Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Ancaman Ran



Cordelia masih berada di tempat duduknya untuk beberapa saat setelah kepergian Daniel. Ia masih memikirkan tentang ucapan Daniel padanya.


"kau mungkin tidak pernah tahu bahwa selama ini Ricky tidak benar-benar ingin menjadi CEO di Atlanta Group karena dia tahu bahwa Atlanta group sebenarnya bukan milik keluarganya, itu kenapa dia sangat ingin menjatuhkan Atlanta Grup!"


"Kenapa Daniel mengatakan hal itu? apa maksudnya?" tanya Cordelia dalam hati.


Cordelia kemudian beranjak dari duduknya lalu mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.


Saat Cordelia akan masuk ke dalam rumah, dia melihat seorang laki-laki keluar dari rumahnya dan bersamaan dengan itu dia juga melihat Ricky yang berjalan menaiki tangga.


"siapa dia? teman Ricky? kenapa aku tidak pernah melihatnya?" tanya Cordelia dalam hati.


"Tunggu!" teriak Cordelia agar Ricky menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Ricky yang sudah menghentikan langkahnya.


"Siapa laki-laki tadi?" tanya Cordelia tanpa basa-basi.


"Temanku," jawab Ricky singkat lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamarnya.


"Teman siapa? teman kuliah? teman bekerja? atau......"


"Sejak kapan kau peduli pada temanku Delia? urus saja urusanmu sendiri," ucap Ricky memotong ucapan Cordelia.


"Aku hanya ingin mengenalnya, siapa namanya?" tanya Cordelia beralasan.


"Tidak semua temanku harus kau kenal Delia, kembalilah bermain-main seperti biasa dan berhentilah menggangguku!" ucap Ricky lalu membuka pintu kamarnya.


"Kau tidak ada hubungannya dengan kecelakaan Alvin bukan?" tanya Cordelia yang membuat Ricky mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar.


Ricky kemudian membawa pandangannya ke arah cordelia yang masih berdiri di belakangnya.


"Apa maksudmu menanyakan hal itu padaku? apa kau mencurigaiku? apa hanya karena aku tidak menyukainya kau jadi menuduhku seperti ini?" tanya Ricky dengan menatap tajam kedua mata Cordelia.


"Aku hanya bertanya, kenapa kau panik sekali mendengar pertanyaanku, tapi kau tidak terkejut saat aku mengatakan Alvin kecelakaan, apa kau mengetahui hal itu?" ucap Cordelia sekaligus bertanya yang membuat Ricky tampak semakin gugup.


"Tentu saja aku tahu.... Alvin adalah pegawaiku jadi aku pasti tahu apa yang terjadi padanya," balas Ricky beralasan.


"Ooohh seperti itu, kau memang atasan yang baik, aku akan memberitahu papa tentang kebaikanmu ini," ucap Cordelia kemudian berjalan pergi, namun Ricky segera menahan tangan Cordelia.


"Apa yang akan kau lakukan Delia?" tanya Ricky dengan mencengkeram tangan Cordelia.


"Bukankah aku sudah bilang aku akan memberitahu papa tentang kebaikanmu, dengan begitu papa pasti sangat bangga padamu," jawab Cordelia dengan berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Ricky.


"Berhenti mencampuri urusan perusahaan Delia, kau tidak mengerti apa-apa," ucap Ricky.


"Aku sama sekali tidak mencampuri urusan perusahaan, aku hanya......"


"Jangan biarkan papa tahu tentang keadaan Alvin saat ini atau hal besar yang tidak kau inginkan akan terjadi," ucap Ricky memotong ucapan Cordelia.


"Apa maksudmu? kenapa kau tiba-tiba mengancamku?"


"Aku tidak sedang mengancammu, aku hanya memperingatkanmu bahwa aku bisa dengan mudah menghancurkan karirmu jika kau mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kau katakan pada papa," ucap Ricky dengan tegas.


Cordelia hanya terdiam mendengar ucapan Ricky padanya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya Ricky sembunyikan darinya dan keluarganya tapi yang pasti ada hal besar yang tidak ia tahu tentang Ricky.


"Berhenti ikut campur masalah perusahaan jika kau ingin karirmu tetap berjalan sebagaimana mestinya," ucap Ricky lalu melepaskan tangan Cordelia dengan kasar dan berjalan pergi begitu saja.


Cordelia masih terdiam di tempatnya berdiri, ucapan Ricky padanya seperti ucapan orang lain yang sedang mengancam perempuan lain. Hubungan mereka berdua sama sekali tidak tampak seperti hubungan adik dan kakak.


Dengan mata yang berkaca-kaca Cordeliapun berjalan masuk ke kamarnya lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.


**


Di Seabert.


Nerissa yang sudah merasakan sakit pada seluruh tubuhnya berusaha untuk tetap bertahan.


Ia tidak akan menyerah dengan mudah, tidak hanya demi sang Bunda dan Seabert, tapi juga demi Alvin yang sedang bertahan hidup di daratan.


Nerissa kembali berenang, namun kali ini dia tidak masuk ke dalam gumpalan hitam itu melainkan mengitari gumpalan hitam itu dengan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan gumpalan hitam itu.


Setelah beberapa lama, cahaya birupun bersinar terang dan berhasil menghancurkan gumpalan hitam milik Ran.


Gumpalan hitam itu menjadi titik-titik hitam yang bergerak menuju ke satu titik. Nerissapun membawa pandangannya ke arah titik titik hitam itu dan ia begitu terkejut saat dengan perlahan titik titik hitam itu membentuk ekor hitam yang cukup besar, bahkan lebih besar daripada miliknya.


Tak lama kemudian muncul sosok yang membuatnya begitu terkejut, sosok pemilik ekor hitam itu terlihat sangat cantik dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai dan bibir tipisnya yang juga berwarna hitam.


Meski sosok di hadapannya itu menatapnya dengan pandangan penuh kebencian namun tidak bisa dipungkiri bahwa terpancar kecantikan dari raut wajah yang ada di hadapan Nerissa saat itu.


Saat mermaid berekor hitam itu akan mengeluarkan kekuatannya, seketika Nerissa berusaha menghentikannya.


"Tunggu dulu, aku hanya ingin menemuimu bukan untuk melawanmu," ucap Nerissa yang membuat Ran seketika menahan serangannya.


"Nerissa, Putri Raja Zale dan Ratu Nagisa dari Seabert, beraninya kau menggangguku," ucap Ran dengan menatap tajam Nerissa yang berada di hadapannya.


"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggumu, aku hanya....."


"Memamerkan kekuatanmu? menunjukkan bahwa kau adalah yang terkuat di Seabert? memaksa siapapun agar tunduk pada perintahmu?" tanya Ran memotong ucapan Nerissa.


"Tidak, aku tidak pernah berniat seperti itu, aku menggunakan kekuatanku hanya untuk membantu Bunda dan mempertahankan Seabert dari pengkhianat istana," balas Nerissa.


"Tidak.... kau salah, bahkan jika bisa meminta aku akan meminta bunda untuk menghapus semua kekuatan yang aku miliki karena aku ingin hidup layaknya mermaid biasa seperti teman-temanku yang lain," ucap Nerissa.


"Tidak perlu banyak berbasa-basi, keluarkan saja semua kekuatanmu dan lawan aku jika kau memang mampu untuk melawanku!" ucap Nerissa.


"Tentu saja aku tidak cukup kuat untuk melawanmu, aku bahkan baru mengetahui kekuatan yang aku miliki baru-baru ini, jika bukan karena mutiara biru Bunda yang aku miliki saat ini mungkin aku tidak akan bisa bertemu denganmu secara langsung seperti ini," ucap Nerissa.


"Kau banyak berbicara Putri bod*h," ucap Ran lalu segera mengeluarkan kekuatannya dan mengarahkannya pada Nerissa. Nerissa yang sengaja tidak menghindar seketika terpelanting jauh dan terjatuh di antara batu karang.


Nerissapun berusaha untuk tetap bangkit dan menahan dirinya untuk tidak menyerang Ran.


"Aku sengaja menggunakan kekuatanku untuk memanggilmu, tetapi aku tidak berniat untuk melawanmu, justru aku ingin bertemu denganmu dan berbicara denganmu," ucap Nerissa.


"Aku tidak suka berbicara dengan mermaid dari istana, semua mermaid yang ada di istana adalah penghancur yang sudah menghancurkan hidupku," ucap Ran dengan penuh emosi dalam dirinya.


"Aku sama sekali tidak pernah meminta untuk dilahirkan di istana, aku tidak pernah meminta untuk memiliki kekuatan apapun dalam diriku tapi takdir yang sudah membuatku seperti ini, lalu apa yang bisa aku lakukan? aku hanya bisa menerimanya dan menjalani takdir yang sudah digariskan untukku," ucap Nerissa.


Saat Nerissa kembali berenang, ia merasakan sakit pada ekornya dan ia menyadari bahwa ekornya tengah terluka saat itu, namun ia berusaha untuk tetap berenang mendekati Ran.


"Kau boleh menyerangku sepuasmu, tapi aku tidak akan pernah membalas seranganmu karena tujuanku kesini benar-benar untuk menemuimu dan berbicara denganmu," ucap Nerissa memberanikan dirinya.


"Baiklah kalau itu maumu, kau akan benar-benar menyesal kali ini," ucap Ran lalu mengangkat kedua tangannya seolah mengumpulkan seluruh kekuatan dalam dirinya untuk menyerang Nerissa.


Saat Ran akan mengarahkan kekuatannya pada Nerissa tiba-tiba Marin datang dan berada di depan Nerissa, membuat Marin seketika terjatuh lemah tak berdaya karena kekuatan Ran yang menyerangnya.


"Marin!" teriak Nerissa yang begitu terkejut karena kejadian yang sangat cepat itu.


Nerissa segera berenang ke bawah untuk menahan Marin yang sudah jatuh terombang-ambing karena kehilangan kesadarannya.


"Marin bangunlah!" ucap Nerissa saat dia sudah mendapatkan Marin dalam dekapannya.


Marin hanya terpejam tanpa mampu mengatakan apapun, namun Nerissa bisa merasakan detak jantung Marin yang sangat lemah saat itu.


"Bertahanlah sebentar lagi Marin, dia akan menyesal karena sudah membuatmu seperti ini," ucap Nerissa lalu membaringkan Marin di dekat terumbu karang lalu berenang dengan cepat ke arah Ran.


"Baiklah jika memang ini yang kau mau, aku akan melawanmu dengan senang hati," ucap Nerissa lalu mengangkat kedua tangannya, mengumpulkan seluruh kekuatan dari mutiara biru pemberian ayah dan bundanya.


Sinar birupun mulai terlihat dan dengan cepat Nerissa mengarahkannya pada Ran, tepat pada saat itu Ran menahan serangan Nerissa dengan sinar hitamnya.


"Gianira, aku tahu rasa sakit seperti apa yang kau miliki saat ini, aku tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi, jika kau pikir aku menikmati kekuatan ini maka kau salah, karena dengan adanya kekuatan ini aku kehilangan ayahku yang meninggal karena penghianatan anggota istana," ucap Nerissa.


"Aku bahkan meninggalkan orang yang aku cintai saat aku baru saja merasakan keindahan cinta yang aku miliki, aku terpaksa melewati jalan perpisahan yang sangat menyakitkan karena aku tahu takdir tidak mengizinkanku untuk bersama orang yang aku cintai," lanjut Nerissa yang membuat kekuatan Ran mulai goyah.


"Aku sangat mencintainya tapi takdir yang memaksaku untuk berpisah dengannya, maka tidak ada yang bisa aku lakukan selain menjalani takdir yang sangat menyakitkan untukku, takdir memang sebercanda itu, kita tidak bisa menjaga orang yang kita cintai untuk selalu berada di samping kita tapi kita masih bisa menjaga mereka untuk selalu di hati kita, begitu juga denganmu Gianira!"


Di sisi lain Ran yang sedang berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya tiba-tiba menjadi melemah saat ia mendengar ucapan Nerissa.


Selama ini dia merasa takdir selalu tidak berpihak padanya, setelah kedua orang tuanya meninggal karena raja dan ratu yang pernah memimpin di masanya.


Setelah kehilangan kedua orang tuanya Ran memilih untuk menjual dirinya ke dalam dunia kegelapan yang pada akhirnya memberikannya kekuatan yang mampu memberikan ancaman pada seluruh istana di lautan.


Tanpa dia sadar kekuatan hitam yang ada pada dirinya membuat dendamnya semakin besar, membuatnya menyerang siapapun pemilik kekuatan yang tercium olehnya.


Ia tidak akan membiarkan satupun mermaid memiliki kekuatan karena ia tidak ingin mermaid lain akan bernasib sama seperti kedua orang tuanya.


"Aku sama sepertimu Gianira, hanya saja aku tidak menyimpan dendam dalam diriku, aku sudah kehilangan ayah yang aku cintai dan aku dipaksa oleh takdir untuk meninggalkan laki-laki yang sangat aku cintai, rasanya benar-benar menyakitkan tapi aku harus tetap menjalani kehidupanku tanpa menyimpan dendam dalam diriku," ucap Nerissa.


"Percayalah dendam yang ada dalam dirimu sebenarnya sudah melemahkanmu, kau hanya hidup dengan dendam dan rasa benci yang membuatmu tidak akan pernah bahagia, jika kau bisa sedikit saja menerima takdir yang sudah dijatuhkan padamu maka kebahagiaan akan datang padamu tanpa kau minta," lanjut Nerissa.


Saat menyadari kekuatan Ran yang semakin melemah, Nerissapun semakin mengerahkan seluruh kekuatannya, membuat Ran kehilangan tenaganya lalu jatuh terpelanting cukup jauh.


Namun Nerissa segera menahan Ran di dalam gulungan ombak yang berputar mengelilingi Ran.


"Apa yang akan kau lakukan padaku sekarang? apa kau akan kembali mengirimku ke dasar laut?" tanya Ran sambil berusaha untuk keluar dari gulungan ombak yang berputar mengelilinginya.


"Jika kedatanganmu hanya untuk membuat kerusakan di Seabert, maka aku tidak mempunyai pilihan lain selain melakukan apa yang kau tanyakan itu," balas Nerissa.


"Jika kau menahanku di dasar laut, maka kau akan kehilangan temanmu!" ucap Ran.


"Apa maksudmu?" tanya Nerissa tak mengerti.


"Temanmu itu hanya mermaid biasa, kekuatan yang aku gunakan untuk menyerangnya akan dengan mudah membuatnya mati dan hanya aku yang bisa menyelamatkannya," ucap Ran yang membuat Nerissa begitu terkejut.


Nerissa kemudian berenang ke arah ia meninggalkan Marin, ia kemudian berusaha untuk menyembuhkan Marin, tapi entah kenapa Marin tidak juga terbangun membuat Nerissa semakin panik dan kembali berenang menghampiri Ran yang masih berada di dalam putaran ombak.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" tanya Nerissa dengan raut wajah penuh emosi.


"Kau mungkin bisa mengalahkan kekuatan hitam yang aku miliki, tapi kau tidak bisa menyembuhkan luka akibat dari kekuatan hitam, terlebih jika luka itu mengenai mermaid biasa sepertinya," jawab Ran dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Kenapa kau jahat sekali? aku yang membuatmu datang, aku yang menghampirimu dan aku yang memiliki kekuatan yang tidak kau inginkan, tapi kenapa kau membuatnya seperti ini?"


"Dia yang sudah mengorbankan dirinya untuk melindungimu, seharusnya kau menyalahkan dirimu sendiri karena membuatnya terlibat dalam pertarungan kita," ucap Ran yang membuat Nerissa semakin merasa bersalah.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan? apa kau menginginkan nyawaku karena kau membenci mermaid yang memiliki kekuatan?" tanya Nerissa dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca karena mengkhawatirkan keadaan Marin.


"Bagaimana jika kau menukar nyawamu dengan nyawa temanmu?" tanya Ran yang membuat Nerissa begitu terkejut.


"Keluarkan aku dari sini dan aku akan menyembuhkan temanmu, sebagai gantinya kau harus menyerahkan nyawamu padaku," ucap Ran dengan memamerkan senyumnya pada Nerissa.