintai, tunjukkan pada semua orang bagaimana sikapmu pada seseorang yang kau cintai, apa kau bisa melakukannya?"
"Mmmmm..... sepertinya sedikit susah hehehe....."
"Jangan terlalu terbebani Nerissa, santai saja, okey?"
Nerissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia tau pasti apa yang akan ia lakukan pasti akan menyakiti dirinya sendiri, karena semakin lama ia akan melihat kedekatan Alvin dan Amanda.
"aku pasti baik baik saja, apa yang aku lakukan bukan hanya untukku, tapi juga untuk Alvin, setidaknya aku tidak akan membiarkan dia jatuh pada perempuan yang salah," ucap Nerissa dalam hati.
Setelah Daniel memarkirkan mobilnya, Daniel dan Nerissapun keluar dari dalam mobil. Saat Nerissa dan Daniel berjalan di depan mobil Alvin, tanpa sengaja Nerissa melihat Alvin dan Amanda yang sedang berpelukan di dalam mobil.
"Sepertinya kita juga harus berpelukan," ucap Daniel yang melihat kemana arah pandangan Nerissa saat itu.
Nerissa hanya tersenyum tipis lalu meraih tangan Daniel dan mengajaknya masuk ke dalam restoran lalu memilih tempat duduk dan duduk bersebelahan.
Tak lama kemudian Alvin dan Amanda datang. Alvin duduk di depan Nerissa, sedangkan Amanda duduk di hadapan Daniel.
"Karena aku tau kau tidak makan ikan, jadi aku akan memesan menu yang lain untukmu," ucap Amanda pada Alvin.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Ikan disini terkenal sangat enak Nerissa, kau harus mencobanya," ucap Amanda pada Nerissa
"Aku alergi seafood," balas Nerissa memberi alasan.
"Oh, baiklah."
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu Alvin, sebenarnya aku ingin mengatakannya nanti, tapi sepertinya ini yang waktu yang tepat untuk mengatakannya," ucap Daniel pada Alvin.
"Apa yang ingin kau katakan padaku Daniel?"
Daniel membawa pandangannya pada Nerissa sambil tersenyum, begitu juga Nerissa yang tersenyum pada Daniel.
"Kau harus memberi selamat padaku dan Nerissa," ucap Daniel sambil menggenggam tangan Nerissa di atas meja.
"Selamat? untuk apa?" tanya Alvin tak mengerti.
"Aku dan Nerissa sudah memiliki hubungan yang serius, lebih dari sekedar berpacaran," jawab Daniel yang membuat Alvin begitu terkejut.
Alvin menggelengkan kepalanya tak percaya dengan membawa pandangannya pada Nerissa.
"Mungkin ini terlalu tiba tiba untukmu, tapi aku dan Nerissa sudah mempertimbangkan keputusan ini cukup lama," ucap Daniel meyakinkan.
"Tidak mungkin," ucap Alvin pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? apa kau tidak percaya?" tanya Daniel pada Alvin yang meragukan ucapannya.
"Maaf karena baru memberitahumu hal ini Alvin," sahut Nerissa.
"Selamat Daniel, Nerissa, semoga hubungan kalian bisa berlanjut seterusnya," ucap Amanda yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Nerissa.
"Aku permisi ke toilet sebentar," ucap Nerissa kemudian beranjak dari duduknya.
Tak lama setelah Nerissa pergi, Alvinpun ikut beranjak dari duduknya.
"Aku akan memesan makanan untuk bibi di rumah," ucap Alvin lalu pergi begitu saja.
"Kau bisa memanggil waiters dari sini Alvin!" ucap Amanda setengah berteriak, namun tidak dihiraukan oleh Alvin.
"Diamlah Amanda, jangan bertingkah memalukan disini!" ucap Daniel yang membuat Amanda terdiam kesal.
Di sisi lain, Alvin berdiri di depan toilet perempuan untuk menunggu Nerissa keluar. Saat Nerissa keluar, Alvin segera menarik tangan Nerissa.
"Alvin, lepaskan!" ucap Nerissa yang terkejut sambil menarik tangannya dari Alvin.
"Katakan padaku bahwa ini tidak benar Nerissa!" ucap Alvin yang masih memegang tangan Nerissa dengan kuat.
"Apa maksudmu? jangan bersikap seperti ini, kau akan membuat Amanda salah paham!"
"Aku tau kau berpura pura mempunyai hubungan dengan Daniel bukan? jujur padaku Nerissa, katakan padaku bahwa kau dan Daniel hanya bersandiwara!"
Nerissa tersenyum tipis mendengar ucapan Alvin, ia menarik tangannya dengan kuat agar terlepas dari genggaman Alvin saat itu.
"Pada awalnya aku memang ragu, tapi semakin lama mengenalnya aku semakin sadar bahwa dia benar benar mencintaiku, dari awal aku mengenalnya dia yang selalu ada untukku dan yang pasti dia tidak pernah meninggalkanku, jadi tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya untuk yang kedua kali," ucap Nerissa dengan menatap kedua mata Alvin penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Tapi kau tidak mencintainya Nerissa!"
"Jika kau bisa luluh hanya karena kembalinya masa lalumu, maka aku juga bisa luluh karena semua perjuangan Daniel untukku," ucap Nerissa lalu pergi begitu saja.
Alvin hanya terdiam di tempatnya berdiri, ia tidak menyangka Nerissa akan mengatakan hal itu padanya, terlebih ia tau bahwa Nerissa sebenarnya menyukainya.
Alvin kemudian membawa langkahnya kembali ke tempat duduknya. Namun ia sudah tidak mendapati Nerissa dan Daniel disana.
Matanya mencari keberadaan mereka berdua dan mendapati jika mereka berdua sudah keluar dari restoran sambil bergandengan tangan dan tampak tertawa berdua.
"apa kau benar benar sudah melupakanku Nerissa? apa semudah itu kau menyingkirkannya aku dari hatimu?" tanya Alvin dalam hati.
"Nerissa dan Daniel baru saja pergi, apa kau sudah memesan makanan untuk bibi?" ucap Amanda sekaligus bertanya.
"Berdirilah, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Amanda.
"Bagaimana dengan makanan untuk bibi?"
"Tidak ada," jawab Alvin singkat lalu berjalan mendahului Amanda.
Amanda yang melihat sikap Alvin kembali dingin padanya hanya terdiam dengan kesal sampai mereka masuk ke dalam mobil.
Alvinpun mengendarai mobilnya ke arah rumah Amanda. Sepanjang perjalanan Amanda sengaja mendiamkan Alvin, namun bukannya merasa bersalah, Alvin justru hanya diam seolah pikirannya sedang melayang jauh saat itu.
Sesampainya di rumah, Amanda hanya diam dan tidak segera keluar dari mobil Alvin.
"Turunlah Amanda, aku harus segera kembali ke kantor!" ucap Alvin pada Amanda.
"Apa aku melakukan kesalahan padamu Alvin? apa aku membuatmu marah? apa aku....."
"Amanda, apa yang kau katakan, aku akan terlambat kembali ke kantor jika kau tidak segera turun!" ucap Alvin memotong ucapan Amanda.
"Apa kau mengusirku sekarang?"
"Amanda tolong mengertilah, aku tidak bisa bertindak semauku sendiri saat aku harus bertanggung jawab dengan kewajibanku di kantor, aku....."
"Pergilah dan jangan temui aku lagi!" ucap Amanda lalu keluar dari mobil Alvin.
Alvin menghela nafasnya panjang lalu segera mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Amanda.
Dalam hatinya ia merasa kesal pada Amanda yang selalu mempermasalahkan segala hal tentangnya, bahkan hal yang kecil sekalipun.
"kenapa kau bersikap seperti ini Amanda? kau seperti bukan Amanda yang aku kenal dulu," ucap Alvin dalam hati.
Sesampainya di kantor, Alvin segera membawa langkahnya untuk mencari keberadaan Daniel.
"Apa Daniel sudah kembali?" tanya Alvin pada resepsionis yang juga merupakan temannya.
"Aku belum melihatnya kembali," jawab si resepsionis.
Saat Alvin baru saja membalikkan badannya, ia melihat Daniel yang baru saja berjalan melewati pintu utama.
Alvinpun segera menghampiri Daniel, menarik tangan Daniel untuk diajak ke tempat yang jauh dari keramaian.
"Ada apa? apa kau menungguku?" tanya Daniel.
"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya kau rencanakan Daniel!" ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Daniel.
"Aku tidak yakin kau mau mendengarnya, tapi karena kau bertanya, jadi aku akan menjawabnya, rencanaku? tentu saja menikahi Nerissa, aku sudah menyiapkan rumah dan vila di daerah pegunungan karena dia sangat senang saat dia bermalam di vila bersamaku," jawab Daniel yang membuat Alvin semakin geram.
"Berhenti berpura pura Daniel, kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa Nerissa menyukaiku, tapi kenapa....."
"Itu dulu Alvin, Nerissa memang menyukaimu sebelum dia sadar betapa brengseknya laki laki yang disukainya, setelah kau meninggalkannya dan memeluk Amanda di depannya, apa kau berharap jika Nerissa masih menyukaimu?"
"Tapi bukan berarti kau harus mendekatinya Daniel!"
"Kau tidak berhak melarangku Alvin, kau juga tidak bisa mencegah Nerissa untuk jatuh cinta padaku, karena pada akhirnya yang berjuanglah yang akan menang, sedangkan kau hanya sebatas seseorang yang pernah singgah sementara di hatinya," ucap Daniel lalu berjalan meninggalkan Alvin.
"Satu lagi, aku juga sudah pernah memperingatkanmu tentang ini, sekali saja kau menyakitinya maka aku akan merebutnya darimu dan tidak akan pernah membiarkannya kembali padamu, sekarang inilah yang terjadi, aku sudah membuktikan ucapanku padamu!" ucap Daniel lalu benar benar pergi dari hadapan Alvin.
Alvin hanya terdiam di tempatnya. Dadanya seperti ditusuk berkali kali oleh kenyataan yang tidak dia inginkan.