Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Kecurigaan yang Semakin Besar



Nerissa sedang berada di kamarnya memperhatikan dua tanaman yang ada di hadapannya. Ia berusaha untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, karena ia merasa aneh dengan apa yang Cadassi jelaskan pada sang bunda.


"seharusnya tidak ada lagi tanaman yang menghitam karena aku sudah tidak pernah lagi menggunakan kekuatanku, tapi kenapa tiba tiba banyak tanaman menghitam bahkan sampai merusak udara di wilayah timur? apa yang sebenarnya terjadi?" batin Nerissa bertanya tanya.


Nerissa lalu membuka lemarinya untuk menyimpan dua tanaman itu, tiba tiba ia melihat sebuah botol kecil yang berisi cairan milik Marin yang membuat ekor Marin kaku.


Nerissa lalu mengambilnya dan membuka tutup botol itu, karena tertutup terlalu rapat, Nerissa kesusahan untuk membukanya.


Saat ia membuka paksa, tanpa sengaja cairan itu menetes ke arah tanaman yang ada di kamar Nerissa. Dalam sekejap saja tanaman itu menghitam secara keseluruhan, Nerissapun begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya saat itu.


Nerissa segera menutup botol itu dan kembali menyimpannya. Ia lalu mengambil tanaman yang diambilnya dari wilayah timur untuk ia samakan dengan tanaman yang ada di kamarnya.


"sama, dua tanaman itu menghitam dan sangat kaku, berbeda dengan tanaman yang ada di wilayah selatan," ucap Nerissa dalam hati.


"Cadassi? apa yang sebenarnya kau rencanakan? apa kau sengaja membohongi ratu?" tanya Nerissa dalam hati.


Nerissa lalu mencabut tanaman yang menghitam di kamarnya, ia menyimpan semua tanaman dan juga botol cairan itu ke dalam lemarinya.


Ia kemudian keluar dari kamar untuk menemui ratu. Nerissa menutup pintu kamar ratu setelah memastikan tidak ada siapapun yang berada di depan kamar sang ratu.


"Ada apa sayang? kenapa kau terlihat gelisah?" tanya bunda ratu pada Nerissa.


"Bunda, apa bunda tau tentang kekuatan yang Nerissa miliki?" tanya Nerissa pada sang bunda.


"Tentu saja bunda tidak tau sayang, kau belum pernah memberi tahu bunda tentang hal itu, apa kau memberi tahu bunda sekarang?"


"Tidak bunda, Nerissa akan merahasiakan kekuatan Nerissa pada semua orang agar tidak terjadi hal yang lebih buruk dari saat ini," jawab Nerissa.


"Baiklah jika itu memang keputusanmu, tapi tetap saja Ran bisa mencium kekuatan yang ada dalam dirimu," ucap bunda Ratu.


"Apakah bunda tidak berpikir tentang sesuatu yang aneh selama ini?" tanya Nerissa.


"Sesuatu yang aneh seperti apa maksudmu sayang?" balas bunda ratu bertanya.


"Nerissa sudah membaca banyak buku bunda, dari buku yang Nerissa baca, Ran tidak akan bisa mencium kekuatan Nerissa jika Nerissa tidak menggunakannya dan selama ini Nerissa hanya sekali menggunakan kekuatan Nerissa yang mengakibatkan tanaman di wilayah selatan menghitam, tapi kenapa terjadi hal yang sama dan lebih buruk di wilayah timur padahal Nerissa tidak menggunakan kekuatan Nerissa lagi?"


"Ketahuilah sayang, Ran masih bisa mencium bau dari tanaman yang menghitam, meski hanya sedikit, dia bisa merasakan adanya kekuatan di wilayah itu," ucap bunda Ratu menjelaskan.


"Nerissa sudah mendatangi wilayah timur dan selatan bunda, tanaman yang menghitam disana sangat berbeda, Nerissa berpikir kalau seseorang mungkin dengan sengaja mengacaukan wilayah timur dan membuatnya seolah olah akibat dari kebangkitan Ran!" ucap Nerissa.


"Kau terlalu banyak berpikir sayang, siapa yang mungkin melakukan hal itu? dan apa yang akan dia dapat dengan melakukan hal itu?"


Nerissa terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan bunda Ratu. Ia tidak mungkin mengatakan jika itu adalah ulah Cadassi, karena ia juga belum mempunyai bukti yang kuat.


Tentang apa yang akan Cadassi dapatkan jika Cadassi memang melakukan hal itu, Nerissa juga tidak bisa memastikannya.


"Sudahlah sayang, jangan berpikir terlalu jauh, menikahlah saja, dengan begitu kau bisa menggunakan kekuatanmu dan memiliki mutiara biru dari ayahmu yang akan kau gunakan untuk melawan Ran bersama pasanganmu nanti," ucap bunda Ratu pada Nerissa.


"Maaf bunda, tapi itu bukan jalan keluar yang baik bagi Nerissa," balas Nerissa menolak.


Nerissa lalu beranjak dari duduknya, saat ia akan keluar dari kamar sang bunda, ia melihat Cadassi datang dengan membawa ramuan untuk bunda Ratu.


"kalau memang Cadassi dalang dari semua hal buruk yang terjadi, bisa jadi ramuan itu......"


"Iya Putri, ini ramuan untuk Ratu," jawab Cadassi


"Biarkan aku yang membawanya untuk bunda, kau pergilah!"


"Tapi Putri....."


"Apa kau tidak mempercayaiku? sudah berhari hari bunda terbaring lemah di ranjangnya, tentu saja aku sangat ingin agar bundaku cepat sembuh!" ucap Nerissa.


"Baiklah Putri, saya permisi!" balas Cadassi.


Setelah memastikan Cadassi pergi, Nerissa lalu menuang ramuan dari Cadassi ke tempat lain dan menggantinya dengan cairan lain untuk sang bunda.


Nerissa sengaja melakukan hal itu untuk memastikan ramuan apa yang sebenarnya Cadassi berikan pada bundanya.


**


Di tempat lain, Ricky sedang menemui sang papa di ruang kerjanya. Ia ingin meminta izin pada sang papa untuk mengeluarkan Alvin dari perusahaan.


"Apa kau bodoh? dia adalah salah satu pemegang saham tertinggi setelah papa dan kau Ricky, dia juga pegawai terbaik di perusahaan kita, bagiamana mungkin kau bisa membuatnya keluar dari perusahaan?"


"Ricky akan membuatnya keluar dari perusahaan dengan sendirinya pa, Ricky akan membuatnya menjual semua saham miliknya dan ......"


"Berhenti berbicara omong kosong Ricky, kalau kau memang mempunyai masalah pribadi dengan Alvin, selesaikan secara dewasa tanpa membawa masalah kalian ke perusahaan!" ucap Johan Airlangga memotong ucapan Ricky.


"Alvin terlalu mencampuri urusan Ricky di perusahaan pa, dia selalu bersikap seolah olah dia adalah pemilik perusahaan tanpa menghormati Ricky sebagai atasannya!"


"Itu karena kau tidak becus mengurus perusahaan itu dengan baik Ricky, seharusnya kau berterima kasih pada Alvin karena Alvin mau membantumu!"


"Tapi pa....."


"Apa kau masih tidak sadar dimana posisi mu sebenarnya Ricky? meskipun kau adalah pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan, tapi kau masih berada jauh di bawah Alvin, satu kali saja kau salah langkah, para pemegang saham tidak akan segan untuk menjatuhkan dirimu dan membuat Alvin menggantikan posisimu!"


Mendengar ucapan sang papa, Ricky lalu keluar meninggalkan sang papa begitu saja.


"itu tidak akan terjadi, aku sendiri yang akan menjatuhkan Alvin tanpa ada siapapun yang bisa menariknya kembali ke atas," batin Ricky dalam hati lalu membanting pintu kamarnya dengan kesal.


Cordelia yang saat itu sedang mengobrol dengan Alvin melalui sambungan telepon begitu terkejut dengan suara pintu dari kamar Ricky.


"Dia pasti sudah gila," ucap Cordelia.


"Kakakmu?" terka Alvin yang juga mendengar suara itu.


"Siapa lagi yang suka membuat gaduh selain dia? pasti dia kesal karena papa baru saja memarahinya!"


"Kenapa?"


"Pasti karena masalah perusahaan, dia menang bukan pemimpin yang baik," jawab Cordelia.


Alvin hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Cordelia.