Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Mimpi atau Nyata?



Alvin masih berdiri dihadapan laci di lemarinya, perlahan ia mengambil kotak kayu yang ada di dalam laci.


Alvin kemudian membukanya dan cahaya menyilaukan itu perlahan meredup saat Alvin menyentuh mahkota yang ada di dalamnya.


Saat Alvin akan mengambil mahkota itu dari dalam kotak kayu, tiba-tiba kotak kayu itu terjatuh dan seketika Alvin membuka matanya, ia pun tersadar dari mimpinya.


"apa aku baru saja bermimpi?" batin Alvin bertanya pada dirinya sendiri.


Alvin kemudian beranjak dari tidurnya dan duduk di tepi ranjangnya. Namun saat ia akan mengambil air minum di mejanya, ia sedikit terkejut karena air dalam gelas yang ada di mejanya sudah habis tak bersisa.


"sepertinya aku belum menghabiskannya kecuali apa yang baru saja terjadi itu bukan mimpi," ucap Alvin dalam hati sambil memegang gelas kosong yang ada di tangannya.


Alvin mengembalikan gelas itu di mejanya kemudian mengacak-acak rambutnya kasar karena merasa dirinya benar-benar kacau saat itu.


"sepertinya aku sudah gila...... aku benar-benar gila," ucap Alvin sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


Alvin kemudian beranjak dan masuk ke kamar mandi, membilas tubuhnya di bawah guyuran shower.


"aku memimpikan hal yang sama, mermaid dengan ekor berwarna merah muda yang berkilau, dia memiliki rambut coklat terang persis seperti rambut Nerissa, aku kemudian terbangun dan melihat cahaya terang dari dalam laci lemari, apa itu juga bagian dari mimpiku? apa aku tidak benar-benar terbangun saat itu?" batin Alvin bertanya-tanya.


Semakin ia memikirkan apa yang baru saja dialaminya ia semakin pusing. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya, yang ia tahu ia memimpikan hal yang sama tentang mermaid berekor merah muda yang ditemuinya dalam mimpi.


"Aku harus berhenti memikirkannya atau aku akan benar-benar gila karena hal konyol itu," ucap Alvin pada dirinya sendiri kemudian menyambar handuk dan keluar dari kamar mandi.


Saat tengah memilih kemeja dan jas untuk dikenakannya, Alvin membawa pandangannya ke arah laci di lemarinya.


Alvin diam beberapa saat menatap laci itu, laci yang ada dalam mimpinya yang mengeluarkan cahaya terang dari kotak kayu tempat ia menyimpan mahkota yang ia temukan di pantai.


Alvin lalu membuka laci itu, dengan perlahan ia mengeluarkan kotak kayu yang ada di dalamnya.


Alvin kemudian membawanya duduk di tepi ranjang dan dengan cepat membukanya. Terlihat mahkota cantik yang ia temukan di tepi pantai namun tidak ada cahaya terang seperti yang ada dalam mimpinya.


"apa yang sedang aku lakukan sekarang? apa aku benar-benar sudah gila sekarang?" ucap Alvin sambil tersenyum tipis menyadari kebodohan dirinya sendiri.


Alvin kemudian mengambil mahkota itu dan mengamatinya dengan teliti. Namun ia begitu terkejut saat melihat sebuah ukiran mermaid dengan rambut panjang yang tergerai yang ada pada mahkota itu.


"mermaid? kenapa bisa ada gambar ini di sini? apa ini ada hubungannya dengan mimpiku?" batin Alvin bertanya-tanya.


Tooookkkk tooookk tooookkk


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Alvin


"Sarapan sudah siap Tuan," ucap bi Sita dari luar kamar Alvin.


"Baik Bi, Alvin akan segera keluar," balas Alvin lalu segera mengembalikan mahkota itu ke dalam kotak kayu dan memasukkannya ke dalam laci di lemarinya.


Alvin pun segera bersiap dan keluar dari kamarnya dengan membawa tas kerjanya.


"Daniel belum bangun bi?" tanya Alvin saat bi Sita menyiapkan minuman untuknya.


"Sepertinya belum Tuan, apa saya harus membangunkannya?" jawab bi Sita sekaligus bertanya.


"Tidak perlu bi, biarkan saja dia," jawab Alvin kemudian menikmati sarapannya dan berusaha untuk melupakan mimpi serta apa yang baru saja dilihatnya.


Tak lama kemudian Danielpun keluar dari kamarnya dan berjalan turun menghampiri Alvin di meja makan.


Daniel duduk di hadapan Alvin sambil menuang minuman lalu meminumnya sampai habis tak bersisa.


"Tunggu aku, aku akan bersiap sekarang!" ucap Daniel pada Alvin.


"Kau yakin akan berangkat bekerja dengan keadaanmu yang seperti ini?" tanya Alvin pada Daniel, namun Daniel hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali naik untuk mandi.


Alvin kemudian mengambil pakaiannya dan menaruhnya di kamar Daniel untuk Daniel pakai.


Setelah selesai bersiap, Danielpun keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian milik Alvin seperti biasa saat ia menginap di rumah Alvin.


Daniel dan Alvin pun berangkat ke kantor bersama.


"Apa kau sudah merasa membaik?" tanya Alvin pada Daniel yang duduk disampingnya.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.


"Apa kau sudah mengingat semua yang terjadi semalam?" tanya Alvin.


"Iya aku ingat, bagaimana dengan dua pengendara motor itu? mereka baik-baik saja bukan?"


"Iya, mereka baik-baik saja hanya beberapa bagian motornya yang rusak dan aku sudah memberikan uang ganti rugi pada mereka berdua," jawab Alvin.


"Terima kasih Alvin, aku akan segera mengganti uangmu," ucap Daniel.


"Sepertinya kau harus menghilangkan kebiasaan burukmu itu Daniel, kau semakin tidak bisa mengendalikan dirimu saat mabuk," ucap Alvin pada Daniel.


"Aku hanya berniat untuk minum sedikit, tetapi sepertinya aku terlalu terbawa suasana semalam," balas Daniel.


"Bukankah kau tahu batasanmu dalam mengkonsumsi alkohol? kenapa kau bisa semabuk itu kemarin?"


"Entahlah, aku hanya ingin menenangkan pikiranku yang sangat kacau," jawab Daniel.


"Karena Nerissa?" terka Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.


"Kalian baru saling mengenal, mungkin membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuatnya yakin padamu," ucap Alvin pada Daniel.


"Menurutmu laki-laki seperti apa yang Nerissa sukai? apa aku tidak cukup baik untuk menjadi laki-laki yang dia sukai?" tanya Daniel pada Alvin.


"Baik saja tidak cukup untuk membuat seseorang menjatuhkan hatinya, kau tahu cinta itu datang tanpa alasan bukan karena kebaikan ataupun ketampanannya, sepertinya Nerissa tidak akan menilai seseorang hanya dari apa yang dilihatnya, kau harus lebih bisa meyakinkan dia Daniel!" jawab Alvin.


"Bagaimana jika ternyata dia menyukaimu? apa yang akan kau lakukan? apa kau akan menerima cintanya?"


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu? sepertinya kau masih mabuk sekarang, lebih baik aku mengantarmu pulang saja!"


"Tidak tidak..... jangan mengantarku pulang, aku akan tetap fokus bekerja, percayalah!" ucap Daniel menolak untuk diantar pulang oleh Alvin.


"Baiklah kalau itu maumu, aku tidak akan memberikanmu perlakuan yang istimewa hanya karena kau masih dalam pengaruh alkohol saat ini, kau harus tetap mengerjakan pekerjaan mu dengan baik dan maksimal!" ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.


Sesampainya di kantor mereka pun masuk ke ruangan mereka masing-masing dan berusaha untuk bisa fokus pada pekerjaan mereka masing-masing meski mereka sama-sama sedang memikirkan hal yang mengganggu pikiran mereka saat itu.


**


Di Marin Florist.


Nerissa sedang membantu Marin untuk menyiapkan pesanan bunga yang harus segera Nerissa kirimkan sebelum sore.


Setelah beberapa lama berkutat dengan perlengkapan dan peralatan membuat buket bunga, akhirnya buket bunga mawar merah pun selesai dibuat dengan sangat cantik.


"Sepertinya ini alamat yang kemarin baru saja kau datangi Putri, kau ingat alamat ini bukan?"


Nerissa kemudian melihat alamat yang ada pada kertas yang Marin berikan padanya. Nerissa menganggukkan kepalanya senang saat melihat siapa dan di mana ia harus mengantar buket bunga mawar merah itu.


pada Nerissa.


"Tentu saja, aku sudah memberitahumu bukan kalau seseorang yang memesan buket bunga ini sangat cantik dan baik, aku sangat menyukainya," balas Nerissa kemudian segera membawa paket bunga mawar merah itu dan menaruhnya di keranjang sepedanya.


Nerissa pun mengayuh sepedanya meninggalkan toko bunga Marin untuk segera mengantarkan pesanan atas nama Amanda.


Sesampainya Nerissa di depan sebuah rumah mewah yang ditinggali oleh Amanda, Nerissapun memencet bel beberapa kali hingga akhirnya seseorang membuka gerbang yang tinggi dan besar itu.


Nerissa kemudian menuntun sepedanya masuk dan membawa buket bunga mawar merah untuk ia berikan pada si pemesan, Amanda.


Nerissa mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya si pemilik rumah pun membuka pintu.


"Ini buket bunga mawar merah yang kau pesan!" ucap Nerissa sambil memberikan buket bunga yang dibawanya pada Amanda.


"Terima kasih Nerissa, apa kau sedang sibuk saat ini?" ucap Amanda sekaligus bertanya.


"Tidak, kebetulan aku hanya mengantar bunga pesananmu saja," jawab Nerissa.


"Baguslah kalau begitu, apa kau bisa menemaniku melukis di taman belakang?" tanya Amanda pada Nerissa.


"Tentu saja, dengan senang hati," jawab Nerissa penuh semangat.


Amanda kemudian menarik tangan Nerissa dan menggandengnya, mengajaknya ke arah taman belakang setelah ia menaruh buket bunga di meja.


Nerissa terdiam melihat ke sekelilingnya, tak disangka di bagian belakang rumah itu terdapat taman dengan banyak bunga yang bermacam macam.


"Apa kau sangat menyukai bunga?" tanya Nerissa pada Amanda.


"Hanya bunga yang kau bawa tadi," jawab Amanda.


"Bunga mawar merah, kenapa?"


"Kau tahu arti dari bunga mawar merah bukan?" balas Amanda bertanya.


"Cinta dan kasih sayang," jawab Nerissa.


"Tepat sekali, tapi bagiku tidak hanya itu, duri yang ada pada tangkai bunga mawar ini mungkin bisa melukai seseorang yang tidak berhati-hati ketika memegangnya, tetapi jika kau berhati-hati kau akan bisa mendapatkan satu tangkai bunga mawar yang indah tanpa harus terluka," ucap Amanda menjelaskan.


"Kau benar tapi..... aku tidak mengerti maksud ucapanmu hehehe....." balas Nerissa sambil menggaruk kepalanya yang tentu saja tidak gatal.


"Aku merasa cinta itu seperti bunga mawar ini Nerissa, kalau kau berhati-hati kau akan bisa mendapatkan setangkai bunga mawar yang indah tetapi jika kau melakukan hal yang ceroboh dan tidak berhati-hati bukan hanya tidak bisa mendapatkan setangkai bunga mawar kau bahkan bisa terluka dan berdarah," ucap Amanda menjelaskan teori yang ada dalam pikirannya.


"Bukankah pada akhirnya kau bisa mendapatkan bunga mawar merah itu walaupun kau harus terkena duri dan berdarah terlebih dahulu?"


"Kau benar, tetapi aku bukan tipe seseorang yang suka merelakan diriku untuk terluka dan berdarah demi mendapatkan setangkai bunga mawar, aku akan menjadi seseorang yang berhati-hati agar tidak terluka dan berdarah demi mendapatkan apa yang aku inginkan, kau mengerti maksudku bukan?"


Nerissa hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya meski ia tidak benar-benar mengerti maksud dari ucapan Amanda.


"Kau hanya menyukai bunga mawar merah tapi di tamanmu banyak sekali bermacam-macam bunga, kenapa?" tanya Nerissa penasaran.


"Apa kau sadar kalau tidak ada bunga mawar merah di tamanku?" balas Amanda bertanya.


"Oohh iya.... aku baru menyadarinya, ternyata tidak ada ada bunga mawar merah yang kau sukai di sini, kenapa seperti itu? kau benar-benar aneh Amanda!"


"Hahaha..... lupakan saja, ayo kesini temani aku melukis!" ucap Amanda kemudian mengajak Nerissa ke dekat kolam renang untuk menemaninya melukis.


Disana sudah ada beberapa kanvas dan hasil lukisan Amanda sebelumnya. Dari beberapa hasil lukisan yang ada di sana semuanya adalah bunga mawar merah, bunga yang disukai oleh Amanda.


"Apa kau hanya melukis bunga mawar merah?" tanya nerissa pada Amanda


Amanda hanya menganggukkan kepalanya sambil melanjutkan lukisannya.


"Cantik sekali, sama seperti dirimu," ucap Nerissa yang melihat hasil lukisan Amanda.


"Kau tahu Nerissa, kau teman pertama yang aku ajak ke sini dan menemaniku melukis," ucap Amanda pada Nerissa.


"Kenapa? apa kau baru tinggal di sini? sepertinya rumahmu sangat sepi, aku tidak melihat siapapun disini kecuali dirimu dan satpam yang berjaga di depan!"


"Kau benar, aku baru beberapa bulan tinggal di sini karena aku baru saja pulang dari luar negeri," jawab Amanda.


"Apa kau tinggal di sini sendirian?" tanya Nerissa penasaran.


"Iya, aku tidak suka keramaian, hanya ada aku di sini, satpam yang berjaga dan bibi yang membereskan rumah tapi segera pulang setelah tugasnya selesai," jawab Amanda menjelaskan.


Nerissa hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban Amanda.


"Apa kau menjual lukisanmu Amanda? sepertinya akan banyak orang yang menyukainya jika kau menjualnya!"


"Tidak Nerissa, aku tidak menjualnya pada siapapun, aku hanya melukis karena menyukainya, bukan untuk menjualnya," jawab Amanda yang kembali membuat Nerissa menganggukkan kepalanya.


"Apa ini?" tanya Nerissa sambil menunjuk gambar bintang kecil yang berada di sudut lukisan milik Amanda.


"Itu sebagai tanda jika aku yang melukis lukisan ini, lihatlah di semua lukisanku selalu ada bintang kecil itu di setiap sudutnya!"


Nerissa kemudian memperhatikan lagi semua lukisan Amanda yang ada di sana dan benar saja di setiap sudutnya terdapat sebuah gambar bintang kecil seperti yang Amanda ucapkan.


"Waaahhh benar..... berarti aku bisa mengenali lukisanmu dengan melihat bintang kecil ini bukan?"


"Tepat sekali," jawab Amanda dengan tersenyum.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Nerissa berdering, sebuah panggilan dari Marin.


"Halo Marin, ada apa?"


"Mau di mana Putri? kenapa kau belum pulang juga?"


"Aku masih di rumah Amanda," jawab Nerissa.


"Jika urusanmu disana sudah selesai sebaiknya kau cepat pulang Putri, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu!"


"Ada apa marin? Kenapa kau terdengar seperti sedang ketakutan? apa terjadi sesuatu padamu?"


"Tidak, tapi aku mohon cepatlah pulang aku akan menjelaskannya padamu jika kau sudah berada di sini!" jawab Marin.


"Baiklah, aku akan segera pulang," ucap Nerissa kemudian mengakhiri panggilan dari kemarin.


Nerissa kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


"Maaf Amanda, sepertinya aku harus segera pulang!" ucap Nerissa pada Amanda.


"Tidak apa, terima kasih sudah menemaniku," ucap Amanda yang dibalas anggukan kepala Nerissa.


Nerissa kemudian keluar dari rumah Amanda. Sepanjang perjalanan ia hanya bisa berharap semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Marin.